Mengingatmu


Tidak ada lagi pengharapan yang kulihat di batas langit merah itu, sekali lagi tidak! Sebab tubuhku masih menikmati sisa lelah. Aku mencoba bersandar di tembok mimpi serapah, namun keresahan itu semakin nyata. Ingatkah kau? Lima tahun silam, saat kelopak bunga tiba-tiba bermekaran di pelataran bumi yang kupijak? Ya, tentu itu karena kau pernah memasuki ruang paling istimewa dalam hatiku, di mana tak ada satupun yang berhasil singgah dan membuatku merasakan ketenangan. Tangan-tangan lembutmu menawarkan padaku sebuah pengharapan akan indahnya cinta. Tetapi tidak, kau lebih memilih untuk mengakhiri cerita di antara kita. Mungkin seharusnya sampai saat ini kau masih tetap berada pada beranda cinta yang kita buat, namun takdir ini begitu memaksa kita untuk melepas segala kehangatan yang ada. Ada apa denganku? Dan mesti bagaimana lagi kunyatakan perasaan yang telah lama tertinggal di sana–di kotamu saat airmataku seperti gemercik hujan. Kau harus tahu, bahwa airmata itu simbol perpisahan di antara kita, di mana kulepas genggaman erat tanganmu. Sebenarnya aku lelah menunggumu. Apakah kau memahamiku di sini, disepanjang hari-hariku, disepanjang nafasku, atau disepanjang warna senja yang pernah kita lukis dengan ceria. Sungguh, kita tak mampu merubah apa-apa, sekali lagi kita hanya diperkenankan menjadi tamu, bukan pemilik kehidupan dan cinta ini. Mungkin kau tak tahu, sudah begitu banyak tulisan-tulisanku tentangmu, bahkan terlalu banyak kalimat doa yang kutuangkan dalam diary. Aku berharap kau bahagia, walau menjalani kisah itu dengan yang lain, bukan denganku. Percayalah, aku tak pernah membenci setiap keputusanmu, sebab aku mengerti, bahwa perjalanan cinta yang pernah kita rajut, hanya simbol ketidakabadian…….