Kritisi Skripsi; IAI Al-Qolam


MOTIVASI BELAJAR KITAB KUNING SANTRIWATI YANG BERSEKOLAH FORMAL DI PONDOK PESANTREN RAUDLATUL ULUM PUTRI I, IV DAN V DESA GANJARAN GONDANGLEGI MALANG

 

 

Oleh HOSNIYAH

 

 

Dikritik oleh LAILATUL ISMA MUFIDA

===

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Sebagai lembaga pendidikan, pesantren telah eksis di tengah masyarakat, menawarkan oendidikan kepada mereka yang masih buta huruf, yang pernah menjadi satu-satunya institusi pendidikan milik masyarakat pribumi yang memberikan kontribusi sangat besar dalam membentuk masyarakat melekhuruf dan melek budaya.

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi titik tolak dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana motivasi Santriwati yang bersekolah formal di pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V Desa Ganjaran Gondanglegi Malang untuk mempelajari kitab kuning?
  2. Factor-faktor apa yang menghambat motivasi belajar kitab kuning santriwati yang bersekolah formal di pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V?

 

  1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan metode reward dalam meningkatkan motovasi belajar siswa pada mata pelajaran fiqih kelas VII di MTs Azharul ulum 02 Brongkal Pagelaran.

 

  1. Manfaat Penelitian

Sehubungan dengan permasalahan di atas, maka tujuan yang hendak di capai oleh penulis dalam penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui motivasi santriwati yang bersekolah formal di pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V Desa Ganjaran Gondanglegi Malang dalam mempelajari kitab kuning.
  2. Untuk mengetahui factor-faktor apa yang menghambat motivasi belajar kitab kuning santriwati yang bersekolah formal di pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V Desa Ganjaran Gondanglegi Malang.

 

  1. Sistematika Penelitian

Adapun sistematika pembahasan skripsi ini adalah sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan

Bab ini merupakan pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, yang menjelaskan kenapa penulis tertarik untuk meneliti masalah tersebut. Dalam bab ini juga di kemukakan tentang batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat dan kegunaan penelitian dan sistematika penulisan yang menggambarkan secara garis besar susunan penulisan dari skripsi ini untuk memberikan kemudahan bagi pembaca yang ingin mengambil manfaat dari skripsi ini.

 

BAB II : Kajian Pustaka

Dalam bab ini diungkapkan kajian tioritis yang didalamnya membahas masalah yang berdasarkan secara tioritis telah ditetapkan. Isi dari bab kedua terdiri dari sub bab pembahasan yaitu mengetengahkan beberapa landasan tioritis tentang pandangan umum pondok pesantren yang melibatkan terjadinya pondok pesantren, pendidikan formal, pengertian motivasi dan segala aspek yang melibatkan terjadinya motivasi dan serta beberapa pendapat para ahli yang berhubungan dengan pembahasan tersebut.

 

BAB III :Metode Penelitian

Dalam bab ini dipaparkan tentang metode yang digunakan dalam penelitian skripsi ini, di mulai dari penjelasan Janis penelitian, penentuan sumber data, metode pengumpulan data serta tehnik analisis data dari penelitian skripsi ini.

 

BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan

Pada bab ini menguraikan hasil penelitian (laporan) dilapangan yang sesuai dengan urutan masalah atau focus penelitian yang meliputi sejarah terbentuknya pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V. struktur organisasi kepengurusan pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V serta seberapa besar peran guru dalam memotivasi santriwati pada pelajaran kitab kuning.

 

BAB V : Kesimpulan dan Saran

Pada bab ini merupakan akhir dari rangkaian penelitian dan penulisan skripsi yang berisikan kesimpulan-kesimpulan serta saran-saran yang membangun.

 

Dalam penulisan sistematika penulisan, penulis lebih memaparkan isi dari tiap bab. Menurut saya lebih efektif jika di tulis tiap poin saja.Agar langsung pada pembahasan yang dimaksud dalam skripsi ini.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

  1. Pondok Pesantren
  2. Pengertian Pondok Pesantren

Pengertian pondok pesantren terdapat berbagai variasi diantaranya:

Pondok pesantren adalah gabungan dari pondok dan pesantren.Istilah pondok berasal dari kata bahasa Arab yaitu funduk yang berarti hotel atau rumah penginapan atau hotel. Akan tetapi didalam pesantren Indonesia, khususnya pulau Jawa, lebih mirip dengan pemondokan dalam lingkungan padepokan, yaitu perumahan sederhana yang di petak-petak dalam bentuk kamar-kamar yang merupakan asrama bagi santri. Sedangkan istilah pesantren secara etimologis asalnya pe-santri-an yang berarti tempat santri.Santria tau murid mempelajari agama dari seorang kiyai atau syakh di pondok pesantren. Pondok pesantren adalah lembaga keagamaan, yang memberikan pendidikan dan pengajaran serta mengembangkan dan menyiarkan ilmu agama dan islam

 

Menurut saya, pada penulisan “Pengertian pondok pesantren terdapat berbagai variasi diantaranya”, bias diganti dengan kalimat yang lebih enak dibaca seperti “Ada beberapa pengertian pondok pesantren, diantaranya.”Atau juga bisa, “Beberapa pengertian pondok pesantren menurut para pakar, diantaranya.”

Penulisan kata yang diambil dari bahasa lain, baik bahasa inggris atau bahasa arab, menurut saya lebih baik di tulis miring. Seperti kata funduk, sebaiknya ditulis funduk.

Pada pengertian pondok pesantren ada kata yang diulang, yaitu kata “Hotel”.

 

Penulisan kata “Syakh” seharusnya “Syeikh”.

 

  1. Elemen-Elemen Pondok Pesantren

Adapun ciri-ciri pondok pesantren yang selama ini dianggap dapat mengimplikasi pondok pesantren secara kelembagaan. Sebuah lembaga pendidikan dapat disebut sebagai pondok pesantren apabila didalamnya terdapat sediikit lima unsur yaitu:

  1. Kiyai

Di masyarakat jawa, ulama tersebut dipanggil dengan sebutan “Kiyai” bukan “Ulama”. Tentu panggilan seperti ini bukan tanpa alas an. Bagi Zamkazair Dhofier, realitas ini disamakan dengan kenyataan bahwa para Kiyai di samping mengajar masalah keimanan Islam (tauhid) dan hukum Islam (fiqih), juga mengajarkan tasawuf (sufi). Kecenderungan seperti inilah menyebabkan “ulama” sering disebut “Kiyai.”

 

  1. Adanya Santri

Dalam dunia pesantren, jika seorang ulama di sebut kiyai, maka muridnya di kenal dengan panggilan “santri”.Dan setelah diteliti lebih jauh, kedua panggilan ini, ternyata berasal dari masa pra Islam di Jawa.

 

  1. Pengajian atau kitab-kitab klasik

Unsur pokok lain yang cukup membedakan pesantren dengan pendidikan lainnya adalah bahwa pendidikan di pesantren di ajarkan kitab-kitab klasik yang di karang para Ulama terdahulu, mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan agama Islam dan berbahasa Arab. Pelajaran dimulai dengan kitab-kitab tentang berbagai macam ilmi yang mendalam tingkata suatu pesantren dan pengajarannya, biasanya di ketahui dari jenis-jenis kitab yang diajarkan.

 

Menurut saya, pada paragraf sebelum penyebutan ciri-ciri pesantren yaitu: “….mengimplikasi pondok pesantren secara kelembagaan. Sebuah lembaga pendidikan…” bukan tanda titik, tapi seharusnya tanda koma, karena masih saling berhubungan.

Penulisan kata “Kiyai” pada kamus besar bahasa Indonesia yang benar adalah “Kiai”.

Menurut saya, pada poin b. adanya santri, cukup ditulis : b. Santri.

Penulisan di sebut dan di kenal pada poin b, seharusnya tidak dispasi, karena bukan termasuk sebuah tempat.

Pada poin c pun begitu, kesalahan pada kata setelah di- itu dispasi.

 

  1. Tujuan dan Fungsi Pesantren

Tujuan umum pesantren adalah membina Warga Negara berkepribadian muslim sesuai dengan ajaran-ajaran agama Islam dan menanamkan sebagai orang yang verguna bagi agama, Masyarakat dan Negara.

Persamaan lain yang berada pada pesantren ialah semua pondok pesantren melaksanakan tiga fungsi kegiatan yang dikenal dengan tridarma pondok pesantren yaitu:

  • Meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Allah SWT;
  • Pengembangan keilmuan yang bermanfaat dan;
  • Pengapdian terhadap agama, masyarakat dan Negara.

 

Menurut saya, pada poin kedua, yaitu “Pengembangan keilmuan yang bermanfaat dan”, antara kata bermanfaat dengan kata dan harus diberi koma.

Pada poin ketiga, seharusnya kata pengapdian diganti dengan pengabdian.

 

  1. PENDIDIKAN FORMAL
  2. Lembaga Pendidikan Formal
  3. Arti Sekolah

Sekolah merupakan lingkungan yang sengaja diciptakan oleh pemerintah dan masyarakat sebagai media pendidikan bagi generasi muda, khususnya memberikan kemampuan dan keterampilan sebagai bekal kehidupan dikemudian hari.

Dengan sekolah, pemerintah mendidik bangsanya untuk menjadi seorang ahli dalam budangnya sesuai dengan bakatnya si anak didik, yang berguna bagi dirinya dan berguna bagi nusa dan bangsa. Karena sekolah itu sengaja disediakan dan sengaja dibangu khusus untuk tempat pendidikan kedua setelah keluarga.

 

  1. Fungsi Pendidikan Formal

Adapun fungsi dari lembaga pendidikan formal ialah:

  1. Membantu lingkungan keluarga untuk mendidik dan mengajar, memperbaiki dan memperdalam atau memperluas tingkah laku anak yang dibawa dari keluarga serta membantu pengembangan bakat.
  2. Mengembangkan kepribadian peserta didik lewat kurikulum agar peserta didik dapat belajar taat kepada peraturan atau disiplin, mempersiapkan peserta didik untuk terjun di masyarakat berdasarkan norma-norma yang telah berlaku.

 

Menurut saya, masih banyak lagi fungsi dari pendidikan formal, seperti memunculkan bakat-bakat terpendam dari si anak didik, yang dipacu oleh dorongan dari keluarga, lingkungan, dan warga sekolah. Didukung oleh isi pelajaran formal, maupun kegiatan non formal, seperta ekstrakurikuler.

 

  1. MOTIVASI

Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat.Motif tidak dapat diamati langsung, tetapi dapat diinterpretasikan dalam tingkah laku tertentu. Penjelasan lain mengatakan bahwa motif adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.

Apabila suatu kebutuhan dirasakan mendesak maka motif dan daya penggerak menjadi aktif. Motif yang aktif inilah yang disebut motivasi atau dorongan yang berada dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya.

  1. Macam-macam Motivasi
    1. Motivasi Instrinsik

Motivasi instrinsik ialah suatu aktivitas/kegiatan belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan penghayatan suatu kebutuhan dan dorongan yang secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar. Dalam hal ini Sardiman menjelaskan bahwa motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.

  1. Motivasi Ekstrinsik

Adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondoktif dan kegiatan belajar yang menarik. Dalam hal ini Monks juga berpendapat, bahwa motivasi ekstrinsik adalah suatu perbuatan yang dilakukan atas dasar dorongan atau paksaan dari luar.

 

Menurut saya, motivasi juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang mengusik jiwa kita yang tengah tertidur alias malas-malasan. Sehingga dengan dorongan motivasi, maka akan membangunkan jiwa kita, dan lebih membuat kita bisa berpikir jernih.

Menurut saya, ada motivasi baik dan juga buruk yang berasal dari motivasi instriksik. Yang kadang membuat seseorang bisa berbuat baik pada orang, kadang juga merugikan orang lain.

 

  1. Cara Mengatasi Hambatan Belajar

Saat timbul hambatan dalam belajar, hambatan tersebut harus segera diatasi. Dengan diatasi hambatan tersebut maka proses belajar dapat berjalan dengan baik dan dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. Cara mengatasi hambatan belajar dapat dimulai dari diri anak, keluarga dan sekolah.

  1. Diri anak
    • Menjaga kesehatan jasmani.
    • Menumbuhkan rasa percaya diri.
    • Membangun motivasi diri
    • Belajar berinteraksi dengan lingkungan.
    • Belajar menjaga emosi.
    • Menerima keadaan (ekonomi, jasmani, dll).

 

Menurut saya, pada diri anak, untuk poin ke 6. Menerima keadaan, terlalu sulit untuk member pengertian terhadap anak itu sendiri. Maka yang lebih harus mendorong adalah keluarga.

Penulisan sub bab antara poin A dan B, menggunakan huruf kapital yang berbeda. Sehingga seperti tidak dilakukan revisi penulisan.

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. Pendekatan dan Jenis Pendidikan

Metode kualitatif deskriptif ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudan apabila berhadapan dengan pernyataan ganda; kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden; ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan manajemen pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.

 

Menurut saya, masih ada kelemahan dari metode kualitatif yang digunakan oleh peneliti. Diantaranya:

  1. Hasil penelitiannya bersifat subjektif
  2. Temuan teori hanya untuk setting kebudayaan yang terbatas
  3. Kegunaan teori yang dihasilkan rendah karena belum tentu dapat dimanfaatkan.

 

  1. Penentuan Populasi dan Sampel

Sesuai dengan topic pembahasan skripsi ini yaitu “Motivasi Belajar Kitab Kuning Santriwati yang Bersekolah Formal di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V Desa Ganjaran Gondanglegi Malang”. Maka sampel penelitian ini ditetapkan sebagai berikut:

  1. Guru kitab kuning pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V selaku pelaksana terjadinya motivasi belajar santriwati.
  2. Santriwati pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V yang bersekolah formal selaku aktor belajar kitab kuning.

 

Menurut saya, sampel perlu ditambah, yaitu pengasuh atau penasehat pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V, karena bisa menambah wawasan yang lebih luas. Karena bisa saja tidak semua dewan ustadz/ustadzah sangat memahami apa yang dijadikan pembahasan.

 

  1. Sumber Data dan Data

Data merupakan hal yang esensi untuk menguatkan suatu permasalahan dan juga diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. Agar memperoleh data yang obyektif maka sumber data yang diambil berasal dari:

  1. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh dari peneliti dari subjek penelitiannya. Data sekunder ini merujuk literature maupun data tertulis yang berkenaan dengan Motivasi Belajar Kitab Kuning Santriwati yang Bersekolah Formal di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V Desa Ganjaran Gondanglegi Malang, yang berwujud data dokumentasi atau data laporan yang telah tersedia.

 

Menurut saya, untuk data sekunder bisa ditambah dengan contoh-contoh yang lebih menjurus pada data yang disebutkan.

 

  1. Tehnik Pengumpulan Data
  2. Metode interview (wawancara)

Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam tentang responden, maka penulis tidak hanya menggunakan wawancara berstruktur tapi juga menggunakan wawancara tidak berstruktur karena kebebasan menjiwainya sangat luas sehingga responden secara spontan dapat mengeluarkan segala sesuatu yang ingin dikemukakan.

 

Menurut saya, tidak perlu melakukan wawancara tidak berstruktur. Karena selain keluar dari bahan pembahasan itu akan mengurangi waktu. Sehingga bisa saja yang aslinya sudah terstruktur dari jadwal awal, akan molor dan melebihi target.

Menurut saya, sekalipun wawancara berstruktur, responden akan menjawab dengan spontan, dan kadang apa yang tidak menjadi bahan pembahasan akan dikemukakan.

 

  1. Tehnik Analisis Data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tehnik analisis deskriptif, yaitu suatu metode dalam memilih status kelompok manusia, suatu kondisi pada masa sekarang. Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan actual mengenai factor-faktor, sifat serta hubungan antara fenomena yang di selidiki.

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

  1. Gambaran Umum Objek Penelitian
    1. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Putri
      1. Sejarah Singkat Berdirinya Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Putri

Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Putri yang kemudian disingkat dengan nama PPRU I, merupakan pesantren yang di dirikan oleh KH. Yahya Sahrowi pada tahun 1949 M/1368 H. yang terletah di Jalan Sumber Ilmu nomor 127 Desa Ganjaran Gondanglegi Kabupaten Malang.

Beliau membina santriwatinya dengan berbagai pengajian kitab kuning sebagai mana pondok pesantren salaf lainnya. Beliau bukan hanya mendirikan pondok pesantren saja, tetapi beliau juga mendirikan Sekolah formal ini antara putra dan putri di pisah yang di bantu oleh para tokoh-tokh masyarakat lainnya dan beliau juga terlibat dalam pembentukan Sekolah Tinggi Agama Islam yang sekarang dikenal dengan STAIN AL-QOLAM.

 

  1. Visi Pondok Pesantren

Adapun visi dari pondok pesantren ini ialah:

  • Membentuk pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT. Berilmu, berakhlakul karimah, berwawasan kebangsaan serta bertanggung jawab dan terlaksananya syariat Islam menurut faham “ASWAJA” dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

 

  1. Misi Pondok Pesantren

Adapun misi dari pondok pesantren ini ialah:

  • Membina dan meningkatkan kedisiplinan serta kesadaran Santriwati dalam melaksanakan segala hak dan tanggung jawab sebagai pribadi dan anggota santriwati dalam rangka mengembangkan pengalaman Syari’at Islam ahlussunnah wal jama’ah.

 

Menurut saya, seperti yang tertera di atas, bahwa berdasarkan metode kualitatif, maka yang didapat adalah Hasil penelitiannya bersifat subjektif, temuan teori hanya untuk setting kebudayaan yang terbatas, kegunaan teori yang dihasilkan rendah karena belum tentu dapat dimanfaatkan.

BAB V

PENUTUP

 

  1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan maka dapat disimpulkan bahwa:

  1. Motivasi Santriwati yang Bersekolah Formal di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V Desa Ganjaran Gondanglegi Malang untuk belajar Kitab Kuning sudah cukup baik karena tempat santriwati mengenyam Pendidikan Formal juga mendukung pelajaran kitab kuning hal ini dibuktikan pelajaran MULOK yang ada di sekolah tempat santriwati belajar di isi dengan pelajaran kitab kuning di tambah dengan metode-metode yang membuat santriwati senang.
  2. Faktor-Faktor yang Menghambat Motivasi Belajar Kitab Kuning Santriwati yang Bersekolah Formal di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V Desa Ganjaran Gondanglegi Malang, ternyata hanya karena jika santriwati sudah bnyak beraktivitas di sekolah dan cara penyelesaiannya dengan cara memberikan hukuman yang mendidik.

 

  1. SARAN

Dari hasil kesimpulan di atas, maka penulis dapat memberikan saran-saran yang tidak menutup kemungkinan dapat mendatangkan manfaat bagi guru (ustadz/ustadzah) untuk memberikan motivasi kepada santriwati yang belajar kitab kuning dengan agar bersungguh-sungguh, maka penulis dapat memberikan saran sebagai berikut:

  1. Diharapkan kepada segenap guru hendaklah dalam memberikan motivasi dan dapat menyesuaikan dengan keadaan santriwati sehingga bentuk-bentuk motivasi yang diberikan dapat diterima oleh santriwati dengan baik.
  2. Santriwati hendaknya selalu mendengarkan apa yang diberikan oleh guru-gurunya sehingga menjadi santri yang rajin dan menjadi santri yang berguna bagi agama, Nusa dan Bangsa, karena belajar kitab kuning sangat penting bagi kita untuk bekal nanti menghdapa Sang Kuasa.

Demikian beberapa kesimpulan dan saran-saran yang dapat penulis sajikan dalam skripsi ini, semoga skripsi ini dapat manfaat bagi kita semua khususnya penulis sendiri.

 

Menurut saya, pembelajaran kitab kuning bagi santriwati yang bersekolah formal sangat bagus, lebih bagus lagi jika didukung dengan penafsiran atau penerjemahan yang baik lagi. Karena rata-rata untuk menerjemahkan kitab kuning selalu monoton bahasa jawa, untuk membahasa Indonesiakan agak kerepotan. Maka lebih baik lagi dewan guru di pesantren untuk menambah wawasan tentang bagaimana menerjemahkan ke bahasa Indonesia dengan bagus.

Iklan