Mengingatmu


Jiwaku seperti melayang tak berdaya—ketika harus memutar ulang memori cinta diantara kita—karena aku harus berusaha mengumpulkan keping kenangan yang masih utuh dalam ingatan, yang kemudian kujabarkan dalam barisan tulisan-tulisanku ini. Tak tahu, sudah berapa purnama kulewatkan dengan kehampaan dan airmata kehilangan. Kau pasti mengerti—bahwa purnama itu saksi atas kerinduan kita. Kerinduan yang begitu menggebu-gebu, yang selalu kita lepaskan saat bentuknya semakin jelas–tak terhalang sedikit pun oleh awan.

Sebenarnya aku tak kuat untuk melanjutkan tekadku—untuk mengabadikan sejarah cinta kita dalam setiap gores tulisan ini. Ada bayang-bayang hitam pekat menghampiriku. Ia seperti membangunkan ruhku yang terluka di masa lampau. Seandainya saja garis takdir cinta kita bersahabat. Pasti, kau dan aku sudah berada pada singgasana kebahagiaan yang telah lama kita nanti bersama. Tetapi, harus dengan apa agar aku bisa membuatmu mengerti—cintaku telah kau hempaskan begitu saja, seperti butiran pasir yang terombang-ambing saat debur ombak merampas ketenangannya. (Cuplikan Novel ‘Melepasmu Dengan Senyum–Karya Langga Gustanto)