Mengingatmu


Kenapa kita harus seperti ini, bermain-main dengan kejujuran. Tentang bagaimana perasaan itu kian menjelma menjadi bongkahan dusta. Kau memang ada, sekaligus tiada. Kau selalu berusaha meyakinkan hatiku, kau berusaha memeluk keragu-raguanku, meski tak penah kujumpai kehangatan di sana, di hatimu dan seluruh napasmu, walau berulangkali kau ucap itu atas nama cinta, namun nyatanya hanya ada pisau belati yang menawarkan darah. Sebab pada akhirnya kau benar-benar lenyap, lalu meninggalkan luka menganga..

(Langga Gustanto)