Kamu


Jangan datang jika kepergian akan menjauhkanmu padaku, sebab Kebencian itu terlahir bukan karena takut kehilangan, tak lebih karena kulelah menghitung detik waktu yang siap menghabisi sederet kebersamaan ini. Kebersamaan yang ternyata tak melahirkan apa-apa kecuali kekosongan.

Rasanya aku ingin kembali menyusur jalan-jalan menuju jejak terhangat saat di mana aku dipertemukan oleh cinta. Dan semua telah kucoba, namun sia-sia. Barangkali dengan menguak sekat-sekat pelosok perkampungan aku menemukanmu kembali, atau menapaki batas-batas kota, batas gunung, batas segala batas sekumpulan awan yang berada di atas kepalaku, melintasi laut-laut dan samudera raya, menelisik kembali lorong-lorong tua yang lampau, hingga akhirnya, hari ini, dalam rintik hujan kian melebat, Aku merasa lelah, lusuh dan tak berdaya, tersungkur pilu di atas remuk puing kerinduan yang terasa hambar. Tak ada lagi jalan setapak yang melingkar-lingkar memaniskan riak hidupku, kala berlari-lari kecil wujudkan merdekanya dunia kanak-kanak. Tak ada! Tak ada lagi bukti kenang-kenangan itu. Sepi segala harapan.

Dan kini kumengerti paradoks tercantik itu bukanlah dirimu!!