Masa Dulu yang Layu


Tentang kita yang harusnya tak pernah terjadi. Mengingat segala tentangmu, aku luruh. Bukankah begitu kisah kita? Aku yang selalu harus mengerti tentangmu namun kebalikannya aku selalu kau bunuh dengan caramu. Keegoisan kita sama-sama membuat keruh hubungan ini. Kau ke sana ke mari bercerita renggangnya kisah kita, hingga akulah yang diadili. Langit, bumi, air, gunung, angin dan mentari, kau bilang pada mereka bahwa ketika pertengkaran begitu banyak tersandang di hari-hari kita. Saat bersua hanya terselip harapan raga, namun nyatanya terisi diam tak bernyawa. Taukah saying? Aku bertahan demi satu tujuan. Masa depan!

Namun pertahanan dalam kasih sayang hanya tercuap dalam santunan yang tak bisa terelakkan. Dalam satu tahun, 365 hari hampir 65 hari tersisa untuk saling senyum, saling sapa dan saling cinta. Mengertikah selama 300 hari yang lainnya? RANGKAP. Rangkap lukaku, rangkap sedihku, rangkap pula lamun dalam sesalku. Tak sadarkah? Aku ragu. Ya! Aku kini ragu atas lakuku. Andai kau mau tahu rasa yang telah berlabuh, mungkin kisah ini tak akan berakhir keluh.

Aku tak tahu pasti, akankah aku terus berharap padamu karena tak mungkin aku berkelebat dalam kelabu. Kebimbangan inilah yang akhirnya membuatku jatuh pada altar hati yang lain. Dari dulu nuansa hatiku masih sama, sayang dalam remang. Namun kini bukan padamu. Kini lain dan beda. Ada dirinya dalam daftar hatiku yang harusnya di sana hanya ada satu daftar. Ku teliti,  di sana, di hatiku ada dua jiwa yang melesat mengarungi belahan rasa. Dirinya yang mencoba menutup luka-luka karenamu, membersihkan kepingan hati yang telah kaku. Aku tak bermaksud, aku tak pernah mencari cinta yang lain dalam kesembaban hidup ini. Namun dia datang tidaklah untuk memenuhi panggilanku. Mungkin takdir atau entahlah itu aku tak tahu. Yang ku tahu hanya dia adalah malaikat kecilku yang senantiasa membantuku berjalan lagi di pelataran hari yang tak pasti. Maafkan aku! Aku mencintainya…

Iklan