Ramadhan yang Ku Tunggu


ini ramadhan yang ku tunggu

“Memang menyedihkan ramadhan tanpa teman, aku sendiri di rumah yang sepi dan tak teratur ini,!” gumam Ardi dengan menoleh kanan kiri namun tetap sepi, rumah yang ia tinggali. Brisik tetangga di luar kadang membuatnya geram juga iri maklum aja dia remaja seumuran SMA ditinggal ibunya yang sedang pulang kampong untuk menjenguk neneknya yang tinggal sendiri di desa Bumi Aji kota Batu, sejak kecil Ardi tak pernah mengenal kakek maupun neneknya bahkan saat kakeknya meninggal Ardi tak ada dan pada waktu itu Ardi ikut main temannya ke Bali. Entah salah siapa orang tua atau Ardi sendiri yang memang tak ada perhatiannya sama sekali dengan kakek dan neneknya.

Sudah satu minggu lebih Ardi di tinggal, tak ada kabar yang datang. Awalnya memang Ardi yang tak mau di ajak ke batu yang alasannya jauh dari bandung dan ia memang ingin sekali bebas ditinggal keluarganya. Hari pertama Ardi sangat gembira dia mengundang seluruh teman sekolahnya untuk pesta di rumahnya, ia gunakan uang sesuka hatinya, ia berpesta pora dengan rumah yang sepi tanpa orang kecuali dia dan teman-temannya.

Waktu sholat tarawih pun ia lupakan, ia mabok-mabokan dan ia gunakan untuk senang-senang, sejak sekolah di SMA Ardi memang banyak berubah temannya sudah anak-anak yang tak bisa di atur, Ardi sering pulang malam, uang jajan membengkak dan tak jarang aini adiknya mencium bau minuman keras pada dirinya. Padahal dulu Ardi seorang anak yang penurut pada orang tuanya, pendiam dan taat beragama entah kenapa dua tahun belakangan ini dia berubah menjadi ugal-ugalan, tak bisa diatur dan agama mulai ia lupakan.

“Kring………kring…….” Ardi segera meraih hp yang di sampingnya sedari tadi. ”Lukman, ngapai dia call me?” dengan wajah sedikit males untuk mengangkat telepon ia paksakan ibu jarinya menekan tombol yes.

”Ardi loe dimana?”

“Di rumah lha” jawab Ardi singkat,

”Gak keluar apa loe, ini malem minggu ngapain di rumah aja?”

“Emangnya kenapa, MBL?”

“Jawaban loe sinis amet sih?”

“Gue lagi bete,”

Lukman teman sekelas Ardi yang terkenal di sekolah SMA Bangsa siswa paling ssusah di atur. Sudah berkali- kali orang tua Ardi melarangnya untuk berteman dengan Lukman tapi Ardi sudah tak dapat dinasehati.

“Aduh males gue mau keluar, sorry ya loe ajak aja yang lain!” tutup Ardi dan melempar hpnya begitu aja.

“Dasar punya keluarga apes banget.” gumamnya.

˜¨˜

Hari ini dua minggu pas Ardi ditinggal di rumah, ia mulai merasa bingung dan bosan di rumah. Ia mulai sadar jika hidup tanpa keluarga itu sangat tidak menyenangkan. Keheningan malam mulai rasakan hampa, terselip bingung dan bosan di rumah. Ia mulai sadar jika hidup tanpa keluarga itu sangat tidak menyenangkan. Keheningan malam mulai ia rasakan hampa, terselip kerinduannya kepada kedua orang tuanya, terbayang dibenaknya canda adiknya Aini, terasa sekali kerinduannya pada keluarga hingga menetes air matanya.

“Ah,,, ngapain gue mikirin mereka, mereka di sana senang-senang dan gue di sini susah, belum tentu juga mereka mikirin gue,,,” Ternyata setan masih berkeliaran di hati Ardi atau memang hatinya Ardi yang terbuat dari batu.

Sementara di Bumiaji neneknya sedang sakit keras, maka dari itu kedua orang tua Ardi sengaja tidak pulang menunggu neneknya sembuh. Namun pemikiran Ardi begitu sempit. Ardi masih tak ingin mengakui kalau dirinya tak bisa hidup sendiri tanpa keluarganya.

Hari terus meliputi sedihnya yang ia lalui. Kali ini Ardi tak sabar lagi, ia ambil hpnya lalu ia telepon aini, lama Ardi menunggu suara berisik dari seberang, namun tak juga ia dapati. Ia lempar hpnya jauh-jauh kesana kemari Ardi bingung mencari teman. Tak lama hpnya berdering sms dari Lukman.

“Hei, Di loe keluar gak,? Gue tunggu di temapat bisaa. Cepet loe mau gue kenalin ma barang baru”

Sesudah membaca pesan dari Lukman Ardi tak banyak pikir ia langsung menyamber jaket di almarinya, dan langsung keluar begitu saja. Ia lajukan kecepatan maksimal sepedanya. Jalan begitu rame tapi ia bisakan amarahnya di jalan raya tujuannya adalah club malam di daerah Jakarta yang menjadi tempat tongkrongannya bersama dengan teman-temannya. Ditengah perjalanan hp di sakunya terus berdering tapi ia tak menghiraukan. Ia terus berjalan menghantam malam dan ribuan mobil dan motor.

 

˜¨˜

Bunyi hp Aini berbunyi, ”kakak tadi telepon gak di angkat tapi sekarang malah telepon, dasar punya kakak satu tapi nyebelin bgt.” gumam Aini sembari keluar dari ruang Melati no 633.

”Ada apa kak? Tadi ditelepon gal diangkat, sekarang malah telepon?”

Suara bissing di seberang terdengar jelas, tapi tak ada suara yang membalas Aini, ”Hallo….. kak Ardi?”

Kata-kata itu terus diulang oleh Aini, sejenak Aini diam.

”Hallo, maaf apa ini dengan keluarganya orang yang bernama Ardi?” suara seorang lelaki tua tak jelas di dengar oleh Aini,

”Iya maaf ini sapa ya?”

“Maaf ini seorang remaja yang bernama Ardi kecelakaan di jl. Sukrno Hatta, jadi kalau anda keluarganya dimohon untuk segera ke rumah sakit RSCM, karena korban sangat parah.”

Mendengar suara dari seberang Aini hanya bisa terdiam dan meneteskan air mata, walau kakaknya itu sering bikin Aini marah dan sebel tapi sesungguhnya Aini tahu kalau kakaknya itu baik. Aini langsung masuk ke kamar dimana neneknya terbaring di rawat.

”Aini ada apa dengan kakakmu? Apa kamu sudah bilang kalau kita pulang setelah nenek sembuh?”

“Maaf Ma, kak Ardi sekarang kecelakaan,,,,,,!” dengan suara tertatah Aini menjawab pertanyaan mama nya.

”Apa? kakakmu kecelakaan? Terus sekarang bagaimana keadaannya? Dirawat di mana?” suara kaget mama Ardi terdengar oleh ibunya hingga terbangun. Tanpa pikir panjang mereka lansung meluncur ke Jakarta, yaitu ke RSCM. Sebelum berangkat mereka mengabari papanya Ardi yang kebetulan bertugas di Jakarta untuk menemani Ardi di rumah sakit.

Membutuhkan waktu yang lama dan perjalanan yang panjang dari Batu menuju Jakarta. Hingga bingung dan khawatir memasuki perasaan mama, Aini dan nenek nya yang walau masih belum sembuh total, tapi menguatkan diri karena kerinduannya pada cucunya yang no 1, yang tak pernah ia lihat sejak balita. Di perjalanan mereka hanya bisa berharap dan berdo’a untuk keadaan Ardi di rumah sakit. Meski dibulan puassa dan waktunya sahur mereka lupakan, dalam pikirannya hanya Ardi dan Ardi.

Pagi menjelang siang kota Jakarta sangat padat untungnya sopir bisa menerobos ribuan mobil yang kebanyakan di kendarai oleh orang-orang berdasi. Tak sabar melihat keadaan Ardi, sesampai di rumah sakit mereka langsung menuju kamar Anggrek no 187 tingkat 3. Pertama pintu di buka terlihat jelas seorang remaja yang dulunya tadinya liar, kini terbaring tak berdaya dengan lilitan kain kasa yang dihiasi warna merah darah. Mama Ardi tertekuk dan menangis sejadi jadinya, ia menyesali kenapa ia mengijinkan Ardi untuk tinggal di rumah.

”Ardi, kenapa kamu jadi begini nak, ini Mama?” dengan tangis yang meronta- ronta.

”Ma sudah, sabar kalo Mama kayak gini kita hanya mengganggu nya, lebih baik kita berdo’a aja Ma!” Suami mencoba menenangkan istri ya inilah tugasnya seorang suami selalu ada di mana seorang istri bersedih.

Nenek hanya memandangi Ardi dengan hati yang dalam, ”Ini kah cucuku, yang dulu ? kamu cepat sadar ya nak, agar bisa ketemu dengan aku, nenekmu!” air mata seorang nenek menetes dengan penuh kasih sayang.

Setelah terbaring beberapa jam akhirnya Ardi membuka mata, dia terkejut melihat semua orang ada disampingnya, ada rasa haru, dan bahagia yang ia rasa. Kali ini ia baru merasakan indahnya sebuah keluarga lengkap rasanya kebahagian di hatinya walau sakit fisiknya. Ada nenek, papa, mama dan Aini yang menemaninya. Dan baru kali ini ia melihat neneknya yang walau rentah tapi terlihat cantik seperti mamanya. Ardi tersenyum dan menangis karena bahagia sekarang ia percaya jika ramadhan itu memang indah.

”Terima kasih ya Allah karena ini ramadhan yang aku tunggu sejak dulu.” AIR mata Ardi berbicara.

 

Made by : Sri Wahyuni