Mengingatmu


Lihatlah sayup mataku ini, kau masih akan menemui redup cinta kita–cinta yang pernah kita miliki bersama, namun kandas jua. Hey, apa kabarmu setelah lama menghilang begitu saja? Kau lupa bagaimana dulu memulai perjalanan itu bersamaku, prosesnya seperti tengah memetik bunga melati lalu mencium harumnya. Namun, kini aku seperti dipaksa memecah sebuah misteri, di mana kepergianmu bak ruh yang dicabut dari raganya. Di ujung sana, atau di sudut kota-kota tua tempat kita bercengkrama dengan hangat, semua tak lagi bernyawa!

Namun semua ini tentangmu, tak ada lagi kisah yang melekat di penjuru sarafku–saat darah nyaris tercecer dan hampir menggantikan bercak ingatan, satu-satunya hal yang tersisa adalah cinta. Tentu bukan sembarang cinta. Cintaku penuh kerinduan, lembut nun bijak.

Suatu saat nanti, ketika tak ada lagi bising takdir yang mengancamku, menakut-nakutiku akan agungnya sebuah perpisahan, aku akan datang menemuimu dengan cinta–cinta yang sampai saat ini kusimpan dengan rapi. Percayalah, tidak akan ada yang mampu menghapus ruh cinta itu selain ‘Kematian’

(Langga Gustanto)