‘DAN AKU SEPERTI MAJNUN PADA KISAH LAMPAU’


Duhai yang terkasih, aku berharap pada ranting mimpi yang tumbuh subur di kepalaku, sebagaimana kubiarkan cinta ini terus mengalir untukmu, seperti musim yang menjadikan mawar terlihat mekar. Hanya dirimu yang selalu menggenapkan malamku, saat sepi berubah seperti simbol-simbol misteri yang sulit dipecahkan. Aku mengerti, bahwa cinta yang kita genggam ini tidaklah mudah, cinta yang tidak dibuat-buat, cinta yang seperti sekumpulan keping puzzle, dan meminta kita untuk menyelesaikannya sebaikmungkin, sebab ia menguji kita pada sebuah kesetiaan yang panjang.

Wahai pemilik wajah yang berseri, kita tidak tahu—seberapa lama mampu bertahan atas nama cinta. Kau dan senyummu memintaku untuk berada pada bilik kegusaran, menggetarkan seluruh isi dada, bahkan disetiap kesempatan—kau berhasil membuatku menjadi pecandu rindu.

Hari ini kita berkisah tentang kehidupan di masa yang akan datang, lalu menjadi saksi atas sederet kebahagiaan maupun kegagalan. Sejujurnya aku lebih bahagia mencintaimu sepanjang hayat, dan menginginkan kau selalu berada pada sisi yang sama. Duhai pemilik bibir yang indah, aku adalah debu yang kerap menempel pada jejak-jejak kerumitan. Akulah si miskin yang datang di hadapanmu dengan setitik airmata. Airmata keinginan untuk menjadikanmu permaisuri hatiku yang utuh. Jangan pernah tertipu dengan jerit tangisku, sebab tidak semua tangisan mengharap iba.

Dan aku seperti majnun yang telah dikisahkan di masa lampau, seseorang yang ditakdirkan untuk mencintai Layla semata sepanjang usia. Hingga pada akhirnya, aku sendiri yang menghakimi hidupku, hidup penuh derita serta kepungan lara. Tiada hal yang lebih berbahagia selain mencintaimu, mendoakan kebahagiaanmu, dan berucap ikrar sehidup semati denganmu. Sungguh, aku mabuk dengan secawan madu cinta yang kau hidangkan saat awal perjumpaan.

Duhai asmara, cerita ini baru saja dimulai, aku berharap tidak akan pernah lagi berjumpa dengan tombak kegagalan dan panah kekecewaan. Semoga kau menjadi kisah yang terindah sepanjang hayat…

By Langga Gustanto,
Cikarang, Agustus 2013