Ex Makalah : Ta’arudl Al Adillah


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

“Apabila dua nash saling bertentangan menurut lahiriyahnya, maka wajib dilakukan pembahasan dan ijtihad dalam rangka menggabungkan dan menyesuaikan antara keduanya melalui cara yang shahih dari berbagai cara penggabungan dan penyesuaian: Jika hal tersebut tidak mungkin dilakukan, maka wajib dilakukan pengkajian dan ijtihad dalam rangka mentarjihkan salah satu dari kedua nash itu dengan salah satu cara tarjih. Kemudian jika hal ini tidak mungkin dan itu juga tidak mungkin, sedangkan sejarah kedatangan kedua nash itu diketahui, maka nash yang menyusul menashkan nash yang tedahulu; dan jika sejarah kedatangan nash itu tidak diketahui, maka pemberlakuan terhadap kedua nash itu ditangguhkan. Apabila dua qiyas dan dua dalil selain nash bertentangan, dan tidak mungkin mentarjih salah satu dari keduanya, maka istidlal dengan kedua qiyas atau dua dalil ini dikesampingkan”. (Abdul Wahhab Khallaf)

Hukum fiqih mempunyai lapangan yang luas, meliputi berbagai peraturan dalam kehidupan yang menyangkut hubungan manusia dengan Khaliqnya dan hubungan manusia dengan sesama manusia dan sesama makhluk.Yang dalam pelaksanaannya juga berkaitan dengan situasi/keadaan tertentu, maka mengetahui landasan hukum yang menjadi pedoman berpikir dalam menentukan hukum tersebut sangatlah penting.

Islam yang diturunkan oleh Allah tidaklah sebuah agama yang tanpa dasar dalam menentukan suatu hukum, ataupun seenaknya sendiri yang dilakukan oleh umat muslim untuk membuat hukum, namun di sana ada aturan-aturan yang mengikat, harus melalui koridor-koridor yang sesuai dengan syari’at. Dasar utama yang digunakan oleh umat Islam dalam menentukan hukum adalah Al-Qur’an dan Hadits, namun seiring munculnya suatu permasalahan yang baru maka dibutuhkan ijtihad dalam penetuan suatu hukum, maka muncul produk hukum qiyas dan ijma’.

Dengan dasar itulah umat Islam menjalankan roda-roda kehidupan dengan syari’at yang telah terlandaskan.Namun ketika seorang mujtahid itu menentukan suatu hukum sesuai dengan koridor syara’ tentunya tidak terlepas dari kelemahan dalam pemahaman. Maka di sini dikenal dengan ta’arudl al-adillah (pertentangan dalil), meskipun kemampuan seseorang terbatas dalam memahami sesuatu namun di sana juga ditetapkan suatu aturan-aturan yang baru untuk menentukan suatu hukum yang mashlahah.

Pada waktu Nabi Muhammad saw masih hidup, segala persoalan hukum yang timbul langsung ditanyakan kepada beliau. Beliau memberikan jawaban hukum dengan menyebutkan ayat-ayat Al-Qur’an.Dalam keadaan tertentu beliau juga memberikan jawaban melalui penetapan beliau yang disebut hadits atau as-sunnah.

Dalam perkembangan Islam yang mencakup seluruh dimensinya, dihadapkan pula dengan kejadian-kejadian hukum yang memerlukan suatu ketetapan-ketetapan hukum baru. Dalam hal ini, para ulama mujtahid berusaha untuk merumuskan kaidah-kaidah atau aturan permainan yang menjadi pedoman untuk merumuskan hukum berdasar dari sumber-sumbernya.Kesemuanya ini merupakan topik pembicaraan dalam ushul fiqh.

Ilmu Ushul Fiqh adalah salah satu bidang ilmu keislaman yang penting dalam memahami syari’at Islam dari sumber aslinya,Alqur’an dan Sunnah.Melalui ilmu ushul fiqh dapat diketahui kaidah-kaidah,prinsip-prinsip umum syari’at islam,cara memahami suatu dalil dan penerapannya dalam kehidupan manusia.

Al-Quran dan al-sunnah merupakan sumber utama umat Islam, petunjuk dalam kehidupan sehari-hari. Semua dalil selain kedua nash tersebut harus mengacu kepadanya, atau memakai kaedah umum yang ditetapkan berdasarkan nash. Maka seharusnya tidak ada pertentangan selama dasar dan pemahaman dalil-dalil tersebut serta menggali hukumnya dilakukan dengan benar.Benarkah di dalam sumber hukum Islam, terutama dua sumber utama tersebut, terdapat pertentangan (taarudh)?

 


BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. PENGERTIAN TA’ARUDL AL ADILLAH

Ta’arud Al-Adillah. Secara bahasa, kata ( التعارض ) dibentuk dari fi’il madhi (عرض), yang artinya menghalangi, mencegah atau membandingi. Artinya, menurut penjelasan para ahli bahasa, kata At-Ta’arudl berarti saling mencegah, menentang atau menghalangi (pertentangan). Lafadz (الأدلة) merupakan jama’ dari lafadz (الدليل ) yang berarti alasan, argument dan dalil. Sedang maksudnya adalah “Apa saja yang memungkinkan untuk tercapainya kebenaran nalar dari apa yang dicari”.

Sedangkan secara Istilah, para ulama memiliki berbagai pendapat, antara lain:

  1. Imam Badruddin Muhammad Bahadir bin Abdillah Az Zarkasyi adalah

تَقَابُلُ الدَّلِيلَيْنِ عَلى سَبِيْلِ المُمَناعَةِ

Artinya: Persinggungan dua dalil dengan cara saling mencegah.

  1. Wizarat Al Awqaf Wa Al Syu’un

التَّمَانُعُ بَيْنَ الدَّلِيْلَيْنِ مُطْلَقًا بحَيْثُ يَقْتَضِى أَحَدُهُمَا غَيْرَ مَا يَقْتَضِى الآخَرُ

Artinya: Saling mencegah di antara dua dalil secara mutlak, yakni salah satunya menunjukkan makna yang berbeda dengan yang ditunjukkan dalil lain.

  1. Imam Syaukani: Ta’arrudl al-Adillah adalah suatu dalil yang menentukan hukum tertentu terhadap suatu persoalan, sedangkan dalil lain menentukan hukum yang berbeda dengan dalil ini.
  2. Kamal ibnu Al-Humam dan At-Taftazani, Ta’arrudl al-Adillah adalah pertentangan antara dua dalil yang tidak mungkin untuk dikompromikan antara keduanya.
  3. Ali Hasaballah, Ta’arrudl al-Adillah adalah terjadinya pertentangan hukum yang dikandung satu dalil dengan hukum yang terkandung dalam dalil lainnya dan kedua dalil tersebut berada dalam satu derajat.
  4. Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Ta’arrudl al-Adillah adalah; pertentangan antara dua dalil (menghendaki apa yang tidak di kehendaki oleh selainnya). Dengan ibarat yang lain, ialah; “Dalil yang menerapkan hukum di waktu yang sama terhadap sesuatu kejadian, yang menyalahi hukum yang dikehendaki oleh dalil yang lain”.

 

Wahbah az-Zuhaili, mendefenisikan ta’arud sebagai salah satu dari dua dalil yang menghendaki hukum yang berbeda dari hukum yang dikehendaki dalil lain”. Pada dasarnya seperti ditegaskan Wahbah az-Zuhaili, tidak ada pertentagan dalam kalam Allah SWT dan Rasul-Nya. Oleh sebab itu adanya anggapan ta’arudl antara dua atau beberapa dalil hanyalah dalam pandangan mujtahid, bukan pada hakikatnya.

Dari defenisi di atas, dapat diketahui bahwa persoalan Ta’arrudl al-Adillah dibahas oleh para ulama ketika ada pertentangan antara dua dalil, atau antara satu dalil dengan dalil lainnya secara zhahir pada derajat yang sama.

At-ta’arudl merupakan pertentangan yang hanya terjadi secara lahiriah saja, yakni menurut pandangan atau pemikiran para mujtahid saja, sebagaimana yang telah dijelaskan, bukan secara hakiki.

Para ulama ushul fiqih, baik itu golongan mutaakhirin ataupun ulama Hanafiah sepakat bahwa hakikat dari ta’arudl dalam syariat Islam yang di dalamnya merupakan kumpulan dalil-dalil hukum mustahil terjadi, baik itu kontradiksi antar dalil qath’i maupun zahnni.Adapun ta’arudl yang terjadi dewasa ini hanyalah ta’arudl zhahiri (kontradiksi sekilas saja), yang seperti ini dikarena perbedaan metode ulama dalam memahami dalil-dalil suatu hukum.Selain itu juga ditambah dengan keterbatasan akal manusia dalam memahami dalil-dalil qath’i maupun zahnni.

Dan ta’arudl itu tidak saja mengenai dalil-dalil dhanni, tetapi mungkin juga terdapat pada dalil-dalil qath’I.Di ketika itu kita tujukan salah satunya kepada yang tidak dituju oleh yang sebuah lagi, atau salah satunya kita pandang nasikh dan yang sebuah lagi kita pandang mansukh, karena tidak mungkin kita lakukan tarjih pada dalil dalil yang qath’i.

Oleh sebab itu, menurut Imam Al-Syatibi, pertentangan itu bersifat semu, biasa terjadi dalam dalil yang qoth’i (pasti benar) dan dalil yang dhanni (relative benar) selama kedua dalil itu satu derajat.

Apabila pertentangan itu antara kualitas dalil yang berbeda,seperti pertentangan dalil yang qoth’i dengan dalil yang zhanni,maka yang diambil adalah dalil yang qath’I atau apabila yang bertentangan itu adalah ayat Al Qur’an dengan hadits Ahad (hadits yang diriwayatkan oleh satu,dua atau tiga orang atau lebih yang tidak sampai tingkat mutawatir) maka dalil yang diambil adalah Al qur’an karena dari segi periwayatannya ayat-ayat Al aqur’an bersifat qath’i,sedangkan hadits Ahad bersifat zhanni.

 

  1. MACAM-MACAM TA’ARUDL AL ADILLAH

Ada empat macam Ta’arudl al-Adillah yaitu

  1. Ta’arudl antara Al-Qur’an dengan Al-Qur’an.

Seperti firman Allah SWT yang terdapat pada QS.Al-Maidah:3 yaitu:

Artinya: “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, … (QS.Al-Maidah:3).

Ayat ini nampaknya ta’arudl (bertentangan) dengan firman Allah SWT dalam QS.Al-An’am:145) yaitu:

Artinya: “Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir…” (QS.Al-An’am: 145).

 

Ta’arudl dalam keterkaitannya dengan kedua dalil nash ini, terdapat empat keadaan

  1. Keduanya bermuatan makna amm
  2. Keduanya bermuatan makna khash
  3. Salah satunya bermuatan amm dan yang lainyya bermuatan khash
  4. Masing masing dari keduanya bermuatan amm dari satun sisi,sekaligus khash dari sisi yang lain.

 

Penjelasan.

Dua dalil nash bermuatan amm

Yang harus dilalukan mujtahid dalam permasalahan ini secara berurutan adalah:

  • Mengkompromikan dua dalil (الجمع), jika memungkinkan, dengan mengarahkan masing-masing dari kedua dalil pada keadaan yang berbeda.
  • Jika upaya jam’u tidak bisa ditempuh, maka dilihat kronologi waktu dari masing-masing dalil. Jika salah satunya turun lebih akhir daripada yang lain, maka diterapkan nasakh.
  • Jika kronologi waktu tidak diketahui, sehingga tidak mungkin dilakukan nasakh, maka permasalahan ditangguhkan (tawaqquf) hingga tampak murajjih (hal-hal yang mengunggulkan) pada salah satu dalil.

 

Contoh kasus dengan tindakan jam’u:

Dua hadits yang kandungan maknanya bertentangan, salah satunya menjelaskan bahwa “sebaik baik saksi adalah orang yang bersaksi sebelum diminta kesaksiannya”. Dan hadits lainnya menjelaskan sebaliknya, “seburuk buruk saksi adalah orang yang bersaksi sebelum diminta kesaksiannya”. Berikut ini teks hadits selengkapnya.

Dalil pertama:

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِ الشُّهَدَاءِ الّذى يأتِى بِشَهادَتِهِ قَبْلَ أَنْ يُسْأَلَهَا (رواهمسلم)

Artinya: Maukah ku beritahu kalian tentang sebaik baik saksi? Yakni orang yang datang dengan membawa kesaksian sebelum dia dimintai kesaksiannya. (HR.Muslim)

Dalil kedua:

خَيْرُكُمْ قَرْنِى ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ يَكُوْنُ بَعْدَهُمْ قَوْمُ يَشْهَدُوْنَ وَلاَ يُشْتَشْهَدُوْنَ     (رواه البخارى)

Artinya: Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian orang-orang setelahnya, kemudian setelah mereka adalah kaum yang bersaksi sedangkan mereka tidak dimintai persaksian. (HR.Bukhori)

Kandungan dua hadits tersebut amm, sama sama umum dalam segala bentuk kesaksian sebelum diminta, akan tetapi salah satunya dinilai baik, dan yang lain dinilai buruk. Karena saling bertentangan, maka dilakukan kompromi.

Hadits pertama diarahkan pada kasus dimana pihak yang diuntungkan dengan adanya kesaksian belum mengetahui adanya saksi yang menguntungkan dirinya. Dengan demikian, dia segera mendapatkan kembali hak nya dengan adanya insiatif kesasksian tersebut.

Hadits kedua diarahkan pada kasus dimana pihak yang diuntungkan dengan adanya kesaksian telah mengetahui akan adanya saksi yang menguntungkan dirinya. Dengan demikian, saksi tidak perlu berinisiatif melakukan kesaksian sebelum diminta oleh pemilih hak.

Imam Al Baydlawi mengarahkan dua hadits diatas dengan arahan yang berbeda. Hadits pertama diarahkan pada kasus yang melibatkan hak Allah, seperti talak dan pemerdekaan. Hadits kedua diarahkan pada hak adami.

 

Contok kasus dengan tindakan tawaqquf hingga muncul tarajjih:

Dalil pertama:

وَالَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حَافِظُوْنَ . إِلاَّ عَلَى أَزْوَجِهِمْ أَوْمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ (المؤمنون 5-6)

Artinya: Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. (QS.Al mukminun:5-6)

Ayat ini menjelaskan kehalalan istimta’ (pemenuhan kebutuhan biologis) terhadap budak perempuan yang dimiliki. Kehalalan ini mencakup pada kepemilikan terhadap dua orang perempuan bersaudara atau tidak. Dalam contoh ini focus pembahasannya adalah kehalalan istimta’ pada dua perempuan budak bersaudara yang disimpulkan dari tampaknya ayat.

Dalil kedua:

وَأَنْ تَجْمَعُوْا بَيْنَ الاخْتَيْنِ إِلاَّ مَا قَدْ سَلَفَ (النساء 23)

Artinya: Dan haram mengumpulkan diantara dua perempuan bersaudara kecuali yang telah terjadi dimasa lampau. (QS.An Nisa’: 23)

Ayat ini menjelaskan keharaman mengumpulkan dua perempuan bersaudara dalam sebuah ikatan yang melegalkan istimta’, baik berupa ikatan pernikahan ataupun status kepemilikan budak perempuan. Dan, dalam contoh ini, focus pembahasannya adalah keharamana mengumpulkan dua perempuan budak bersaudara sebagai obyek istimta’ yang disimpulkan dari tampaknya ayat.

Dua ayat diatas bermuatan makana amm. Karena tidak mungkin ditempuh upaya kompromi diantara keduanya, maka yang harus dilakukan mujtahid adalah tawaqquf (menangguhkan permasalahan) hingga muncul murajjih (factor penguat) pada salah satu dalil keduanya. Sebagaimana yang dialami oleh Usman bin Affan Ra dan Ali bin Abi Thalib Krw. Saat ditanya hukum istimta’ pada dua budak perempuan bersaudara. Beliau berdua menangguhkan permasalahan itu dan berkata, “keduanya dihalalkan oleh sebuah ayat, dan diharamkan oleh yang lain”. Kemudian, dalam perkembangannya Ali Krw mentarjih hukum haram, sedangkan Usman Ra mentarjih hukum halal. Sebagian ulama’ mendukung hasil tarjih yang menyimpulkan hukum haram, berdasarkan sejumlah argument, dianataranya prinsip kehati-hatian tatkala terdapat imbas hukum halal dan haram, sesuain hadits Rosul SAW

مَاجْتَمَعَ الحَلاَلُ والحَرَمُ إلاَّ وَقَدْ غَلَبَ الحَرَامُ الحَلاَلَ

Artinya: Tidaklah berkumpung yang halal dan yang harsm, melainkan yang haram lebih dominan daripada yang halal.

Dan juga berdasarkan sebuah qoidah

الاصْلُ فِى الابْضَاعِ التَّحْرِيْمِ

Artinya: Hukum asal dalam kemaluan wanita adalah haram.

 

Sedangkan jika kronologi waktu turunyya diketahui, maka diperlakukan naskah, yakni dalil yang turun lebih akhir menasakh terhadap dalil yang tutun lebih awal dengan ketentuan sebagaimana pembahasan dalam bab tentang naskah.

 

Dua dalil nash bermuatan khas.

Yang harus dilakukan mujtahid dalam permasalahan ini sama dengan permasalahan dua dalil nash bermuatan amm, sebagaimana paparan diawal. Yakni:

  1. Al jam’u. jika memungkinkan dengan mengarahkan masing-masing dari kedua dalil yang berbeda.
  2. Jika jam’u tidak mungkin ditempuh, maka dilihat kronologi waktu dari masing-masing dalil. Dan dilakukan nasakh.
  3. Jika waktu tidak diketahui, maka permasalahan ditangguhkan (tawaqquf) hingga tampak murajjih pada salah satu dalil

 

Contoh kasus dengan tindakan jam’u

Hadits pertama:

Bahwa Rasulullah saw. Berwudhu’ dan membasuh kedua kaki beliau (HR.Bukhori, Muslim dan yang lain) .

Hadits kedua:

Bahwa Rasulullah saw berwudhu’ dan memercikkan air dikedua telapak kaki beliau yang masih bersandal. (HR.Nasa’i, Bayhaqi dan yang lainnya).

 

Masing-masing dari kedua hadits ini bermuatan khash, yakni makna hadits pertama tidak mencakup hadits kedua, dan sebaliknya. Karena saling bertentangan, maka diberlakukanlah jam’u dengan mengarahkan kedua hadits pada arahan yang beda. Hadits pertama diarahkan pada permasalahan ketika terjadi hadast, sehingga wudhu’ harus dilakukan sempurna dengan membasuh kedua kaki. Sedangkan hadits kedua diarahkan pada permasalahan tajdid al wudhu’ (memperbaharui wudhu’), dimana tidak terjadi hadast, sehingga wudhu tidak harus dengan membasuh kaki, cukup dengan memercikkan air. Arahan ini sesuai dengan salah satu riwayat bahwa Ali bin abi thalib berkata:

هذا وضؤمن لم يحدث

Artinya: Ini (memercikkan air) adalah cara wudhu’ orang yang belum berhadast.

Ada juga pendapat yang menyatakan bahwa hadits pertama diarahkan pada makna wudhu’ syar’i, sedangkan hadits kedua adalah wudhu’ lughowi, yakni pembersihan ada juga yang mengarahkan hadits kedua pada makna pembasuhan kedua kaki dalam keadaan bersandar, dan ini adalah maksud dari percikan dengan menggunakan majas.

 

Contoh kasus dengan tindakan tawaqquf hingga muncul murajih

Dalil pertama:

ما فوق الإزار (رواه ابوداود)

Hadits Rasullulah Saw saat beliau ditanya tentang apa yang diperbolehkan bagi suami dalam beristimta’ dengan istrinya yang sedang mengalami haidh. Dalam sebuah riwayat, beliau menjawab:

Artinya: Anggota tubuh diatas sarung (Hr.Abu Dawud)

Dalil kedua:

اصنعوا كل شيئ إلا النكاح (رواه مسلم)

Dengan pertanyaan yang sama, dalam sebuah riwayat, Rasul menjawab:

Artinya: Lakukan apa saja kecuali jima’. (HR.Muslim)

Dua hadits diatas bermuatan makna khash. Hadits pertama menyimpulkan keharaman istimta’ pada anggota tubuh dibawah pusar. Sedangkan hadits kedua menyimpulkan bahwa istimta’ pada anggota tubuh tersebut adalah boleh, asal bukan jima’. Maka dua hadits ini saling bertentangan. Karena tidak mungkin dilakukan upaya jam’u diantara dua hadits tersebut, maka diberlakukan tawaqquf atau penangguhan hingga muncul murajjih.

Sebagian ulama’ mentarjih hukum haram berdasarkan prinsip kehati-hatian. Sebagian ulama’ yang lain mentarjih hukum halal, karena merupakan hukum asal dalam wanita yang telah dinikahi. Pendapat pertama, popular dipedomani oleh kalangan syafi’iyyah dan malikiyah, serta pendapat Imam Abu Hanifah dan sekelompok ulama’ lainnya.

Sedangkan jika kronologi waktu turunnya dalil tidak diketahui, maka diperlakukan nasakh, yakni dalil yang turun lebih akhir menasakh terhadap dalil yang turun lebih awal, dengan ketentuan sebagaimana pembahasan dalam bab tentang nasakh.

 

Salah satu dalil nash bermuatan amm dan yang lain bermuatan khash.

Ketika dua dalil yang saling ta’arudl adalah satunya bermuatan amm, dan yang lain bermuatan khash, maka langkah yang harus ditempuh adalah takhshish, dalil amm ditakhshish dengan menggunakan dalil khash sebagaimana ketentuan dalam pembahasan takhshish yang telah lewat.

Contoh:

Dalil pertama:

فيما سقت السماء العشر (متفق عليه)

Sabda Rasululloh saw:

Artinya: Dalam hasil tanaman yang diairi oleh hujan, wajib zakat seper sepuluh. (HR.Bukhori Muslim).

Dalil kedua:

Sabda Rasululloh saw:

ليس فيما دون خمسة أوسق صدقة

Artinya: Dalam hasil tanaman yang kurang dari lima wasaq tidak wajib zakat. (Hr.Bukhori Muslim).

Hadits pertama menjelaskan bahwa tanaman yang diairi dengan hujan, wajib dikeluarkan zakatnya, sebesar sepuluh persen. Hadits ini bermuatan makna amm, mencakup hasil tanaman yang mencapai nishabnya, yakni lima wasaq, ataupun kurang dari itu. Sedangkan hadits kedua menjelaskan bahwa tanaman tidak wajib dikeluarkan zakatnya, jika hasilnya kurang dari lima wasaq.

Kedua hadits ini saling ta’arudl atau bertentangan karena hadits pertama mewajibkan zakat, sedangkan hadits kedua tidak mewajibkan zakat. Tetapi hadits pertama bercakupan umum, meliputi hasil tanaman yang mencapai lima wasaq maupun yang kurang dari itu. Sedangkan hadits kedua bercakupan khusus pada hasil tanaman yang kurang dari lima wasaq. Karenanya, kandungan hukum hadits pertama di takhshish dengan menggunakan hadits kedua yakni bahwa kewajiban zakat hanya diarahkan pada hasil tanaman yang telah mancapai nishab, yakni lima wasaq. Sedangkan yang kurang dari itu, tidak wajib zakat, sesuai dengan hadits kedua.

Langkah takhshish ini dilakukan tanpa memandang kronologi waktu turunnya dalil, baik muncul bersamaan, salah satunya lebih akhir dari yang lain, atau bahkan tidak diketahui kronologinya.

Masing-masing dalil nash bermuatan amm dari satu sisi, sekaligus khash dari sisi yang lain.

Dalam kondisi ini, masing-masing dalil nash memiliki dua sisi permasalahan. Dari satu sisi, dalil pertama menunjukkan dalil amm, sedangkan dalil kedua menunjukkan makna khash. Dan dari sisi yang lain, dalil pertama menunjukkan makna khash, sedangkan dalil kedua menunjukkan makna amm.

Maka dalam hal ini kedua dalil saling mentakhshish. Dengan makna khashnya, dalil pertama mentakhshish terhadap keumuman dalil kedua. Begitu pula dengan makna khashnya, dalil kedua mentakhshish terhadap keumuman dalil pertama. Hal ini ditempuh jika memungkinkan adanya takhshish. Jika tidak maka dilakukan tarjih.

 

Contoh yang memungkingkan saling takhshish

Dalil pertama:

إذا بلغ الماء قلتين لم يحمل خبثا

Artinya: Jika air telah mencapai dua qullah, maka tidak akan menjadi najis. (HR.Abu Dawud dan lainnya).

Dalil kedua:

الماء لا ينجسه شيئ , الا ماغلب على ريحه وطعمه و لونه (رواه ابن ماجه وغيره)

Artinya: Air tidak bisa dinajiskan oleh sesuatu apapun, kecuali sesuatu yang mengubah bau, rasa dan warnanya. (HR.Abu Dawud dan lainnya)

Hadits pertama, disatu sisi bermakna khash, mencakup khusus pada air dua qullah, disisi lain bermakna amm, mencakup adanya perubahan atau tidak.

Sedangkan hadits kedua, disatu sisi bermakna khash, mencakup khusus pada air yang berubah, disisi lain bermakna amm, mencakup air dua kullah ataupun kurang dari itu.

Jika kita memadukan keduanya, maka keumuman hadits pertama kita takhshish dengan kekhususan hadits kedua (yakni berubah). Sehingga kita cetuskan bahwa air dua kullah distatuskan najis jika berubah. Berarti, kesimpulan hadits pertama setelah ditakhshish adalah:”jika air mencapai dua kullah, maka tidak akan najis kecuali berubah”.

Kemudian keumuman hadits kedua ditakhshish dengan kekhususan hadits pertama(yakni dua kullah). Sehingga kita cetuskan bahwa air yang kurang dari dua kullah akan menjadi najis meskipun tidak berubah. Berarti, kesimpulan hadits kedua setelah ditakhshish adalah:”air itu suci mensucikan, kecuali berubah bau warna dan rasanya, jika mencapai dua kulaah”.

 

Contoh yang tidak memungkinkan salingn takhshis.

Dalil pertama:

من بدل دينه فاقتلوه (رواه البخارى)

Artinya: Barang siapa mengganti agamanya, maka bunuhlah. (HR. Bukhorin Muslim)

Dalil kedua:

أنه صلى الله عليه وسلم نهى عن قتل النساء (متفق عليه)

Artinya: Bahwasanya Rasullullah SAW. Melarang membunuh perempuan. (Hr. Bukhori Muslim)

Hadits pertama, di satu sisi bermakna amm, mencakup lelaki dan perempuan, di sisi lain bermaka khash, mencakup khusus untuk orang-orang yang murtad.

Sedangkan hadits kedua, di satu sisi bermakna khash, mencakup khusus perempuan, di sisi lain bermakna amm, mencakup orang-orang kafir harbi dan orang-orang yang murtad.

Dalam hal ini, sisi taarudl ada pada perempuan murtad, apakah harus dibunuh karena di satu sisi dia telah mengganti agamanya, ataukah tidak boleh dibunuh memandang bahwa dia adalah perempuan kafir. Maka dibutuhkan tarjih dalam menyelesaikan taarudl ini. Sebagaimana ulama’ mentarjih untuk menetapkan keumuman pertama, sehingga siapapun yang melakukan tindak kemurtadan, maka harus dibunuh, dan mentakhshish keumuman hadits kedua, sehingga larangan membunuh perempuan kafir hanya terkhusus pada perempuan kafir harbi.

 

  1. Ta’arudl antara As-Sunnah dengan As-Sunnah.

Dibawah ini adalah dua Hadits yang bertentangan yaitu:

(Yang artinya) “Dari Siti ‘Aisyah dan Ummi Salamah RA bahwa Nabi masuk waktu subuh dalam keadaan junub karena melakukan jimak kemudian mandi dan menjalankan puasa”. (HR.Mutafaqun Alaih).

Hadits ini bertentangan dengan hadits berikut ini:

(Yang artinya) “Bila telah dipanggil untuk sembahyang subuh,sedang salah satu di antaramu dalam keadaan junub maka jangan puasa hari itu”. (HR.Imam Ahmad dan Ibnu Hibban).

 

  1. Ta’arudl antara As-Sunnah dengan Al- Qiyas.

Ta’arudl kedua dalil ini bisa dikemukakan antara sunnah dengan qiyas dalam menetapkan hukum kebolehan bagaimana halnya bila seseorang mengadakan jual beli unta atau kambing yang diikat putik susunya agar kelihatan besar,sedang setelah dibeli dan diperah susunya terbukti adanya gharar.

Seperti sabda Nabi Muhammad SAW

(Yang artinya): “Janganlah hendaknya anda mengikat susu unta ataupun kambing (agar kelihatan besar),barangsiapa membelinya sesudah terjadi demikian,maka boleh memilih di antara dua pandangan yang dianggap baik,bila menghendaki boleh melangsungkan jual beli itu atau mengembalikannya dengan membayar satu sha’ dari tamar. (HR.Mutafaqun ‘alaih dari Abi Hurairah).

Dalam Hadits ini disebutkan bahwa bila memilih pengembalian (untuk kambing) maka pembeli harus membayar satu sha’ dari tamar. Hal ini merupakan pendapat Jumhur Ulama’. Sedangkan Ulama’ Hadawiyah, berpendapat bahwa lebih sesuai dengan mengembalikan perahan susu itu bila masih dan bila telah habis dengan mengganti harga susu itu,hal ini diqiyaskan pada tanggungan bila menghabiskan atau merusak barang orang lain, maka pihak yang menggunakan barang orang lain tersebut harus mengganti sejumlah atau senilai dengan barang yang telah dipergunakan.

  1. Ta’arudl antara Qiyas dengan Qiyas.

Ta’arudl ini bisa dicontohkan dari pengqiasan terhadap masalah perkawinan Nabi Muhammad SAW terhadap Siti ’Aisyah

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadits yaitu:

(Yang artinya): ”Dari ‘Aisyah,beliau berkata: Rasulullah mengawini saya ketika saya berumur enam tahun dan mengumpuli saya ketika saya sebagai gadis yang telah berumur sembilan tahun”..(H.R.Muslim dari ‘Aisyah).

Atas dasar hadits, diambil hukum kebolehan (boleh) orang tua mengawinkan anaknya yang belum dewasa (masih di bawah umur) tanpa izin yang bersangkutan.Hal ini merupakan pendapat Ulama’ Hanafiyah, sedang Ulama’ Syafi’iyah menganggap karena kegadisannya.Dengan demikian kalau telah tsayyib sekalipun masih belum dewasa orang tua tak mempunyai hak ijbar (memaksa).

 

  1. SYARAT-SYARAT TA’ARUDL AL ADILLAH

Yang dimaksud syarat di sini adalah sesuatu yang menyebabkan terjadinya ta’arudl. Para ulama memberikan syarat-syarat ta’arudl apabila dalil yang kontradiksi memenuhi syarat:

  1. Kedua dalil yang bertentangan berbeda dalam menentukan hukum. Seperti hukum yang terkandung dalam QS. Al-Baqarah: 180 dengan QS. An-Nisa: 11, mengenai harta peninggalan orang yang meninggal dunia.
  2. Kedua dalil yang mengalami pertentangan berada dalam satu hukum (satu masalah). Ketika ada dalil yang tampak bertentangan akan tetapi, kedua dalil tersebut berbeda dalam menunjukan hukum, maka tidak disebut ta’arudl (pertentangan),
  3. Antara dalil yang mengalami pertentangan harus terjadi dalam satu masa dalam menentukan hukum. Apabila waktunya sudah berbeda dalam penunjukan hukum, maka dalil tersebut tidak dinamakan pertentangan. Ketika terjadi ta’arudl akan tetapi waktu penunjukan hukum ayat itu berbeda maka ayat tersebut bisa disatukan. Seperti arak pada masa awal Islam hukumnya boleh, tetapi ketika turun ayat yang menunjukan bahwa arak haram, secara otomatis kedua penunjukan hukum seperti ini tidak menunjukan adanya pertentangan.
  4. Kedua dalil tersebut berada dalam derajat yang sama dalam penunjukan hukum. Tidak ada perentangan antara al-Quran dengan Hadits Ahad, karena al-Quran dalam penunjukan hukumnya adalah sebagai dalil qathi”, sedangkan Hadits Ahad termasuk dalam dalil zhanni. Apabila terjadi pertentangan antara dalil qathi’ dan zahnni, maka secara otomatis dalil qathi’ yang didahulukan.

 

  1. CARA PENYELESAIAN TA’ARUDL AL ADILLAH

Apabila dhahir (formal)-nya dua nash yang bertentangan, maka wajib mengadakan penelitian dan ijtihad untuk mengumpulkan dan mengkompromikan kedua nash itu dengan cara yang benar di antara cara-cara mengumpulkan dan mengkompromikan dua nash yang kontradiksi. Jika tidak mungkin, wajib meneliti dan ijtihad untuk mengutamakan salah satunya dengan cara diantara cara-cara tarjih. Jika ini dan itu tidak mungkin, dan diketahui sejarah datangnya, maka ditangguhkan dua nash itu.

Para ulama ushul telah merumuskan tahapan-tahapan penyelesaian dalil-dalil yang kontradiksi yang bertolak pada suatu prinsip yang tertuang dalam kaidah sebagai berikut: “Mengamalkan dua dalil yang berbenturan itu lebih baik daripada meninggalkan keduanya“.

Dari kaidah di atas dapat dirumuskan tahapan penyelesaian dalil-dalil yang berbenturan serta cara-caranya sebagai berikut:

  1. Mengamalkan dua dalil yang kontradiksi.
  2. Mengamalkan satu di antara dua dalil yang kontradiksi.
  3. Meninggalkan dua dalil yang kontradiksi.

 

Pembahasannya sebagai berikut:

  1. Mengamalkan dua dalil yang kontradiksi, dapat ditempuh dengan cara:
  2. Jam’u wa Taufiq (kompromi). Maksudnya adalah mempertemukan dan mendekatkan dalil-dalil yang diperkirakan berbenturan atau menjelaskan kedudukan hukum yang ditunjuk oleh kedua dalil tersebut, sehingga tidak terlihat lagi adanya kontradiksi.
  3. Takhsis, yaitu jika dua dalil yang secara zhahir berbenturan dan tidak mungkin dilakukan usaha kompromi, namun satu di antara dalil tersebut bersifat umum dan yang lain bersifat khusus, maka dalil yang khusus itulah yang diamalkan untuk mengatur hal yang khusus. Sedangkan dalil yang umum diamalkan menurut keumumannya sesudah dikurangi dengan ketentuan yang khusus.

 

  1. Mengamalkan satu dalil di antara dua dalil yang berbenturan.

Bila dua dalil yang berbenturan tidak dapat dikompromikan atau ditakhsis, maka kedua dalil tersebut tidak dapat diamalkan keduanya.Dengan demikian hanya satu dalil yang dapat diamalkan. Usaha penyelesaian dalam bentuk ini dapat ditempuh dengan cara:

  1. Nasakh. Maksudnya apabila dapat diketahui secara pasti bahwa satu di antara dua dalil yang kontradiksi itu lebih dahulu turun atau lebih dahulu berlakunya, sedangkan dalil yang satu lagi belakangan turunnya, maka dalil yang datang belakangan itu dinyatakan berlaku untuk seterusnya, sedangkan dalil yang lebih dulu dengan sendirinya dinyatakan tidak berlaku lagi.

Secara istilah ada dua definisi naskh yang dikemukakan para ahli ushul fiqh.

Definisi pertama seperti yang diungkapkan oleh Wahbah al-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami:

“Naskh adalah penjelasan berakhirnya masa berlaku suatu hukum melalui dalil syara` yang datang kemudian.”

Dari definisi ini dapat dipahami bahwa hukum yang dinaskh atau dihapus itu atas kehendak Allah dan penghapusan ini sebagai pertanda berakhir masa berlakunya hukum tersebut.

Definisi kedua seperti yang diungkapkan oleh Abd al-Karim Zaidan, al-Wajiz fi Ushul al-Fiqh yang menyatakan bahwa:

Naskh adalah pembatalan hukum syara` yang telah ditetapkan terdahulu dengan dalil syara` yang datang kemudian.”

Dari kedua definisi tersebut diatas dapat dipahami beberapa hal sebegai berikut:

  • Naskh atau pembatalan itu dilakukan dengan khitab atau tuntutan Allah. Atas dasar ini naskh tidak dapat dilakukan oleh selain Allah. Adapun perbuatan Nabi Saw yang kadangkala sebagai naskh sebenarnya hanya sebagai dalil yang menginformasikan tentang adanya tuntutan dari Allah untuk membatalkan suatu hukum. Khitab atau tuntutan naskh tidak dapat berasal dari Nabi karena beliau tidak memiliki kekuasaan untuk membatalkan hukum syara`.
  • Yang dibatalkan tersebut adalah hukum syara` yang mengandung perintah, larangan atau berita. Atas dasar ini pembatalan terhadap hukum yang didasarkan pada akal atau hukum yang didasarkan pada prinsip ibahah al-asliyah sebelum datang syara` dan hukum yang didasarkan pada adat istiadat tidak disebut sebagai naskh.
  • Hukum yang membatalkan hukum terdahulu datangnya kemudian. Hukum yang dibatalkan labih dahulu datangnya daripada hukum yang membatalkannya. Dengan demikian hukum yang berkaitan dengan istisna dan syarat tidak dapat disebut sebagai naskh.
  1. Tarjih. Maksudnya adalah apabila di antara dua dalil yang diduga berbenturan tidak diketahui mana yang belakangan turun atau berlakunya, sehingga tidak dapat diselesaikan dengan nasakh, namun ditemukan banyak petunjuk yang menyatakan bahwa salah satu di antaranya lebih kuat dari pada yang lain, maka diamalkanlah dalil yang disertai petunjuk yang menguatkan itu, dan dalil yang lain ditinggalkan.

Secara bahasa tarjih berarti menguatkan.Secara terminologi ada sejumlah definisi tarjih yang dikemukakan oleh para ulama diantaranya:

  • Kalangan Hanafiyyah:

Menjelaskan ada tambahan pada salah satu dari dua dalil yang sederajat, dimana dalil tambahan itu tidak berdiri sendiri.

Dari definisi tersebut dapat dipahami bahwa dalil yang bertentangan itu mesti memiliki kualitas yang sama. Untuk itu al-Qur`an tidak dapat disebut rajih atau lebih kuat dari hadits ahad dan hadits ahad tidak dapat disebut rajih atau lebih kuat dari qiyas. Sebab al-Qur`an tidak sama kualitasnya dengan hadits ahad dengan qiyas. Disamping itu dalil yang menjadi pendukung dalil yang bertentangan itu tidak berdiri sendiri.Ia tidak terpisah dari dalil yang saling bertentangan.

  • Kalangan Syafi`iyyah:

Menguatkan salah satu indikator dalil zhanni atas yang lain untuk diamalkan.

Definisi ini mengisyaratkan bahwa tarjih hanya dapat terjadi terhadap dua dalil zhanni yang saling bertentangan karena tarjih tidak berlaku dintara dalil yang qhat`i dengan zhanni.

Dari kedua definisi tersebut dapat dirumuskan beberapa syarat tarjih, yaitu:

  1. Ada dua dalil yang bertentangan dan tidak mungkin untuk mengamalkan keduanya melalui cara apapun.
  2. Kedua dalil yang bertentangan itu memiliki kualitas yang sama untuk memberi petunjuk kepada yang dimaksud.
  3. Ada indikator yang mendukung untuk mengamalkan salah satu diantara dua dalil yang bertentangan dan meninggalkan dalil yang satu lagi.

Para ulama Ushul Fiqh menyimpulkan ada dua cara dalam melakukan tarjih.

  1. Al-Tarjih Bain al-Nushush yaitu dengan menguatkan salah satu dari nash yang bertentangan dapat diamati dari beberapa segi yaitu segi sanad, segi matan, segi hukum yang dikandung nash, dan menggunakan dalil lain diluar nash.
  2. Al-tarjih Bain al-‘Aqyisah yaitu dengan tarjih dari segi hukum asal, hukum furu`, illat, dan dari segi faktor luar.

Tarjih itu, bisa dilakukan dari tiga sisi:

  • Penunjuk kandungan lafal suatu nash. Contohnya, menguatkan nash yang muhkam (hukumnya pasti) dan tidak bisa di-naskh-kan (dibatalkan) dari mufassar (hukumnya pasti tetapi masih bisa di-naskh-kan).
  • Dari segi hukum yang dikandungnya, seperti menguatkan dalil yang mengandung hukum haram dari dalil yang mengandung hukum boleh.
  • Dari sisi keadilan periwayat suatu hadits.
  1. Takhyir. Maksudnya bila dua dalil yang berbenturan tidak dapat ditempuh secara nasakh dan tarjih, namun kedua dalil itu masih mungkin untuk diamalkan, maka penyelesaiannya ditempuh dengan cara memilih salah satu diantara dua dalil itu untuk diamalkan, sedangkan yang lain tidak diamalkan.

 

  1. Meninggalkan dua dalil yang berbenturan

Bila penyelesaian dua dalil yang dipandang berbenturan itu tidak mampu diselesaikan dengan dua cara di atas, maka ditempuh dengan cara ketiga, yaitu dengan meninggalkan dua dalil tersebut. Adapun cara meninggalkan kedua dalil yang berbenturan itu ada dua bentuk, yaitu:

  1. Tawaqquf (menangguhkan), menangguhkan pengamalan dalil tersebut sambil menunggu kemungkinan adanya petunjuk lain untuk mengamalkan salah satu di antara keduanya.
  2. Tasaquth (saling berguguran), meninggalkan kedua dalil tersebut dan mencari dalil yang lain untuk diamalkan.

 

Apabila seorang mujtahid menemukan dua dalil yang bertentangan, maka ia dapat menggunakan cara untuk berusaha untuk menyelesaikannya. Cara itu dikemukakan masing-masing oleh ulama’ Hanafiyah dan ulama’ Syafi’iyah.

Menurut Hanafiyah dan Hanabilah mengemukakan metode penyelesaian antara dua dalil yang bertentangan tersebut dengan cara:

  1. Nasakh wa Mansukh
  2. Tarjih
  3. Al Jam’u wa Al Taufiq
  4. Tasaqut Al-Dalilain.

Dengan pembahasan sebagai berikut:

  1. Nasikh wa mansukh. Meneliti mana ayat yang lebih dahulu turun atau hadis yang lebih dahulu diucapkan, dan apabila diketahui, maka dalil yang terdahulu dianggap telah di-nasikh oleh dalil yang dating keudian.
  2. Tarjih. Meneliti mana yang lebih kuat diantara dalil yang bertentangan itu dengan berbagai cara tarjih, jika tidak diketahui mana yang lebih dahulu; ini dijelaskan secara panjang lebar dalam kajian ushul fiqh.
  3. Al-Jam’u wa Tarjih; membuat kompromi antara dua dalil itu ternyata sama-sama kuat jika tidak dapat ditarjih; dan
  4. Tasaqut ad-Dalalain; tidak memakai kedua dalil itu jika tidak ada peluang kompromi; dalam hal ini seorang mujtahid hendaklah merujuk kepada dalil yang lebih rendah bobotnya. Misalnya, jika dua dalil yang bertentangan itu terdiri dari ayat Al-Qur’an, maka setelah tidak dapat dikompromikan, hendaklah dirujuk kepada sunnah Rasulullah SAW, dan begitu seterusnya.

 

Menurut Syafi’iyah dan Malikiyah mengemukakan metode penyelesaian antara dua dalil yang bertentangan tersebut dengan cara:

  1. Jam’u wa al-Taufiq
  2. Tarjih
  3. Nasakh
  4. Tasaqut al-Dalilain

Dengan pembahasan sebagai berikut:

  1. Jam’u wa al-Taufiq. Ulama Syafi’iyyah menyatakan bahwa metode pertama yang harus ditempuh adalah mengumpulkan dan mengkompromikan kedua dalil tersebut.
  2. Tarjih.Apabila pengkompromian kedua dalil itu tidak bisa dilakukan, maka seorang mujtahid boleh menguatkan salah satu dalil berdasarkan dalil yang mendukungnya. Kata tarjih yang dikemukakan oleh para ahli ushul fiqih bisa ditempuh dengan berbagai cara. Umpamanya, dengan mentarjih dalil yang lebih banyak diriwayatkan orang dari dalil yang perawinya sedikit, bisa juga melalui pen-tarjih-an sanad (para penutur hadits), bisa melalui pen-tarjih-an dari sisi matan (lafal hadits), atau ditarjih berdasarkan indikasi lain di luar nash.
  3. Nasakh.Apabila dengan cara tarjih kedua dalil tersebut tidak dapat diamalkan, maka cara ketiga yang ditempuh adalah dengan membatalkan salah satu hukum yang dikandung kedua dalil tersebut, dengan syarat harus diketa¬hui mana dalil yang pertama kali datang dan mana yang datang kemudian. Dalil yang datang kemudian inilah yang diambil dan diamalkan, seperti sabda Rasulullah saw.:

“Adalah saya melarang kamu untuk menziarahi kubur, tetapi sekarang ziarahilah.” (HR. Muslim). Dalam hadits ini mudah sekali dilacak mana hukum yang pertama dan mana yang terakhir. Hukum pertama adalah tidak boleh menziarahi kubur, dan hukum terakhir adalah dibolehkan menziarahi kubur, karena ‘illat (motivasi) larangan dilihat Nabi SAW tidak ada lagi.

  1. Tasaqutal-Dalilain. Apabila cara ketiga, yaitu naskh pun tidak bisa ditempuh, maka seorang mujtahid boleh meninggalkan kedua dalil itu dan berijtihad dengan dalil yang kualitasnya lebih rendah dari kedua dalil yang bertentangan tersebut. Menurut ulama Syafi’iyyah, keempat cara tersebut harus ditempuh oleh seorang mujtahid dalam menyelesaikan pertentangan dua dalil secara berurutan.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Ta’arudl al-Adillaah dapat diartikan sebagai perlawanan antara kandungan salah satu dari dua dalil yang sama derajatnya dengan kandungan dalil yang lain yang mana salah satu diantara dua dalil tersebut menafikan hukum yang ditunjuk oleh dalil yang lainnya.

Pertentangan antara kedua dalil atau hukum itu hanya dalam pandangan mujtahid, sesuai dengan kemampuan pemahaman, analisis dan kekuatan logikanya bukan pertentangan actual,karena tidak mungkin terjadi bila Allah dan Rasul nya menurunkan aturan-aturan yang saling bertentangan.

Apabila pertentangan terjadi antara kualitas dalil yang berbeda, seperti pertentangan dalil yang qoth’i dengan dalil yang zhanni,maka yang diambil adalah dalil yang qath’I atau apabila yang bertentangan itu adalah ayat Al Qur’an dengan hadits Ahad (hadits yang diriwayatkan oleh satu,dua atau tiga orang atau lebih yang tidak sampai tingkat mutawatir) maka dalil yang diambil adalah Al qur’an karena dari segi periwayatannya ayat-ayat Al aqur’an bersifat Qath’i, sedangkan hadits Ahad bersifat zhanni

Cara atau metode penyelesaian Ta’rud wa al-adillah dikemukakan masing-masing oleh ulama’ Hanafiyah dan ulama’ Syafi’iyah mengemukakan metode penyelesaian antara dua dalil yang bertentangan tersebut dengan cara:

Nasakh, Tarjih, Al Jam’u wa Al Taufiq, Tasaqut Al-Dalilain.

Tidak ada perbedaan pendapat dalam metode penyelesain terhadap ta`arudh al-adillah atau dalil-dalil yang bertentangan.Namun terjadi perbedaan pendapat dalam tahapan metode saja.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Syaikh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quds, Lathaif al-Isyarat,Surabaya: Hidayah.tt

Sayyid Muhammas bin Alawi al-Maliki al-Hasani, Syarh MAndhumah al-Waraqat fi Ushul al-Fiqh,Malang: As-Shofwah,tt

M.Kholid Afandi, Nailul Huda, Ushul Fiqh ala Tashil ath-Thuruqot, Malang

Drs. Muhammad Ma’shum Zein, Zubdah Ushul Fiqh ala Tashil Ath-Thuruqot, Jombang Jatim.

https://fakagamauisu.wordpress.com/artikel/ta%E2%80%99-arudh-al-adillah-dan-solusinya/

https://irhambaktipasaribu.wordpress.com/2012/03/29/taarrudl-al-adillah-pertentangan-antara-dalil-dalil-dan-penyelesaiannya/

http://enggarcz.blogspot.co.id/2012/04/ushul-fiqh-ta-arrud-al-adillah.html

http://yeyenfadhillah.blogspot.co.id/2013/01/makalah-taarudh-al-adillah.html

http://syaf-ahmad.blogspot.co.id/2012/04/taarudh-al-adillah.html

https://mohidrus.wordpress.com/2014/03/03/taarudh-al-adillah-dalil-dali-yang-bertentangan-dan-metode-penyelesaiannya/

http://emhage.blogspot.co.id/2015/01/metode-dalam-memahami-terhadap-taarudh.html

http://fathimatuzzuhria.blogspot.co.id/2013/12/pengertian-taarud-al-adillah.html

http://abdanmatin.blogspot.co.id/2013/02/taarudh-tarjih-dan-qawaidul-fiqh.html

(diakses pada tanggal 13 Oktober 2015, Selasa.)