Untuk Dia…


Ketika tersudut lentera hati tuk mengakui
Ada banyak kata yang tak terbaca
Hanya melambai lewat deru putik para bunga
Menyelaraskan kelu hitam tanpa dendang
Mengabaikan apa yang termaktub dalam kuncian dada
Seiring, seberkas pelepah sunyi atas terpaan malam
Menolak tuk berkata “Ya” dan mengemas ulang gejolak rasa
Ku akui, sulit terperih ketika mencoba bunuh diri
Tapi melukai, adalah pilihan terakhir yang ku tilik
Terlalu takut, ragu, dan lusuh
Kemana arah hati menjarah?
Ketika belaian cinta tiba-tiba menyesap lubang nganga
Dan aku tak ingin siapapun, akupun menerimanya
Aku anggap itu biasa…

Tapi tidak,
Nyaman itu menelusup lewat senyuman
Dia…
Menumbuhkan riuh,

Menurutmu, harus seperti apakah aku?
Terus terang?
Atau cukup memujanya dari kalbu?

 

*Nb :
Untuk yang seseorang ‘yang tak tahu apa yang harus terlupakan atau dilakukan’.
Semoga kamu yang disana mampu mengungkap apa yang patut tuk diungkap!