Kabar Rinduku


Hari ini, saat saraf lidahku membeku, mulutku terkunci, atau saat mataku tampak sayup dan semakin lebam karena airmata yang menetes–membasahi lesung pipi merahku. Saat itulah aku sadar, bahwa kau memang sudah benar-benar pergi dari kejaran rinduku. Bagiku seperti gerimis hujan, kedatangannya tidak terlalu deras, sebab hanya ada air kecil berkejaran–ia terus berlari menembus setiap rindangnya dedaunan. Begitulah aku dan rinduku di sini, rindu akan sosokmu yang kini sebatas halusinasi.

Saat aku mengerti rasa sakit kehilangan, dan mencoba merobek setiap batas lembaran sunyi hidupku, saat itu pula aku sudah tidak berdaya mengumpulkan sisa keyakinanku–keyakinan mengharapkanmu kembali kepangkuan cinta kita. Aku tahu, melupakanmu memang hal yang begitu sulit dan mustahil kulakukan. Bahkan, selama ini pun aku selalu menyembunyikan raut wajah cemas dan rasa takut kehilanganmu. Dulu, aku tidak ingin kau menilaiku terlalu rapuh, akan tetapi, saat jendela waktu ini membuka mataku sedemikian lebar, memerlihatkanku kuasa takdir yang begitu kuat. Dan aku kalah kali ini demi melihatmu bahagia bersama yang lain.

Sebenarnya, banyak hal di dunia ini yang sulit kumengerti. Tuhan terlalu cepat membuatku menilai rasa manis dan pahit, bahagia dan terluka, hitam dan putih, atau bahkan ketulusan dan kebencian. Pikirku, dengan mencintaimu seutuhnya adalah caraku mendapatkan kebahagiaan, layaknya sang pelangi yang tengah asik merayakan kemenangannya saat rinai hujan mulai reda, tentu karena ia akan semakin dekat menuju akhir keindahan penciptaannya. Tapi tidak denganku, juga dengan nasib cinta yang kuperjuangkan selama ini.

Mungkin saja aku bukan sosok laki-laki terbaik untukmu. Aku sering lelah, ingin berhenti, bahkan nyaris menyerah. Saat kegusaran diri membuatmu kehilangan arah untuk menemukan sebuah persinggahan cinta. Kumohon maafkan salahku, sebab kesedihan dan kecewamu lahir karena ketidakmampuanku memahami cinta, juga dirimu kala itu.

(Langga Gustanto_Kabar Rinduku)