11 Desember 2012


Melupakanmu memang hal yang begitu sulit dan mustahil kulakukan. Sejak itu, kecemasan dan rasa gelisahku mulai mencuat, ia semakin berlari di puncak pikiranku. Sungguh, bukan perkara mudah untuk melupakanmu dalam sekejap mata. Bahkan dia, mereka, atau siapa pun yang menentang hubungan kita tak pernah mampu meraba, melihat, bahkan empati terhadap kedalaman cinta yang kita bangun sejak awal pertemuan di Kota tua itu.

Mungkin saja, saat mulutku tertutup rapat dan sulit bicara. Saat itulah, airmataku tertumpahkan, ini bukan kecengengan dan kebodohanku meratapi nasib, namun hanya sekedar menjelaskan setiap punuk masalah. Untuk apa menjadi pribadi orang lain dan membohongi setiap orang yang tidak suka denganku, karena aku adalah aku, seorang laki-laki sederhana yang ingin mencintaimu tanpa batas, laki-laki biasa yang ingin menyayangimu sepanjang hayat, lalu membahagiakanmu dengan segala kelebihan dan kekurangan.

Terkadang banyak hal di dunia ini yang sulit kumengerti, terutama tentang setiap perasaan yang datang, tetapi saat bertemu denganmu waktu itu, aku banyak mendapatkan fajar pemahaman akan arti pengorbanan dan kesetiaan, rasa bahagia yang luarbiasa, meski saat ini apa yang kita rasakan harus berakhir dan mau tidak mau, kita harus merelakannya.

Ketahuilah, saat ini, aku hanya ingin percaya, bahwa suatu hari nanti rasa sakit ini akan hilang dari hidupku, sekalipun akan kulewati senjaku tanpamu, juga cinta kita.

(Langga Gustanto)