(copas) Ayah,


Pernahkah kalian bertanya tentang ini pada Ayah?

Tentang apa saja mimpi-mimpinya,

apa saja yang membuatnya kecewa, bahagia?

Dan membuatnya tak enggan bekerja keras dari pagi hingga senja.

Kemudian malam harinya ia bagikan seluruh cintanya ke segala penjuru rumah,

bahkan menggaung hingga langit-langit rumah.

Tentu saja, cintanya sebesar cinta ibu, bahkan mungkin terlalu besar hingga tak tampak di seluruh penjuru Bumi.

Ia bagikan seluruh cinta pada anak-anaknya

Ia titipkan seluruh pengetahuannya

Ia selipkan seluruh doanya pada Tuhan di sepertiga malam

Kemudian ia simpan cinta itu di atas bantal tidur anak-anaknya

Membiarkannya menjadi mimpi paling indah yang akan terjadi di masa depan

Pernahkah kalian melihat peluh mengucur dari dahinya ketika menunggumu kembali ke rumah?

Atau melihat wajahnya tampak cemburu ketika teman lelakimu datang ke rumah?

Atau menangkap isyarat kecewa dan khawatir ketika lekuk tubuhmu diumbar?

Atau pernahkah kalian mendengar hasrat kalbunya,

untuk menjadikanmu gadis tegar, meski kini tubuh Ayah rapuh termakan usia?

Atau pernahkah melihatnya tersenyum tulus dan terselip bangga,

ketika melihatmu tumbuh menjadi gadis yang cita-citanya mengangkasa menjadi tentara-Nya yang tangguh?

Bagaimana pun kita, Ayah selalu berkata, “Dialah anakku.”

Pesanku (cambuk bagiku juga),

Berusahalah untuk tak mengecewakannya

Belajarlah untuk tak menggadaikan pengorbanan dan cintanya

Sebab bagaimana pun, Ayah adalah sosok yang serta-merta berdiri paling depan membahagiakanmu

Ayah adalah lelaki yang paling keras kepala menghadiahkanmu sekeping bahagia

Maka belajarlah mencintainya dengan segenap rasa

Sempatkanlah menitipkan doa-doa agar Alloh selalu menjaga diri dan cintanya, sampai tiba masanya

Masa dimana Ayah tak lagi mengenal anaknya, pun sebaliknya