Dear: Ayahku yang luarbiasa


Ayah, semusim telah berlalu, namun kebimbangan hati ini seolah masih saja memotong keceriaan kita, di lorong-lorong sepi dan kosong, disepeninggalan jejak kita yang telah lama berpendar, bagai lampu pijar taman kota yang segera padam saat fajar datang menjelang. Kutahu, kini senyummu mengering di sana. Tapi Ayah, izinkan kubahagiakan dirimu, menyapu setiap tetes pilu airmata bercampur darah di jejak yang terlelah. Setelah itu, biarkan ingatan di masa lampau kita menyatu lagi–menyatu menuju bilik kerinduanku, juga kerinduanmu, atau biarkan rindu ini terbebas–sebebas-bebasnya saat di mana aku ingin selalu berada di dekatmu, memanggil namamu dengan mudah, nama yang begitu lembut pada indera pendengaranku, agar aku dapat menghapus keragu-raguan pada ranting beku di hati yang telah lama tersiksa. Sebab kau tak akan bisa lagi menemaniku sepanjang waktu.

Ayah, sekali lagi ingin kukatakan padamu–bahwa aku sangat ingin membahagiakanmu tanpa batas. Meskipun aku masih terseret pada lingkar api mimpi dan hidup yang sekeras ini. Kau tetap mengulur hatimu Ayah, bahkan memegang erat kedua tanganku yang terkoyak agar kembali memanjat bukit kehidupan. Ayah yang terkasih, hanya dengan mengingat namamu, hasratku kembali memuncak, meski khilaf dan salahku selalu menguras habis kepercayaanmu. Namun Aku berjanji untuk menjadi yang terbaik di matamu.

Ayah, aku mencintaimu dalam selarik puisi dan airmata doa-doaku disetiap malam–yang menjelang waktu fajar. Ayah, ajarkan kepadaku sekali lagi mengeja makna hidup ini, agar saat aku berada pada pengasingan mampu menjadi anak lelakimu yang paling kuat, paling bijak, atau lepaskan kesedihanmu–saat aku tak mampu menjadi seperti yang kau inginkan.

Ayah, kerinduanku untuk membahagiakanmu selalu saja berserakan. Entah, perjalananku masih berada pada titik kegamangan. Tapi kubiarkan ia tetap berada di sana, di atas mimpi terindah seorang anak, sekalipun cintaku tetap utuh padamu. Maafkan aku sekali lagi, jika tak sanggup menjadi seperti yang engkau harapkan. Mencintaimu adalah bahagiaku, bahagia yang tak terbilang. Doakan anakmu untuk selalu berada di jalan yang benar, agar saat tak ada lagi kehidupan di dunia ini, aku mampu menjadi amal sholeh yang membalas setiap jasa yang tak terbantahkan.

Ayah, maafkan aku! Doaku selalu menyertaimu….

(Surat di lorong yang sunyi, Langga Gustanto, 30 April 2013)