Ex Makalah : Filsafat Pendidikan Islam


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Filsafat sebagai pandangan hidup terkait dengan sistem nilai yang sekaligus jadi pandangan hidup. Dalam pandangan islam, sistem nilai yang jadi pandangan hidup ini menyatu dan identik dengan nilai – nilai ajaran islam itu sendiri. Lalu nilai – nilai ajaran itu pula yang akan diupayakan untuk diwujudkan dalam kehidupan yang nyata,antara lain melalui proses pendidikan. Sebagai landasan dasar, filsafat pendidikan islam akan memperkuat bangunan sebuah sistem pendidikan islam. Sebagai sebuah sistem, pendidikan islam punya pijakan yang kuat dan jelas. Sementara dalam fungsinya sebagai tujuan, filsafat pendidikan islam ikut memberi kejelasan tentang arah dan target pencapaian yang diprogramkan dalam sistem pendidikan islam. Jadi, filsafat pendidikan islam tak dapat dilepaskan hubungannya dari masalah – masalah yang menyangkut kependidikan.

Ruang lingkup kajian filsafat pendidikan islam juga meliputi masalah–masalah yang berhubungan dengan sistem pendidikan islam itu sendiri. Adapun komponen – komponen yang termasuk dalam sistem pendidikan islam itu, antara lain dasar yang melandasi pembentukan sistem tersebut. Pemikiran – pemikiran menggambarkan cakupan teori maupun rumusan mengenai peserta didik, pendidik, kurikulum, metode, alat dan evaluasi pendidikan. Ruang lingkup kajian filsafat pendidikan islam, mengacu pada semua aspek yang dianggap mempunyai hubungan dengan pendidikan dalam arti luas. Berdasarkan uraian tersebut, penulis menganggap penting untuk melakukan kajian atau penelitian mengenai “Pengertian Filsafat, Peranan dan Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam”

 

  1. Rumusan Masalah
    1. Apa Pengertian Filsafat, Pendidikan dan Islam?
    2. Bagaimana Peranan Filsafat Pendidikan Islam?
    3. Apa saja Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam?
    4. Apa Saja Metode Filsafat Pendidikan Islam?

 

  1. Tujuan Masalah
    1. Memenuhi Tugas mata kuliah “Filsafat Pendidikan Islam”.
    2. Mengetahui Pengertian Filsafat,Peranan dan Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam.
    3. Mengetahui Metode-Metode yang Ada pada Filsafat Pendidikan Islam.
    4. Sebagai bahan yang akan kami diskusikan.


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Filsafat

Sebelum kita merambah jauh berbicara tentang pengertian filsafat pendidikan islam, baiknya kita disini diungkapkan dahulu apa itu filsafat. Ada dua pendapat berbeda mengenai asal – usul terma filsafat secara etimologi. Pendapat Pertama menyebutkan bahwa filsafat berasal dari bahasa arab, “falsafah” dengan timbangan fa’lala, fa’lalah, dan fi’lal.Pendapat ini dikemukakan oleh Harun Nasution.

Pendapat kedua menyatakan bahwa terma filsafat berasal dari kata bahasa inggris phila dansophos.Philo berarti cinta dan sophos berarti ilmu atau hikmah. Pendapat ini dikemukakan oleh Louis O Kattsoff . Dari pendapat kedua ini muncul pendapat ketiga yang menggabungkan keduanya. Pendapat ini di kemukakan oleh filsuf islam al- farabi (w.950 M). Menurutnya, filsafat berasal dari bahasa yunani yang masuk dan digunakan sebagai bahasa arab, yaitu berasal dari kata philosophia, philo berarti cinta sedangkan sophia berarti hikmah.

Filsafat, falsafah, atau philosophia secara harfiah berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta pada kebenaran. Filsafat secara sederhana berarti “alam pikiran” atau “ alam berpikir”. Berfilsafat artinya berpikir namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat.Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam (radikal) dan sungguh- sungguh.

Berikut di kemukakan beberapa pengertian filsafat menurut para ahli mulai dari klasik hingga moderen.

  1. Plato ( 427 – 347 SM ) mengatakan bahwa filsafat Itu tidak lain dari pengetahuan tentang segala sesuatu yang ada.
  2. Aristoteles ( 384 – 322 SM ) berpendapat bahwa filsafat itu menyelidiki sebab dan asas segala benda.
  3. Marcus Tullius Cicero(106- 143 SM) merumuskan filsafat sebagai pengetahuan tentang segala yang maha agung dan usaha usaha untuk mencapainya.
  4. Al-Farabi (w. 950 M ) mengungkapkan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikatnya yang sebenarnya.
  5. Immanuel Kant ( 1724 – 1804 M ) mengutarakan bahwa filsafat adalah ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang didalamnya mencakup empat persoalan yaitu apa yang dapat diketahui manusia, apa yang boleh dikerjakan manusia sampai dimana harapan manusia ( agama ) dan apa yang dinamakan manusia ( antropologi ).
  6. Harold H.Titus dkk. Mengemukakan lima pengertian filsafat, yaitu
  1. suatu sikap tentang hidup dan tentang alam semesta;
  2. proses kritik terhadap kepercayaan dan sikap;
  3. usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan;
  4. analisis dan penjelasan logis dari bahasa tentang kata dan konsep;
  5. sekumpulan problema yang langsung mendapat perhatian manusia dan dicarikan jawabannya.
  1. C Mulder menyatakan bahwa filsafat adalah pemikiran teoritis tentang susunan kenyataan sebagai keseluruhan.
  2. Fuad Hasan menggagas bahwa filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal;radikal dalam arti mulai dari radiksnya suatu gejala dari akrnya sesuatu yang hendak dipermasalahkan.Dengan jalan penjajagkan yang radikal ini, filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.
  3. Drijakara berpendapat bahwa filsafat adalah pemikiran manusia yang radikal, artinya dengan mengesampingkan pendirian- pendirian dan pendapat – pendapat yang diterima dan mencoba memperlihatkan pandangan lain yang merupakan akar permasalahan.filsafat tidak mengarah pada sebab-sebab yang terdekat,tetapi pada “mengapa” yang terakhir,sepanjang merupakan kemungkinan berdasarkan kekuatan akal budi manusia.
  4. Kamus Besar Bahasa Indonesia menulis bahwa filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab,asal, dan hukumnya.
  5. Dictionary of Philosophy mengungkapkan bahwa mencari kebenaran serta kebenaran itu sendiri adalah filsafat.

Dari Banyaknya Pengertian Filsafat yang dikemukakan, kiranya dapat dikatakan bahwa para ahli telah merumuskan filsafat secara berbeda-beda.Hal ini mengidikasikan bahwa filsafat memang sulit untuk di definisikan.Oleh karena itu, Mohammad Hatta dan langeveld menyarankan agar filsafat itu tidak didefinisikan. Ditambah lagi “hampir semua definisi bergantung pada cara orang berpikir mengenai filsafat itu”, demikian menurut Abubakar Aceh. Namun demikian, sesulit apapun definisi filsafat, pengertian mengenainya sebagai patokan awal kirannya tetap di perlukan. Dalam konteks itu, penulis lebih cenderung kepada pendapat Sidi Gazalba yang mengartikan filsafat sebagai berpikir secara mendalam,sistematik,radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti atau hakikat mengenai segala yang ada.

Dari pengertian ini ada lima unsur yang mendasari sebuah pemikiran filsafat,sebagai berikut.

  1. Filsafat itu sebuah ilmu yang mengandalkan penggunaan akal (rasio) sebagai sumbernya.
  2. Tujuan Filsafat adalah mencari kebenaran atau hakikat segala sesuatu yang ada.
  3. Objek material Filsafat adalah segala sesuatu yang ada, segala sesuatu yang mencakup yang tampak maupun yang tidak tampak.
  4. Metode yang digunakan dalam berpikir filsafat adalah mendalam, sistematik, radikal, dan universal.
  5. Oleh karena filsafat itu menggunakan akal sebagai sumbernya,maka kebenaran yang dihasilkan dapat diukur melalui kelogisannya.

Dalam kaitan ini, Saifuddin anshari menyebut filsafat sebagai “ilmu istimewa”, karena filsafat mencoba menjawab persoalan- persoalan yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa.

Setelah filsafat dapat dirumuskan pengertiannya maka pembahasan berikut akan ditekankan pada terma pendidikan islam.

Pendidikan secara harfiah berasal kata didik, yang mendapat awalan pen akhiran an. berarti perbuatan (hal, cara dan sebagainya) mendidik. Kata lain ditemukan peng(ajar)an berarti cara (perbuatan dan sebagainya) mengajar atau mengejarkan. Kata lain yang serumpun adalah mengajar berarti memberi pengetahuan atau pelajaran. Kata pendidikan berarti education (inggris), kata pengajaran berarti teaching (inggris). Pengertian dalam bahasa Arab kata pendidikan (Tarbiyah) – pengajaran (Ta’lim) yang berasal dari ‘allama dan rabba. Dalam hal ini kata tarbiyyah lebih luas konotasinya yang berarti memelihara, membesarkan, medidik sekaligus bermakna mengajar (‘allama). Terdapat pula kata ta’dib yang ada hubungannya dengan kata adab yang berarti susunan.

Dari segi bahasa Arab kata Islam dari salima (kemudian menjadi aslama), kata Islam berasal dari isim masdar (infinitif) yang berarti berserah diri, selamat sentosa atau memelihara diri dalam keadaan selamat. Yakni dengan sikap seseorang untuk taat, patuh, tunduk dengan ikhlas dan berserah diri kepada Allah SWT; sebagaimana seseorang bias disebut Muslim. Selanjutnya Allah SWT memakai kata Islam sebagai nama salah satu agama yang ajaran-ajarannya diwahyukan-Nya kepada manusia melalui Muhammad SAW (sebagai Rasul-Nya). Sebagai agama Islam diakui memiliki ajaran yang komprehensif (al-Qur’an) dibandingkan dengan agama-agama lain yang pernah diturunkan Tuhan sebelumnya.

Setelah dijelaskan satu persatu yang tersebut di atas, diyakini belum dijelaskan secara lebih khusus mengenai apa itu filsafat pendidikan Islam?

Pendapat para ahli yang mencoba merumuskan pengertian filsafat pendidikan Islam, Muzayyin Arifin mengatakan pada hakikatnya adalah konsep berpikir tentang kependidikan yang bersumberkan atau berlandaskan pada ajaran-ajaran agama Islam tentang hakekat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia (Muslim) yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam. Secara sistematikanya menyangkut subyek-obyek pendidikan, kurikulum, metode, lingkungan, guru dan sebagainya. Mengenai dasar-dasar filsafat yang meliputi pemikiran radikal dan universal menurut Ahmad D Marimba mengatakan bahwa filsafat pendidikan Islam bukanlah filsafat pendidikan tanpa batas. Adapun komentar mengenai radikal dan universal bukan berarti tanpa batas, tidak ada di dunia ini yang disebut tanpa batas, dan bukankah dengan menyatakan sesuatu itu tanpa batas, kita telah membatasi sesuatu itu. Dalam artian, apabila seorang Islam yang telah meyakini isi keimanannya, akan mengetahui di mana batas-batas pikiran (akal) dapat dipergunakan.

Dari uraian di atas kiranya dapat kita ketahui bahwa filsafat pendidikan Islam merupakan suatu kajian secara filosofis mengenai berbagai masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan yang didasarkan pada al-Qur’an dan al-Hadits sebagai sumber primer, serta pendapat para ahli (khususnya para filosof Muslim) sebagai sumber skunder

Objek Pendidikan Islam adalah subjek didik dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat. Lebih rinci lagi, Abdurrahman al – Nahlawi menyebutkan bahwa pendidikan islam merupakan suatu proses penataan individual dan sosial yang dapat menyebabkan seseorang tunduk dan taat kepada islam dan menerapkannya secara sempurna dalam kehidupan individu dan masyarakat. Sementara itu, menurut Muhammad Quthb yang dimaksud pendidikan islam adalah usaha melakukan pendekatan yang menyeluruh baik jasmani maupun rohani.

Dalam pada itu Ashraf menulis : “Pendidikan islam Adalah Pendidkan yang melatih sensibilitas murid – murid sedemikian rupa,sehingga dalam berperilaku mereka terhadap kehidupan,langkah-langkah dan keputusan, begitu pula pendekatan mereka terhadap semua ilmu pengetahuan diatur oleh nilai-nilai islam yang sangat dalam dirasakan”.

Disini ashraf kiranya lebih menekankan aspek sensibilitas dalam memberikan definisi pendidikan islam, jadi pendidikan islam menurut ashraf adalah pendidikan akhlak. Demikianlah, begitu banyak pengertian pendidikan islam yang dikemukakan para pakar bidang pendidikan islam.

Meskipun tema”filsafat” dan “pendidikan islam” telah diuraikan mengenai definisi operasionalnya, perlu dikemukakan apa itu filsafat pendidikan islam, berikut menurut para ahli :

  1. Ahmad D. Marimba dalam buku klasiknya berjudul Pengantar Filsafat Pendidikan Islam menyatakan bahwa filsafat pendidikan islam terdiri dari kata filsafat,pendidikan,dan islam. Namun mempunyai hubungan yang erat menurut hukum DM (diterangkan dan menerangkan).
  2. Dalam pada itu Munir Mulkhan dalam Paradigma Intelektual Muslim : Pengantar Filsafat Pendidikan Islam dan Dakwah menyebutkan bahwa secara khusus Filsafat Pendidikan Islam adalah suatu analisis atau pemikiran rasional yang dilakukan secara kritis,radikal,sistematis,dan metodologis untuk memperoleh pengetahuan mengenai hakikat pendidikan islam.

Dari pendapat diatas mereka memperdebatkan dua wacana filsafat pendidikan islam yaitu filsafat tentang pendidikan islam yang kedua mengenai filsafat pendidikan islam dalam perspektif islam.

 

 

 

  1. Peranan Filsafat Pendidikan Islam

Filsafat Pendidikan Islam sebagai bagian atau komponen dari suatu sistem, ia memegang peranan. Peranan Filsafat Pendidikan Islam adalah mengembangkan filsafat islam dan memperkaya filsafat islam dengan konsep – konsep dan pandangan – pandangan filosofis dalam bidang kependidikan dan ilmu pendidikan pun akan dilengkapi dengan teori-teori kependidikan yang bersifat filosofis islami.

Secara praktis dalam prakteknya filsafat pendidikan islam banyak berperan dalam memberikan alternatif pemecahan berbagai macam problema yang dihadapi oleh pendidikan islam dan memberikan pengarahan terhadap perkembangan pendidikan islam.

  1. Pertama-tama filsafat pendidikan islam menunjukan problema yang dihadapi oleh pendidikan islam sebagai hasil dari pemikiran yang mendalam dan berusaha untuk memahami duduk masalah. Dengan analisa filsafat maka filsafat pendidikan islam bisa menunjukan alternatif-alternatif pemecahan masalah.Dengan proses seleksi maka dilaksanakan alternatif tersebut dalam praktek pendidikan.
  2. Filsafat pendidikan islam, memberikan pandangan tertentu tentang manusia. Pandangan tentang hakikat manusia tersebut berkaitan dengan tujuan hidup manusia dan merupakan tujuan pendidikan menurut islam. Filsafat pendididkan islam berperan untuk menjabarkan tujuan umum pendidikan islam dalam bentuk-bentuk tujuan khusus yang operasional dan tujuan operasional ini berperan mengarahkan gerak dan aktifitas pelaksanaan pendidikan.

 

Filsafat Pendidikan Islam menunjukan potensi pembawaan manusia tidak lain adalah sifat-sifat tuhan atau al asma husna dan dalam mengembangan sifat-sifat tuhan tersebut dalam kehidupan kongret, tidak boleh mengarah kepada menodai dan merendahkah nama dan sifat tuhan. Hal ini akan memberikan petunjuk pembinaan kurikulum yang sesuai dan pengaturan lingkungan yang diperlukan.

  1. Filsafat pendidikan islam dalam analisinya terhadap masalah – masalah pendidikan islam masa kini yang di hadapannya akan dapat memberikan informasi apakah proses pendidikan islam yang berjalan selama ini mampu mencapai tujuan pendidikan islam yang berjalan selama ini mampu mencapai tujuan pendidikan islam yang ideal atau tidak dapat merumuskan dimana letak kelemahannya dan yang demikian bisa memberikan alternatif – alternatif perbaikannya pengembangannya.

Dengan demikian peranan filsafat pendidikan islam menuju kedua arah yaitu ke arah pengembangan konsep-konsep filosofis dari pendidikan islam yang secara otomatis akan menghasilkan teori – teori baru dalam ilmu pendidikan islam dan yang kedua kearah perbaikan dan pembaharuan praktek dan pelaksanaan pendidikan islam.

Semestinya, bahwa setiap ilmu mempunyai kegunaan, menurut Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani misalnya mengemukakan tiga manfaat dari mempelajari filsafat pendidikan Islam, antaralain:

  1. Filsafat pendidikan itu dapat menolong para perancang pendidikan dan yang melaksanakannya dalam suatu negara untuk membentuk pemikiran sehat terhadap proses pendidikan;
  2. Filsafat pendidikan dapat menjadi asas yang terbaik untuk penilaian pendidikan dalam arti menyeluruh; dan,
  3. Filsafat pendidikan Islam akan menolong dalam memberikan pendalaman pikiran bagi factor-faktor spiritual, kebudayaan, social, ekonomi dan politik di negara kita.

Selain kegunaan yang tersebut di atas filsafat pendidikan Islam juga sebagai proses kritik-kritik tentang metode –metode yang digunakan dalam proses pendidikan Islam, sekaligus memberikan arahan mendasar tentang bagaimana metode tersebut harus didayagunakan atau diciptakan agar efektif untuk mencapai tujuan. Lebih lanjut Muzayyin Arifin menyimpulkan bahwa filsafat pendidikan Islam harus bertugas dalam 3 dimensi, yakni:

  1. Memberikan landasan dan sekaligus mengarahkan kepada proses pelaksanaan pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam;
  2. Melakukan kritik dan koreksi terhadap proses pelaksanaan tersebut; dan,
  3. Melakukan evaluasi terhadap metode dari proses pendidikan tersebut.

 

 

  • Ruang Lingkup Filsafat Pendidikan Islam

Penjelasan mengenai ruang lingkup ini mengandung indikasi bahwa    filsafat pendidikan Islam telah diakui sebagai sebuah disiplin ilmu.Hal ini dapat dilihat dari adanya beberapa sumber bacaan, khususnya buku yang menginformasikan hasil penelitian tentang filsafat pendidikan Islam.Sebagai sebuah disiplin ilmu, mau tidak mau filsafat pendidikan Islam harus menunjukkan dengan jelas mengenai bidang kajiannya atau cakupan pembahasannya.Muzayyin Arifin menyatakan bahwa mempelajari filsafat pendidikan Islam berarti memasuki arena pemikiran yang mendasar, sistematik. Logis, dan menyeluruh (universal) tentang pendidikan, yang tidak hanya dilatarbelakangi oleh pengetahuan agama Islam saja, melainkan menuntut kita untuk mempelajari ilmu-ilmu lain yang relevan. Pendapat ini memberi petunjuk bahwa ruang lingkup filsafat Pendidikan Islam adalah masalah-masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan, seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode, dan lingkungan.

Pemikiran dan kajian tentang Filsafat Pendidikan Islam menyangkut 3 hal pokok, yaitu: penelaahan tentang filsafat, pendidikan dan penelaahan tentang islam.Karena itu, setiap orang yang berminat dan menerjunkan diri dalam dunia Filsafat Pendidikan Islam seharusnya memahami dan memiliki modal dasar tentang filsafat, pendidikan dan Islam.

Kajian dan pemikiran mengenai pendidikan pada dasarnya menyangkut aspek yang sangat luas dan menyeluruh bahkan seluruh aspek kebutuhan atau kehidupan umat manusia, khususnya umat islam.

Ketika dilakukan kajian dan dirumuskan pemikiran mengenai tujuan Pendidikan Islam, maka tidak dapat dilepaskan dari tujuan hidup umat manusia. Karena tujuan pendidikan Islam pada hakekatnya dalam rangka mencapai tujuan hidup umat manusia, sehingga esensi dasar tujuan pendidikan islam sebetulnya sama dengan tujuan hidup umat manusia. Menurut Ahmad D. Marimba sesungguhnya tujuan pendidikan islam identik dengan tujuan hidup setiap muslim.

Sebagai contoh, firman Allah swt dalam surah Ali Imran (3) ayat 102:
“hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dengan ketaqwaan yang sempurna dan janganlah kamu mati, melainkan dalam keadaan muslim”.

 

Ayat ini menggambarkan tujuan hidup umat manusia Islam yang harus mencapai derajat ketaqwaan, di mana ketaqwaan itu harus senantiasa melekat dalam kehidupan umat manusia hingga akhir hayatnya.

Filsafat Pendidikan Islam merumuskan tujuan pendidikan dalam rangka mencapai tujuan hidup umat manusia. Bila tujuan hidup umat islam untuk mencapai derajat ketaqwaan yang sempurna sebagaimana disebutkan di atas, maka tujuan pendidikan islam yang dirumuskan Filsafat Pendidikan Islam tentu pembinaan peserta/anak didik dalam rangka menjadi manusia muttaqin. Dengan demikian, mewujudkan ketaqwaan dalam diri setiap individu umat islam guna mencapai posisi manusia muttaqin selain menjadi tujuan hidup setiap muslim sekaligus pula menjadi tujuan akhir pendidikan Islam.

Dari beberapa uraian tadi dapat diketengahkan bahwa pada dasarnya ruang lingkup kajian Filsafat Pendidikan Islam bertumpu pada pendidikan islam itu sendiri, baik menyangkut rumusan atau konsep dasar pelaksanaan maupun rumusan pikiran antisipatif mengatasi problematika yang dihadapi dalam pelaksanaan pendidikan Islam.[31] Pola dan sistem berpikir filosofis demikian dilaksanakan dalam ruang lingkup yang menyangkut bidang – bidang sebagai berikut:

  1. Cosmologi yaitu suatu pemikiran dalam permasalahan yang berhubungan dengan alam semesta, ruang dan waktu, kenyataan hidup manusia sebagai makhluk ciptaan tuhan, serta proses kejadian kejadian dan perkembangan hidup manusia di alam nyata dan sebagainya.
  2. Ontologi yaitu suatu pemikiran tentang asal-usul kejadian alam semesta, dari mana dan kearah mana proses kejadiannya. Pemikiran ontologis akhirnya akan menentukan suatu kekuatan yang menciptakan alam semesta ini, apakah pencipta itu satu zat (monisme) ataukah dua zat (dualisme) atau banyak zat (pluralisme). Dan apakah kekuatan penciptaan alam semesta ini bersifat kebendaan, maka paham ini disebut materialisme.
  3. Philosophy of mind adalahcabang filsafatyang mempelajarisifat dari pikiran, peristiwa mental,fungsi mental, sifatmental,kesadaran, dan hubungan mereka dengantubuh fisik, terutamaotak. Masalahpikiran-tubuh, yaituhubunganpikirandengan tubuh, biasanya dilihatsebagai salah satuisu utamadalam filsafat pikiran, meskipun adaisu-isu laintentang sifatpikiranyang tidak melibatkanhubungannya dengantubuh fisik, seperti bagaimanakesadaran adalahmungkin dansifatkeadaan mentaltertentu
  4. Epistemologi, adalah cabang filsafatyang berkaitan dengan asal, sifat, karakter dan jenis Topik ini termasuk salah satu yang paling sering diperdebatkan dan dibahas dalam bidang filsafat, misalnya tentang apa itu pengetahuan, bagaimana karakteristiknya, macamnya, serta hubungannya dengan kebenaran dan keyakinan.[32]
  5. Secara makro (umum) apa yang menjadi obyek pemikiran filsafat, yaitu dalam ruang lingkup yang menjangkau permasalahan kehidupan manusia, alam semesta dan sekitarnya adalah juga obyek pemikiran filsafat pendidikan.
  6. Secara mikro (khusus) yang menjadi obyek filsafat pendidikan meliputi:
    Pendidik, 2. Anak didik, 3. Alat – alat pendidikan baik materil maupun nonmateril.
  7. Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya.

 

Dengan demikian akan tampak jelas bahwa hasil pemikiran filsafat tentang pendidikan islam ini merupakan pattern of mind (pola pikir ) dari pemikir – pemikir yang bernafaskan islam atau berkepribadian muslim dan menjadi obyek filsafat pendidikan ialah semua aspek yang berhubungan dengan upaya manusia untuk mengerti dan memahami hakikat pendidikan itu sendiri, yang berhubungan dengan bagaimana pelaksanaan pendidikan dan bagaimana tujuan pendidikan itu dapat dicapai seperti yang dicita-citakan.

 

  1. Metode Pengembangan Filsafat Pendidikan Islam

Perihal yang menyangkut metode pengembangan filsafat pendidikan Islam yang berhubungan erat dengan akselerasi penunjuk operasional dan teknis mengembangkan ilmu, yang semestinya didukung dengan penguasaan metode baik secara teoritis maupun praktis untuk tampil sebagai mujtahid atau pemikir dan keilmuan. Asumsi yang terbangun bahwasannya karya Omar Mohammad al-Toumy al-Syaibani (Falsafah Pendidikan Islam) yang tidak membahas metode tersebut. Apalagi mencukupkan sumber analisa hanya pada Plato dan Aritoteles-isme, padahal sefaham dengan para filosof Muslim (al-Kindi, al-Farabi, Ibn Sina, Ibn Rusyd dan yang sealiran dengannya). Kuat kemungkinannya ia terperangkap oleh missi dan strategi Barat yang mensupremasi dalam segala bidang.

Tentang metode pengembangan filsafat pendidikan Islam paling tidak bersumber pada 4 hal, yakni:

  1. Bahan tertulis (tekstual) al-Qur’an, al-Hadits dan pendapat pendahulu yang baik “salafus saleh”– bahan empiris, yakni dalam praktek kependidikan (kontekstual);
  2. Metode pencarian bahan; khusus untuk bahan dari al-Qur’an dan al-Hadits bisa melalui “Mu’jam al-Mufahros li Alfazh al-Karim” karya Muhammad Fuad Abd al-Baqi atau “Mu’jam al-Mufahros li Alfazh al-Hadits” karya Weinsink, dan bahan teoritis kepustakaan serta bahan teoritis lapangan;
  3. Metode pembahasan (penyajian); bisa dengan cara berpikir yang menganalisa fakta-fakta yang bersifat khusus terlebihdahulu selanjutnya dipakai untuk bahan penarikan kesimpulan yang bersifat umum (induktif); atau cara berpikir dengan menggunakan premis-premis dari fakta yang bersifat umum menuju ke arah yang bersifat khusus (deduksi); dan
  4. Pendekatan (approach); pendekatan sangat diperlukan dalam sebuah analisa, yang bisa dikategorikan sebagai cara pandang (paradigm) yang akan digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena.

Adapun yang dikembangkan dan dikaji masalah filsafat pendidikan Islam, maka pendekatan yang harus digunakan adalah perpaduan dari ketiga disiplin ilmu tersebut, yaitu: filsafat, ilmu pendidikan dan ilmu ke islam an. sebagaimana uraian terdahulu, yakni sebuah kajian tentang pendidikan yang radikal, logis, sistematis dan universal. Namun cirri-ciri dari berfikir filosofis ini dibatasi dengan ketentuan ajaran Islam.

 

  1. Rumusan Tujuan Pendidikan Menurut Para Pakar

Upaya dalam pencapaian tujuan pendidikan harus dilaksanakan semaksimal mungkin, walaupun kenyataannya manusia tidak mungkin menemukan kesempurnaan dalam berbagai hal.Adapun pendidikan Islam mempunyai tujuan sendiri sesuai dengan falsafah dan pandangan hidup yang digariskan Al-Qu’ran. Meski sumber gagasan perumusan tujuan pendidikan Islam sama yaitu Al-Qur’an dan Sunnah, para pakar pendidikan Islam membuat formulasi dengan redaksi yang tidak sama, meski substasinya sama.

  1. Ibnu Kaldun merumuskan bahwa tujuan pendidikan Islam mencakup:
  • Tujuan yang berorientasi ukhrawi yaitu membentuk seorang hamba agar melakukan kewajiban kepada Allah.
  • Tujuan yang berorientasi duniawi yaitu membentuk manusia yang mampu menghadapi segala bentuk kehidupan yang lebih layak dan bermanfaat.
    1. Menurut al-Ghazali, tujuan umum pendidikan Islam tercermin dalam dua segi:
  • Insan purna yang bertujuan mendekatkan diri kepada Allah.
  • Insan purna yang bertujuan mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
    1. Menurut Abdur Rosyid, tujuan pendidikan Islam adalah:
  • Mewujudkan insan yang mampu taqarrub pada Allah melalui pendidikan akhlak.
  • Menciptakan individu yang memiliki pola piker yang ilmiah dan pribadi yang paripurna, yaitu pribadi yang dapat mengintegrasikan antara agama dengan ilmu serta amal saleh, guna memperoleh ketinggian derajat dalam berbagai dimensi kehidupan.
    1. Menurut Saleh Abdul Aziz bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah untuk mendapat keridhoan Allah dan mengusahakan kehidupan
    2. Menurut Athiyah al-ibrasyi bahwa tujuan pendidikan Islam adalah
  • Pembentukan akhlaq mulia
  • Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat
  • Persiapan untuk mencari rezeki dan pemeliharaan segi-segi pemanfaatkan.   Keterpaduan antara agama dan ilmu akan dapat membawa manusia kepada kesempurnaan.
    • Menumbuhkan roh ilmiah para pelajar dan memenuhi keingian untuk mengetahui serta memiliki kesanggupan untuk mengkaji ilmu sekadar sebagai ilmu.
    • Mempersiapkan para pelajar untuk suatu profesi tertentu sehingga mudah mencari rezeki.
      1. Kursi Ahmad memberikan rumusan tujuan pendidikan Islam dengan redaksi berikut

Education is mental physical and ,moral training and its aim to produce highly cultured men and women fit to discharge their duties as good human being and as worthy citizen of state.

“Pendidikan adalah suatu pendidikan mental, fisik dan moral ia bertujuan untuk menghasilkan pria dan wanita uang berkebudayaan tinggi, yang cakap melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai manusia dan warga negara yang berguna.”

  1. Menurut hasil seminar se-dunia tentang pendidikan Islam di Islambad 1980 merumuskan tujuan pendidikan Islam sebagai berikut:

Education aims at the balanced growth of total personality of man through the training of mans spirit, intellect, the rational self, feeling and bodile sense. Education should, therefore, linguistic both individually and collectively and motivate all these aspect to ward goodness and attainment of perfection. The ultimate aim of education lies in the realization of complete submission to Allah on the level of individual, community, and humanity at large.

“Pendidikan seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan yang seimbang dalam kepribadian manusia srcara total melalui pelatihan spiritual, kecerdasan, rasio, perasaan dan panca indera. Oleh karena itu, pendidikan seharusnya memberikan pelayanan bagi pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya meliputi aspek spiritual, intelektual, imaginasi, fisik, ilmiah, linguistic, baik secraa individu, maupun secara kolektif disamping memotifasi semua aspek tersebut kea rah kebaikan dan pencapaian kesempurnaan. Tujuan utama pendidikan bertumpu pada terealisasinya ketundukan kepada Allah baik dalam level individu, komunitas dan manusia secara luas.

 

 

 


 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari pengertian filsafat, peranan dan ruang lingkup filsafat pendidikan islam, yaitu :

  1. Filsafat secara sederhana berarti alam pikiran atau alam berfikir. Berfilsafat artinya berfikir, namun tidak semua berfikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berfikir secara mendalam dan sungguh – sungguh .
  2. Filsafat pendidikan islam, pertama adalah filsafat tentang pendidikan islam dan kedua filsafat tentang pendidikan dalam perspektif islam.
  3. Peranan filsafat pendidikan islam menuju kedua arah yaitu kearah pengembangan konsep – konsep filosofis dari pendidikan islam dan kearah perbaikan dan pembaharuan praktek pelaksanaan pendidikan islam.
  4. Ruang lingkup filsafat pendidikan islam adalah masalah – masalah yang terdapat dalam kegiatan pendidikan seperti masalah tujuan pendidikan, masalah guru, kurikulum, metode dan lingkungan.

Dengan demikian, filsafat islam secara singkat dapat dikatakan adalah filsafat pendidikan yang berdasarkan ajaran islam atau filsafat pendidikan yang dijiwai oleh ajaran islam. Jadi filsafat ini bukan yang bercorak liberal, bebas, tanpa batas etika sebagaimana dijumpai dalam pemikiran filsafat pada umumnya. Secara umum ruang lingkup pembahasan filsafat pendidikan islam ini adalah pemikiran yang serba mendalam, mendasar, sistematis, terpadu, logis, menyeluruh, dan universal mengenai konsep-konsep yang berkaitan dengan pendidikan atas dasar ajaran islam.

Ternayata filsafat pendidikan islam berfungsi mengarahkan dan memberikan landasan pemikiran yang sistematik, mendalam, logis, universal, dan radikal terhadap berbagai masalah yang beroperasi dalam bidang pendidikan dengan menempatkan Al-Quran sebagai dasar acuannya.

 


 

DAFTAR PUSTAKA

 

https://nurwahidabdulloh.wordpress.com/pengetahuan/filsafat/filsafat-pendidikan-islam/

Http://dakir.wordpress.com/2009/03/07/Pengertian -Objek-Kajian-Fungsi-dan-

Tugas-Filsafat-Pendidikan/