Menantimu – Sebuah Cerpen


MENANTIMU

 

Seanggun pagi meraba cerahnya matahari. Dimana teriknya menghangatkan apa yang didatanginya. Hmm, serasa begitu segar mengingatkan pada sesuatu yang begitu menelusup di relung jiwa. Sebuah RASA.

 

Aku, Faizma Livia Shifa, cukup panggil Fa. Cewek blok C sekolah di SMA 01 Surabaya di kelas XI IPA 1. Sering berprestasi di bidang jurnalis dalam pembuatan karya puisi dan cerpen.

Pagi ini, tepat pukul 06.30 aku bersandara dip agar rumah. Berharap bertemu si dia karena ku tau tiap pagi si dia yang kupanggil ASH (Anak Sebelah Halaman). Dia yang sederhana, ramah pada siapapun termasuk tetangga lainnya. Yah, dia tetangga sebelah rumah, kira-kira baru datang 1 minggu yang lalu. Tapi entah siapa namanya dan jujur saja semenjak kedatangannya kehidupanku mulai berubah. Salah tingkah alias salting tiap keluar rumah bingung mau pakek apa. Mengharuskan diriku sendiri untuk terlihat cantik, padahal sama-sama tak kenal. Aneh!

Itu dia!

ASH keluar dari gerbang rumahnya dengan kaus biru langit dan celana pendek dia membuatku terdiam. Bola matanya coklat yang terus membuatku teringat setiap gerak geriknya. Saat melewatiku dia tersenyum, dan ah…

Dia membuatku kalut tersipu dengan keramahannya. Benar-benar cowok idaman. ASH.

***

Hari ini, hari Senin. Ah males banget rasanya bangun pagi-pagi. Habis liburan panjang harus masuk sekolah seperti awal. Mengulang-ulang hari-hari membosankan. Baiklah harus turun dari ranjang dan mandi. Yah, kesendirianku di rumah super gede ini. Mama dan papa kerja di Jakarta, kakakku paling tua ikut suaminya di Amerika. Kakakku nomor dua kuliah di Bandung, adekku sekolah SMP di Semarang dan tinggal sama eyang. Sedang aku satu-satunya penghuni di rumah berada di kota Surabaya sendirian. Tanpa pembantu, tanpa supir dan tanpa yang lainnya. Semua harus serba sendiri sepi dan sunyi. Tapi tak apa, demi mencari ilmu akupun rela.

Setelah semua selesai. Mandi, ganti pakaian, sarapan, pakek sepatu dan akhirnya mengunci pintu dan gerbang. Tinggal berangkat. Aku menoleh ke rumah sebelah. Hmm, ksoong. Seperti tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Mungkin ASH masih tidur. Ini kan masih jam 06.00 biasanya dia keluar dari rumah jam 06.30. entaj ah!

Yah aku jalan kaki ke sekolah, karena memang sekolah cukup dekat dari rumah.

Di perjalanan, aku jadi teringat ASH, sedang apa ya dia? Ah, kenapa kepalaku dipenuhi dengan ASH? Kenal nggak, tau nama nggak, uh. Sehari saja tak melihatnya serasa bingung.

 

Saat tiba di sekolah, aku disambut sahabat-sahabatku. Meyla dan Maza.

“Pagi…. “ sapa Mey dan Za bareng.

“Hey plend! Gimana liburan kalian? Fun?” tanyaku pada mereka berdua.

“That’s great. Hanya diem di rumah, tidur, nyemil, terus diem lagi akhirnya tidur lagi deh. Sampek-sampek nih berat badan naik 2 kilo.” Terang Maza.

“Kalau aku sih shopping, jalan-jalan ke alun-alun, liburan ke rumah nenek dan vacation gitu deh.” Jelas Mey.

“Kalau kamu Fa?” Tanya Maza.

“Kalau aku…. Apa ya?” aku berpikir, apa yang aku lakukan selama liburan? Ah…

“Apa ya? Mungkin berdiri di depan gerbang atau mungkin mencari panorama menarik dari jendela tiap sore.” Aku mengangkat bahu sambil tersenyum.

“Hah? Kamu nggak apa-apa Fa?”

Teet, teet, teet.

“Oops, bel bunyi tuh! Waktunya masuk. Yuk!”

Saat tiba di kelas… uh, suasana begitu ricuh. Para cewek-cewek selain aku, Mey dan Za sedang ngomongin sesuatu. Kayaknya seru abis.

“Mereka ngomongin apa sih? Tanya Mey.

“tau, emang masalah buatku? Nggak kan?” jawabku sewot.

“Denger-denger sih cowok baru di sekolah ini. Keren katanya.” Sambung Za.

Aku diam. Hmm, jadi inget tetangga. Hehehe…

Oops, pak Rancy masuk. Guru termuda yang cool dan syka senyum ini hanya membawa 1 buku pelajaran. Biasanya 1 paket dengan isi 12 buku di bawa semua. Ke mana yah? Oow, tapi beliau bawa seorang cowok dan itu tetanggaku.

“Morning anak-anak!” sapa pak Randy.

“Morning pak!” jawab anak-anak serentak.

“Oke, pagi ini kita kedatangan siswa baru pindahan dari Jakarta.

ASH… batinku.

“Wow, cool banget. Ya nggak Fa?” Tanya Mey ke aku.

“ Eh, emm ya. Seperti itulah.” Aku salting, kebiasaanku saat bertemu dengannya.

Kok bisa dia di sini? Inikah cowok baru yang diomongin sama anak-anak tadi? Batinku terus bertanya-tanya.

“Ok Alfa, silahkan perkenalkan dirimu!”

“Baik, aku Alfa Syafitra Hilmi, cukup panggil Alfa. Pindahan dari Jakarta hobi olahraga sekarang tinggal di blok C kawasan dekat sini. Terima kasih.”

Hmm, perkenalan yang cukup singkat.

“blok C? kan deket rumahmu Fa?” Tanya Za.

“ Ehm iya, dia tetangga.” Aku tersenyum.

Rupanya Mey dan Za kaget.

“Meyla, bisa kamu pindah di samping Faris? Alfa silahkan duduk di samping Faizma!”

Alfa hanya mengangguk mengiyakan. Aduh, kok di sampingku sih? Aku kan jadi salting. Dasar pak Randy.

Mey pindah dan deg deg deg, rasa jantungku berdegup nggak karuan. Aku memandang Alfa, dan tepat Alfa tersenyum padaku. Rasanya tubuhku leleh.

“Baiklah kita mulai pelajaran kita, hari ini kita akan mengadakan sesi Tanya jawab jadi saya akan menjawab tiap-tiap pertanyaan kalian. Siapa dulu?”

“Aku Alfa, kamu tetangga rumah kan?” suaranya mengagetkanku.

“Iya, aku Faizma panggil aja Fa.!”

“Dia mengangguk tanda mengerti.”

Pelajaran berlangsung seperti biasa, tapi pikirinku rancu karena dia. Alfa. Nama aslinya. Tak terasa aku tlah menulis namanya di bukuku. Alfa Syafitra Hilmi. Ku lingkari huruf depannya. ASH. Yah nama itu pas. Aneh. Ini kebetulan atau apa? Pikiranku benar-benar kacau.

Teet, teet, teet. Tanda istirahat.

“Guys, ke kantin yuk!” ajak Za.

Aku dan Mey mengangguk. Tapi tiba-tiba buku Mey jatuh dan Alfa mengambilkannya saat tangan mereka sama-sama mengambil buku itu. Menyentuh. Kenapa hatiku tiba-tiba sakit? Padahal baru kenal.

“Ehm, makasih.”

“Sama-sama.” Jawab Alfa dengan senyumnya yang senantiasa membuatku bahagia.

Aku, Mey dan Za ke kantin. Tapi daritadi Mey terdiam. Aneh.

“Fa, Alfa tetanggamu kan? Dia manis ya? Tadi jantungku hamper copot. Aku malu.”

Aku menoleh padanya,

“Kenapa malu? Kamu suka sama dia?”

“Mungkin, hehe…”

Yah perbincangan kami tentang Alfa dimulai dari saat ini hingga pulang.

“Oke Fa, besok kasih kabar ke aku ya!” pinta Mey.

Aku hanya mengacungkan jempol padanya.

Saat di jalan, tiba-tiba saja Alfa sudah ada di sampingku. Aku hanya tersenyum padanya, begitupun dia hanya senyum dan senyum yang membuatku tak karuan.

“Sampai jumpa!” ku lambaikan tanganku padanya saat aku memasuki rumah.

Dia membalasnya dengan melambaikan tangan juga dan tersenyum simpul padaku. Membuatku selalu rindu padanya.

Yah begitulah keseharianku, di sekolah Mey dan Alfa hamper tiap hari bergurau, berbincang, padaku dan Za sih juga. Tapi kayaknya perhatiannya berbeda. Tiap pulang sekolah Alfa jalan bareng di sampingku dan membicarakan hal-hal yang lucu. Hamper tiap hari dia belajar bersama di rumahku, tertawa bersama, bikin kue bersama dan melakukan hal-hal yang unik. Begitulah aku dekat dengannya hingga aku benar-benar menyayanginya dan mungkin mencintainya.

Jujur, aku ingin memilikinya. Banyak upaya aku lakukan demi mendapatkan simpatinya.

Saat dia sakit, aku bingung. Membuat bubur untuknya dan datang ke rumahnya setiap hari, mengompres dahinya, membelikan obat ke apotik.

Saat dia sedih, aku bingung. Menghiburnya dengan mengajaknya jogging tiap pagi, mengajaknya minum es krim di pinggir jalan, mengajaknya ke danau dan semua telah aku lakukan.

Saat dia kesusahan mengerjakan tugas, aku selalu siap sedia menemaninya meski sampai larut malam. Mengajarinya dan member pengertian yang cukup padanya.

Saat dia kehujanan di luar karena pulang malam dari main bola, aku selalu membuatkannya teh hangat dan membawakan baju hangat untuknya.

Saat dia kebingungan dengan pilihan-pilihannya tentang baju, apalah. Aku selalu member nasehat padanya. Memberikan motivasi yang cukup biar dia tidak salah pilih.

Saat dia ulang tahun, aku orang pertama yang mengucapkannya tepat pukul 00.01 dan memberikan hadiah special serta merayakannya saat siang harinya.

Dan di saat-saat itulah aku merasa dia punya rasa yang sama padaku. Tinggal menunggu dia mengungkapkan perasaannya padaku.

Hingga suatu saat aku benar-benar terguncang. Ketika Alfa menanyakan sesuatu padaku. Saat di rumah.

“Fa, kita kan dah deket, kamu sama Mey juga sahabat mulai kecil. Boleh nanya sesuatu?”

“Tentang apa?”

“Jujur Fa aku suka sama Mey.”

DEG. Aku kaget, benar-benar shok. Tak sadar bolpoinku lepas dari tangan. Aku bingung harus jawab apa, sedang aku sayang banget sama dia.

“Fa, certain sama aku dong tentang dia!”

“Owh, jadi kamu suka dari dulu sama dia? Ok ok, aku ceritain.”

Dengan terpaksa aku menceritakan pada Alfa bahwa sebenarnya Mey juga punya rasa yang sama dengannya. Hanya saja masih memendam takut bertepuk sebelah tangan. Hingga esoknya Alfa minta dicomblangin. Dan entah kekuatan dari mana aku mengiyakan permintaannya.

Esoknya ketika hanya ada aku, Mey, Za dan Alfa.

“Mey, Alfa mau ngomong sesuatu sama kamu.”

Alfa menoleh padaku, dan dia paham dengan maksudku. Dia berjalan menuju bangku Mey. Dan tanpa basa basi,

“Mey, jujur selama ini aku memendam satu perasaan. Yang itu menyiksaku selama ini. Aku… suka kamu Mey.”

Mey menoleh padaku, meminta satu keputusan dari sahabatnya, aku dan Za. Aku dan Za mengangguk menyetujui. Dan akhirnya Mey menerima Alfa. Aku bingung, sakit, luka. Semua…

“Emm, Za keluar yuk kayaknya kita ganggu deh!” sambil menarik tangan Za. Za hanya mengikutiku dari belakang.

Sakitnya aku… tapi demi sahabatku aku rela. Tak terasa air mata jatuh tak tertahankan. Za yang melihatku jadi bingung sendiri.

“Kamu kenapa Fa?”

“Nggak apa-apa Za, hanya bahagia saja melihat mereka.” Jawabku menyimpulkan pertanyaan-pertanyaan yang akan keluar dari bibir Za.

Saat di rumah, aku menulis di blog…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Esoknya,,

Ketika aku di sekolah, Mey dan Za ngomongin sesuatu. Entahlah. Hingga aku duduk di samping Alfa, Mey menghampiriku.

“Fa, maafkan aku! Aku nggak tau kalau kamu sakit.”

Aku bingung, “Maksudnya??”

“Kemarin aku dan Alfa ke warnet, dan nggak sengaja pengen liat blog kamu untuk dipelajari, ternyata kami baca post kamu.”

Aku menoleh ke Alfa dan Mey bergantian.

“Maaf, kalau aku ganggu, beneran nggak ada maksud apa-apa. Hanya isi hati doang.”

Alfa memegang tanganku, “Cukup Fa, maafkan aku! Harusnya aku tau semua pengorbananmu selama ini, perjuangan yang kamu lakukan demi aku. Saat aku sakit, saat aku sedih. Maafkan aku!”

Aku melihat air mata Mey dan Za mengalir begitu juga Alfa.

“Aku dan Alfa sudah memutuskan, kami berhenti di sini. Kamu, sebagai sahabatku meskipun luka namun masih saja memikirkan perasaanku. Akupun ingin membalasnya. Al!”

Mey memberi sebuah isyarat pada Alfa, dan semerta-merta Alfa mengungkapkan rasanya. “Fa, sekali lagi aku minta maaf. Membuat luka yang amat pedih di hatimu. Harusnya aku tau, kamulah yang selalu ada saat aku butuh. Kamulah yang selalu membuatku tegar menghadapi tiap masalah. Masihkah hatimu terbuka untukku?”

Mey dan Za menunggu jawabanku. “Aku…” bingung, harus gimana?? “Ya!”

“Makasih Fa, aku sayang kamu!”

 

TAMAT