Kisah Nyata: Bayiku Meninggal Dan Aku Tidur di Sisinya Selama 3 Hari


(c) dailymail.co.uk

Vemale.com – Carrie Curtis tak pernah menyesali keputusannya untuk memelihara janinnya selama ini. Ia sudah disarankan oleh para petugas medis untuk menggugurkan bayinya dikarenakan sang bayi mengalami Potter Syndrome yang menyebabkan masalah pada pembentukan ginjalnya.

Hampir setiap minggu saat ia mengandung, ia diminta untuk segera menggugurkan bayinya. Namun ia menolak karena masih melihat degupan jantung yang kuat dari calon bayinya. “Aku ingin memberinya kesempatan untuk hidup sebisa mungkin,” ujar Curtis yang masih berusia 20 tahun ini.

“Aku tahu kesempatannya untuk bertahan mungkin hampir nihil, namun selama dia masih memiliki degupan jantung, aku tak akan mengubah keputusanku (untuk tidak aborsi) – tak peduli berapa kali dokter memintaku melakukannya,” ujarnya lagi.

 

(c) magic828.co.uk(c) magic828.co.uk

 

Semangat sebagai seorang ibu yang dimiliki Carrie membawanya pada hari hingga akhirnya dipertemukan bersama sang anak. Carrie Curtis akhirnya melahirkan putranya yang bernama Charlie secara normal. Segera setelah saat itu, Charlie dibawa ke inkubator. Namun karena tak ia lahir tanpa paru-paru, tak banyak yang bisa dilakukan. 19 menit merasakan dunia, Charlie pun meninggal dunia.

“Mereka membalutnya dengan kain handuk dan membiarkanku memeluknya. Charlie membuka matanya dan melihat ke arahku yang akan menjadi kenangan tak terlupakan bagiku,” kata Carrie.

Sebagai seorang ibu, Carrie tak pernah mendengar Charlie menangis, namun selama 3 hari, ia menikmati berada di sisi bayinya. “Aku diperbolehkan memeluknya dan bersamanya selama yang aku inginkan. Awalnya begitu berat karena aku berharap matanya akan terbuka. Namun semakin lama aku di sisinya, terasa sangat nyaman bagiku.”

Sindrom Potter adalah sebuah penyakit yang menyerang 30.000 bayi yang ada di dunia. Penyakit ini mempengaruhi pembentukan ginjal yang penting untuk produksi cairan amniotic dalam janin. Kondisi ini bisa menyebabkan banyak hal seperti mengganggu pertumbuhan dan pergerakan bayi, mengganggu pertumbuhan paru-paru bayi dan janin.

 

(c) dailymail.co.uk(c) dailymail.co.uk

 

Dalam beberapa kasus, bayi-bayi sempat dilahirkan, namun dengan resiko kematian yang sangat tinggi. Bisa jadi karena gagal nafas setelah satu sampai dua hari dilahirkan.

Kehilangan bayi pertama bagi seorang ibu tentu menjadi hal yang sangat menyakitkan. Namun kini Carrie mencoba melakukan hal positif untuk mengenang putranya, yaitu dengan membuat program amal bernama Charlie’s Angel untuk mereka yang mengalami hal serupa dengan yang terjadi pada Charlie. Semoga dengan melakukan hal ini, Carrie bisa menjadikan pengalamannya sebagai inspirasi bagi banyak ibu muda.