09 Desember 2012


Dan aku bukanlah sosok laki-laki terbaik untukmu. Aku sering lelah, ingin berhenti, bahkan nyaris menyerah. Mulai hari ini, bahkan saat kau mulai kehilangan setengah keyakinan tentang cinta. Kumohon maafkan ketidakpahamanku, dan lepaskan semua kebencianmu pada sikapku.

Sudah berapa lama kau menghilang dari sergapan rinduku, bahkan berulangkali kusebut namamu di batas alam mimpi, tetapi bagiku sulit, kau tak lagi menjadi bayang nyata dalam hadirku. Lebih parahnya lagi, kau membuatku semakin pongah, sehingga disetiap persimpangan jalanku ditumbuhi serabut gelisah, dan kau paksa aku menyebrangi sungai airmata. Sekalipun kumemohon kau untuk kembali, telingamu sudah tertutup, bahkan nuranimu terkunci. Harus berapa gelas air cinta yang pecah tanpa rasa bersalah?

(Langga Gustanto, 09 Desember 2012)