Ex Makalah : Filsafat Pendidikan Islam


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Filsafat sebagai pandangan hidup terkait dengan sistem nilai yang sekaligus jadi pandangan hidup. Dalam pandangan islam, sistem nilai yang jadi pandangan hidup ini menyatu dan identik dengan nilai – nilai ajaran islam itu sendiri. Lalu nilai – nilai ajaran itu pula yang akan diupayakan untuk diwujudkan dalam kehidupan yang nyata,antara lain melalui proses pendidikan. Sebagai landasan dasar, filsafat pendidikan islam akan memperkuat bangunan sebuah sistem pendidikan islam. Sebagai sebuah sistem, pendidikan islam punya pijakan yang kuat dan jelas. Sementara dalam fungsinya sebagai tujuan, filsafat pendidikan islam ikut memberi kejelasan tentang arah dan target pencapaian yang diprogramkan dalam sistem pendidikan islam. Jadi, filsafat pendidikan islam tak dapat dilepaskan hubungannya dari masalah – masalah yang menyangkut kependidikan.

Ruang lingkup kajian filsafat pendidikan islam juga meliputi masalah–masalah yang berhubungan dengan sistem pendidikan islam itu sendiri. Adapun komponen – komponen yang termasuk dalam sistem pendidikan islam itu, antara lain dasar yang melandasi pembentukan sistem tersebut. Pemikiran – pemikiran menggambarkan cakupan teori maupun rumusan mengenai peserta didik, pendidik, kurikulum, metode, alat dan evaluasi pendidikan. Ruang lingkup kajian filsafat pendidikan islam, mengacu pada semua aspek yang dianggap mempunyai hubungan dengan pendidikan dalam arti luas. Berdasarkan uraian tersebut, penulis menganggap penting untuk melakukan kajian atau penelitian mengenai “Pengertian Filsafat, Peranan dan Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam”

 

  1. Rumusan Masalah
    1. Apa Pengertian Filsafat, Pendidikan dan Islam?
    2. Bagaimana Peranan Filsafat Pendidikan Islam?
    3. Apa saja Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam?
    4. Apa Saja Metode Filsafat Pendidikan Islam?

 

  1. Tujuan Masalah
    1. Memenuhi Tugas mata kuliah “Filsafat Pendidikan Islam”.
    2. Mengetahui Pengertian Filsafat,Peranan dan Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam.
    3. Mengetahui Metode-Metode yang Ada pada Filsafat Pendidikan Islam.
    4. Sebagai bahan yang akan kami diskusikan.


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Filsafat

Sebelum kita merambah jauh berbicara tentang pengertian filsafat pendidikan islam, baiknya kita disini diungkapkan dahulu apa itu filsafat. Ada dua pendapat berbeda mengenai asal – usul terma filsafat secara etimologi. Pendapat Pertama menyebutkan bahwa filsafat berasal dari bahasa arab, “falsafah” dengan timbangan fa’lala, fa’lalah, dan fi’lal.Pendapat ini dikemukakan oleh Harun Nasution.

Pendapat kedua menyatakan bahwa terma filsafat berasal dari kata bahasa inggris phila dansophos.Philo berarti cinta dan sophos berarti ilmu atau hikmah. Pendapat ini dikemukakan oleh Louis O Kattsoff . Dari pendapat kedua ini muncul pendapat ketiga yang menggabungkan keduanya. Pendapat ini di kemukakan oleh filsuf islam al- farabi (w.950 M). Menurutnya, filsafat berasal dari bahasa yunani yang masuk dan digunakan sebagai bahasa arab, yaitu berasal dari kata philosophia, philo berarti cinta sedangkan sophia berarti hikmah.

Filsafat, falsafah, atau philosophia secara harfiah berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta pada kebenaran. Filsafat secara sederhana berarti “alam pikiran” atau “ alam berpikir”. Berfilsafat artinya berpikir namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat.Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam (radikal) dan sungguh- sungguh.

Berikut di kemukakan beberapa pengertian filsafat menurut para ahli mulai dari klasik hingga moderen.

  1. Plato ( 427 – 347 SM ) mengatakan bahwa filsafat Itu tidak lain dari pengetahuan tentang segala sesuatu yang ada.
  2. Aristoteles ( 384 – 322 SM ) berpendapat bahwa filsafat itu menyelidiki sebab dan asas segala benda.
  3. Marcus Tullius Cicero(106- 143 SM) merumuskan filsafat sebagai pengetahuan tentang segala yang maha agung dan usaha usaha untuk mencapainya.
  4. Al-Farabi (w. 950 M ) mengungkapkan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikatnya yang sebenarnya.
  5. Immanuel Kant ( 1724 – 1804 M ) mengutarakan bahwa filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang didalamnya mencakup empat persoalan yaitu apa yang dapat diketahui manusia, apa yang boleh dikerjakan manusia sampai dimana harapan manusia ( agama ) dan apa yang dinamakan manusia ( antropologi ).
  6. Harold H.Titus dkk. Mengemukakan lima pengertian filsafat, yaitu
  1. suatu sikap tentang hidup dan tentang alam semesta;
  2. proses kritik terhadap kepercayaan dan sikap;
  3. usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan;
  4. analisis dan penjelasan logis dari bahasa tentang kata dan konsep;
  5. sekumpulan problema yang langsung mendapat perhatian manusia dan dicarikan jawabannya.
  1. C Mulder menyatakan bahwa filsafat adalah pemikiran teoritis tentang susunan kenyataan sebagai keseluruhan.
  2. Fuad Hasan menggagas bahwa filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal;radikal dalam arti mulai dari radiksnya suatu gejala dari akrnya sesuatu yang hendak dipermasalahkan.Dengan jalan penjajagkan yang radikal ini, filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.
  3. Drijakara berpendapat bahwa filsafat adalah pemikiran manusia yang radikal, artinya dengan mengesampingkan pendirian- pendirian dan pendapat – pendapat yang diterima dan mencoba memperlihatkan pandangan lain yang merupakan akar permasalahan.filsafat tidak mengarah pada sebab-sebab yang terdekat,tetapi pada “mengapa” yang terakhir,sepanjang merupakan kemungkinan berdasarkan kekuatan akal budi manusia.
  4. Kamus Besar Bahasa Indonesia menulis bahwa filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab,asal, dan hukumnya.
  5. Dictionary of Philosophy mengungkapkan bahwa mencari kebenaran serta kebenaran itu sendiri adalah filsafat.

Dari Banyaknya Pengertian Filsafat yang dikemukakan, kiranya dapat dikatakan bahwa para ahli telah merumuskan filsafat secara berbeda-beda.Hal ini mengidikasikan bahwa filsafat memang sulit untuk di definisikan.Oleh karena itu, Mohammad Hatta dan langeveld menyarankan agar filsafat itu tidak didefinisikan. Ditambah lagi “hampir semua definisi bergantung pada cara orang berpikir mengenai filsafat itu”, demikian menurut Abubakar Aceh. Namun demikian, sesulit apapun definisi filsafat, pengertian mengenainya sebagai patokan awal kirannya tetap di perlukan. Dalam konteks itu, penulis lebih cenderung kepada pendapat Sidi Gazalba yang mengartikan filsafat sebagai berpikir secara mendalam,sistematik,radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti atau hakikat mengenai segala yang ada.

Dari pengertian ini ada lima unsur yang mendasari sebuah pemikiran filsafat,sebagai berikut.

  1. Filsafat itu sebuah ilmu yang mengandalkan penggunaan akal (rasio) sebagai sumbernya.
  2. Tujuan Filsafat adalah mencari kebenaran atau hakikat segala sesuatu yang ada.
  3. Objek material Filsafat adalah segala sesuatu yang ada, segala sesuatu yang mencakup yang tampak maupun yang tidak tampak.
  4. Metode yang digunakan dalam berpikir filsafat adalah mendalam, sistematik, radikal, dan universal.
  5. Oleh karena filsafat itu menggunakan akal sebagai sumbernya,maka kebenaran yang dihasilkan dapat diukur melalui kelogisannya.

Dalam kaitan ini, Saifuddin anshari menyebut filsafat sebagai “ilmu istimewa”, karena filsafat mencoba menjawab persoalan- persoalan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa.

Setelah filsafat dapat dirumuskan pengertiannya maka pembahasan berikut akan ditekankan pada terma pendidikan islam.

Pendidikan secara harfiah berasal kata didik, yang mendapat awalan pen akhiran an. berarti perbuatan (hal, cara dan sebagainya) mendidik. Kata lain ditemukan peng(ajar)an berarti cara (perbuatan dan sebagainya) mengajar atau mengejarkan. Kata lain yang serumpun adalah mengajar berarti memberi pengetahuan atau pelajaran. Kata pendidikan berarti education (inggris), kata pengajaran berarti teaching (inggris). Pengertian dalam bahasa Arab kata pendidikan (Tarbiyah) – pengajaran (Ta’lim) yang berasal dari ‘allama dan rabba. Dalam hal ini kata tarbiyyah lebih luas konotasinya yang berarti memelihara, membesarkan, medidik sekaligus bermakna mengajar (‘allama). Terdapat pula kata ta’dib yang ada hubungannya dengan kata adab yang berarti susunan.

Dari segi bahasa Arab kata Islam dari salima (kemudian menjadi aslama), kata Islam berasal dari isim masdar (infinitif) yang berarti berserah diri, selamat sentosa atau memelihara diri dalam keadaan selamat. Yakni dengan sikap seseorang untuk taat, patuh, tunduk dengan ikhlas dan berserah diri kepada Allah SWT; sebagaimana seseorang bias disebut Muslim. Selanjutnya Allah SWT memakai kata Islam sebagai nama salah satu agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan-Nya kepada manusia melalui Muhammad SAW (sebagai Rasul-Nya). Sebagai agama Islam diakui memiliki ajaran yang komprehensif (al-Qur’an) dibandingkan dengan agama-agama lain yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya.

Setelah dijelaskan satu persatu yang tersebut di atas, diyakini belum dijelaskan secara lebih khusus mengenai apa itu filsafat pendidikan Islam?

Pendapat para ahli yang mencoba merumuskan pengertian filsafat pendidikan Islam, Muzayyin Arifin mengatakan pada hakikatnya adalah konsep berpikir tentang kependidikan yang bersumberkan atau berlandaskan pada ajaran-ajaran agama Islam tentang hakekat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia (Muslim) yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam. Secara sistematikanya menyangkut subyek-obyek pendidikan, kurikulum, metode, lingkungan, guru dan sebagainya. Mengenai dasar-dasar filsafat yang meliputi pemikiran radikal dan universal menurut Ahmad D Marimba mengatakan bahwa filsafat pendidikan Islam bukanlah filsafat pendidikan tanpa batas. Adapun komentar mengenai radikal dan universal bukan berarti tanpa batas, tidak ada di dunia ini yang disebut tanpa batas, dan bukankah dengan menyatakan sesuatu itu tanpa batas, kita telah membatasi sesuatu itu. Dalam artian, apabila seorang Islam yang telah meyakini isi keimanannya, akan mengetahui di mana batas-batas pikiran (akal) dapat dipergunakan.

Dari uraian di atas kiranya dapat kita ketahui bahwa filsafat pendidikan Islam merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai berbagai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber primer, serta pendapat para ahli (khususnya para filosof Muslim) sebagai sumber skunder

Objek Pendidikan Islam adalah subjek didik dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Lebih rinci lagi, Abdurrahman al – Nahlawi menyebutkan bahwa pendidikan islam merupakan suatu proses penataan individual dan sosial yang dapat menyebabkan seseorang tunduk dan taat kepada islam dan menerapkannya secara sempurna dalam kehidupan individu dan masyarakat. Sementara itu, menurut Muhammad Quthb yang dimaksud pendidikan islam adalah usaha melakukan pendekatan yang menyeluruh baik jasmani maupun rohani.

Dalam pada itu Ashraf menulis : “Pendidikan islam Adalah Pendidkan yang melatih sensibilitas murid – murid sedemikian rupa,sehingga dalam berperilaku mereka terhadap kehidupan,langkah-langkah dan keputusan, begitu pula pendekatan mereka terhadap semua ilmu pengetahuan diatur oleh nilai-nilai islam yang sangat dalam dirasakan”.

Disini ashraf kiranya lebih menekankan aspek sensibilitas dalam memberikan definisi pendidikan islam, jadi pendidikan islam menurut ashraf adalah pendidikan akhlak. Demikianlah, begitu banyak pengertian pendidikan islam yang dikemukakan para pakar bidang pendidikan islam.

Meskipun tema”filsafat” dan “pendidikan islam” telah diuraikan mengenai definisi operasionalnya, perlu dikemukakan apa itu filsafat pendidikan islam, berikut menurut para ahli :

  1. Ahmad D. Marimba dalam buku klasiknya berjudul Pengantar Filsafat Pendidikan Islam menyatakan bahwa filsafat pendidikan islam terdiri dari kata filsafat,pendidikan,dan islam. Namun mempunyai hubungan yang erat menurut hukum DM (diterangkan dan menerangkan).
  2. Dalam pada itu Munir Mulkhan dalam Paradigma Intelektual Muslim : Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah menyebutkan bahwa secara khusus Filsafat Pendidikan Islam adalah suatu analisis atau pemikiran rasional yang dilakukan secara kritis,radikal,sistematis,dan metodologis untuk memperoleh pengetahuan mengenai hakikat pendidikan islam.

Dari pendapat diatas mereka memperdebatkan dua wacana filsafat pendidikan islam yaitu filsafat tentang pendidikan islam yang kedua mengenai filsafat pendidikan islam dalam perspektif islam.

 

 

 

  1. Peranan Filsafat Pendidikan Islam

Filsafat Pendidikan Islam sebagai bagian atau komponen dari suatu sistem, ia memegang peranan. Peranan Filsafat Pendidikan Islam adalah mengembangkan filsafat islam dan memperkaya filsafat islam dengan konsep – konsep dan pandangan – pandangan filosofis dalam bidang kependidikan dan ilmu pendidikan pun akan dilengkapi dengan teori-teori kependidikan yang bersifat filosofis islami.

Secara praktis dalam prakteknya filsafat pendidikan islam banyak berperan dalam memberikan alternatif pemecahan berbagai macam problema yang dihadapi oleh pendidikan islam dan memberikan pengarahan terhadap perkembangan pendidikan islam.

  1. Pertama-tama filsafat pendidikan islam menunjukan problema yang dihadapi oleh pendidikan islam sebagai hasil dari pemikiran yang mendalam dan berusaha untuk memahami duduk masalah. Dengan analisa filsafat maka filsafat pendidikan islam bisa menunjukan alternatif-alternatif pemecahan masalah.Dengan proses seleksi maka dilaksanakan alternatif tersebut dalam praktek pendidikan.
  2. Filsafat pendidikan islam, memberikan pandangan tertentu tentang manusia. Pandangan tentang hakikat manusia tersebut berkaitan dengan tujuan hidup manusia dan merupakan tujuan pendidikan menurut islam. Filsafat pendididkan islam berperan untuk menjabarkan tujuan umum pendidikan islam dalam bentuk-bentuk tujuan khusus yang operasional dan tujuan operasional ini berperan mengarahkan gerak dan aktifitas pelaksanaan pendidikan.

 

Filsafat Pendidikan Islam menunjukan potensi pembawaan manusia tidak lain adalah sifat-sifat tuhan atau al asma husna dan dalam mengembangan sifat-sifat tuhan tersebut dalam kehidupan kongret, tidak boleh mengarah kepada menodai dan merendahkah nama dan sifat tuhan. Hal ini akan memberikan petunjuk pembinaan kurikulum yang sesuai dan pengaturan lingkungan yang diperlukan.

  1. Filsafat pendidikan islam dalam analisinya terhadap masalah – masalah pendidikan islam masa kini yang di hadapannya akan dapat memberikan informasi apakah proses pendidikan islam yang berjalan selama ini mampu mencapai tujuan pendidikan islam yang berjalan selama ini mampu mencapai tujuan pendidikan islam yang ideal atau tidak dapat merumuskan dimana letak kelemahannya dan yang demikian bisa memberikan alternatif – alternatif perbaikannya pengembangannya.

Dengan demikian peranan filsafat pendidikan islam menuju kedua arah yaitu ke arah pengembangan konsep-konsep filosofis dari pendidikan islam yang secara otomatis akan menghasilkan teori – teori baru dalam ilmu pendidikan islam dan yang kedua kearah perbaikan dan pembaharuan praktek dan pelaksanaan pendidikan islam.

Semestinya, bahwa setiap ilmu mempunyai kegunaan, menurut Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani misalnya mengemukakan tiga manfaat dari mempelajari filsafat pendidikan Islam, antaralain:

  1. Filsafat pendidikan itu dapat menolong para perancang pendidikan dan yang melaksanakannya dalam suatu negara untuk membentuk pemikiran sehat terhadap proses pendidikan;
  2. Filsafat pendidikan dapat menjadi asas yang terbaik untuk penilaian pendidikan dalam arti menyeluruh; dan,
  3. Filsafat pendidikan Islam akan menolong dalam memberikan pendalaman pikiran bagi factor-faktor spiritual, kebudayaan, social, ekonomi dan politik di negara kita.

Selain kegunaan yang tersebut di atas filsafat pendidikan Islam juga sebagai proses kritik-kritik tentang metode –metode yang digunakan dalam proses pendidikan Islam, sekaligus memberikan arahan mendasar tentang bagaimana metode tersebut harus didayagunakan atau diciptakan agar efektif untuk mencapai tujuan. Lebih lanjut Muzayyin Arifin menyimpulkan bahwa filsafat pendidikan Islam harus bertugas dalam 3 dimensi, yakni:

  1. Memberikan landasan dan sekaligus mengarahkan kepada proses pelaksanaan pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam;
  2. Melakukan kritik dan koreksi terhadap proses pelaksanaan tersebut; dan,
  3. Melakukan evaluasi terhadap metode dari proses pendidikan tersebut.

 

 

  • Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam

Penjelasan mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa    filsafat pendidikan Islam telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu.Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil penelitian tentang filsafat pendidikan Islam.Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang kajiannya atau cakupan pembahasannya.Muzayyin Arifin menyatakan bahwa mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan, yang tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan.

Pemikiran dan kajian tentang Filsafat Pendidikan Islam menyangkut 3 hal pokok, yaitu: penelaahan tentang filsafat, pendidikan dan penelaahan tentang islam.Karena itu, setiap orang yang berminat dan menerjunkan diri dalam dunia Filsafat Pendidikan Islam seharusnya memahami dan memiliki modal dasar tentang filsafat, pendidikan dan Islam.

Kajian dan pemikiran mengenai pendidikan pada dasarnya menyangkut aspek yang sangat luas dan menyeluruh bahkan seluruh aspek kebutuhan atau kehidupan umat manusia, khususnya umat islam.

Ketika dilakukan kajian dan dirumuskan pemikiran mengenai tujuan Pendidikan Islam, maka tidak dapat dilepaskan dari tujuan hidup umat manusia. Karena tujuan pendidikan Islam pada hakekatnya dalam rangka mencapai tujuan hidup umat manusia, sehingga esensi dasar tujuan pendidikan islam sebetulnya sama dengan tujuan hidup umat manusia. Menurut Ahmad D. Marimba sesungguhnya tujuan pendidikan islam identik dengan tujuan hidup setiap muslim.

Sebagai contoh, firman Allah swt dalam surah Ali Imran (3) ayat 102:
“hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan ketaqwaan yang sempurna dan janganlah kamu mati, melainkan dalam keadaan muslim”.

 

Ayat ini menggambarkan tujuan hidup umat manusia Islam yang harus mencapai derajat ketaqwaan, di mana ketaqwaan itu harus senantiasa melekat dalam kehidupan umat manusia hingga akhir hayatnya.

Filsafat Pendidikan Islam merumuskan tujuan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan hidup umat manusia. Bila tujuan hidup umat islam untuk mencapai derajat ketaqwaan yang sempurna sebagaimana disebutkan di atas, maka tujuan pendidikan islam yang dirumuskan Filsafat Pendidikan Islam tentu pembinaan peserta/anak didik dalam rangka menjadi manusia muttaqin. Dengan demikian, mewujudkan ketaqwaan dalam diri setiap individu umat islam guna mencapai posisi manusia muttaqin selain menjadi tujuan hidup setiap muslim sekaligus pula menjadi tujuan akhir pendidikan Islam.

Dari beberapa uraian tadi dapat diketengahkan bahwa pada dasarnya ruang lingkup kajian Filsafat Pendidikan Islam bertumpu pada pendidikan islam itu sendiri, baik menyangkut rumusan atau konsep dasar pelaksanaan maupun rumusan pikiran antisipatif mengatasi problematika yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan Islam.[31] Pola dan sistem berpikir filosofis demikian dilaksanakan dalam ruang lingkup yang menyangkut bidang – bidang sebagai berikut:

  1. Cosmologi yaitu suatu pemikiran dalam permasalahan yang berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan, serta proses kejadian kejadian dan perkembangan hidup manusia di alam nyata dan sebagainya.
  2. Ontologi yaitu suatu pemikiran tentang asal-usul kejadian alam semesta, dari mana dan kearah mana proses kejadiannya. Pemikiran ontologis akhirnya akan menentukan suatu kekuatan yang menciptakan alam semesta ini, apakah pencipta itu satu zat (monisme) ataukah dua zat (dualisme) atau banyak zat (pluralisme). Dan apakah kekuatan penciptaan alam semesta ini bersifat kebendaan, maka paham ini disebut materialisme.
  3. Philosophy of mind adalahcabang filsafatyang mempelajarisifat dari pikiran, peristiwa mental,fungsi mental, sifatmental,kesadaran, dan hubungan mereka dengantubuh fisik, terutamaotak. Masalahpikiran-tubuh, yaituhubunganpikirandengan tubuh, biasanya dilihatsebagai salah satuisu utamadalam filsafat pikiran, meskipun adaisu-isu laintentang sifatpikiranyang tidak melibatkanhubungannya dengantubuh fisik, seperti bagaimanakesadaran adalahmungkin dansifatkeadaan mentaltertentu
  4. Epistemologi, adalah cabang filsafatyang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.[32]
  5. Secara makro (umum) apa yang menjadi obyek pemikiran filsafat, yaitu dalam ruang lingkup yang menjangkau permasalahan kehidupan manusia, alam semesta dan sekitarnya adalah juga obyek pemikiran filsafat pendidikan.
  6. Secara mikro (khusus) yang menjadi obyek filsafat pendidikan meliputi:
    Pendidik, 2. Anak didik, 3. Alat – alat pendidikan baik materil maupun nonmateril.
  7. Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.

 

Dengan demikian akan tampak jelas bahwa hasil pemikiran filsafat tentang pendidikan islam ini merupakan pattern of mind (pola pikir ) dari pemikir – pemikir yang bernafaskan islam atau berkepribadian muslim dan menjadi obyek filsafat pendidikan ialah semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan itu sendiri, yang berhubungan dengan bagaimana pelaksanaan pendidikan dan bagaimana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang dicita-citakan.

 

  1. Metode Pengembangan Filsafat Pendidikan Islam

Perihal yang menyangkut metode pengembangan filsafat pendidikan Islam yang berhubungan erat dengan akselerasi penunjuk operasional dan teknis mengembangkan ilmu, yang semestinya didukung dengan penguasaan metode baik secara teoritis maupun praktis untuk tampil sebagai mujtahid atau pemikir dan keilmuan. Asumsi yang terbangun bahwasannya karya Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani (Falsafah Pendidikan Islam) yang tidak membahas metode tersebut. Apalagi mencukupkan sumber analisa hanya pada Plato dan Aritoteles-isme, padahal sefaham dengan para filosof Muslim (al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd dan yang sealiran dengannya). Kuat kemungkinannya ia terperangkap oleh missi dan strategi Barat yang mensupremasi dalam segala bidang.

Tentang metode pengembangan filsafat pendidikan Islam paling tidak bersumber pada 4 hal, yakni:

  1. Bahan tertulis (tekstual) al-Qur’an, al-Hadits dan pendapat pendahulu yang baik “salafus saleh”– bahan empiris, yakni dalam praktek kependidikan (kontekstual);
  2. Metode pencarian bahan; khusus untuk bahan dari al-Qur’an dan al-Hadits bisa melalui “Mu’jam al-Mufahros li Alfazh al-Karim” karya Muhammad Fuad Abd al-Baqi atau “Mu’jam al-Mufahros li Alfazh al-Hadits” karya Weinsink, dan bahan teoritis kepustakaan serta bahan teoritis lapangan;
  3. Metode pembahasan (penyajian); bisa dengan cara berpikir yang menganalisa fakta-fakta yang bersifat khusus terlebihdahulu selanjutnya dipakai untuk bahan penarikan kesimpulan yang bersifat umum (induktif); atau cara berpikir dengan menggunakan premis-premis dari fakta yang bersifat umum menuju ke arah yang bersifat khusus (deduksi); dan
  4. Pendekatan (approach); pendekatan sangat diperlukan dalam sebuah analisa, yang bisa dikategorikan sebagai cara pandang (paradigm) yang akan digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena.

Adapun yang dikembangkan dan dikaji masalah filsafat pendidikan Islam, maka pendekatan yang harus digunakan adalah perpaduan dari ketiga disiplin ilmu tersebut, yaitu: filsafat, ilmu pendidikan dan ilmu ke islam an. sebagaimana uraian terdahulu, yakni sebuah kajian tentang pendidikan yang radikal, logis, sistematis dan universal. Namun cirri-ciri dari berfikir filosofis ini dibatasi dengan ketentuan ajaran Islam.

 

  1. Rumusan Tujuan Pendidikan Menurut Para Pakar

Upaya dalam pencapaian tujuan pendidikan harus dilaksanakan semaksimal mungkin, walaupun kenyataannya manusia tidak mungkin menemukan kesempurnaan dalam berbagai hal.Adapun pendidikan Islam mempunyai tujuan sendiri sesuai dengan falsafah dan pandangan hidup yang digariskan Al-Qu’ran. Meski sumber gagasan perumusan tujuan pendidikan Islam sama yaitu Al-Qur’an dan Sunnah, para pakar pendidikan Islam membuat formulasi dengan redaksi yang tidak sama, meski substasinya sama.

  1. Ibnu Kaldun merumuskan bahwa tujuan pendidikan Islam mencakup:
  • Tujuan yang berorientasi ukhrawi yaitu membentuk seorang hamba agar melakukan kewajiban kepada Allah.
  • Tujuan yang berorientasi duniawi yaitu membentuk manusia yang mampu menghadapi segala bentuk kehidupan yang lebih layak dan bermanfaat.
    1. Menurut al-Ghazali, tujuan umum pendidikan Islam tercermin dalam dua segi:
  • Insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah.
  • Insan purna yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
    1. Menurut Abdur Rosyid, tujuan pendidikan Islam adalah:
  • Mewujudkan insan yang mampu taqarrub pada Allah melalui pendidikan akhlak.
  • Menciptakan individu yang memiliki pola piker yang ilmiah dan pribadi yang paripurna, yaitu pribadi yang dapat mengintegrasikan antara agama dengan ilmu serta amal saleh, guna memperoleh ketinggian derajat dalam berbagai dimensi kehidupan.
    1. Menurut Saleh Abdul Aziz bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk mendapat keridhoan Allah dan mengusahakan kehidupan
    2. Menurut Athiyah al-ibrasyi bahwa tujuan pendidikan Islam adalah
  • Pembentukan akhlaq mulia
  • Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat
  • Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi pemanfaatkan.   Keterpaduan antara agama dan ilmu akan dapat membawa manusia kepada kesempurnaan.
    • Menumbuhkan roh ilmiah para pelajar dan memenuhi keingian untuk mengetahui serta memiliki kesanggupan untuk mengkaji ilmu sekadar sebagai ilmu.
    • Mempersiapkan para pelajar untuk suatu profesi tertentu sehingga mudah mencari rezeki.
      1. Kursi Ahmad memberikan rumusan tujuan pendidikan Islam dengan redaksi berikut

Education is mental physical and ,moral training and its aim to produce highly cultured men and women fit to discharge their duties as good human being and as worthy citizen of state.

“Pendidikan adalah suatu pendidikan mental, fisik dan moral ia bertujuan untuk menghasilkan pria dan wanita uang berkebudayaan tinggi, yang cakap melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai manusia dan warga negara yang berguna.”

  1. Menurut hasil seminar se-dunia tentang pendidikan Islam di Islambad 1980 merumuskan tujuan pendidikan Islam sebagai berikut:

Education aims at the balanced growth of total personality of man through the training of mans spirit, intellect, the rational self, feeling and bodile sense. Education should, therefore, linguistic both individually and collectively and motivate all these aspect to ward goodness and attainment of perfection. The ultimate aim of education lies in the realization of complete submission to Allah on the level of individual, community, and humanity at large.

“Pendidikan seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia srcara total melalui pelatihan spiritual, kecerdasan, rasio, perasaan dan panca indera. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya memberikan pelayanan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya meliputi aspek spiritual, intelektual, imaginasi, fisik, ilmiah, linguistic, baik secraa individu, maupun secara kolektif disamping memotifasi semua aspek tersebut kea rah kebaikan dan pencapaian kesempurnaan. Tujuan utama pendidikan bertumpu pada terealisasinya ketundukan kepada Allah baik dalam level individu, komunitas dan manusia secara luas.

 

 

 


 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari pengertian filsafat, peranan dan ruang lingkup filsafat pendidikan islam, yaitu :

  1. Filsafat secara sederhana berarti alam pikiran atau alam berfikir. Berfilsafat artinya berfikir, namun tidak semua berfikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berfikir secara mendalam dan sungguh – sungguh .
  2. Filsafat pendidikan islam, pertama adalah filsafat tentang pendidikan islam dan kedua filsafat tentang pendidikan dalam perspektif islam.
  3. Peranan filsafat pendidikan islam menuju kedua arah yaitu kearah pengembangan konsep – konsep filosofis dari pendidikan islam dan kearah perbaikan dan pembaharuan praktek pelaksanaan pendidikan islam.
  4. Ruang lingkup filsafat pendidikan islam adalah masalah – masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode dan lingkungan.

Dengan demikian, filsafat islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran islam. Jadi filsafat ini bukan yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya. Secara umum ruang lingkup pembahasan filsafat pendidikan islam ini adalah pemikiran yang serba mendalam, mendasar, sistematis, terpadu, logis, menyeluruh, dan universal mengenai konsep-konsep yang berkaitan dengan pendidikan atas dasar ajaran islam.

Ternayata filsafat pendidikan islam berfungsi mengarahkan dan memberikan landasan pemikiran yang sistematik, mendalam, logis, universal, dan radikal terhadap berbagai masalah yang beroperasi dalam bidang pendidikan dengan menempatkan Al-Quran sebagai dasar acuannya.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

https://nurwahidabdulloh.wordpress.com/pengetahuan/filsafat/filsafat-pendidikan-islam/

Http://dakir.wordpress.com/2009/03/07/Pengertian -Objek-Kajian-Fungsi-dan-

Tugas-Filsafat-Pendidikan/

 

Ex Makalah : Pengantar Ushul Fiqh


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar belakang

Dalam perjalanannya, hukum Islam selalu megalami dinamika.Masanya sendiri sebenarnya dapat diklasifikasikan menjadi beberapa fase, yaitu masa Rasulullah, masa sahabat dan masa tabi’in, selain itu juga disusul dengan masa tabi’it tabi’in.

Pada masa Rasulullah persoalan hukum yang dihadapi oleh umat Islam terbilang belum begitu kompleks.Selain itu penetapan suatu hukum atas persoalan yang terjadi masih diserahkan penuh kepada Rasulullah SAW. Kemudian pasca beliau wafat, persoalan yang dihadapi oleh umat Islam semakin komplek, dan terkadang suatu permasalahan yang dihadapi oleh umat Islam pada saat itu belum dijumpai pada zaman Rasulullah. Darisitulah lahir sebuah ilmu ushul fiqh sebagai jawaban atas persoalan yang dihadapi oleh umat Islam.Jika ditilik lebih jauh lagi, sebenarnya embrio ushul fiqh telah ada sejak Rasulullah masih hidup.Kemudian setelah beliau wafat kajian mengenai ushul fiqh semakin mendapatkan perhatian yang cukup besar besar dari kalangan ahli hukum Islam.

Ada beberapa pendapat yang menjelaskan mengenai asal dari ushul fiqh. Namun, terlepas dari hal itu, dalam pembahasan makalah ini akan dijelaskan secara rinci mengenai hal ikhwal sejarah perkembangan ushul fiqh.

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengantar Ushul Fiqh
  2. Definisi/Pengertian Ushul Fiqh

Para ulama ushul menjelaskan pengertian ushul fiqh dari dua sudut pandang. Pertama dari pengertian kata ushul dan fiqh secara terpisah, kedua dari sudut pandang ushul fiqh sebagai disiplin ilmu tersendiri.

Lafadh ‘Ushul Fiqh’ ini tersusun dengan pola susunan Idlafah. Karenanya, pengertian ‘Ushul Fiqh’dengan mengurai makna harfiah dari masing-masing kata ini disebut pengertian dengan makna idlafi. Sedangkan pengertian ‘ushul fiqh’ sebagai nama ari sebuah disiplin ilmu, adalah pengertian dengan makna laqab. Karenanya, pengertian dengan makna laqab ini tanpa memandang asal makna dari masing-masing penyusunnya.

Ushul Fiqh ditinjau dari 2 kata yang membentuknya: Ushul dan Fiqh

 

AL-USHUL

Al-ushuul adalah bentuk jamak dari al-ashl yang secara etimologis berarti ma yubna ‘alaihi ghairuhu (dasar segala sesuatu, pondasi, asas, atau akar).

Sedangkan menurut istilah, kata al-ashl berarti dalil.

Jadi Ushul Fiqh adalah dalil-dalil fiqh. Dalil-dalil yang dimaksud adalah dalil-dalil yang bersifat global atau kaidah umum, sedangkan dalil-dalil rinci dibahas dalam ilmu fiqh.

Lafadz “ushul” (أصول) adalah bentuk jamak dari mufrad (bentuk tunggal) lafadh “ashl” (أصل). Secara bahasa, “ashl” adalah sesuatu yang diatasnya terbangun sesuatu yang lain. Yakni “ashl” adalah dasr atau pondasi. Sebagaimana akar adalah “ashl” adalah dasar dari pohon, diatasnya tumbuh batang, cabang, ranting dan daun dan buah. Sebagaimana pula atasnya dibangun tiang, tembok dan atap. Ushul fiqh juga demikian, ia adalah “ashl” atau dasar dari fiqh. Kebalikan dari ashl adalah far’u (cabang), yaitu sesuatu yang terbangun diatas sesuatu yang lain.

Secara istilah, “ashl” (الأصل) memiliki empat makna:

  1. Makna “dalil”

Contoh: الأصل في هذه المسألة الكتاب والسنة

Dalil dalam masalah ini adalah Al-Quran dan As-Sunnah.”

  1. Makan “ar- rujhan” (الرجحان)atau “yang unggul”, yang dominan”

Contoh:الأصل في الكلام الحقيقة

Yang unggul/dominan dalam perkataan adalah makna hakikat”

  1. Makna “al-qaidah al-mustamirrah” (القاعدة المستموة atau “kaidah yang mapan berlaku”

Contoh: إباحة الميتة للمضطر على خلاف الاصل

Dihalalkannya bangkai bagi orang yang dalam keadaan dharurat adalah penyimpangan dari kaidah yang mapan berlaku

  1. Makna “ash-shurah al-maqis alaih”(الصورة المقيس عليه) atau ”kasus/obyek yang menjadi sumber pengqiyasan (yang disamai)”

Contoh: الخمر هو الاصل والنبيذ هو فرعه بجامع الإسكار

Khamr (arak) adalah sumber pengqiyasan (yang disamai), sedangkan nabidz (minuman keras dari selain anggur) adalah yang disamakan, dengan titik kesamaan berupa memabukkan”.

 

AL-FIQH

Al-fiqh menurut bahasa berarti pengetahuan dan pemahaman terhadap sesuatu.

Menurut istilah para ulama: Ilmu tentang hukum-hukum syar’i yang bersifat amaliah yang diperoleh dari dalil-dalilnya yang terinci.

Penjelasan Definisi

Hukum adalah penisbatan sesuatu kepada yang lain atau penafian sesuatu dari yang lain.

Fiqh, secara bahasa al-fahm (kepahaman).Sedangakan secara istilah, ada beberapa definisi. Salah satunya adalah sebagai berikut:

معرفة الاحكام الشرعية التى طريقها الاجتهاد

Pengetahuan tentang hukum-hukum syara’ yang cara pengambilannya melalui ijtihad.

Contoh:

Pengetahuan bahwa niat dalam wudlu adalah wajib.

Pengetahuan bahwa shalat witir adalah sunnah.

Pengetahuan bahwa menginapkan niat di malam hari adalah syarat dalam puasa Ramadlan.

Pengetahuan bahwa zakat wajib dikeluarkan dari harta anak kecil, tetapi tidak wajib dikeluarkan dari harta berupa perhiasan yang diperbolehkan.

Pengetahuan bahwa pembunuhan dengan benda berat mengahruskan qishash.

Dan lain-lain dari permasalahan khilafiyyah.

Dari definisi ini, ada beberapa poin penjelasan terkait dengannya. Maksud dari “al-ma’rifat” dalam hal ini adalah “al-ilmu”.Karena makna sesungguhnya dari “al-ma’rifat”adalah pengetahuan tentang mufradat (obyek tunggal).Sedangakan “al-ilmu” adalah pengetahuan tentang an-nisbat at-tammah (penisbatan sempurna, yakni penyandaran sesuatu pada sesuatu yang lain). Tegasnya ,“al-ma’rifat” adalah tashawwur (identifikasi obyek), sedangakan “al-ilmu” adalah tashdiq (penyandaran hukum pada sesuatu). Padahal, fiqh termasuk dalam kategori “tashdiq”. Karenanya penggunaan lafadh “al-ma’rifat” dalam definisi ini merupakan ungkapan majaz, karena yang dikehendaki adalah “al-ilmu”. [1]

Yang dikehendaki dengan hukum adalah penisbatan sempurna, yakni tetapnya pada sesuatu yang lain dengan ketetapan positif atau negative.

Dalam bentuk sederhana dicontohkan sebagai berikut:

Contoh 1: زيدٌ قائمٌ

Dalam contoh ini, terdapat ketetapan “berdiri” pada Zaid dengan ketetapan positif (atau kalimat positif berupa “Zaid berdiri”)

Contoh 2: زيدٌ ليس بقائمٍ

Dalam contoh ini, terdapat ketetapan berdiri pada Zaid dengan ketetapan negative (atau kalimat negative berupa “Zaid tidak berdiri”)

 

Batasan hukum mengecualikan pengetahuan tentang sesuatu selain hukum, seperti mengetahui tentang materi atau sifat,semisal: mengetahui tentang “Apa itu batu?”; Bagaimana putih itu?; pengetahuan semacam ini bukanlah pengetahuan tentang “hukum” tetapi pengetahuan tentang “tashawwur”.

Tentang syara’ , adalah sesuatu yang diberlakukan Allah. Batasan ini mengecualikan pengetahuan tentang hukum selain syara’, seperti hukum akal, semisal: mengetahui bahwa “Satu adalah separuh dari dua”, atau hukum hissi (penginderaan), semisal: mengetahui bahwa “api itu panas”

Batasan “didapatkan dengan cara ijtihad”; ijtihad adalah pengarahan kemampuan dalam mencapai tujuan. Batasan ini mengecualikan pengetahuan yang cara mendapatkannya bukan dengan ijtihad, seperti pengetahuan bahwa shalat lima waktu adalah wajib, pengetauan bahwa zina adalah haram dan lain-lain dari permasalahan qath’iyyah. Pengetahuan ini didapatkan melalui pemberitaan mutawattir yang memunculkan sebuah keyakinan. Batasan ini juga mengecualikan pengetahuan seorang muqallid (orang yang bertaqlid), karena pengetahuan tentang hukum-hukum syara’ didapatnya bukan dengan cara ijtihad, tetapi dengan bertaqlid pada seorang mujtahid.

Setelah mengetahui arti Ushul dan Fiqh seperti di atas, maka definisi Ushul Fiqh adalah Ilmu pengetahuan yang mengajarkan kaidah kaidah dan pembahasan pembahasan yang dijadikan sebgai dasar dalam menetapkan hukum syariah Islam mengenai perbuatan manusia dari dalil dalinya secara rinci.

Dapat dipahami bahwa Ushul Fiqh dalam pengertian istilah adalah seperangkat kaidah atau teori (metode berfikir) guna mendukung cara dan upaya yang ditempuh dalam proses penetapan hukum dari sumber atau dalil dalil secara terperinci.

Jadi pada hakikatnya Ushul Fiqh adalah metodologi Hukum Islam (Manhaj Istinbath al-Ahkam) yaitu metode yang didalamnya memuat prosedur dan tehnik tentang:

  • Bagaimana hukum syari’ah Islam dapat dirumuskan untuk pedoman tingkah bertingkah laku?
  • Bagaimana pula jalan pikiran menuju proses pembentukan hukum Islam itu?

Dengan demikian, maka teori-teori yang bersifat tehnik operasional, menjadi obyek pembahasan para ahli hukum Islam (Fuqaha’), bukan ahli ushul.Hal ini lazim dikenal dengan istilah qawa’id-fiqhiyyah.

 

Pengertian Ushul Fiqh sebagai sebuah disiplin ilmu

Yakni, pokok pembahasan disiplin ilmu ushul fiqh berfokus pada tiga hal:

  1. Dalil-dalil fiqh ijmali (global)
  2. Tata cara istidlal dengan dalil-dalil ijmali tersebut dalam penerapannya secara tafshili (terperinci dalil per dalil)
  3. Kriteria-kriteria pelaku istidlal, yakni mujtahid.

Dalil-dalil fiqh ijmali atau yang bersifat global, seperti teori tentang:

  • Kemutlakan perintah menunjukkan hukum wajib
  • Kemutlakan larangan menunjukkan hukum haram
  • Perbuatan Nabi saw,ijma’,istishab,qiyas adalah hujjah

 

Sedangkan dalil fiqh tafhshili atau yang bersifat terperinci, adalah seperti berikut:

  • أقيموا الصلاة (sebagai dalil kewajiban shalat) dan ولا تقربوا الزنا(sebagai dalil keharaman zina)
  • Shalat yang dilakukan Nabi didalam Ka’bah (dalil bolehnya shalat dalam Ka’bah)
  • Ijma’ bahwa cucu perempuan dari anak laki-laki, jika bersama dengan anak perempuan kandung, mendapatkan bagian seperenam, tatkala tidak ada waris lain yang menjadikan ashobah pada keduanya
  • Pengqiyasan beras pada gandum dalam hal status ribawi

Dalil-dalil tafhshili seperti diatas bukan wilayah pembahasan ushul fiqh, akan tetapi wilayah pembahasan fiqh, meskipun dalam kitab-kitab ushul fiqh, hal-hal tadi disebutkan sebagai contoh penerapan. Ulama’ ahli ushul fiqh hanya membahas tentang konsekwensi shigat amar dan nahiy misalnya, tanpa mengaitkan dengan permasalahan tertentu.

Selanjutnya, ushul fiqh membahas tentang tata cara istidlal dengan dalil-dalil ijmali dalam penerapannya secara tafshili (terperinci dalil per dalil). Ini karena, tatkal dalil-dalil fiqh kebanyakan bertaraf dhanni (asumtif) maka tak lepas dari adanya ta’arudl (benturan) antara satu dalil dengan lainnya. Bentuk pembenturan tentu saja memperhatikan dalil per dalil, karena dalil-dalil ijmali tidak akan saling berbenturan. Semisal, mendahulukan dalil khash daripada dalil amm, mendahulukan dalil muqoyyad daripada dalil mutlaq; mendahulukan dalil mubayyan daripada dalil mujmal, dan sebagainya.

Kemudian, pembahasan tentang cara istidlal mengharuskan adanya pembahsan tentang pelaku istidlal, yakni mujtahid.

Bab-bab pembahasan dalam ushul fiqh, sebagaimana dalam hitungan nadhim ada 20 pembahasan. Dalam kitab ini, beberapa pembahasan dihimpun dalam satu bab karena ada keterkaitan diantaranya.

Pembahasan-pembahasan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Tentang pembagian kalam
  • Tentang amar (perintah)
  • Tentang nahi (larangan)
  • Tentang ‘amm
  • Tentang khash
  • Tentang mubayyan
  • Tentang mujmal
  • Tentang dhahir
  • Tentang muawwal
  • Tentang perbuatan Rasulullah
  • Tentang dalil mansukh
  • Tentang nasikh
  • Tentang ijma’
  • Tentang khabar
  • Tentang larangan dan perkenan sebelum terutusnya Rasul, dibahas pula tentang ishtishab
  • Tentang qiyas
  • Tentang urutan dalil-dalil
  • Tentang kriteria mufti
  • Tentang criteria mustafti
  • Tentang hukum-hukum mujtahid

 

  1. Obyek Pembahasan Ushul Fiqh

Obyek pembahasan yang menjadi kajian ilmu Ushul Fiqh adalah sebagai berikut:

  1. Pembahasan masalah kaidah-kaidah / teori-teori dasar yang akan dipakai untuk megistinbathkan hukum dan metode mengaplikasikan teori-teorinya.

Misalnya:

  1. Teori kemutlakan perintah
  2. Teori kemutlakan larangan
  3. Metode penggunaan sumber hukum Islam, ketika terjadi kontradiksi antara dua dalil, seperti metode tarjih dengan menggunakan teori-teori
  4. Teori kompromitas (jam’iy) atau teori taufiqiy sebagai salah satu system pencarian jalan keluar dari adanya dua dalil yang secara lahiriyah kontradiktif (tanaqudl), misalnya antara ayat dengan ayat atau antara Hadits dengan Hadits dan sebagainya.
  5. Teori nasikh-mansukh atau teori tasaqut adillaini, sebagai salah satu system pengguguran salah satu dalil yang kontradiktif atau keduanya sekaligus.
  6. Teori Tartibul Adillah (strafikasi dalil), misalnya kontradiksi antara muthlaq dan muqayyad atau mujmal dan mubayyan dan sebagainya.
  7. Kriteria orang yang berhak melakukan penggalian hukum (Istinbath) dan seluk-beluknya, seperti masalah mujtahid dan hasil ijtihadnya.
  8. Metode penggalian hukum (istinbath al-hukm) dari sumber asalnya, seperti dalam pembahasan masalah hukum syara’, baik yang bersifat tuntutan (thalab), larangan, pilihan (takhyir), maupun bersifat dispensasi (rukhshah) dan ’azimah. Begitu juga hal-hal yang berkaitan dengan persoalan hukum, hakim, makhum ‘alaih (orang yang dibebani) dan mahkum fih.

 

  1. Guna Ushul Fiqh

Guna mempelajari Ushul Fiqh ialah untuk mengetahui hukum-hukum syari’at Islam dengan jalan yakin (pasti) atau dengan jalan zhan (dugaan, perkiraan) dan untuk menghindari taklid (mengetahui pendapat orang lain tanpa mengetahui alasan-alasannya). Hal ini dapat berlaku, kalau memang benar-benar Ushul Fiqh ini digunakan menurut mestinya, yaitu mengambil hukum soal-soal cabang dari soal-soal pokok atau dengan mengembalikan soal-soal cabang kepada soal-soal pokok.Yang pertama adalah pekerjaan ahli ijtihad (mujtahid) dan yang kedua adalah pekerjaan muttabi.

Dengan adanya faedah tersebut, ertolaklah faham sementara orang yang mengatakan, bahwa Ushul Fiqh adalah pekerjaan orang-orang yang terdahulu saja dalam mencari ketentuan suatu hukum, dan bagi kita yang sekarang hanya mengikuti apa yang telah didapati mereka. Pendapat ini tidak benar, sebab taklid adalah pekerjaan yang harus kita hindari.

Setidaknya kita harus bias mencapai derajat itibat’, yaitu mengikuti pendapat orang lain dengan mengetahui alasan-alasannya.

 

  1. Ilmu-Ilmu Pembantu Ushul Fiqh (Istindaad)

Ushul Fiqh adalah kaidah-kaidah (peraturan-peraturan) yang dipinjam dari ilmu-ilmu yang lain yang dijadikan suatu macam ilmu yang tersendiri. Adapun ilmu-ilmu yang sangat berhubungan dengan Ushul Fiqh ialah:

  • Ilmu Tauhid

Ilmu Tauhid ini penting Karen mengetahui adanya syari’at Islam sesudah mengetahui adanya Tuhan yang menurunkan syari’at itu dan adanya Rasul.Tentang kebenaran syari’at itu dari Allah dan tentang kebenaran Rasul pembawa syariat tersebut dibicarakan dalam ilmu Tauhid.

  • Bahasa Arab

Kita mengetahui bahwa Qur’an itu berbahasa Arab. Demikian hadis Nabi S.A.W. Kita tidak akan bias mengambil sesuatu hukum dari Qur’an atau Hadis kalau kita tidak mengetahui bahasa Arab. Karena itu kedudukan bahasa Arab dalam mempelajari Ushul Fiqh sangat penting.

 

  1. Sejarah dan Perkembangan Ushul Fiqh

Ilmu ushul Fiqih, lahir sejak abad ke-2 H. Ilmu tersebut, pada abad pertama Hijriyah memang tidak diperlukan karena keberadaan Rasulullah SAW. masih bisa mengeluarkan fatwa dan memutuskan suatu hukum berdasarkan ajaran Alqur’an, Sunnah dan apa yang diwahyukan kepada beliau. Disamping itu secara fithri, ijtihad Rasul tidak memerlukan Ushul atau kaidah-kaidah yang dijadikan sebagai istinbat dan ijtihad. Begitu pula dengan para sahabat, mereka memberikan fatwa hukum dan memutuskan suatu keputusan berdasarkan nash-nash yang dipahami lantaran kemampuan potensial mereka dibidang bahasa arab yang benar, tanpa memerlukan kaidah-kaidah bahasa yang dapat dijadikan sebagai dasar pemahaman nash. Para sahabat juga melakukan istinbat terhadap hukum yang tidak ada nashnya berdasarkan kemampuan potensial mereka dalam membina hukum syari’at Islam yang terpusat di dalam jiwa mereka yang disebabkan akrabnya mereka dengan Rasulullah di dalam pergaulan. Selain itu, para sahabat juga ikut menyaksikan sebab-sebab turunnya Al-Qur’an dan sebab-sebab dikeluarkannya hadits, serta memahami maksud dan tujuan syari’ (pembuat hukum, yakni Allah) disamping prinsip-prinsip pembentukan hukum Islam.

Namun ketika dunia Islam semakin berkembang luas dengan hasil kemenangan yang diraih, dan bangsa Arab telah banyak bergaul dengan bangsa-bangsa lain, sehingga timbul interaksi bahasa lisan dan tulis-menulis, maka beberapa sinonim dan gaya bahasa Arab tercampur dengan bahasa lain. Sebagai akibatnya, naluri bahasa mereka menjadi tidak murni lagi. Maka terjadilah kerancuan dan kemungkinan yang terjadi di dalam cara memahami nash. Sehingga dianggap perlu menyusun batas-batas dan kaidah-kaidah bahasa yang dapat mendukung pemahaman nash, sebagaimana bangsa arab mampu memahami nash sesuai bahasa yang ia gunakan. Penyusunan kaidah itu tidak jauh berbeda dengan penyusunan kaidah-kaidah Nahwu yang dapat membantu kemampuan berbahasa secara baik.

Demikian setelah waktu lama dari awal pembentukan hukum Islam, banyak terjadi perdebatan antara Ahli Hadits dan Ahli Ra’yu. Banyak juga orang yang hanya berdasarkan keberanian mengeluarkan suatu hujjah yang tidak pantas sebagai hujjah, bahkan menolak hujjah yang sebenarnya. Kondisi ini mendorong peletakan batasan-batasan dan bahasa tentang dalil syar’iyyah dan syarat-syarat atau cara menggunakan dalil-dalil. Seluruh pembahasan tentang penggunaan dalil, batasan-batasan atau kaidah-kaidah bahasa ini yang disebut sebagai ilmu ushul fiqh.

Namun, ilmu tersebut tumbuh dalam kondisi yang sangat sederhana, seperti halnya anak kecil yang baru lahir. Kemudian, secara bertahap ilmu tersebut tumbuh semakin meningkat sehingga mencapai usia 200 tahun. Sejak itu, mulailah ilmu itu berkembang dengan pesatnya, tersebar dan memencar bersama berkembangnya hukum Fiqh, sebab setiap Imam mujtahid , baik Imam yang empat atau yang lainnya, selalu memberi petunjuk dengan dalil hukum yang disertai dengan ilmu Ushul Fiqh dan arahan pengambilan dalil dengan ilmu itu juga. Sedang para mujtahid yang tidak menggunakan cara tersebut, berarti telah membuat hujjah dengan jalan yang menyimpang. Padahal, semua pengambilan dalil dan penggunaan hujjah selalu mengandung kaidah-kaidah Ushul.

Orang pertama yang menghimpun kaidah-kaidah yang berserakan itu, ialah Imam Abu yusuf, seorang pengikut setia imam Abu Hanifah. Hal ini, dikatakan oleh Ibnu Nadim dalam kitabnya yang bernama Al Fahrasat. Namun sangat disayangkan catatan-catatan tersebut tidak sampai ketangan kita. Oleh ahli ushul fiqih dianggap yang pertama mengumpulkan dan menyusun ilmu ini adalah Imam Syafi’i dalam kitabnya yang bernama Ar-Risalah. Dan setelah itu, muncullah para penulis lain yang melengkapi dan menyempurnakannya seperti Imam Ghazali dalam kitabnya yang bernama Al-Mustasyfa, Al-Amidi dalam kitabnya yang bernama Al-Minhaj yang disyaratkan oleh Asnawi.

Dari kalangan madzhab Hanafi yang terkenal Abu Zaid Al Dabbas dalam kitabnya yang bernama Ushul, Fadhul Islam Al Basdawi dalam kitabnya yang bernama Ushul dan Nasafi dalam kitabnya yang bernama Al Manar. Disamping itu lahirlah pula kitab yang bernama Badi’un Nizam Al Jami Baina Bazdawi wal ‘itisom oleh Muzafaruddin Al Baghdadi Al Hanafi, kitab tahrir oleh kamal bin Humam dan kitab Jam’ul jawani oleh ibnu Subki.

Di abad sekarang ini ada pula beberapa buah kitab yang ditulis oleh beberapa ulama’, diantaranya kitab Irsyadul Fuhul oleh Syaukani, kitab Ushul Fiqh oleh Hudari Bek, kitabTahsilul wushul oleh Muhammad Abdurrahman Mahlawi. Dan masih banyak kitab-kitab Ushul Fiqh yang lainya.

Syari’at Islam yang datang kepada kita dasarnya ialah Qur’an.Kemudian Al-Qur’an itu dijelaskan oleh Nabi Muhammad SAW baik dengan kata-kata maupun perbuatannya.Kata-kata dan perbuatan inilah yang biasa kita kenal dengan sebutan Sunnah.

Mulai dari para sahabat dan para tabi’in yang sempurna pengetahuannya tentang bahasa Qur’an, bahasa arab, dan mengetahui pula sebab-sebab turunnya, rahasia-rahasia syari’at dan tujuannya. Pengetahuan ini disebabkan karena pergaulan mereka dengan Nabi SAW, disamping kecerdasan mereka sendiri.Karena itu, mereka tidak memerlukan peraturan-peraturan dalam mengambil suatu hukum (istinbat), sebagaimana mereka tidak membutuhkan qaidah-qaidah untuk mengetahui bahasa mereka sendiri (bahasa Arab).

Sesudah Islam menyebar dan meluar. Sedang bangsa Arab sudah bergaul dengan bangsa-bangsa lain, maka dibuatlah peraturan-peraturan bahasa Arab. Tujuannya adalah untuk menjaga bahasa Arab itu sendiri sebagai bahasa Al-Qur’an, dari pengaruh bahasa-bahasa lain. Disamping tiu, tujuan yang lain karena banyak peristiwa-peristiwa baru yang timbul dalam segala lapangan hidup. Keadaan mencari dan menentukan hukum peristiwa-peristiwa tersebut.

Para ulam telah tersebar di berbagai Negara yang baru dan berbeda dalam pandangan dan cara berpikirnya. Karena itu, masing-masing ulama’ dalam melakukan ijtihad dan mencari hukum dalam menempuh jalannya sendiri-sendiri yang dipandangnya benar atau yang sesuai dengan jalan fikirannya.Disinilah terjadi perbedaan pendapat.

Dari situlah timbullah pikiran untuk membuat peraturan-peraturan dalam berijtihad dan pengambilan hukum.Bertujuan agar dengan peraturan-peraturan ini dapat diperoleh pendapat yang benar dan agar dapat diperdekat jarak perbedaan-perbedaan pendapat yang terjadi.

Imam Syafi’I (wafat 204 H)adalah yang pertama dalam menguasahakan peraturan-peraturan tersebut yang tertulis dalam kitabnya ‘Arrisalah’. Yang didalamnyamembahas tentang Al Qur’an, Hadits dan macam-macamnyam Ijma’, Qiyas dan pokok-pokok peraturan pengambilan hukum.

Usaha Imam Syafi’I ini merupakan batu pertama dari ilmu ushul fiqh yang kemudian para ahli ushul fiqh melanjutkan pembahasannya.

Para ulama ushul berbeda pendapat tentang segala hal, baik dari segi istilah-istilah maupun jalan pembicaraannya. Disinilah terbagi dua golongan:

  1. Golongan Ahli Ilmu Kalam / Aliran Syafi’iyyah.
  2. Golongan Hanafiyah.

Golongan pertama dalam pembahasannya selalu mengikuti cara-cara yang lazim digunakan dalam ilmu kalam, ialah dengan memakai akal-fikiran dan alasan-alasan yang kuat dalam menetapkan peraturan-peraturan pokok, tanpa memperhatikan apakah-peraturan-peraturan tadi sesuai dengan soal furu’ atau tidak.Dapat dipahami bahwa pembicaraan golongan ahli kalam ini membahas Al Qur’an dulu baru turun pada cabang-cabangnya.Diantaranya golongan ini adalah golongan Mu’tazilah, Syafi’iyyah dan Malikiyyah.

Diantara kitab-kitab yang ditulis golongan tersebut:

  1. Al Mu’tamad (Muhammad bin Ali; wafat 463 H)
  2. Al Burhan (Al Juwaini; wafat 478 H)
  3. Al Mustashfa (Al Ghazali; wafat 505 H)
  4. Al Mashul (r Razy; wafat 6060 H) yang meringkaskan ketiga kitab sebelumnya.

Sedangkan golongan yang kedua yakni golongan Hanafiyyah.Yang dalam pembicaraannya selalu memperhatikan dan menyesuaikan peraturan-peraturan pokok dengan soal-soal furu’, sehingga mereka menetabkan sebuah hukum berdasarkan soal-soal furu’ yang diterima dari imam-imam mereka.Apabila peraturan tadi bertentangan dengan furu’ maka peraturan tai diubah sedemikian rupa sehingga sesuai denga soal furu’.Atau bias dipehami, bahwa golongan Hanafiyyah ini pembicaraannya dari cabang dulu lalu masuk ke pusat, yakni Al-Qur’an.

Diantara ulama’ golongan Hanafiyyah:

  1. Al Jasshas (wafat 370 H)
  2. Al Bazdawi (wafat 483 H)
  3. Annasafi (wafat 790 H)

Sesudah kedua golongan tadi, datanglah golongan baru yang menyatukan kedua aliran tersebut. Diantaranya adalah:

  1. Sadrus Syari’ah dalam kitabnya Tanqihul-usul (wafat 747 H)
  2. As Sa’ati dengan kitabnya Badi’unnidzam (wafat 694 H)
  3. Kamal bin Hammam dengan kitabnya Attahri (wafat 861 H)

Kemudian datang As Syatibi (wafat 780 H) yang menulis kitab Al Muwafaqat dengan cara yang baru. Isi dari kitab ini diterangkan kaidah-kaidah usul, juga tujuan syari’at dan hikmahnya mentasyri’kan suatu hukum.

Selain itu banyak lagi kitab-kitab yang membahas ushul fiqh. Seperti Irsyadulfuhul oleh Assyaukani (wafat 1255 H); Ushul Fiqh oleh Al Chudari (wafat 1245 H).

 

  1. Periodesasi Ushul Fiqih pada Masa Rasulullah, Sahabat, dan Tabi’in
    1. Periode Rasulullah

Pertumbuhan ushul fiqh tidak terlepas dari perkembangan hukum Islam sejak zaman Nabi SAW hingga pada masa tersusunya ushul fiqh sebagai salah satu bidang ilmu pada abad ke-2 H. Pada zaman Nabi SAW, sumber hukum Islam ada 2, yaitu Alqur’an dan sunnah. Apabila suatu kasus terjadi, Nabi SAW menunggu wahyu yang menjelaskan kasus hukum tersebut. Apabila wahyu tidak turun maka Nabi menetapkan kasus tersebut melalui sabdanya, yang kemudian dikenal dengan hadis dan sunah. Dalam menetapkan hukum dari berbagai kasus yang ada di zamanya, ulama ushul fiqh menyimpulkan ada isyarat bahwa Nabi melakukannya melalui ijtihad. Hasil ijtihad Nabi ini secara otomatis menjadi sunnah bagi ummat.

Dalam beberapa kasus, Nabi SAW juga mengaplikasikan qiyas ketika menjawab pertanyaan para sahabat. Cara-cara beliau dalam menetapkan hukum inilah yang menjadi bibit munculnya ilmu ushul fiqh. Oleh sebab itu, para ushuliyyin menyatakan bahwa ushul fiqh itu sendiri bersamaan hadirnya dengan fiqh, yakni sejak zaman Nabi SAW. Bibit ini semakin jelas di zaman para sahabat karena persoalan yang mereka hadapi semakin berkembang, sedangkan Al-qur’an dan sunnah telah selesai turun seiring dengan wafatnya Nabi SAW.

  1. Periode Sahabat

Pada masa ini kajian tentang fiqih mulai dirumuskan, yaitu setelah wafatnya Rasulullah SAW. Sebab pada masa hidupnya Rasulullah SAW, semua persoalan hukum yang timbul diserahkan kepada Beliau. Meskipun satu atau dua kasus hukum yang timbul terkadang disiasati para sahabat Beliau dengan ijtihad, tetapi hasil akhir dari ijtihad tersebut, dari segi tepat atau tidaknya ijtihad mereka itu, dikembalikan kepada Rasulullah SAW. Hal ini karena Rasulullah SAW adalah satu-satunya pemegang otoritas kebenaran Agama, melalui wahyu yang diturunkan kepada Beliau.

Pada periode sahabat, dalam melakukan ijtihad untuk melahirkan hukum, pada hakikatnya para sahabat menggunakan ushul fiqh sebagai alat untuk berijtihad. Hanya saja, ushul fiqh yang mereka gunakan baru dalam bentuknya yang paling awal, dan belum banyak terungkap dalam rumusan-rumusan sebagaimana yang kita kenal sekarang.

Contoh cikal bakal ilmu ushul fiqh yang terdapat pada masa Rasulullah SAW dan masa sahabat, antara lain berkaitan dengan ketentuan urutan penggunaan sumber dan dalil hukum, sebagai bagian dari ushul fiqh, misalnya dapat dilihat dari informasi tentang dialog antara Rasulullah SAW dan Mu’az bin Jabal, ketika Rasulullah SAW mengutus Mu’az ke Yaman.

“Ketika Rasulullah SAW bermaksud mengutus Mu’az ke Yaman, beliau bertanya: “ bagaimana kamu memutuskan bila suatu kasus diajukan kepadamu? Ia menjawab: “saya akan putuskan berdasarkan kitab Allah” beliau bertanya lagi: “jika kamu tidak menemukannya dalam kitab Allah? ia menjawab: “ saya yakan putuskan berdasarkan sunah Rasulullah SAW ” beliau bertanya lagi: “jika kamu tidak menemukannya dalam kitab Allah maupun sunnah Rasulullah?Ia menjawab: “saya akan berijtihad, namun saya tidak akan ceroboh.” beliau berkata sambil menepuk dada Mu’az: “ segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufiq utusan Rasulullah kepada apa yang di ridhai Rasul itu.”

Para sahabat Rasulullah SAW selain karena kedekatan mereka kepada Beliau, mereka juga menimba banyak pengalaman dari Beliau dan memahami secara mendalam pembentukan hukum Islam (tasyri’), juga karena mereka sendiri memiliki pengetahuan bahasa arab yang sangat baik. Dengan bekal pengalaman dan kemampuan tersebut, maka ketika Rasulullah SAW wafat mereka telah dapat melakukan ijtihad untuk mengatasi masalah kekosongan hukum atas peristiwa-peristiwa baru yang terjadi yang belum ada ketentuan hukumnya secara eksplisit dalam Alqur’an dan sunnah. Mereka juga tidak banyak mengalami kesulitan memahami ayat-ayat Alqur’an dan maksud sunnah untuk melakukan pengembangan hukum Islam, terutama melalui metode qiyas.

Langkah-langkah yang ditempuh para sahabat apabila menghadapi persoalan hukum ialah menelusuri ayat-ayat Al qur’an yang berbicara tentang masalah tersebut. Apabila tidak ditemukan hukumnya dalam Al qur’an maka mereka mencarinya di dalam sunnah. Apabila di dalam sunnah pun tidak ditemukan barulah mereka berijtihad.

  1. Periode Tabi’in

Sejalan dengan berlalunya masa sahabat, timbullah masa tabi’in. Pada masa ini, sejalan dengan perluasan wilayah-wilayah Islam, dimana pemeluk Islam semakin heterogen bukan saja dari segi kebudayaan dan adat istiadat lokal, tetapi juga dari segi bahasa, peradaban , ilmu pengetahuan, teknologi dan perekonomian, banyak bermunculan kasus-kasus hukum baru, yang sebagiannya belum dikenal sama sekali pada masa Rasulullah SAW dan masa sahabat. Untuk menjawab kasus-kasus hukum ini, lahir tokoh-tokoh Islam yang bertindak sebagai pemberi fatwa hukum. Mereka ini sebelumnya telah lebih dahulu menimba pengalaman dan pengetahuan di bidang ijtihad dan hukum dari para sahabat pendahulu mereka. Para ahli hukum generasi tabi’in ini, antara lain, Said bin al-Musayyab (15-94H) sebagai mufti di Madinah. Sementara di Irak tampil pula Alqamah bin al-Qais (w. 62H) dan Ibrahim an-Nakha’i (w. 96H), di samping para ahli hukum lainnya.

Dalam melakukan ijtihad, sebagaimana generasi sahabat, para ahli hukum generasitabi’in juga menempuh langkah-langkah yang sama dengan yang dilakukan para pendahulu mereka. Akan tetapi, dalam pada itu, selain merujuk Alquran dan sunnah, mereka telah memiliki tambahan rujukan hukum yang baru, yaitu ijma’ ash-shahabi, ijma’ ahl al-Madinah, fatwa ash-shahabi, qiyas, dan mashlahah mursalah, yang telah dihasilkan oleh generasi sahabat.

Terhadap sumber rujukan yang baru itu, mereka memiliki kebebasan memilih metode yang mereka anggap paling sesuai. Oleh karena itu, sebagian ulama tabi’in ada yang menggunakan metode qiyas, dengan cara berusaha menemukan ‘illah hukum suatu nashsh dan kemudian menerapkannya pada kasus-kasus hukum yang tidak ada nashsh-nya tetapi memiliki‘illah yang sama. Sementara sebagian ulama lainnya lebih cenderung memilih metodemashlahah, dengan cara melihat dari segi kesesuaian tujuan hukum dengan kemaslahatan yang terdapat dalam prinsip-prinsip syara’.

Perbedaan cara yang ditempuh oleh kedua kelompok tabi’in ini, terutama timbul karena perbedaan pendapat: apakah fatwa ash-shahabi dapat menjadi dalil hukum (hujjah)? Dan apakah ijma’ ahl al-Madinah merupakan ijma’ sehingga berkedudukan sebagai hujjah qath’iah (dalil hukum yang bersifat pasti)?

Adanya kedua kelompok ulama di atas merupakan cikal bakal lahirnya dua aliran besar dalam ilmu ushul fiqh dan fiqh, yaitu aliran Mutakallimin atau asy-Syafi’iyyah, yang dianut jumhur (mayoritas) ulama, dan aliran fuqaha’ atau hanafiyyah yang pada mulanya berkembang di Irak.

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Dimaksudkan dengan adanya kaidah-kaidah dalam Ilmu Ushul Fiqh, yaitu untuk diterapkan pada dalil-dalil syara’ yang terperinci dan sebagai rujukan bagi hukum-hukum furu’ hasil ijtihad para ulama.

Dengan menerapkan kaidah-kaidah pada dalil-dalil syara’ yang terperinci, maka dapat dipahami kandungan nash-nash syara’ dan diketahui hukum-hukum yang ditunjukinya, sehingga dengan demikian dapat diperoleh hukum perbuatan atau perbuatan- perbuatan dari nash tersebut. Dengan menerapkan kaidah-kaidah itu dapat juga ditentukan jalan keluar (sikap) yang diambil dikala menghadapi nash-nash yang saling bertentangan, sehingga dapat ditentukan pula hukum perbuatan dari nash atau nash-nash sesuai dengan jalan keluar yang diambil. Demikian pula dengar menerapkan kaidah-kaidah pada dalil-dalil, dapat diperoleh hukum perbuatan-perbuatan yang tidak didapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Dari sisi ini jelaslah bahwa kegunaan Ilmu Ushul Fiqh ialah untuk memperoleh hukum-hukum syara’ tentang perbuatan dari dalil-dalilnya yang terperinci, sebagaimana yang tertuang dalan pengertian Ilmu Ushul Fiqh yang telah dipaparkan di depan. Kegunaan ilmu Ushul Fiqh yang demikian itu, masih sangat diperlukan bahkan dapat dikatakan inilah kegunaan yang pokok, karena meskipun para ulama terdahulu telah berusaha untuk mengeluarkan hukum dalam berbagai persoalan, namun dengan perubahan dan perkembangan zaman yang terus berjalan, demikian pula dengan bervariasinya lingkungan alam dan kondisi sosial pada berbagai daerah, adalah faktor-faktor yang sangat memungkinkan sebagai penyebab timbulnya persoalan-persoalan hukum yang baru; yang tidak didapati ketetapan hukumnya dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah dan belum pernah terpikirkan oleh para ulama terdahulu. Untuk dapat mengeluarkan ketetapan hukum persoalan-persoalan tersebut, seseorang harus mengetahui kaidah-kaidah dan mampu menerapkannya pada dalil-dalilnya.

Sedangkan dengan menjadikan kaidah-kaidah sebagai rujukan bagi hukum-hukum furu’ hasil ijtihad para ulama, maka dari sini dapat diketahui dalil-dalil yang digunakan dan cara-cara yang ditempuh dalam memperoleh atau mengeluarkan hukum-hukum furu’ tersebut, karena tidak jarang dijumpai dalam sebagian kitab-kitab fiqh yang menyebutkan hukum-hukum furu’ hasil ijtihad seorang ulama atau sekelompok ulama, tanpa disebutkan dalil-dalil dan cara-cara pengambilan hukum itu. Begitu juga dapat diketahui sebab-sebab terjadinya perbedaan pendapat diantara para ulama, sebab terjadinya perbedaan pendapat para ulama tersebut pada hakekatnya berpangkal dari perbedaan dalil atau dari perbedaan cara yang ditempuh untuk sampai kepada hukum furu’ yang diambilnya. Bahkan dapat pula untuk menyeleksi pendapat-pendapat yang berbeda dari seorang ulama, dengan memilih pendapat yang sejalan dengan kaidah-kaidah yang digunakan oleh ulama tersebut dalam menetapkan hukum.

Dengan singkat dapat dikatakan bahwa dari sisi ini, Ilmu Ushul Fiqh dapat digunakan untuk mengetahui alasan-alasan pendapat para ulama. Kegunaan ini juga mempunyai arti yang penting, karena jika mungkin seseorang akan dapat memilih pendapat yang dipandang lebih kuat atau setidak-tidaknya seseorang dalam mengikuti pendapat ulama harus mengetahui alasan-alasannya.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Syaikh Ahmad bin ‘Abd al-Lathif al-khathib al-Mankabawiy Al-Jawi, An-Nafahat ‘ala Syarh al-Warawat, Surabaya: Daru Ihya’il Kutub al-Arabiyyah, tt., hlm. 15

  1. Khalid Afandi, Dari Teori Ushul menuju Fiqh Ala Tashil Ath-Thuruqat, Lirboyo: Santri Salaf Press, hlm. 280

 

Web

http://indo.hadhramaut.info/app_Files/usul%20fiqh.pdf

https://muhlis.files.wordpress.com/2008/03/fiqh-dan-ushul-fiqh.pdf

https://mahadilmi.wordpress.com/2012/09/06/pengantar-ilmu-ushul-fiqih/

http://pustaka.abatasa.co.id/pustaka/detail/ushul-fiqih/allsub/136/kegunaan-mempelajari-ilmu-ushul-fiqh.html

http://catatanharianspinoza.blogspot.co.id/2014/09/makalah-ushul-fiqih-sejarah-dan.html

http://ikatansantriwalisongo.blogspot.co.id/2010/04/sejarah-perkembangan-ushul-fiqh.html

 

[1] Syaikh Ahmad bin ‘Abd al-Lathif al-khathib al-Mankabawiy Al-Jawi, An-Nafahat ‘ala Syarh al-Warawat, Surabaya: Daru Ihya’il Kutub al-Arabiyyah, tt., hlm. 15

Ex Makalah : Ta’arudl Al Adillah


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

“Apabila dua nash saling bertentangan menurut lahiriyahnya, maka wajib dilakukan pembahasan dan ijtihad dalam rangka menggabungkan dan menyesuaikan antara keduanya melalui cara yang shahih dari berbagai cara penggabungan dan penyesuaian: Jika hal tersebut tidak mungkin dilakukan, maka wajib dilakukan pengkajian dan ijtihad dalam rangka mentarjihkan salah satu dari kedua nash itu dengan salah satu cara tarjih. Kemudian jika hal ini tidak mungkin dan itu juga tidak mungkin, sedangkan sejarah kedatangan kedua nash itu diketahui, maka nash yang menyusul menashkan nash yang tedahulu; dan jika sejarah kedatangan nash itu tidak diketahui, maka pemberlakuan terhadap kedua nash itu ditangguhkan. Apabila dua qiyas dan dua dalil selain nash bertentangan, dan tidak mungkin mentarjih salah satu dari keduanya, maka istidlal dengan kedua qiyas atau dua dalil ini dikesampingkan”. (Abdul Wahhab Khallaf)

Hukum fiqih mempunyai lapangan yang luas, meliputi berbagai peraturan dalam kehidupan yang menyangkut hubungan manusia dengan Khaliqnya dan hubungan manusia dengan sesama manusia dan sesama makhluk.Yang dalam pelaksanaannya juga berkaitan dengan situasi/keadaan tertentu, maka mengetahui landasan hukum yang menjadi pedoman berpikir dalam menentukan hukum tersebut sangatlah penting.

Islam yang diturunkan oleh Allah tidaklah sebuah agama yang tanpa dasar dalam menentukan suatu hukum, ataupun seenaknya sendiri yang dilakukan oleh umat muslim untuk membuat hukum, namun di sana ada aturan-aturan yang mengikat, harus melalui koridor-koridor yang sesuai dengan syari’at. Dasar utama yang digunakan oleh umat Islam dalam menentukan hukum adalah Al-Qur’an dan Hadits, namun seiring munculnya suatu permasalahan yang baru maka dibutuhkan ijtihad dalam penetuan suatu hukum, maka muncul produk hukum qiyas dan ijma’.

Dengan dasar itulah umat Islam menjalankan roda-roda kehidupan dengan syari’at yang telah terlandaskan.Namun ketika seorang mujtahid itu menentukan suatu hukum sesuai dengan koridor syara’ tentunya tidak terlepas dari kelemahan dalam pemahaman. Maka di sini dikenal dengan ta’arudl al-adillah (pertentangan dalil), meskipun kemampuan seseorang terbatas dalam memahami sesuatu namun di sana juga ditetapkan suatu aturan-aturan yang baru untuk menentukan suatu hukum yang mashlahah.

Pada waktu Nabi Muhammad saw masih hidup, segala persoalan hukum yang timbul langsung ditanyakan kepada beliau. Beliau memberikan jawaban hukum dengan menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an.Dalam keadaan tertentu beliau juga memberikan jawaban melalui penetapan beliau yang disebut hadits atau as-sunnah.

Dalam perkembangan Islam yang mencakup seluruh dimensinya, dihadapkan pula dengan kejadian-kejadian hukum yang memerlukan suatu ketetapan-ketetapan hukum baru. Dalam hal ini, para ulama mujtahid berusaha untuk merumuskan kaidah-kaidah atau aturan permainan yang menjadi pedoman untuk merumuskan hukum berdasar dari sumber-sumbernya.Kesemuanya ini merupakan topik pembicaraan dalam ushul fiqh.

Ilmu Ushul Fiqh adalah salah satu bidang ilmu keislaman yang penting dalam memahami syari’at Islam dari sumber aslinya,Alqur’an dan Sunnah.Melalui ilmu ushul fiqh dapat diketahui kaidah-kaidah,prinsip-prinsip umum syari’at islam,cara memahami suatu dalil dan penerapannya dalam kehidupan manusia.

Al-Quran dan al-sunnah merupakan sumber utama umat Islam, petunjuk dalam kehidupan sehari-hari. Semua dalil selain kedua nash tersebut harus mengacu kepadanya, atau memakai kaedah umum yang ditetapkan berdasarkan nash. Maka seharusnya tidak ada pertentangan selama dasar dan pemahaman dalil-dalil tersebut serta menggali hukumnya dilakukan dengan benar.Benarkah di dalam sumber hukum Islam, terutama dua sumber utama tersebut, terdapat pertentangan (taarudh)?

 


BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. PENGERTIAN TA’ARUDL AL ADILLAH

Ta’arud Al-Adillah. Secara bahasa, kata ( التعارض ) dibentuk dari fi’il madhi (عرض), yang artinya menghalangi, mencegah atau membandingi. Artinya, menurut penjelasan para ahli bahasa, kata At-Ta’arudl berarti saling mencegah, menentang atau menghalangi (pertentangan). Lafadz (الأدلة) merupakan jama’ dari lafadz (الدليل ) yang berarti alasan, argument dan dalil. Sedang maksudnya adalah “Apa saja yang memungkinkan untuk tercapainya kebenaran nalar dari apa yang dicari”.

Sedangkan secara Istilah, para ulama memiliki berbagai pendapat, antara lain:

  1. Imam Badruddin Muhammad Bahadir bin Abdillah Az Zarkasyi adalah

تَقَابُلُ الدَّلِيلَيْنِ عَلى سَبِيْلِ المُمَناعَةِ

Artinya: Persinggungan dua dalil dengan cara saling mencegah.

  1. Wizarat Al Awqaf Wa Al Syu’un

التَّمَانُعُ بَيْنَ الدَّلِيْلَيْنِ مُطْلَقًا بحَيْثُ يَقْتَضِى أَحَدُهُمَا غَيْرَ مَا يَقْتَضِى الآخَرُ

Artinya: Saling mencegah di antara dua dalil secara mutlak, yakni salah satunya menunjukkan makna yang berbeda dengan yang ditunjukkan dalil lain.

  1. Imam Syaukani: Ta’arrudl al-Adillah adalah suatu dalil yang menentukan hukum tertentu terhadap suatu persoalan, sedangkan dalil lain menentukan hukum yang berbeda dengan dalil ini.
  2. Kamal ibnu Al-Humam dan At-Taftazani, Ta’arrudl al-Adillah adalah pertentangan antara dua dalil yang tidak mungkin untuk dikompromikan antara keduanya.
  3. Ali Hasaballah, Ta’arrudl al-Adillah adalah terjadinya pertentangan hukum yang dikandung satu dalil dengan hukum yang terkandung dalam dalil lainnya dan kedua dalil tersebut berada dalam satu derajat.
  4. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Ta’arrudl al-Adillah adalah; pertentangan antara dua dalil (menghendaki apa yang tidak di kehendaki oleh selainnya). Dengan ibarat yang lain, ialah; “Dalil yang menerapkan hukum di waktu yang sama terhadap sesuatu kejadian, yang menyalahi hukum yang dikehendaki oleh dalil yang lain”.

 

Wahbah az-Zuhaili, mendefenisikan ta’arud sebagai salah satu dari dua dalil yang menghendaki hukum yang berbeda dari hukum yang dikehendaki dalil lain”. Pada dasarnya seperti ditegaskan Wahbah az-Zuhaili, tidak ada pertentagan dalam kalam Allah SWT dan Rasul-Nya. Oleh sebab itu adanya anggapan ta’arudl antara dua atau beberapa dalil hanyalah dalam pandangan mujtahid, bukan pada hakikatnya.

Dari defenisi di atas, dapat diketahui bahwa persoalan Ta’arrudl al-Adillah dibahas oleh para ulama ketika ada pertentangan antara dua dalil, atau antara satu dalil dengan dalil lainnya secara zhahir pada derajat yang sama.

At-ta’arudl merupakan pertentangan yang hanya terjadi secara lahiriah saja, yakni menurut pandangan atau pemikiran para mujtahid saja, sebagaimana yang telah dijelaskan, bukan secara hakiki.

Para ulama ushul fiqih, baik itu golongan mutaakhirin ataupun ulama Hanafiah sepakat bahwa hakikat dari ta’arudl dalam syariat Islam yang di dalamnya merupakan kumpulan dalil-dalil hukum mustahil terjadi, baik itu kontradiksi antar dalil qath’i maupun zahnni.Adapun ta’arudl yang terjadi dewasa ini hanyalah ta’arudl zhahiri (kontradiksi sekilas saja), yang seperti ini dikarena perbedaan metode ulama dalam memahami dalil-dalil suatu hukum.Selain itu juga ditambah dengan keterbatasan akal manusia dalam memahami dalil-dalil qath’i maupun zahnni.

Dan ta’arudl itu tidak saja mengenai dalil-dalil dhanni, tetapi mungkin juga terdapat pada dalil-dalil qath’I.Di ketika itu kita tujukan salah satunya kepada yang tidak dituju oleh yang sebuah lagi, atau salah satunya kita pandang nasikh dan yang sebuah lagi kita pandang mansukh, karena tidak mungkin kita lakukan tarjih pada dalil dalil yang qath’i.

Oleh sebab itu, menurut Imam Al-Syatibi, pertentangan itu bersifat semu, biasa terjadi dalam dalil yang qoth’i (pasti benar) dan dalil yang dhanni (relative benar) selama kedua dalil itu satu derajat.

Apabila pertentangan itu antara kualitas dalil yang berbeda,seperti pertentangan dalil yang qoth’i dengan dalil yang zhanni,maka yang diambil adalah dalil yang qath’I atau apabila yang bertentangan itu adalah ayat Al Qur’an dengan hadits Ahad (hadits yang diriwayatkan oleh satu,dua atau tiga orang atau lebih yang tidak sampai tingkat mutawatir) maka dalil yang diambil adalah Al qur’an karena dari segi periwayatannya ayat-ayat Al aqur’an bersifat qath’i,sedangkan hadits Ahad bersifat zhanni.

 

  1. MACAM-MACAM TA’ARUDL AL ADILLAH

Ada empat macam Ta’arudl al-Adillah yaitu

  1. Ta’arudl antara Al-Qur’an dengan Al-Qur’an.

Seperti firman Allah SWT yang terdapat pada QS.Al-Maidah:3 yaitu:

Artinya: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, … (QS.Al-Maidah:3).

Ayat ini nampaknya ta’arudl (bertentangan) dengan firman Allah SWT dalam QS.Al-An’am:145) yaitu:

Artinya: “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir…” (QS.Al-An’am: 145).

 

Ta’arudl dalam keterkaitannya dengan kedua dalil nash ini, terdapat empat keadaan

  1. Keduanya bermuatan makna amm
  2. Keduanya bermuatan makna khash
  3. Salah satunya bermuatan amm dan yang lainyya bermuatan khash
  4. Masing masing dari keduanya bermuatan amm dari satun sisi,sekaligus khash dari sisi yang lain.

 

Penjelasan.

Dua dalil nash bermuatan amm

Yang harus dilalukan mujtahid dalam permasalahan ini secara berurutan adalah:

  • Mengkompromikan dua dalil (الجمع), jika memungkinkan, dengan mengarahkan masing-masing dari kedua dalil pada keadaan yang berbeda.
  • Jika upaya jam’u tidak bisa ditempuh, maka dilihat kronologi waktu dari masing-masing dalil. Jika salah satunya turun lebih akhir daripada yang lain, maka diterapkan nasakh.
  • Jika kronologi waktu tidak diketahui, sehingga tidak mungkin dilakukan nasakh, maka permasalahan ditangguhkan (tawaqquf) hingga tampak murajjih (hal-hal yang mengunggulkan) pada salah satu dalil.

 

Contoh kasus dengan tindakan jam’u:

Dua hadits yang kandungan maknanya bertentangan, salah satunya menjelaskan bahwa “sebaik baik saksi adalah orang yang bersaksi sebelum diminta kesaksiannya”. Dan hadits lainnya menjelaskan sebaliknya, “seburuk buruk saksi adalah orang yang bersaksi sebelum diminta kesaksiannya”. Berikut ini teks hadits selengkapnya.

Dalil pertama:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِ الشُّهَدَاءِ الّذى يأتِى بِشَهادَتِهِ قَبْلَ أَنْ يُسْأَلَهَا (رواهمسلم)

Artinya: Maukah ku beritahu kalian tentang sebaik baik saksi? Yakni orang yang datang dengan membawa kesaksian sebelum dia dimintai kesaksiannya. (HR.Muslim)

Dalil kedua:

خَيْرُكُمْ قَرْنِى ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ يَكُوْنُ بَعْدَهُمْ قَوْمُ يَشْهَدُوْنَ وَلاَ يُشْتَشْهَدُوْنَ     (رواه البخارى)

Artinya: Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian setelah mereka adalah kaum yang bersaksi sedangkan mereka tidak dimintai persaksian. (HR.Bukhori)

Kandungan dua hadits tersebut amm, sama sama umum dalam segala bentuk kesaksian sebelum diminta, akan tetapi salah satunya dinilai baik, dan yang lain dinilai buruk. Karena saling bertentangan, maka dilakukan kompromi.

Hadits pertama diarahkan pada kasus dimana pihak yang diuntungkan dengan adanya kesaksian belum mengetahui adanya saksi yang menguntungkan dirinya. Dengan demikian, dia segera mendapatkan kembali hak nya dengan adanya insiatif kesasksian tersebut.

Hadits kedua diarahkan pada kasus dimana pihak yang diuntungkan dengan adanya kesaksian telah mengetahui akan adanya saksi yang menguntungkan dirinya. Dengan demikian, saksi tidak perlu berinisiatif melakukan kesaksian sebelum diminta oleh pemilih hak.

Imam Al Baydlawi mengarahkan dua hadits diatas dengan arahan yang berbeda. Hadits pertama diarahkan pada kasus yang melibatkan hak Allah, seperti talak dan pemerdekaan. Hadits kedua diarahkan pada hak adami.

 

Contok kasus dengan tindakan tawaqquf hingga muncul tarajjih:

Dalil pertama:

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حَافِظُوْنَ . إِلاَّ عَلَى أَزْوَجِهِمْ أَوْمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ (المؤمنون 5-6)

Artinya: Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. (QS.Al mukminun:5-6)

Ayat ini menjelaskan kehalalan istimta’ (pemenuhan kebutuhan biologis) terhadap budak perempuan yang dimiliki. Kehalalan ini mencakup pada kepemilikan terhadap dua orang perempuan bersaudara atau tidak. Dalam contoh ini focus pembahasannya adalah kehalalan istimta’ pada dua perempuan budak bersaudara yang disimpulkan dari tampaknya ayat.

Dalil kedua:

وَأَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الاخْتَيْنِ إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ (النساء 23)

Artinya: Dan haram mengumpulkan diantara dua perempuan bersaudara kecuali yang telah terjadi dimasa lampau. (QS.An Nisa’: 23)

Ayat ini menjelaskan keharaman mengumpulkan dua perempuan bersaudara dalam sebuah ikatan yang melegalkan istimta’, baik berupa ikatan pernikahan ataupun status kepemilikan budak perempuan. Dan, dalam contoh ini, focus pembahasannya adalah keharamana mengumpulkan dua perempuan budak bersaudara sebagai obyek istimta’ yang disimpulkan dari tampaknya ayat.

Dua ayat diatas bermuatan makana amm. Karena tidak mungkin ditempuh upaya kompromi diantara keduanya, maka yang harus dilakukan mujtahid adalah tawaqquf (menangguhkan permasalahan) hingga muncul murajjih (factor penguat) pada salah satu dalil keduanya. Sebagaimana yang dialami oleh Usman bin Affan Ra dan Ali bin Abi Thalib Krw. Saat ditanya hukum istimta’ pada dua budak perempuan bersaudara. Beliau berdua menangguhkan permasalahan itu dan berkata, “keduanya dihalalkan oleh sebuah ayat, dan diharamkan oleh yang lain”. Kemudian, dalam perkembangannya Ali Krw mentarjih hukum haram, sedangkan Usman Ra mentarjih hukum halal. Sebagian ulama’ mendukung hasil tarjih yang menyimpulkan hukum haram, berdasarkan sejumlah argument, dianataranya prinsip kehati-hatian tatkala terdapat imbas hukum halal dan haram, sesuain hadits Rosul SAW

مَاجْتَمَعَ الحَلاَلُ والحَرَمُ إلاَّ وَقَدْ غَلَبَ الحَرَامُ الحَلاَلَ

Artinya: Tidaklah berkumpung yang halal dan yang harsm, melainkan yang haram lebih dominan daripada yang halal.

Dan juga berdasarkan sebuah qoidah

الاصْلُ فِى الابْضَاعِ التَّحْرِيْمِ

Artinya: Hukum asal dalam kemaluan wanita adalah haram.

 

Sedangkan jika kronologi waktu turunyya diketahui, maka diperlakukan naskah, yakni dalil yang turun lebih akhir menasakh terhadap dalil yang tutun lebih awal dengan ketentuan sebagaimana pembahasan dalam bab tentang naskah.

 

Dua dalil nash bermuatan khas.

Yang harus dilakukan mujtahid dalam permasalahan ini sama dengan permasalahan dua dalil nash bermuatan amm, sebagaimana paparan diawal. Yakni:

  1. Al jam’u. jika memungkinkan dengan mengarahkan masing-masing dari kedua dalil yang berbeda.
  2. Jika jam’u tidak mungkin ditempuh, maka dilihat kronologi waktu dari masing-masing dalil. Dan dilakukan nasakh.
  3. Jika waktu tidak diketahui, maka permasalahan ditangguhkan (tawaqquf) hingga tampak murajjih pada salah satu dalil

 

Contoh kasus dengan tindakan jam’u

Hadits pertama:

Bahwa Rasulullah saw. Berwudhu’ dan membasuh kedua kaki beliau (HR.Bukhori, Muslim dan yang lain) .

Hadits kedua:

Bahwa Rasulullah saw berwudhu’ dan memercikkan air dikedua telapak kaki beliau yang masih bersandal. (HR.Nasa’i, Bayhaqi dan yang lainnya).

 

Masing-masing dari kedua hadits ini bermuatan khash, yakni makna hadits pertama tidak mencakup hadits kedua, dan sebaliknya. Karena saling bertentangan, maka diberlakukanlah jam’u dengan mengarahkan kedua hadits pada arahan yang beda. Hadits pertama diarahkan pada permasalahan ketika terjadi hadast, sehingga wudhu’ harus dilakukan sempurna dengan membasuh kedua kaki. Sedangkan hadits kedua diarahkan pada permasalahan tajdid al wudhu’ (memperbaharui wudhu’), dimana tidak terjadi hadast, sehingga wudhu tidak harus dengan membasuh kaki, cukup dengan memercikkan air. Arahan ini sesuai dengan salah satu riwayat bahwa Ali bin abi thalib berkata:

هذا وضؤمن لم يحدث

Artinya: Ini (memercikkan air) adalah cara wudhu’ orang yang belum berhadast.

Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa hadits pertama diarahkan pada makna wudhu’ syar’i, sedangkan hadits kedua adalah wudhu’ lughowi, yakni pembersihan ada juga yang mengarahkan hadits kedua pada makna pembasuhan kedua kaki dalam keadaan bersandar, dan ini adalah maksud dari percikan dengan menggunakan majas.

 

Contoh kasus dengan tindakan tawaqquf hingga muncul murajih

Dalil pertama:

ما فوق الإزار (رواه ابوداود)

Hadits Rasullulah Saw saat beliau ditanya tentang apa yang diperbolehkan bagi suami dalam beristimta’ dengan istrinya yang sedang mengalami haidh. Dalam sebuah riwayat, beliau menjawab:

Artinya: Anggota tubuh diatas sarung (Hr.Abu Dawud)

Dalil kedua:

اصنعوا كل شيئ إلا النكاح (رواه مسلم)

Dengan pertanyaan yang sama, dalam sebuah riwayat, Rasul menjawab:

Artinya: Lakukan apa saja kecuali jima’. (HR.Muslim)

Dua hadits diatas bermuatan makna khash. Hadits pertama menyimpulkan keharaman istimta’ pada anggota tubuh dibawah pusar. Sedangkan hadits kedua menyimpulkan bahwa istimta’ pada anggota tubuh tersebut adalah boleh, asal bukan jima’. Maka dua hadits ini saling bertentangan. Karena tidak mungkin dilakukan upaya jam’u diantara dua hadits tersebut, maka diberlakukan tawaqquf atau penangguhan hingga muncul murajjih.

Sebagian ulama’ mentarjih hukum haram berdasarkan prinsip kehati-hatian. Sebagian ulama’ yang lain mentarjih hukum halal, karena merupakan hukum asal dalam wanita yang telah dinikahi. Pendapat pertama, popular dipedomani oleh kalangan syafi’iyyah dan malikiyah, serta pendapat Imam Abu Hanifah dan sekelompok ulama’ lainnya.

Sedangkan jika kronologi waktu turunnya dalil tidak diketahui, maka diperlakukan nasakh, yakni dalil yang turun lebih akhir menasakh terhadap dalil yang turun lebih awal, dengan ketentuan sebagaimana pembahasan dalam bab tentang nasakh.

 

Salah satu dalil nash bermuatan amm dan yang lain bermuatan khash.

Ketika dua dalil yang saling ta’arudl adalah satunya bermuatan amm, dan yang lain bermuatan khash, maka langkah yang harus ditempuh adalah takhshish, dalil amm ditakhshish dengan menggunakan dalil khash sebagaimana ketentuan dalam pembahasan takhshish yang telah lewat.

Contoh:

Dalil pertama:

فيما سقت السماء العشر (متفق عليه)

Sabda Rasululloh saw:

Artinya: Dalam hasil tanaman yang diairi oleh hujan, wajib zakat seper sepuluh. (HR.Bukhori Muslim).

Dalil kedua:

Sabda Rasululloh saw:

ليس فيما دون خمسة أوسق صدقة

Artinya: Dalam hasil tanaman yang kurang dari lima wasaq tidak wajib zakat. (Hr.Bukhori Muslim).

Hadits pertama menjelaskan bahwa tanaman yang diairi dengan hujan, wajib dikeluarkan zakatnya, sebesar sepuluh persen. Hadits ini bermuatan makna amm, mencakup hasil tanaman yang mencapai nishabnya, yakni lima wasaq, ataupun kurang dari itu. Sedangkan hadits kedua menjelaskan bahwa tanaman tidak wajib dikeluarkan zakatnya, jika hasilnya kurang dari lima wasaq.

Kedua hadits ini saling ta’arudl atau bertentangan karena hadits pertama mewajibkan zakat, sedangkan hadits kedua tidak mewajibkan zakat. Tetapi hadits pertama bercakupan umum, meliputi hasil tanaman yang mencapai lima wasaq maupun yang kurang dari itu. Sedangkan hadits kedua bercakupan khusus pada hasil tanaman yang kurang dari lima wasaq. Karenanya, kandungan hukum hadits pertama di takhshish dengan menggunakan hadits kedua yakni bahwa kewajiban zakat hanya diarahkan pada hasil tanaman yang telah mancapai nishab, yakni lima wasaq. Sedangkan yang kurang dari itu, tidak wajib zakat, sesuai dengan hadits kedua.

Langkah takhshish ini dilakukan tanpa memandang kronologi waktu turunnya dalil, baik muncul bersamaan, salah satunya lebih akhir dari yang lain, atau bahkan tidak diketahui kronologinya.

Masing-masing dalil nash bermuatan amm dari satu sisi, sekaligus khash dari sisi yang lain.

Dalam kondisi ini, masing-masing dalil nash memiliki dua sisi permasalahan. Dari satu sisi, dalil pertama menunjukkan dalil amm, sedangkan dalil kedua menunjukkan makna khash. Dan dari sisi yang lain, dalil pertama menunjukkan makna khash, sedangkan dalil kedua menunjukkan makna amm.

Maka dalam hal ini kedua dalil saling mentakhshish. Dengan makna khashnya, dalil pertama mentakhshish terhadap keumuman dalil kedua. Begitu pula dengan makna khashnya, dalil kedua mentakhshish terhadap keumuman dalil pertama. Hal ini ditempuh jika memungkinkan adanya takhshish. Jika tidak maka dilakukan tarjih.

 

Contoh yang memungkingkan saling takhshish

Dalil pertama:

إذا بلغ الماء قلتين لم يحمل خبثا

Artinya: Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak akan menjadi najis. (HR.Abu Dawud dan lainnya).

Dalil kedua:

الماء لا ينجسه شيئ , الا ماغلب على ريحه وطعمه و لونه (رواه ابن ماجه وغيره)

Artinya: Air tidak bisa dinajiskan oleh sesuatu apapun, kecuali sesuatu yang mengubah bau, rasa dan warnanya. (HR.Abu Dawud dan lainnya)

Hadits pertama, disatu sisi bermakna khash, mencakup khusus pada air dua qullah, disisi lain bermakna amm, mencakup adanya perubahan atau tidak.

Sedangkan hadits kedua, disatu sisi bermakna khash, mencakup khusus pada air yang berubah, disisi lain bermakna amm, mencakup air dua kullah ataupun kurang dari itu.

Jika kita memadukan keduanya, maka keumuman hadits pertama kita takhshish dengan kekhususan hadits kedua (yakni berubah). Sehingga kita cetuskan bahwa air dua kullah distatuskan najis jika berubah. Berarti, kesimpulan hadits pertama setelah ditakhshish adalah:”jika air mencapai dua kullah, maka tidak akan najis kecuali berubah”.

Kemudian keumuman hadits kedua ditakhshish dengan kekhususan hadits pertama(yakni dua kullah). Sehingga kita cetuskan bahwa air yang kurang dari dua kullah akan menjadi najis meskipun tidak berubah. Berarti, kesimpulan hadits kedua setelah ditakhshish adalah:”air itu suci mensucikan, kecuali berubah bau warna dan rasanya, jika mencapai dua kulaah”.

 

Contoh yang tidak memungkinkan salingn takhshis.

Dalil pertama:

من بدل دينه فاقتلوه (رواه البخارى)

Artinya: Barang siapa mengganti agamanya, maka bunuhlah. (HR. Bukhorin Muslim)

Dalil kedua:

أنه صلى الله عليه وسلم نهى عن قتل النساء (متفق عليه)

Artinya: Bahwasanya Rasullullah SAW. Melarang membunuh perempuan. (Hr. Bukhori Muslim)

Hadits pertama, di satu sisi bermakna amm, mencakup lelaki dan perempuan, di sisi lain bermaka khash, mencakup khusus untuk orang-orang yang murtad.

Sedangkan hadits kedua, di satu sisi bermakna khash, mencakup khusus perempuan, di sisi lain bermakna amm, mencakup orang-orang kafir harbi dan orang-orang yang murtad.

Dalam hal ini, sisi taarudl ada pada perempuan murtad, apakah harus dibunuh karena di satu sisi dia telah mengganti agamanya, ataukah tidak boleh dibunuh memandang bahwa dia adalah perempuan kafir. Maka dibutuhkan tarjih dalam menyelesaikan taarudl ini. Sebagaimana ulama’ mentarjih untuk menetapkan keumuman pertama, sehingga siapapun yang melakukan tindak kemurtadan, maka harus dibunuh, dan mentakhshish keumuman hadits kedua, sehingga larangan membunuh perempuan kafir hanya terkhusus pada perempuan kafir harbi.

 

  1. Ta’arudl antara As-Sunnah dengan As-Sunnah.

Dibawah ini adalah dua Hadits yang bertentangan yaitu:

(Yang artinya) “Dari Siti ‘Aisyah dan Ummi Salamah RA bahwa Nabi masuk waktu subuh dalam keadaan junub karena melakukan jimak kemudian mandi dan menjalankan puasa”. (HR.Mutafaqun Alaih).

Hadits ini bertentangan dengan hadits berikut ini:

(Yang artinya) “Bila telah dipanggil untuk sembahyang subuh,sedang salah satu di antaramu dalam keadaan junub maka jangan puasa hari itu”. (HR.Imam Ahmad dan Ibnu Hibban).

 

  1. Ta’arudl antara As-Sunnah dengan Al- Qiyas.

Ta’arudl kedua dalil ini bisa dikemukakan antara sunnah dengan qiyas dalam menetapkan hukum kebolehan bagaimana halnya bila seseorang mengadakan jual beli unta atau kambing yang diikat putik susunya agar kelihatan besar,sedang setelah dibeli dan diperah susunya terbukti adanya gharar.

Seperti sabda Nabi Muhammad SAW

(Yang artinya): “Janganlah hendaknya anda mengikat susu unta ataupun kambing (agar kelihatan besar),barangsiapa membelinya sesudah terjadi demikian,maka boleh memilih di antara dua pandangan yang dianggap baik,bila menghendaki boleh melangsungkan jual beli itu atau mengembalikannya dengan membayar satu sha’ dari tamar. (HR.Mutafaqun ‘alaih dari Abi Hurairah).

Dalam Hadits ini disebutkan bahwa bila memilih pengembalian (untuk kambing) maka pembeli harus membayar satu sha’ dari tamar. Hal ini merupakan pendapat Jumhur Ulama’. Sedangkan Ulama’ Hadawiyah, berpendapat bahwa lebih sesuai dengan mengembalikan perahan susu itu bila masih dan bila telah habis dengan mengganti harga susu itu,hal ini diqiyaskan pada tanggungan bila menghabiskan atau merusak barang orang lain, maka pihak yang menggunakan barang orang lain tersebut harus mengganti sejumlah atau senilai dengan barang yang telah dipergunakan.

  1. Ta’arudl antara Qiyas dengan Qiyas.

Ta’arudl ini bisa dicontohkan dari pengqiasan terhadap masalah perkawinan Nabi Muhammad SAW terhadap Siti ’Aisyah

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yaitu:

(Yang artinya): ”Dari ‘Aisyah,beliau berkata: Rasulullah mengawini saya ketika saya berumur enam tahun dan mengumpuli saya ketika saya sebagai gadis yang telah berumur sembilan tahun”..(H.R.Muslim dari ‘Aisyah).

Atas dasar hadits, diambil hukum kebolehan (boleh) orang tua mengawinkan anaknya yang belum dewasa (masih di bawah umur) tanpa izin yang bersangkutan.Hal ini merupakan pendapat Ulama’ Hanafiyah, sedang Ulama’ Syafi’iyah menganggap karena kegadisannya.Dengan demikian kalau telah tsayyib sekalipun masih belum dewasa orang tua tak mempunyai hak ijbar (memaksa).

 

  1. SYARAT-SYARAT TA’ARUDL AL ADILLAH

Yang dimaksud syarat di sini adalah sesuatu yang menyebabkan terjadinya ta’arudl. Para ulama memberikan syarat-syarat ta’arudl apabila dalil yang kontradiksi memenuhi syarat:

  1. Kedua dalil yang bertentangan berbeda dalam menentukan hukum. Seperti hukum yang terkandung dalam QS. Al-Baqarah: 180 dengan QS. An-Nisa: 11, mengenai harta peninggalan orang yang meninggal dunia.
  2. Kedua dalil yang mengalami pertentangan berada dalam satu hukum (satu masalah). Ketika ada dalil yang tampak bertentangan akan tetapi, kedua dalil tersebut berbeda dalam menunjukan hukum, maka tidak disebut ta’arudl (pertentangan),
  3. Antara dalil yang mengalami pertentangan harus terjadi dalam satu masa dalam menentukan hukum. Apabila waktunya sudah berbeda dalam penunjukan hukum, maka dalil tersebut tidak dinamakan pertentangan. Ketika terjadi ta’arudl akan tetapi waktu penunjukan hukum ayat itu berbeda maka ayat tersebut bisa disatukan. Seperti arak pada masa awal Islam hukumnya boleh, tetapi ketika turun ayat yang menunjukan bahwa arak haram, secara otomatis kedua penunjukan hukum seperti ini tidak menunjukan adanya pertentangan.
  4. Kedua dalil tersebut berada dalam derajat yang sama dalam penunjukan hukum. Tidak ada perentangan antara al-Quran dengan Hadits Ahad, karena al-Quran dalam penunjukan hukumnya adalah sebagai dalil qathi”, sedangkan Hadits Ahad termasuk dalam dalil zhanni. Apabila terjadi pertentangan antara dalil qathi’ dan zahnni, maka secara otomatis dalil qathi’ yang didahulukan.

 

  1. CARA PENYELESAIAN TA’ARUDL AL ADILLAH

Apabila dhahir (formal)-nya dua nash yang bertentangan, maka wajib mengadakan penelitian dan ijtihad untuk mengumpulkan dan mengkompromikan kedua nash itu dengan cara yang benar di antara cara-cara mengumpulkan dan mengkompromikan dua nash yang kontradiksi. Jika tidak mungkin, wajib meneliti dan ijtihad untuk mengutamakan salah satunya dengan cara diantara cara-cara tarjih. Jika ini dan itu tidak mungkin, dan diketahui sejarah datangnya, maka ditangguhkan dua nash itu.

Para ulama ushul telah merumuskan tahapan-tahapan penyelesaian dalil-dalil yang kontradiksi yang bertolak pada suatu prinsip yang tertuang dalam kaidah sebagai berikut: “Mengamalkan dua dalil yang berbenturan itu lebih baik daripada meninggalkan keduanya“.

Dari kaidah di atas dapat dirumuskan tahapan penyelesaian dalil-dalil yang berbenturan serta cara-caranya sebagai berikut:

  1. Mengamalkan dua dalil yang kontradiksi.
  2. Mengamalkan satu di antara dua dalil yang kontradiksi.
  3. Meninggalkan dua dalil yang kontradiksi.

 

Pembahasannya sebagai berikut:

  1. Mengamalkan dua dalil yang kontradiksi, dapat ditempuh dengan cara:
  2. Jam’u wa Taufiq (kompromi). Maksudnya adalah mempertemukan dan mendekatkan dalil-dalil yang diperkirakan berbenturan atau menjelaskan kedudukan hukum yang ditunjuk oleh kedua dalil tersebut, sehingga tidak terlihat lagi adanya kontradiksi.
  3. Takhsis, yaitu jika dua dalil yang secara zhahir berbenturan dan tidak mungkin dilakukan usaha kompromi, namun satu di antara dalil tersebut bersifat umum dan yang lain bersifat khusus, maka dalil yang khusus itulah yang diamalkan untuk mengatur hal yang khusus. Sedangkan dalil yang umum diamalkan menurut keumumannya sesudah dikurangi dengan ketentuan yang khusus.

 

  1. Mengamalkan satu dalil di antara dua dalil yang berbenturan.

Bila dua dalil yang berbenturan tidak dapat dikompromikan atau ditakhsis, maka kedua dalil tersebut tidak dapat diamalkan keduanya.Dengan demikian hanya satu dalil yang dapat diamalkan. Usaha penyelesaian dalam bentuk ini dapat ditempuh dengan cara:

  1. Nasakh. Maksudnya apabila dapat diketahui secara pasti bahwa satu di antara dua dalil yang kontradiksi itu lebih dahulu turun atau lebih dahulu berlakunya, sedangkan dalil yang satu lagi belakangan turunnya, maka dalil yang datang belakangan itu dinyatakan berlaku untuk seterusnya, sedangkan dalil yang lebih dulu dengan sendirinya dinyatakan tidak berlaku lagi.

Secara istilah ada dua definisi naskh yang dikemukakan para ahli ushul fiqh.

Definisi pertama seperti yang diungkapkan oleh Wahbah al-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami:

“Naskh adalah penjelasan berakhirnya masa berlaku suatu hukum melalui dalil syara` yang datang kemudian.”

Dari definisi ini dapat dipahami bahwa hukum yang dinaskh atau dihapus itu atas kehendak Allah dan penghapusan ini sebagai pertanda berakhir masa berlakunya hukum tersebut.

Definisi kedua seperti yang diungkapkan oleh Abd al-Karim Zaidan, al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh yang menyatakan bahwa:

Naskh adalah pembatalan hukum syara` yang telah ditetapkan terdahulu dengan dalil syara` yang datang kemudian.”

Dari kedua definisi tersebut diatas dapat dipahami beberapa hal sebegai berikut:

  • Naskh atau pembatalan itu dilakukan dengan khitab atau tuntutan Allah. Atas dasar ini naskh tidak dapat dilakukan oleh selain Allah. Adapun perbuatan Nabi Saw yang kadangkala sebagai naskh sebenarnya hanya sebagai dalil yang menginformasikan tentang adanya tuntutan dari Allah untuk membatalkan suatu hukum. Khitab atau tuntutan naskh tidak dapat berasal dari Nabi karena beliau tidak memiliki kekuasaan untuk membatalkan hukum syara`.
  • Yang dibatalkan tersebut adalah hukum syara` yang mengandung perintah, larangan atau berita. Atas dasar ini pembatalan terhadap hukum yang didasarkan pada akal atau hukum yang didasarkan pada prinsip ibahah al-asliyah sebelum datang syara` dan hukum yang didasarkan pada adat istiadat tidak disebut sebagai naskh.
  • Hukum yang membatalkan hukum terdahulu datangnya kemudian. Hukum yang dibatalkan labih dahulu datangnya daripada hukum yang membatalkannya. Dengan demikian hukum yang berkaitan dengan istisna dan syarat tidak dapat disebut sebagai naskh.
  1. Tarjih. Maksudnya adalah apabila di antara dua dalil yang diduga berbenturan tidak diketahui mana yang belakangan turun atau berlakunya, sehingga tidak dapat diselesaikan dengan nasakh, namun ditemukan banyak petunjuk yang menyatakan bahwa salah satu di antaranya lebih kuat dari pada yang lain, maka diamalkanlah dalil yang disertai petunjuk yang menguatkan itu, dan dalil yang lain ditinggalkan.

Secara bahasa tarjih berarti menguatkan.Secara terminologi ada sejumlah definisi tarjih yang dikemukakan oleh para ulama diantaranya:

  • Kalangan Hanafiyyah:

Menjelaskan ada tambahan pada salah satu dari dua dalil yang sederajat, dimana dalil tambahan itu tidak berdiri sendiri.

Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa dalil yang bertentangan itu mesti memiliki kualitas yang sama. Untuk itu al-Qur`an tidak dapat disebut rajih atau lebih kuat dari hadits ahad dan hadits ahad tidak dapat disebut rajih atau lebih kuat dari qiyas. Sebab al-Qur`an tidak sama kualitasnya dengan hadits ahad dengan qiyas. Disamping itu dalil yang menjadi pendukung dalil yang bertentangan itu tidak berdiri sendiri.Ia tidak terpisah dari dalil yang saling bertentangan.

  • Kalangan Syafi`iyyah:

Menguatkan salah satu indikator dalil zhanni atas yang lain untuk diamalkan.

Definisi ini mengisyaratkan bahwa tarjih hanya dapat terjadi terhadap dua dalil zhanni yang saling bertentangan karena tarjih tidak berlaku dintara dalil yang qhat`i dengan zhanni.

Dari kedua definisi tersebut dapat dirumuskan beberapa syarat tarjih, yaitu:

  1. Ada dua dalil yang bertentangan dan tidak mungkin untuk mengamalkan keduanya melalui cara apapun.
  2. Kedua dalil yang bertentangan itu memiliki kualitas yang sama untuk memberi petunjuk kepada yang dimaksud.
  3. Ada indikator yang mendukung untuk mengamalkan salah satu diantara dua dalil yang bertentangan dan meninggalkan dalil yang satu lagi.

Para ulama Ushul Fiqh menyimpulkan ada dua cara dalam melakukan tarjih.

  1. Al-Tarjih Bain al-Nushush yaitu dengan menguatkan salah satu dari nash yang bertentangan dapat diamati dari beberapa segi yaitu segi sanad, segi matan, segi hukum yang dikandung nash, dan menggunakan dalil lain diluar nash.
  2. Al-tarjih Bain al-‘Aqyisah yaitu dengan tarjih dari segi hukum asal, hukum furu`, illat, dan dari segi faktor luar.

Tarjih itu, bisa dilakukan dari tiga sisi:

  • Penunjuk kandungan lafal suatu nash. Contohnya, menguatkan nash yang muhkam (hukumnya pasti) dan tidak bisa di-naskh-kan (dibatalkan) dari mufassar (hukumnya pasti tetapi masih bisa di-naskh-kan).
  • Dari segi hukum yang dikandungnya, seperti menguatkan dalil yang mengandung hukum haram dari dalil yang mengandung hukum boleh.
  • Dari sisi keadilan periwayat suatu hadits.
  1. Takhyir. Maksudnya bila dua dalil yang berbenturan tidak dapat ditempuh secara nasakh dan tarjih, namun kedua dalil itu masih mungkin untuk diamalkan, maka penyelesaiannya ditempuh dengan cara memilih salah satu diantara dua dalil itu untuk diamalkan, sedangkan yang lain tidak diamalkan.

 

  1. Meninggalkan dua dalil yang berbenturan

Bila penyelesaian dua dalil yang dipandang berbenturan itu tidak mampu diselesaikan dengan dua cara di atas, maka ditempuh dengan cara ketiga, yaitu dengan meninggalkan dua dalil tersebut. Adapun cara meninggalkan kedua dalil yang berbenturan itu ada dua bentuk, yaitu:

  1. Tawaqquf (menangguhkan), menangguhkan pengamalan dalil tersebut sambil menunggu kemungkinan adanya petunjuk lain untuk mengamalkan salah satu di antara keduanya.
  2. Tasaquth (saling berguguran), meninggalkan kedua dalil tersebut dan mencari dalil yang lain untuk diamalkan.

 

Apabila seorang mujtahid menemukan dua dalil yang bertentangan, maka ia dapat menggunakan cara untuk berusaha untuk menyelesaikannya. Cara itu dikemukakan masing-masing oleh ulama’ Hanafiyah dan ulama’ Syafi’iyah.

Menurut Hanafiyah dan Hanabilah mengemukakan metode penyelesaian antara dua dalil yang bertentangan tersebut dengan cara:

  1. Nasakh wa Mansukh
  2. Tarjih
  3. Al Jam’u wa Al Taufiq
  4. Tasaqut Al-Dalilain.

Dengan pembahasan sebagai berikut:

  1. Nasikh wa mansukh. Meneliti mana ayat yang lebih dahulu turun atau hadis yang lebih dahulu diucapkan, dan apabila diketahui, maka dalil yang terdahulu dianggap telah di-nasikh oleh dalil yang dating keudian.
  2. Tarjih. Meneliti mana yang lebih kuat diantara dalil yang bertentangan itu dengan berbagai cara tarjih, jika tidak diketahui mana yang lebih dahulu; ini dijelaskan secara panjang lebar dalam kajian ushul fiqh.
  3. Al-Jam’u wa Tarjih; membuat kompromi antara dua dalil itu ternyata sama-sama kuat jika tidak dapat ditarjih; dan
  4. Tasaqut ad-Dalalain; tidak memakai kedua dalil itu jika tidak ada peluang kompromi; dalam hal ini seorang mujtahid hendaklah merujuk kepada dalil yang lebih rendah bobotnya. Misalnya, jika dua dalil yang bertentangan itu terdiri dari ayat Al-Qur’an, maka setelah tidak dapat dikompromikan, hendaklah dirujuk kepada sunnah Rasulullah SAW, dan begitu seterusnya.

 

Menurut Syafi’iyah dan Malikiyah mengemukakan metode penyelesaian antara dua dalil yang bertentangan tersebut dengan cara:

  1. Jam’u wa al-Taufiq
  2. Tarjih
  3. Nasakh
  4. Tasaqut al-Dalilain

Dengan pembahasan sebagai berikut:

  1. Jam’u wa al-Taufiq. Ulama Syafi’iyyah menyatakan bahwa metode pertama yang harus ditempuh adalah mengumpulkan dan mengkompromikan kedua dalil tersebut.
  2. Tarjih.Apabila pengkompromian kedua dalil itu tidak bisa dilakukan, maka seorang mujtahid boleh menguatkan salah satu dalil berdasarkan dalil yang mendukungnya. Kata tarjih yang dikemukakan oleh para ahli ushul fiqih bisa ditempuh dengan berbagai cara. Umpamanya, dengan mentarjih dalil yang lebih banyak diriwayatkan orang dari dalil yang perawinya sedikit, bisa juga melalui pen-tarjih-an sanad (para penutur hadits), bisa melalui pen-tarjih-an dari sisi matan (lafal hadits), atau ditarjih berdasarkan indikasi lain di luar nash.
  3. Nasakh.Apabila dengan cara tarjih kedua dalil tersebut tidak dapat diamalkan, maka cara ketiga yang ditempuh adalah dengan membatalkan salah satu hukum yang dikandung kedua dalil tersebut, dengan syarat harus diketa¬hui mana dalil yang pertama kali datang dan mana yang datang kemudian. Dalil yang datang kemudian inilah yang diambil dan diamalkan, seperti sabda Rasulullah saw.:

“Adalah saya melarang kamu untuk menziarahi kubur, tetapi sekarang ziarahilah.” (HR. Muslim). Dalam hadits ini mudah sekali dilacak mana hukum yang pertama dan mana yang terakhir. Hukum pertama adalah tidak boleh menziarahi kubur, dan hukum terakhir adalah dibolehkan menziarahi kubur, karena ‘illat (motivasi) larangan dilihat Nabi SAW tidak ada lagi.

  1. Tasaqutal-Dalilain. Apabila cara ketiga, yaitu naskh pun tidak bisa ditempuh, maka seorang mujtahid boleh meninggalkan kedua dalil itu dan berijtihad dengan dalil yang kualitasnya lebih rendah dari kedua dalil yang bertentangan tersebut. Menurut ulama Syafi’iyyah, keempat cara tersebut harus ditempuh oleh seorang mujtahid dalam menyelesaikan pertentangan dua dalil secara berurutan.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Ta’arudl al-Adillaah dapat diartikan sebagai perlawanan antara kandungan salah satu dari dua dalil yang sama derajatnya dengan kandungan dalil yang lain yang mana salah satu diantara dua dalil tersebut menafikan hukum yang ditunjuk oleh dalil yang lainnya.

Pertentangan antara kedua dalil atau hukum itu hanya dalam pandangan mujtahid, sesuai dengan kemampuan pemahaman, analisis dan kekuatan logikanya bukan pertentangan actual,karena tidak mungkin terjadi bila Allah dan Rasul nya menurunkan aturan-aturan yang saling bertentangan.

Apabila pertentangan terjadi antara kualitas dalil yang berbeda, seperti pertentangan dalil yang qoth’i dengan dalil yang zhanni,maka yang diambil adalah dalil yang qath’I atau apabila yang bertentangan itu adalah ayat Al Qur’an dengan hadits Ahad (hadits yang diriwayatkan oleh satu,dua atau tiga orang atau lebih yang tidak sampai tingkat mutawatir) maka dalil yang diambil adalah Al qur’an karena dari segi periwayatannya ayat-ayat Al aqur’an bersifat Qath’i, sedangkan hadits Ahad bersifat zhanni

Cara atau metode penyelesaian Ta’rud wa al-adillah dikemukakan masing-masing oleh ulama’ Hanafiyah dan ulama’ Syafi’iyah mengemukakan metode penyelesaian antara dua dalil yang bertentangan tersebut dengan cara:

Nasakh, Tarjih, Al Jam’u wa Al Taufiq, Tasaqut Al-Dalilain.

Tidak ada perbedaan pendapat dalam metode penyelesain terhadap ta`arudh al-adillah atau dalil-dalil yang bertentangan.Namun terjadi perbedaan pendapat dalam tahapan metode saja.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds, Lathaif al-Isyarat,Surabaya: Hidayah.tt

Sayyid Muhammas bin Alawi al-Maliki al-Hasani, Syarh MAndhumah al-Waraqat fi Ushul al-Fiqh,Malang: As-Shofwah,tt

M.Kholid Afandi, Nailul Huda, Ushul Fiqh ala Tashil ath-Thuruqot, Malang

Drs. Muhammad Ma’shum Zein, Zubdah Ushul Fiqh ala Tashil Ath-Thuruqot, Jombang Jatim.

https://fakagamauisu.wordpress.com/artikel/ta%E2%80%99-arudh-al-adillah-dan-solusinya/

https://irhambaktipasaribu.wordpress.com/2012/03/29/taarrudl-al-adillah-pertentangan-antara-dalil-dalil-dan-penyelesaiannya/

http://enggarcz.blogspot.co.id/2012/04/ushul-fiqh-ta-arrud-al-adillah.html

http://yeyenfadhillah.blogspot.co.id/2013/01/makalah-taarudh-al-adillah.html

http://syaf-ahmad.blogspot.co.id/2012/04/taarudh-al-adillah.html

https://mohidrus.wordpress.com/2014/03/03/taarudh-al-adillah-dalil-dali-yang-bertentangan-dan-metode-penyelesaiannya/

http://emhage.blogspot.co.id/2015/01/metode-dalam-memahami-terhadap-taarudh.html

http://fathimatuzzuhria.blogspot.co.id/2013/12/pengertian-taarud-al-adillah.html

http://abdanmatin.blogspot.co.id/2013/02/taarudh-tarjih-dan-qawaidul-fiqh.html

(diakses pada tanggal 13 Oktober 2015, Selasa.)

 

Contoh Cover Makalah


MAKALAH

TA’ARUDL AL-ADILLAH dan PENYELESAIANNYA

200 new

 DOSEN PEMBIMBING

Abdurrohim, M.Pdi.

 

DISUSUN OLEH

Kelompok 5

  1. Halimatus Sa’diyah
  2. Lailatul Isma Mufida
  3. Mega Choir
  4. Mei Amalia Madinata
  5. Rokhilatus Saidah
  6. Ahmad Muttaqin
  7. Mudzakir
  8. Muslim
  9. Sunardik

 

INSTITUT AGAMA ISLAM AL QOLAM

FAKULTAS TARBIYAH

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

2015/2016

Ex Makalah : Aswaja & Pesantren


MAKALAH

ASWAJA PERSPEKTIF DOKTRIN

(Konsep Dasar)

 

 

 

 

 

 

 

 

DOSEN PEMBIMBING

Nur Qomari S.Mi

 

DISUSUN OLEH

Kelompok 1a

  1. Lailatul Isma Mufida
  2. Mega Choir
  3. Mei Amalia Madinata
  4. Muslim
  5. Sunardik

 

INSTITUT AGAMA ISLAM AL QOLAM

FAKULTAS TARBIYAH

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

2015/2016

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat limpahan rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyusun makalah ini. Salawat dan salam dihaturkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW atas perjuangan beliau kita dapat menikmati pencerahan iman dan Islam dalam mengarungi samudera kehidupan ini. Dalam makalah ini penulis akan membahas mengenai Aswaja Persperktif Doktrin (Konsep Dasar) dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Studi Pesantren dan Aswaja.

Makalah ini telah dibuat berdasarkan sumber-sumber yang telah dikumpulkan. Oleh karena itu, kami mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh karena itu, penulis mengundang pembaca untuk memberikan saran serta kritik yang dapat membangun kami. Kritik konstruktif dari pembaca sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya. Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

 

  1. LATAR BELAKANG

Pada zaman yang serba moderat saat ini banyak pemuda pemudi yang kurang mengetahui sejarah atau terbentunya agama yang berkembang di Indonesia. Terutama Agama Islam.

Seharusnya pemuda pemudi terutama yang beragama Islam, mengetahui sejarah-sejarahnya ataupun aliran-aliran yang berkembang dan bermunculan.

Dari situ perlu diketahui bahwa Nabi Muhammad SAW telah mengisyaratkan bahwa hanya ada satu aliran yang benar, dan akan selamat yakni Ahlussunnah Wal Jama’ah, maka hendaknya kita mengetahui latar belakang muculnya Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja) sesungguhnya identik dengan pernyataan Nabi Muhammad SAW “Maa Ana’alaihi wa Ashabi” seperti yang dijelaskan sendiri oleh Rasulullah dalam sebuah hadist (diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, Ibnu Majjah dan Abu Dawud) bahwa Bani Israel akan terpecah belah menjadi 72 golongan dan ummatku akan terpecah menjadi 73 golongan, kesemuanya masuk neraka kecuali satu golongan. Kemudian para sahabat bertanya, “Siapakah mereka itu wahai Rosulullah ?” Lalu Rosulullah menjawab, “Mereka itu adalah Maa Ana ‘Alaihi wa Ashabi yakni mereka yang mengikuti apa saja yang aku lakukan dan dilakukan oleh para sahabatku”.

Dalam hadist tersebut Rasullullah SAW menjelaskan bahwa golongan yang selamat adalah golongan yang mengikuti apa saja yang dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatnya. Pernyataan Nabi ini tentu tidak sekedar dimaknai secara tekstual tetapi lebih diartikan pada Manhaj Au Thariqah fi Fahmin Nushus wa Tafsiriha (Metode memahami Nash dan bagaimana menafsirkannya).

Setelah adanya Aswaja pun, masih banyak pertentangan di kalangan-kalangan para ulama’ tentang kebenaran pendapat masing-masing. Sehingga muncul perspektif-perspektif baru, atau pandangan-pandangan dari banyak segi. Seperti doktrin, dari segi cultural, dan lain-lain.

 

  1. RUMUSAN MASALAH

Bagaimana Ahlussunnah wal Jama’ah dilihat dari Doktrin?

 

  1. TUJUAN PEMBUATAN MAKALAH

Untuk mengetahui Aswaja perspektif Doktrin.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Aswaja

Aswaja versi bahasa terdiri dari tiga kata, Ahlu, Al-Sunnah, dan Al-Jama’ah. Kata Ahlu diartikan sebagai keluarga, komunitas, atau pengikut. Kata Al-Sunnah diartikan sebagai jalan atau karakter. Sedangkan kata Al-Jamaah diartikan sebagai perkumpulan. Arti Sunnah secara istilah adalah segala sesuatu yang diajarkan Rasulullah SAW., baik berupa ucapan, tindakan, maupun ketetapan. Sedangkan Al-Jamaah bermakna sesuatu yang telah disepakati komunitas sahabat Nabi pada masa Rasulullah SAW. dan pada era pemerintahan Khulafah Al-Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali). Dengan demikian Ahlusssunnah Wal Jamaah adalah komunitas orang-orang yang selalu berpedoman kepada sunnah Nabi Muhammad SAW. dan jalan para sahabat beliau, baik dilihat dari aspek akidah, agama, amal-amal lahiriyah, atau akhlak hati. [1] Jama’ah mengandung beberapa pengertian, yaitu: kaum ulama atau kelompok intelektual; golongan yang terkumpul dalam suatu pemerintahan yang dipimpin oleh seorang amir; golongan yang di dalamnya terkumpul orang-orang yang memiliki integritas moral atau akhlak, ketaatan dan keimanan yang kuat; golongan mayoritas kaum muslimin; dan sekelompok sahabat Nabi Muhammad SAW. [2]

Menurut Imam Asy’ari, Ahlusssunnah Wal Jamaah adalah golongan yang berpegang teguh kepada al-Qur’an, hadis, dan apa yang diriwayatkan sahabat, tabi’in, imam-imam hadis, dan apa yang disampaikan oleh Abu Abdillah Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal. [3]

Menurut KH. M. Hasyim Asy’ari, Ahlusssunnah Wal Jamaah adalah golongan yang berpegang teguh kepada sunnah Nabi, para sahabat, dan mengikuti warisan para wali dan ulama. Secara spesifik, Ahlusssunnah Wal Jamaah yang berkembang di Jawa adalah mereka yang dalam fikih mengikuti Imam Syafi’i, dalam akidah mengikuti Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, dan dalam tasawuf mengikuti Imam al-Ghazali dan Imam Abu al-Hasan al-Syadzili. [4] Menurut Muhammad Khalifah al-Tamimy, Ahlusssunnah Wal Jamaah adalah para sahabat, tabiin, tabiit tabi’in dan siapa saja yang berjalan menurut pendirian imam-imam yang memberi petunjuk dan orang-orang yang mengikutinya dari seluruh umat semuanya. [5]

Definisi di atas meneguhkan kekayaan intelektual dan peradaban yang dimiliki Ahlusssunnah Wal Jamaah, karena tidak hanya bergantung kepada al-Qur’an dan hadits, tapi juga mengapresiasi dan mengakomodasi warisan pemikiran dan peradaban dari para sahabat dan orang-orang salih yang sesuai dengan ajaran-ajaran Nabi. Terpaku dengan al-Qur’an dan hadis dengan membiarkan sejarah para sahabat dan orang-orang saleh adalah bentuk kesombongan, karena merekalah generasi yang paling otentik dan orisinal yang lebih mengetahui bagaimana cara memahami, mengamalkan dan menerjemahkan ajaran Rasul dalam perilaku setiap hari, baik secara individu, sosial, maupun kenegaraan. Berpegang kepada al-Qur’an dan hadis ansich, bisa mengakibatkan hilangnya esensi (ruh) agama, karena akan terjebak pada aliran dhahiriyah (tekstualisme) yang mudah menuduh bid’ah kepada komunitas yang dijamin masuk surga, seperti khalifah empat. [6]

Dari segi bahasa, ”ahlussunnah” berarti penganut sunnah Nabi, sedangkan ahlul jama’ah berarti penganut kepercayaan jama’ah para sahabat Nabi. Karena itu, kaum “Ahlussunnah wal Jama’ah” (ahl al-sunnah wa al-jamâ’ah) adalah kaum yang menganut kepercayaan yang dianut oleh Nabi Muhammad Saw. dan para sahabatnya. Kepercayaan Nabi dan sahabat-sahabatnya itu telah termaktub dalam al-Qur’an dan sunnah Nabi secara terpencar-pencar, yang kemudian dikumpulkan dan dirumuskan dengan rapi oleh seorang ulama besar, yaitu Syeikh Abu al-Hasan al-Asy’ari (lahir di Basrah tahun 260 H dan wafat di kota yang sama pada tahun 324 H dalam usia 64 tahun).

 

  1. Pengertian Doktrin

DOKTRIN adalah suatu bentuk tindakan mengharuskan/memaksakan bahwa suatu kasus harus diyakini dan dibenarkan seperti apa yang disampaikan..

Ada juga yang mengartikan dokrin sebagai berikut:

  1. Sebuah prinsip atau tubuh prinsip yang diberikan untuk penerimaan/dukungan atau kepercayaan, seperti oleh sebuah agama, sebuahkelompokpolitik, ilmupengetahuan, ataufilosofi; dogma.
  2. Sebuah aturan atau prinsip hukum, khususnya ketika diberikan melalui teladan
  3. Sebuah pernyataan dari kebijaksanaan resmi pemerintahan, khususnya mengenai hubungan luar negri dan strategi militer
  4. suatu pemikiran yang sudah lama ; sebuah pengajaran.

Dilihat dari sifatnya, doktrin merupakan pedoman tatalaku yang bersifat mendasar dan umum untuk menghadap sesuatu masalah, sehingga di dalam penerapannya tergatung dari situasi yang berlaku pada saat itu. Dilihatdarisegi proses terjadinya, doktrinberkembangmelalui proses penalaran, olehkarenaitupenerapnnya pun harusmelaluiprosespenalaran. Doktrinmerupakanpengetahuannormatif (=norma moral) daripadasuatupengetahuanpositif. Olehkarenadoktrindapatdirumuskansebagaiberikut: “Pemikiranataucaraterbaik yang ada, mengenaisuatumasalahdanmenyatakansertamembimbingparapenganutnya, untukmenghadapimasalahitu; yang manadiyakinikebenarannyaolehparapenganutnya, diajarkansertadisebarluaskannamunpelaksanaannyaharusdidasarkanpadapenalaran yang memadaikondisi yang berlakupadasaatitu”.

 

  1. Doktrin Aswaja

Dari pengertian keduanya (Aswaja dan doktrin itu sendiri), maka Aswaja dilihat dari Doktrin adalah Ahlussunnah Wal Jama’ah (Aswaja) lahir dari pergulatan intens antara doktrin dengan sejarah. Di wilayah doktrin, debat meliputi soal kalam mengenai status Al-Qur’an apakah ia makhluk atau bukan, kemudian debat antara Sifat-Sifat Allah antara ulama Salafiyyun dengan golongan Mu’tazilah, dan seterusnya.

Di wilayah sejarah, proses pembentukan Aswaja terentang hingga zaman al-khulafa’ ar-rasyidun, yakni dimulai sejak terjadi Perang Shiffin yang melibatkan Khalifah Ali bin Abi Thalib RA dengan Muawiyah. Bersama kekalahan Khalifah ke-empat tersebut, setelah dikelabui melalui taktik arbitrase (tahkim) oleh kubu Muawiyah, ummat Islam makin terpecah kedalam berbagai golongan. Di antara mereka terdapat Syi’ah yang secara umum dinisbatkan kepada pengikut Khalifah Ali bin Abi Thalib, golongan Khawarij yakni pendukung Ali yang membelot karena tidak setuju dengan tahkim, dan ada pula kelompok Jabariyah yang melegitimasi kepemimpinan Muawiyah.

Pendapat bahwa Aswaja bukan sebagai doktrin merupakan pengingkaran terhadap kenyataan. Pemahaman keagamaan yang tersebar dalam berbagai bidang ilmu-ilmu ke-Islam-an, seperti Fiqh Theologi dan Sufisme, yang sekarang dianut oleh kebanyakan umat Islam merupakan doktrin Aswaja. Dengan demikian jika Aswaja hanya diakui sebagai manhaj atau metoda pemahaman Islam, pendapat ini merupakan pengingkaran terhadap kenyataan. Jadi permasalahan yang penting untuk dikembangkan bukan apakah Aswaja sebagai doktrin itu ada atau tidak, tetapi apakah pembahasan Aswaja itu cukup mendasarkan pada wilayah doktrinal ataukah harus pula membahas Aswaja sebagai sebuah metoda pemahaman keagamaan. Permasalahan lain yang tidak kalah pentingnya adalah apakah pembenaran (justification) terhadap Aswaja itu cukup dengan pendekatan normatif?

Tradisi pemikiran Islam yang ada sekarang (Fiqh, theologi, Sufisme dan lainya) tidak lahir dari ruang hampa. Ia lahir dari suatu proses pergumulan yang panjang, yang sudah barang pasti terkait erat dengan aspek-aspek sosio-kultural serta sosio-politik yang melingkupinya. Itulah karenanya untuk mendapatkan gambaran utuh, pengkajian Aswaja tidak cukup hanya mengandalkan pada kajian-kajian doktrinal dengan pendekatan normatif, tetapi harus melibatkan kajian kesejarahan. Kajian kesejarahan ini penting dilakukan untuk meluruskan pola-pola pemahaman keagamaan mana yang historis dan mana yang ahistoris.

Ada beberapa alasan mengapa kajian kesejarahan ini sangat penting. Pertama, banyak umat Islam yang melihat Aswaja dengan berbagai variasinya hanya sebagai ideologi yang baku, seolah infallible dan immune terhadap perubahan zaman. Dalam konteks ini Aswaja seringkali diartikan secara sederhana yakni sebagai antitesa dari faham Syi’ah, orthodoxy dari heterodoxy atau sunnah dari bid’ah. Khusus di Indonesia, Aswaja ini bahkan telah diklaim sebagai ideologi dari berbagai organisasi keagamaan. Meskipun diantara Ormas Islam yang ada, NU dan badan otonomnya yang paling rajin mengkampanyekan dirinya sebagai penerus dan pemelihara faham Aswaja, Ormas-ormas Islam lainnya juga telah mengklaim dirinya sebagai kelompok Aswaja, baik secara implisit maupun eksplisit. Salah satu keputusan Majlis Tarjih Muhammadiyah menyatakan bahwa keputusan tentang “iman merupakan akidah ahlul haqq wa al-sunnah”.Persis juga mengklalim dirinya lebih berhak menyandang predikat Aswaja dengan alasan bahwa ia tidak bermadzhab (Said, 1999: 114). Dengan demikian klalim “ahlusunnah” sebenarnya lebih pantas disandang mereka. Bahkan baru beberapa tahun yang lalu muncul fenomena baru yang sangat menarik karena kelompok Muslim garis keras telah mengklaim dirinya secara eksplisit sebagai “kelompok Jihad Aswaja”.

Di tengah munculnya klaim Aswaja yang dilakukan berbagai organisasi kegamaan di Indonesia saat ini, sudah selayaknya jika Ansor sebagai komponen generasi muda NU, memberikan pemaknaan yang benar dari konteks manhaji (metodologis). Mengapa tidak dari sudut pandang doktrinal? Karena upaya pemaknaan dan pendefinisian kembali (redefinisi) Aswaja secara doktrinal terkadang menimbulkan hal-hal yang paradoksal. Doktrin merupakan hasil pemikiran seseorang yang kemudian terlembaga menjadi ajaran baku. Sudah barang pasti dalam proses pembakuan ini terkait dan terpengaruh oleh kondisi waktu dan tempat. Doktrin yang dihasilkan oleh para ulama terdahulu belum tentu tepat dengan kondisi sekarang. Justeru kalau kita memaknai Aswaja dari sisi doktrinal, kita akan terjebak sendiri. Boleh jadi kita tidak lagi bisa dikatakan sebagai bagian dari penganut Aswaja yang hakiki karena telah melakukan pemutlakan pembenaran doktrinal.

Alasan kedua mengapa Aswaja tidak harus difahami dari sisi doktrinal ini didasarkan atas suatu kenyataan bahwa banyak pendapat para Imam yang kita anggap sebagai rujukan tetapi berbeda tajam antara satu sama lainnya. Misalnya al-Junaidi menyatakan bahwa peniadaan sifat-sifat Allah merupakan awal dari sikap tawhid . Ini jelas akan bertentangan dengan faham Imam al-Asy’ari yang menyatakan bahwa Allah memiliki sifat. Inilah yang menyulitkan kita untuk bisa memberikan pembenaran jika Aswaja difahami dalam konteks doktrinal. Oleh karena itu, untuk memberikan pembenaran, perlu kiranya melihat Aswaja dalam konteks manhaj atau metodologi pemahaman keagamaan.

Ketiga, dasar pembenaran Aswaja selama ini seringkali bersifat teologis normatif. Ada dua Hadits riwayat Imam Turmudzi dan satu Hadits riwayat Imam Tabrani yang sering digunakan untuk membenarkan Aswaja. Hadits-hadits tersebut menceritakan tentang akan terjadinya perpecahan di kalangan umat Islam sampai 73 kelompok sebagaimana telah terjadi di kalangan Yahudi dan Kristen. Dintara ke 73 kelompok itu semuanya akan masuk Neraka kecuali satu kelompok, yakni kelompok pengikut Sunnah Nabi dan para Sahabatnya. Dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Tabrani bahkan disebutkan secara eksplisit bahwa yang satu kelompok itu adalah Ahlu Sunah Wa al-Jama’ah.

Pembenaran secara teologis-normatif tidak ada salahnya. Pendekatan normatif tidak harus dihadapkan secara diametrical dengan pendekatan ilmiyah. Dalam banyak hal, keyakinan keagamaan juga perlu mendapatkan pembenaran normatif. Dengan demikian persoalannya bukan tidak boleh menggunakan pendekatan normatif untuk mendukung Aswaja tetapi sejauh mana pendekatan normatif itu berwatak coherent dan tidak paradoxical.

Jika diteliti secara mendalam, ketiga hadits pembenar Aswaja itu berwatak paradoxical dan mungkin sekali lahir saat umat Islam dilanda perpecahan. Hadits-hadits itu muncul untuk tujuan penyatuan Umat Islam yang sudah tercerai berai akibat perang saudara. Bahwa dalam Hadits-hadits tersebut terkandung tujuan yang sangat mulia, memang tidak diragukan lagi. Namun dalam memenuhi tujuan yang mulia tersebut ada satu prinsip yang terkorbankan, yakni prinsip kesucian Muhammad sebagai Rasulullah.

Kehadiran Nabi Muhammad saw. di tengah masyarakat “Jahiliyah” sudah barang pasti tidak bisa dipisahkan dari misi kerasulan, baik dalam wujud al-Qur’an maupun dalam bentuk prilaku pribadinya. Namun misi kerasulan yang dibawanya itu seringkali berhadapan dengan kecenderungan umum masyarakat Jahiliyah yang menganggap orang sehebat Nabi sejajar dengan para Kahin (tukang ramal). Itulah karenanya al-Qur’an sangat berkepentingan untuk membentengi Nabi dari tuduhan sebagai Kahin dengan pernyataan yang tegas bahwa apa yang dibawa Nabi benar-benar merupakan wahyu Allah. Kalau al-Qur’an mencoba meyakinkan masyarakat Arab pra-Islam bahwa apa yang dibawa oleh Nabi itu benar-benar wahyu serta mencoba menjaga Nabi agar terhindar dari tuduhan sebagai peramal, pertanyaannya apakah logis jika Nabi kemudian banyak menyatakan hal-hal yang prediktif? Bukankah hal demikian ini bertentangan dengan logika umum yang tersimpul dari al-Qur’an itu sendiri? Sudah barang tentu hal ini tidak mungkin dilakukan Rasulullah. Itulah karenanya hadits-hadits yang bersifat prediktif ini sulit untuk bisa diterima sebagai landasan normatif untuk membenarkan Aswaja.

Dengan bersandar pada ketiga alasan di atas, pembenaran atas Aswaja harus dilihat dari aspek kesejarahan. Dari hasil pendekatan kesejarahan ini kemudian Aswaja di rekonstruksi menjadi konsep-konsep yang abstrak. Konsep-konsep abstrak inilah yang akan kita jadikan sebagai pola atau model pemahaman keagamaan. Inilah yang kami maksudkan Aswaja sebagai metoda pemahaman keagamaan Islam.

Ada dua kekuatan besar yang menjadi tantangan Aswaja di Indonesia sekarang ini dan di masa depan: kekuatan liberal di satu pihak dan kekuatan Islam politik garis keras di pihak yang lain. Kekuatan liberal lahir dari sejarah panjang pemberontakan masyarakat Eropa (dan kemudian pindah Amerika) terhadap lembaga-lembaga agama sejak masa pencerahan (renaissance) yang dimulai pada abad ke-16 masehi; satu pemberontakan yang melahirkan bangunan filsafat pemikiran yang bermusuhan dengan ajaran (dan terutama lembaga) agama; satu bangunan pemikiran yang melahirkan modernitas; satu struktur masyarakat kapital yang dengan globalisasi menjadi seolah banjir bandang yang siap menyapu masyarakat di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia.

Sebagai reaksinya, sejak era perang dingin berakhir dengan keruntuhan Uni Soviet, Islam diposisikan sebagai “musuh” terutama oleh kekuatan superpower: Amerika Serikat dan sekutunya. Tentu saja bukan umat Islam secara umum, namun sekelompok kecil umat Islam yang menganut garis keras dan secara membabi-buta memusuhi non muslim. Peristiwa penyerangan gedung kembar pusat perdagangan di New York, Amerika, 11 September 2001, menjadikan dua kekuatan ini behadap-hadapan secara keras. Akibatnya, apa yang disebut ‘perang terhadap terorisme’ dilancarkan Amerika dan sekutunya dimana-mana di muka bumi ini.

Yang patut digaris bawahi: dua kekuatan ini, yang liberal dan yang Islam politik garis keras, bersifat transnasional, lintas negara. Kedua-duanya menjadi ancaman serius bagi kesinambungan praktik keagamaan Aswaja di Indonesia yang moderat, toleran, seimbang dan adil itu.

Gempuran kekuatan liberal menghantam sendi-sendi pertahanan nilai yang ditanamkan Aswaja selama berabad-abad dari aspeknya yang sapu bersih dan meniscayakan nilai-nilai kebebasan dalam hal apapun dengan manusia (perangkat nalarnya) sebagai pusat, dengan tanpa perlu bimbingan wahyu. Gempuran Islam politik garis keras menghilangkan watak dasar Islam (Aswaja lebih khusus lagi) yang ramah dan menyebar rahmat bagi seluruh alam semesta.

Dua ancaman riil inilah yang mengharuskan Aswaja di Indonesia untuk mengkonsolidasi diri, merapatkan barisan, memvitalkan kembali modal nilai-nilai luhur yang diturunkan dari ajarannya dan pengalaman sejarahnya. Karena sifat dua tantangan ini yang mondial, maka reaksinya pun harus mondial.

Sejauh ini, ikhtiar itu ada. Nahdlatul Ulama melalui forum ICIS (International Conference of Islamic Scholars) sudah tiga kali menggelar pertemuan para ulama-intelektual dunia Islam di Jakarta untuk tujuan dimaksud: tujuan luhur mengembalikan Islam sebagai rahmat bagi semua.

Ke dalam, penggairahan masjid sebagai pusat peradaban dan institusi perawatan nilai-nilai juga disadari semakin penting dilakukan. Manakala masjid berfungsi merawat Aswaja, maka serbuan dua ancaman tadi bisa dilawan pengaruhnya.

Tentu saja, penyikapan yang komprehensif harus diupayakan secara menerus. Nilai dilawan nilai. Instrumen dilawan instrumen. Sudah saatnya, pada tingkat instrumen, organisasi penyangga Aswaja di Indonesia memiliki misalnya, stasiun televisi, production house untuk membuat film berbasis nilai-nilai Aswaja, perusahaan penjaga kemandirian ekonomi umat dan segala institusi baru lainnya agar penyikapan komprehensif dan efektif bisa dilakukan secara maksimal. (NU Online)

Dalam tinjauan teologis dan historis-sosiologis, istilah Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja) adalah pengikut sunnah dan lawan dari sifat bid’ah pemikiran. Dalam sejarahnya, Aswaja sering diasosiasikan pengikut para imam-imam yang agung dalam kedalaman ilmunya, yang merupakan antitesa dari paham muktazilah, syiah, khawarij, murjiah, musyabbihah dan jabariyah. Lebih spesifik lagi, Imam As-Safariniy Al-Hanbali (1114-1188 H) dalam Lawami’ Al-Anwar Al-Bahiyyah Syarh Ad-Durrat Al-Mudhiyyah fi ‘Aqd Al-Firqoh Al-Mardhiyyah (vol.1/73) menegaskan bahwa Ahlusunnah wal Jama’ah terdiri dari 3 golongan besar yaitu, Asy’ariyah (pengikut Imam Abul Hasan Asy’ari), Maturidiyah (pengikut Imam Abu Manshur Maturidi) dan Ahlul Hadis/Atsar (pengikut Imam Ahmad ibn Hanbal).

Perkembangan kondisi kekinian umat mengharuskan terciptanya persaudaraan, kesepahaman (tafahum), saling menyayangi dan merangkul (tarahum), sehingga melahirkan kerjasama dan sinergitas (ta’awun wa takamul). Sikap-sikap positif itu mutlak harus diwujudkan oleh semua pihak yang mengaku dirinya Ahlusunnah wal Jama’ah, apalagi di tengah tantangan dakwah Islam yang semakin berat dewasa ini.

Tantangan Ukhuwah Aswaja

Berikut ini, beberapa tantangan ukhuwah di kalangan Ahlusunnah wal Jama’ah.

Pertama, Sikap saling menafikan. Di muka, saya telah mengutip pandangan tokoh terkemuka Imam As-Safariniy tentang 3 kelompok Aswaja, yang disepakati oleh seluruh ulama . Namun dalam sejarah, tak jarang terjadi polemik dan sikap saling menafikan antar kelompok Ahlus Sunnah, terutama antara Asy’ariyah dan Maturidiyah di satu sisi dan Ahlul Hadis di sisi lain. Tantangan ini tidak bisa dipandang remeh.

Sebagian ulama Asy’ariah misalnya menafikan Ahlul Hadis, terutama dalam hal tanzih sifat Allah, bahwa mereka (Ahlul Hadis) terkena sindrom tajsim dan tasybih antara Allah dan makhluk-Nya. Seperti yang sering dituduhkan kepada Syaikhul Islam Ibnu Taymiah (661-728 H, 1263-1328 M). Sebaliknya sebagian ulama Ahlul Hadis menafikan Asy’ariah dan Maturidiyah dan menuduh mereka terkena sindrom jahamiyah dan muktazilah dalam soal takwil sifat-sifat Allah. Tentu saja sikap saling menafikan di antara school of thoughts ini akan berdampak negatif bagi kemaslahatan umat Islam yang mayoritas berakidah Ahlusunnah wal Jama’ah. Perpecahan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Harus ada rekonsiliasi hakiki dan tidak lagi saling menafikan. Yang senang dengan skisma antar madrasah pemikiran Ahlusunnah, tentulah sekte-sekte sesat dan aliran pemikiran yang anti-sunnah dan melancarkan gerakan dekonstruksi syariah yang didukung kekuatan asing.

Kedua, Kurangnya sikap penghargaan terhadap tokoh panutan mazhab masing-masing. Sikap kritis ilmiah terhadap madrasah lainnya sah saja, -bukan hal yang tabu- namun harus diiringi sikap yang berimbang dan tetap saling menghargai. Contoh Ibnu Taymiah. Beliau memang kritis terhadap pandangan teologi Asy’ariyah, dalam soal-soal tertentu seperti penetapan sifat-sifat Allah secara akliah dan takwil terhadap sifat-sifat khabariyah. Namun sikap kritis itu tidak menghalangi beliau untuk respek dan menghargai jasa-jasa besar para ulama Asya’irah dalam melawan dan membantah pemikiran muktazilah, bathiniyah ismailiyah, dan syiah imamiyah-rofidhoh.

Beliau juga memuji Menteri Besar Daulah Saljuk, Nizhamul Mulk (408-485 H, 1018-1092 M) –penyokong teologi asy’ari- yang telah mensponsori Madrasah Nizhamiyah di Baghdad dan kota-kota lainnya untuk melawan pemikiran dan aliran sesat. Dari rahim Nizhamiyah Baghdad telah lahir karya-karya besar seperti Ghiyats al-Umam oleh Imam Al-Juwaini (419-478 H, 1028-1185 M), Fadha’ih Al-Bathiniyah dan Tahafut Al-Falasifah oleh Abu Hamid Al-Ghazali (450-505 H, 1058-1111 M), Al-Ghunyah oleh Abdul Qadir Jaylani (470-561 H), dan lain-lain.

Ia misalnya menulis, “Kebaikan-kebaikan mereka (Asy’ariyah) dilihat dari dua aspek; pertama, kesesuaiannya dengan ahlusunnah dan hadis, dan kedua, membantah aliran-aliran yang menyalahi ahlusunnah dan hadis dengan merontokkan argumentasinya.” Ia secara elegan menyatakan bahwa, “ulama Asy’ariah memiliki kebaikan, kelebihan dan upaya yang mesti disyukuri, sehingga ijtihad mereka yang keliru akan diampuni.” (lihat Majmu’ Fatawa, dan lebih jauh baca Abdurrahman Al-Mahmud dalam Mawqif Ibn Taymiah Minal Asya’irah, vol.2/705-708 dan 709)Sikap dan penilaian yang fair dari Ibnu Taymiah terhadap para ulama Asya’irah ini yang harus digugu dan ditiru oleh kelompok Salafi yang kagum dan menisbatkan dirinya kepada beliau, dalam menilai kelompok lain yang masih satu atap koridor Ahlusunnah.

Ketiga, Kecurigaan terhadap perkembangan gerakan keagamaan baru; label “ideologi transnasional” disematkan kepada mereka dan dianggap paham yang bertentangan dengan Aswaja. Gerakan seperti Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin dan Jama’ah Tablig sering diasosiasikan ke dalam kecurigaan itu. Padahal kalau mau jujur, aliran Syiah lebih tepat dilabeli “transnasional” yang berpotensi memecah belah persatuan bangsa yang mayoritas muslim dan sudah mengakar di Indonesia. Hal ini akibat kurangnya informasi tentang perkembangan ideologi yang bertransformasi menjadi gerakan politik disamping ormas keagamaan murni.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Faham ahlussunnah wal jamaah terbentuk melalui proses yang tidak sederhana.disamping membutuhkan waktu yang panjang dalam proses dalam pembukuannya, faham ini juga mengalami beberapa kali benturan dengan faham lain sebelumsampai pada bentuk ny ayang final. Walaupun faham ini telah berhasil mengatasi tantangangan yang dihadapinya dalam proses sampai kepada formatnya yang baku, ahlussunah waljamaah mulai di uji kembali oleh kelompok modernis yang menghendaki adanya revisi terhadap beberapa ajarannya yang dianggap perlu diubah agar sesuai dengan tututan zaman.

Namun, kelihatannya keberadaan ahlusunnah waljamaah maih tetap dibutuhkan sekurang-kurang dalam masa sekarang ini karena tantangan dari kaum modernis terbukti menjadi kontra produktif. Meskipun demikian ahlusunah wal jama’ah tetap harus terbuka untuk berubah sebab hakekat keberadaanya memang hasil dari dari perubahan-perubahan yang dilakukan oleh ulama di masa lalu doktrin in bisa compatible dengan waktu di masa para ulama waktu hidup.

Definisi Ahlussunnah wal Jama’ah yang dirumuskan para ulama klassik memiliki potensi untuk didiskusikan ulang, sehingga beberapa ulama berpengaruh di NU mencoba menafsirkan kembali doktrin aswaja. Hal yang paling disoroti yaitu tentang pelabelan aswaja sebagai madzhab, menurut Said Aqil, jika aswaja NU difahami sebagai sebuah madzhab, maka konsep tersebut akan mempersempit makna ke arah institusional. Ahlussunnah wal Jama’ah dalam menjawab perkembangan zaman harus dimaknai sebagai manhaj al fikr sehingga bersifat dinamis sekaligus sangat terbuka bagi pembaruan-pembaruan namun tetap selektif dan protektif dalam merespon perkembangan tersebut.

Para Kyai yang mencoba menafsirkan kembali aswaja mempunyai tujuan yang sama, yaitu mensejahterakan umat dan membawa mereka ke arah kemajuan. Para kyai ini mencoba memformulasikan pemikiran pemikiran mereka dengan realitas, sehingga apa yang mereka hasilkan bersifat visioner, kontemporer dan sangat memihak kepada masyarakt kecil.

Usaha Reinterpretasi ini lebih mengarah kepada penafsiran ulang dan redefinisi terhadap konsep aswaja yang bertujuan untuk kemaslahatan umat.

Untukmu, Nenekku


Relakan yang terjadi takkan kembali

Ia sudah miliknya bukan milik kita lagi

Tak perlu menangis tak perlu bersedih

Tak perlu tak perlu sedu sedanmu

Hadapi saja

Pasrah pada Ilahi

Hanya itu yang kita bisa

Ambil hikmatnya ambil indahnya

Cobalah menari cobalah bernyanyi

Cobalah-cobalah mulai detik ini

Hadapi saja

Hilang memang hilang wajahnya

Terus terbayang

Berjumpa di mimpi

Kau ajak aku untuk menari, Bernyanyi

Bersama bidadari malaikat

Dan penghuni surga

Relakan yang terjadi takkan kembali

Ia sudah miliknya bukan milik kita lagi

Pasrah pada Ilahi hanya itu yang kita bisa

Ambil hikmatnya ambil indahnya

Tak perlu menangis tak perlu bersedih

Tak perlu tak perlu sedu sedan itu

Hadapi saja

20150601_200919

Ketika Zaman Menjajah – Sebuah Cerpen


Modernisasi, perubahan zaman, globalisasi atau apapun namanya, benar-benar telah merubah segala hal. Kebiasaan, sifat, watak, kesenangan atau yang lainnya. Dan korban terbanyak adalah para remaja.

Belia, bukan termasuk putri orang kaya. Ia hanya putrid seorang bakul tempe yang mengandalkan prestasinya untuk bersekolah. Ia adalah putrid dari mbok Nur, begitu sapaan orang-orang sekitarnya.

Ibuk, begitu Belia memanggilnya.

Belia adalah putrid tunggal, bapak telah meninggal saat Belia masih berumur 4 tahun. Dan mbok Nur lah yang mendidik, menjaga, menjadi ibu sekaligus bapak bagi Belia. Kewajiban yang amat berat, cobaan yang hebat. Tapi dilalui mbok Nur dengan iman dan keyakinan kuat. Itupun yang diajarkan pada Belia sejak kecil.

Mbok Nur bukanlah seorang ustadzah, namun mbok Nur sangat senang mencari ilmu, entah dari pengajian atau melihat televise di rumah tetangga. Karenanya, sejak kecil Belia sudah diajarkan beberapa ilmu agam, dengan harapan, kelak Belia menjadi seorang mar’atus sholihah.

Dan begitulah Belia di kampungnya. Kampung terpencil dari kota. Jangankan akses internet, televisi saja hanya beberapa tetangga yang punya. Kampung yang telah membesarkan Belia menjadi gadis baik, suka menolong, taat beribadah, sopan pada siapapun yang ditemuinya. Hingga para tetangga segan terhadapnya, dan hormat pada mbok Nur karena telah melahirkan seorang putrid seperti Belia.

Selama ini, Belia bersekolah hanya dengan modal belajar dan meminta ilmu kepada Allah. Karena yang member kepandaian adalah Allah. Sehingga ia selalu mendapat prestasi tertinggi di sekolah.

Suatu hari, ketika Belia pulang sekolah, Belia masuk rumah dan menemukan ibunya di dapur sedang membuat tempe.

“Assalamu’alaikum.” Belia lalu sungkem pada ibunya,

“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh, sudah pulang nduk?”

“Iya buk.” Belia lalu duduk di samping ibunya. Lalu bicara, “Buk tadi ada mahasiswa dari kota ke sekolah. Terus kepala sekolah memanggil siswa-siswi yang berprestasi ke ruangannya. Dan ini, belia dapat surat panggilan kuliah.” diberikannya amplop berwarna putih kepada ibunya.

Mbok Nur menerima, lalu membacanya. Di cover amplop tertulis ‘Beasiswa Untuk Siswa Berprestasi.’ Lalu mbok Nur membuka isinya. Dikatakan bahwa Universitas Afaka telah memberikan beasiswa kuliah pada siswa-siswi berprestasi dari SMA Shifa. Dan Belia termasuk di dalamnya.

Saking terharunya, mbok Nur menangis dan memeluk Belia. “Subhanallah nduk, Allah memang Maha Adil. Kita orang ndak punya, tapi diberi anugrah yang bermacam-macam. Ini adalah pemberian Allah nduk.” Ucap syukur mbok Nur yang diikuti Belia.

“Berangkatlah nduk, tuntutlah ilmu setinggi mungkin!” ucap mbok Nur selanjutnya.

“Tapi buk, kota kan jauh dari sini. Nanti ibuk sama siapa? Siapa yang bantu ibuk jualan? Kalau ibuk sakit, siapa yangmerawat? Lagipula, Belia nggak kuliah juga nggak apa-apa. Belia mau bantu ibuk saja di kampong.” Belia bingung dengan pilihannya. Sebenarnya dirinya ingin kuliah, tapi tidak bias meninggalkan ibu satu-satunya. Belia tidak tega melihat ibunya kerja sendiri di kampong.

Begitu mulianya hati Belia. Namun mbok Nur menggeleng.

“Ndak apa-apa nduk, di sini banya tetangga yang sudah seperti keluarga kita sendiri, mereka selalu bantu ibuk. Kamu ndak usah kuatir, jalan kesuksesan itu banyak nduk, dan jalan yang kamu peroleh untuk kuliah ini adalah jalan yang diridhoi Allah. Ambillah! Tapi ingat, kuatkan imanmu, kota penuh dengan pergaulan bebas. Kalau imanmu ndak kuat, kamu bias terperosok menjadi bejat, suka maksiat, ndak tahu mana dosa mana pahala, mana benar mana salah.,” mbok Nur berhenti sebentar, sambil menatap putrid wayangnya itu, lalu meneruskan, “Kita ndak tahu takdir membawa kita ke mana, itu sebabnya ibuk mengajarimu ngaji, memberitahumu agama kita, Tuhan kita, agar suatu saat takdir membawa kita ke tempat yang berbeda dengan keyakinan kita, maka kita bias menjaga diri, kita menjadikan iman sebagai tameng kelakuan maksiat. Paham nduk?”

“Iya buk,” Belia mengangguk, lalu berterima kasih pada ibunya atas segala nasihatnya.

Sebulan berlalu, setelah wisuda dan lagi-;agi prestasi didapat Belia. Mbok Nur lagi-lagi merasa bahagia dan bangga pada putrinya itu. Ucap syukur pun tak luput dari rintihannya kepada Allah.

Sehari sebelum keberangkatannya ke kota, mbok Nur wanti-wanti lagi.

“Ingat pesan ibuk, jaga kesehatan, jaga diri dan jaga iman, ya nduk?”

“Iya buk, doakan Belia bias sukses dan segera kembali.” lalu Belia sungkem, dan menuju ke mobil yang sudah menunggunya beserta teman-temannya di dalamnya. “Belia berangkat buk, Assalamu’alaikum.” Ucap Belia sedih.

“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh, hati-hati nduk.” Balas mbok Nur sambil menangis.

Keikhlasan hati mbok Nur melepas anaknya untuk mencari ilmu, begitu tulus. Dan harapannya, semoga Belia tetap pada pendirian imannya.

***

Tak ada yang menyangka dengan segala kehendak Allah. Bermunajat pada –Nya, mengadukan semuanya, keluh kesah hatinya, gundah perasaannya, kekecewaan yang begitu mendalam atas apa yang ia dapati dalam diri Belia sekarang.

Berawal dari kunjungannya pada Belia ke kota. Benar saja, dua tahun Belia kuliah di kota, masih sering menghubungi mbok Nur lewat telepon di rumah tetangga, kadang saat liburan, Belia juga pulang kampong, sekedar untuk melihat keadaan ibunya.

Tapi tiap kepulangannya, mbok Nur merasa ada sesuatu yang janggal pada putrinya itu. Memang benar, di samping Belia kuliah, dia juga bekerja sebagai pelayan restoran. Sekedar untuk membiayai hidupnya di kota. Dan tabungan untuk ibunya di kampong. Setiap pulang, Belia selalu membelikan banyak barang untuk ibunya. Tapi bukan itu yang dipermasalahkan.

Mbok Nur melihat perubahan akhlak pada diri Belia.

Tabiat seorang ibu adalah menjaga anak-anaknya, menasihatinya meski terkadang nasihat itu telah berulang kali diucapkan.

Dan tiap kali Belia pulang kampong, mbok Nur selalu mengulangi wanti-wantinya. Tapi terakhir kali Belia pulang kampong, mendengar ibunya akan menasihatinya lagi, Belia malah membentak.

“Udahlah buk, bosen tau nggak diomongin itu terus. Emang nggak ada yang lain ya?” sungut Belia sambil memalingkan wajah.

“Masya Allah nduk, ibuk hanya mengingatkan, biar kamu nggak lupa. Nasihat itu penting.”

“Iya buk, Belia paham. Jaga kesehatan, jaga diri dan jaga iman. Udah kan? Belia udah hafal. Lagian ibuk nggak bosen ya ngomong itu-itu terus?” Belia bicara dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.

Seumur-umur, mbok Nur baru menemukan Belia berani menjawab nasihatnya adalah saat ini. Dulu, Belia paling-paling hanya mengangguk atau menjawab iya di setiap perkataan ibunya.

“Nduk, kamu ndak boleh begitu. Kamu sekarang sudah menjadi mahasiswa, kesopananmu sama orang tua harus dijaga. Lagipula…”

Belum selesai ibunya bicara, Belia menyela.

“Udahlah buk, kalo aku pulang, isinya cumin nasihat itu-itu aja, mending Belia nggak pulang. Aku capek, besok mau balik ke kota. Aku tidur dulu.” Belia mengibaskan tangannya, lalu beranjak dari kursi.

Sakit hati rasanya, memiliki putrid yang apabila dinasihati, malah membentak orang tua. Sambil mengelus dada karena kaget dengan sikap Belia yang berubah, ibunya bicara lagi, “Bukannya liburan masih seminggu lagi nduk? Kok mau balik besok?” suara mbok Nur mulai bergetar, menahan tangis yang ingin keluar.

Belia menatap ibunya, lalu memalingkan wajah.

“Enakan di kota bareng temen-temen daripada di sini bareng ibuk. Isinya cumin omongan nggak penting.” Belia sambil terus berjalan ke kamarnya.

Astaghfirullah… gumam mbok Nur. Ya Allah, kenapa putriku seperti itu? Apakah salahku dulu membiarkannya kuliah di kota?

Dan malamnya, mbok Nur tengadah pada Rabbnya atas semua yang dialaminya hari ini. Dan memohon agar menjaga putrinya saat di kota.

Setelah hari itu, 2 tahun lamanya Belia tidak pulang sama sekali. Banya tetangga yang bertanya-tanya, kenapa Belia tidak mengunjungi ibunya. Mbok Nur hanya menjawab bahwa Belia sedang sibuk dengan studinya, dan tak ada waktu untuk pulang.

Hingga saking rindunya mbok Nur pada Belia, mbok Nur nekat berangkat ke kota untuk menemui putrinya itu. Bersama tetangganya yang menemani, mbok Nur pun berangkat.

Saying, hal yang tak terdugapun terjadi. Saat mbok Nur tiba di kos-kosan putrinya itu, ternyata di sana Belia sedang bersanding dengan seorang lelaki, mereka seperti akrab, kadang berpegangan tangan, dank ala itu, Belia sudah lepas jilbab.

Tetangga mbok Nur langsung beristighfar. Begitu pula mbok Nur yang kaget bukan kepalang. Ditambah lagi, seperti orang tidak kenal, Belia malah mengusir mereka. Begitu malangnya nasib orang tua yang menginginkan kebaikan malah berakhir seperti itu.

Dengan rasa kecewa, mbok Nur pun pulang.

Sebulan kemudian, mbok Nur terisak-isak di kamarnya. Dalam keadaan demam tinggi, mbok Nur bermunajat agar Allah member hidayah kepada putrinya. Dengan terbatuk-batuk, mbok Nur beranjak dari sholatnya, menuju ke rumah tetangganya. Ingin rasanya mendengar suara Belia. Tapi apa yang didapatinya kala yang mengangkat adalah seorang polisi. Bahwa kini Belia tengah ditahan karena terlibat anggota mafia.

Sungguh ironis.

Mbok Nur memutuskan untuk langsung berangkat ke kota melihat putrinya itu. Bersama Iva, tetangganya, mbok Nur melihat keadaan Belia yang mengenaskan dalam tahanan. Sakit sekali rasanya, dalam keadaan demam, mbok Nur rela menemui putrinya yang jauh di kota.

Saat bertemu dengan Belia, Belia langsung sujud pada ibunya. Memohon maaf dan minta ampun. ”Buk, mungkin inilah sebab aku nggak mendengarkan nasihat ibuk. Melalaikan tanggung jawab Belia kepada Allah. Sehingga seperti inilah akibatnya.” Ujar Belia terisak-isak. Lalu meneruskan, “Tapi buk, ibuk paham betul tentang Belia. Billahi Belia nggak ikut dalam hal ini, Belia dijebak buk.”

Dan mbok Nur percaya, seumur-umur Belia berani bersumpah hanya apabila kebenaran ada dalam bibir dan hatinya. Entah, mbok Nur begitu merasa kasihan pada putrinya. Tapi kepolisian masih tetap harus menginterogasi Belia, yang kemudian memang Allahlah Maha Benar.

Belia dinyatakan tidak bersalah.

Proses yang begitu panjang dan Allah telah mengembalikan putrinya, tapi kehendak Allah pada hal lain juga berlangsung. Di hari Belia dinyatakan tidak bersalah, di hari itu pula malaikat Izrail menjemput mbok Nur.

Sebuah tamparan keras untuk Belia. Kenapa Allah memanggil ibuk, sedang aku baru saja ingin menebus dosa-dosaku padanya? Ya Allah, ampunilah segala dosaku yang telah menyakitinya, ampunilah kesalahanku selama ini, karena mengikuti tren masa kini, yang memodernisasikan hidupku, apakah ini yang harus hamba terima?

Ya Allah jika kehendak-Mu ini menjadikanku lebih beriman padamu, maka aku ikhlaskan kepergian ibuk. Dan ampunilah segala dosanya.

Begitu munajat Belia dalam tahajjudnya.

Yang pada akhirnya, Belia tinggal sebatang kara, meninggalkan dunia perkuliaha, dunia perkotaan dan dunia edan yang pernah ia jalani. Ia lebih memilih diam di kampong dan mengajar ngaji anak sekitar, dan Belia yakin, ibunya akan bahagia. Allahpun meridhainya.

 

tamat

made by : Lailatul Isma Mufida, 10 April 2015

Masalah adalah Hadiah


Masalah Adalah Hadiah.

Bila kalian menganggap masalah sebagai beban, kalian mungkin akan menghindarinya atau menjauhinya. Bila kalian menganggap masalah sebagai halangan, kalian mungkin akan menghadapinya. Namun, masalah adalah hadiah yang dapat kalian terima dengan suka cita. Dengan pandangan tajam, kalian melihat kejayaan di balik setiap masalah.

Masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Maka, hadapi dan ubahlah menjadi kekuatan untuk kesuksesan kalian. Tanpa masalah, kalian tak layak memasuki jalur kesuksesan. Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah.

Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi. Bukan pula, dekapan hangat di malam-malam yang dingin. Namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tempat yang tinggi.

Detik pertama anak-anak elang itu menganggap induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan, matilah aku. Beberapa ketika kemudian, bukan kematian yang mereka terima, namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang. Bila kalian tidak berani mengatasi masalah, kaliantidak akan menjadi seseorang yang sejati.

‘apa yg kalian dapat dari sini? Masalah? Biasa ae, Allah punya cara pandang yg indah. Kalian gag bakal faham klu kalian membesarkan ego masing-masing. Coba ngumpul, trus face to face. Saling jujur, minta maaf, SENYUM.

 

MASALAH bakal SELESAI.

Ramadhan yang Ku Tunggu


ini ramadhan yang ku tunggu

“Memang menyedihkan ramadhan tanpa teman, aku sendiri di rumah yang sepi dan tak teratur ini,!” gumam Ardi dengan menoleh kanan kiri namun tetap sepi, rumah yang ia tinggali. Brisik tetangga di luar kadang membuatnya geram juga iri maklum aja dia remaja seumuran SMA ditinggal ibunya yang sedang pulang kampong untuk menjenguk neneknya yang tinggal sendiri di desa Bumi Aji kota Batu, sejak kecil Ardi tak pernah mengenal kakek maupun neneknya bahkan saat kakeknya meninggal Ardi tak ada dan pada waktu itu Ardi ikut main temannya ke Bali. Entah salah siapa orang tua atau Ardi sendiri yang memang tak ada perhatiannya sama sekali dengan kakek dan neneknya.

Sudah satu minggu lebih Ardi di tinggal, tak ada kabar yang datang. Awalnya memang Ardi yang tak mau di ajak ke batu yang alasannya jauh dari bandung dan ia memang ingin sekali bebas ditinggal keluarganya. Hari pertama Ardi sangat gembira dia mengundang seluruh teman sekolahnya untuk pesta di rumahnya, ia gunakan uang sesuka hatinya, ia berpesta pora dengan rumah yang sepi tanpa orang kecuali dia dan teman-temannya.

Waktu sholat tarawih pun ia lupakan, ia mabok-mabokan dan ia gunakan untuk senang-senang, sejak sekolah di SMA Ardi memang banyak berubah temannya sudah anak-anak yang tak bisa di atur, Ardi sering pulang malam, uang jajan membengkak dan tak jarang aini adiknya mencium bau minuman keras pada dirinya. Padahal dulu Ardi seorang anak yang penurut pada orang tuanya, pendiam dan taat beragama entah kenapa dua tahun belakangan ini dia berubah menjadi ugal-ugalan, tak bisa diatur dan agama mulai ia lupakan.

“Kring………kring…….” Ardi segera meraih hp yang di sampingnya sedari tadi. ”Lukman, ngapai dia call me?” dengan wajah sedikit males untuk mengangkat telepon ia paksakan ibu jarinya menekan tombol yes.

”Ardi loe dimana?”

“Di rumah lha” jawab Ardi singkat,

”Gak keluar apa loe, ini malem minggu ngapain di rumah aja?”

“Emangnya kenapa, MBL?”

“Jawaban loe sinis amet sih?”

“Gue lagi bete,”

Lukman teman sekelas Ardi yang terkenal di sekolah SMA Bangsa siswa paling ssusah di atur. Sudah berkali- kali orang tua Ardi melarangnya untuk berteman dengan Lukman tapi Ardi sudah tak dapat dinasehati.

“Aduh males gue mau keluar, sorry ya loe ajak aja yang lain!” tutup Ardi dan melempar hpnya begitu aja.

“Dasar punya keluarga apes banget.” gumamnya.

˜¨˜

Hari ini dua minggu pas Ardi ditinggal di rumah, ia mulai merasa bingung dan bosan di rumah. Ia mulai sadar jika hidup tanpa keluarga itu sangat tidak menyenangkan. Keheningan malam mulai rasakan hampa, terselip bingung dan bosan di rumah. Ia mulai sadar jika hidup tanpa keluarga itu sangat tidak menyenangkan. Keheningan malam mulai ia rasakan hampa, terselip kerinduannya kepada kedua orang tuanya, terbayang dibenaknya canda adiknya Aini, terasa sekali kerinduannya pada keluarga hingga menetes air matanya.

“Ah,,, ngapain gue mikirin mereka, mereka di sana senang-senang dan gue di sini susah, belum tentu juga mereka mikirin gue,,,” Ternyata setan masih berkeliaran di hati Ardi atau memang hatinya Ardi yang terbuat dari batu.

Sementara di Bumiaji neneknya sedang sakit keras, maka dari itu kedua orang tua Ardi sengaja tidak pulang menunggu neneknya sembuh. Namun pemikiran Ardi begitu sempit. Ardi masih tak ingin mengakui kalau dirinya tak bisa hidup sendiri tanpa keluarganya.

Hari terus meliputi sedihnya yang ia lalui. Kali ini Ardi tak sabar lagi, ia ambil hpnya lalu ia telepon aini, lama Ardi menunggu suara berisik dari seberang, namun tak juga ia dapati. Ia lempar hpnya jauh-jauh kesana kemari Ardi bingung mencari teman. Tak lama hpnya berdering sms dari Lukman.

“Hei, Di loe keluar gak,? Gue tunggu di temapat bisaa. Cepet loe mau gue kenalin ma barang baru”

Sesudah membaca pesan dari Lukman Ardi tak banyak pikir ia langsung menyamber jaket di almarinya, dan langsung keluar begitu saja. Ia lajukan kecepatan maksimal sepedanya. Jalan begitu rame tapi ia bisakan amarahnya di jalan raya tujuannya adalah club malam di daerah Jakarta yang menjadi tempat tongkrongannya bersama dengan teman-temannya. Ditengah perjalanan hp di sakunya terus berdering tapi ia tak menghiraukan. Ia terus berjalan menghantam malam dan ribuan mobil dan motor.

 

˜¨˜

Bunyi hp Aini berbunyi, ”kakak tadi telepon gak di angkat tapi sekarang malah telepon, dasar punya kakak satu tapi nyebelin bgt.” gumam Aini sembari keluar dari ruang Melati no 633.

”Ada apa kak? Tadi ditelepon gal diangkat, sekarang malah telepon?”

Suara bissing di seberang terdengar jelas, tapi tak ada suara yang membalas Aini, ”Hallo….. kak Ardi?”

Kata-kata itu terus diulang oleh Aini, sejenak Aini diam.

”Hallo, maaf apa ini dengan keluarganya orang yang bernama Ardi?” suara seorang lelaki tua tak jelas di dengar oleh Aini,

”Iya maaf ini sapa ya?”

“Maaf ini seorang remaja yang bernama Ardi kecelakaan di jl. Sukrno Hatta, jadi kalau anda keluarganya dimohon untuk segera ke rumah sakit RSCM, karena korban sangat parah.”

Mendengar suara dari seberang Aini hanya bisa terdiam dan meneteskan air mata, walau kakaknya itu sering bikin Aini marah dan sebel tapi sesungguhnya Aini tahu kalau kakaknya itu baik. Aini langsung masuk ke kamar dimana neneknya terbaring di rawat.

”Aini ada apa dengan kakakmu? Apa kamu sudah bilang kalau kita pulang setelah nenek sembuh?”

“Maaf Ma, kak Ardi sekarang kecelakaan,,,,,,!” dengan suara tertatah Aini menjawab pertanyaan mama nya.

”Apa? kakakmu kecelakaan? Terus sekarang bagaimana keadaannya? Dirawat di mana?” suara kaget mama Ardi terdengar oleh ibunya hingga terbangun. Tanpa pikir panjang mereka lansung meluncur ke Jakarta, yaitu ke RSCM. Sebelum berangkat mereka mengabari papanya Ardi yang kebetulan bertugas di Jakarta untuk menemani Ardi di rumah sakit.

Membutuhkan waktu yang lama dan perjalanan yang panjang dari Batu menuju Jakarta. Hingga bingung dan khawatir memasuki perasaan mama, Aini dan nenek nya yang walau masih belum sembuh total, tapi menguatkan diri karena kerinduannya pada cucunya yang no 1, yang tak pernah ia lihat sejak balita. Di perjalanan mereka hanya bisa berharap dan berdo’a untuk keadaan Ardi di rumah sakit. Meski dibulan puassa dan waktunya sahur mereka lupakan, dalam pikirannya hanya Ardi dan Ardi.

Pagi menjelang siang kota Jakarta sangat padat untungnya sopir bisa menerobos ribuan mobil yang kebanyakan di kendarai oleh orang-orang berdasi. Tak sabar melihat keadaan Ardi, sesampai di rumah sakit mereka langsung menuju kamar Anggrek no 187 tingkat 3. Pertama pintu di buka terlihat jelas seorang remaja yang dulunya tadinya liar, kini terbaring tak berdaya dengan lilitan kain kasa yang dihiasi warna merah darah. Mama Ardi tertekuk dan menangis sejadi jadinya, ia menyesali kenapa ia mengijinkan Ardi untuk tinggal di rumah.

”Ardi, kenapa kamu jadi begini nak, ini Mama?” dengan tangis yang meronta- ronta.

”Ma sudah, sabar kalo Mama kayak gini kita hanya mengganggu nya, lebih baik kita berdo’a aja Ma!” Suami mencoba menenangkan istri ya inilah tugasnya seorang suami selalu ada di mana seorang istri bersedih.

Nenek hanya memandangi Ardi dengan hati yang dalam, ”Ini kah cucuku, yang dulu ? kamu cepat sadar ya nak, agar bisa ketemu dengan aku, nenekmu!” air mata seorang nenek menetes dengan penuh kasih sayang.

Setelah terbaring beberapa jam akhirnya Ardi membuka mata, dia terkejut melihat semua orang ada disampingnya, ada rasa haru, dan bahagia yang ia rasa. Kali ini ia baru merasakan indahnya sebuah keluarga lengkap rasanya kebahagian di hatinya walau sakit fisiknya. Ada nenek, papa, mama dan Aini yang menemaninya. Dan baru kali ini ia melihat neneknya yang walau rentah tapi terlihat cantik seperti mamanya. Ardi tersenyum dan menangis karena bahagia sekarang ia percaya jika ramadhan itu memang indah.

”Terima kasih ya Allah karena ini ramadhan yang aku tunggu sejak dulu.” AIR mata Ardi berbicara.

 

Made by : Sri Wahyuni

 

 

 

 

Memori Impian


 

Seberkas cahaya menelusup di bagian bawah hati

Rasanya geli,

Dan aku teringat sebuah janji putih

Di dalamnya terbalut kata-kata indah mempesona

Menyelipkan impianku yg dulu kasat mata

Ketika segala mimpiku terkubur dalam dinginnya malam

Asaku berhamburan tak terelakkan,

Hingga kini aku bangkit merajang

Biar ku mulai hidupku dalam dekapan raga

Meski tak bernyawa aku mampu berupaya

Impianku bukanlah semacam alas an tuk pulang

Namun di situlah aku berangan…

Mencari harapan,

Kesenjangan tak berkawan,

 

Aku,

Dan segala impianku,

Menjarah menyengajajan kegalauanku

Aku mau bertaruh!