Gereja Inggris Berbagi Tempat Ibadah dengan Umat Muslim


“Kepercayaan berbeda bukan berarti kita terpisah sebagai manusia.”

Aula Gereja Episkopal Saint John yang dipakai umat Muslim di Inggris (Dailymail)

VIVAnews – Sebuah gereja di Aberdeen menjadi gereja pertama di Inggris yang bersedia berbagi tempat ibadah dengan umat Muslim. Gereja Episkopal Saint John mempersilakan umat Muslim setempat untuk menunaikan salat lima waktu di salah satu gedung gereja yang terletak dekat dengan masjid.

 

Pendeta Isaac Poobalan (50), selaku kepala gereja itu telah menyerahkan aula gerejanya kepada Imam Kepala Ahmed Megharbi untuk dapat digunakan sebagai tempat salat. Imam Megharbi pun lalu salat di situ

 

Dilansir laman Dailymail, Senin 18 Maret 2013, Pendeta Poobalan mengungkapkan tindakan ini dia lakukan karena ukuran masjid di situ terlalu kecil sehingga tidak dapat menampung umat Muslim setempat yang datang beribadah.

 

“Masjid itu selalu sangat penuh di beberapa kesempatan. Ada banyak orang yang berdoa sambil diterpa angin dingin dan hujan,” ujarnya.

 

Melihat kondisi itu, Poobalan merasa turut prihatin. Dia berpikir apabila tidak berbuat sesuatu untuk membantu, artinya dia sama saja tidak menjalankan keyakinannya dengan benar.

 

“Ada banyak umat Muslim yang salat di luar ketika salju turun pertama kali di musim dingin dan itu pemandangan yang sulit sekali untuk diabaikan,” katanya.

 

Tergerak ingin menolong, Pooblan kemudian melihat ada satu gedung milik gereja yang tidak dipakai saat makan siang di hari Jumat. Dia merasa itu pas karena pada hari itu banyak umat Muslim datang untuk salat Jumat.

 

Pooblan lalu mengajak umat Kristiani untuk bersedia membantu dan meminjamkan gedung tersebut. Setelah itu, dia berkomunikasi dengan imam masjid. Awalnya, terdapat keraguan di kalangan umat muslim terhadap tawaran itu, karena peristiwa seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya.

 

“Tapi akhirnya mereka menerima tawaran kami dan ini merupakan persahabatan yang positif,” ujar Pooblan, lega.

 

Dia mengatakan apa yang dilakukannya adalah sesuatu yang biasa saja dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan agama.

 

“Ini semua didasarkan pada hakikat manusia. Memiliki kepercayaan yang berbeda bukan berarti memisahkan kita sebagai manusia,” dia menegaskan.

Hubungan erat antar kedua umat beragama ini juga dipandang positif oleh Megharbi. Dia memaparkan hubungan antara umat Muslim dan Kristiani di wilayah itu sangat harmonis. “Hubungan ini merupakan persahabatan dan dibangun di atas rasa hormat,” ujarnya.

 

Ini bukan kali pertama kedua umat saling berbagi. Pada malam Natal 2010, kedua umat beragama membuka pintu gereja dan masjid untuk berdoa, makan bersama, dan bersosialisasi. Sedangkan di tahun 2011, gereja dan masjid bekerjasama menggelar perayaan memperingati 10 tahun tragedi serangan 11 September ke AS. (kd)

 

===

Partikel Tuhan Bisa Tentukan Hari Kiamat?

Konon, Higgs Boson bisa meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan

VIVAnews – Banyak peneliti yang mengungkapkan bahwa partikel Higgs Boson, atau sering disebut dengan istilah “Partikel Tuhan,” yang dicetuskan oleh Peter Higgs, sangat sulit untuk dibuktikan dan dipahami.

Tapi, baru-baru ini laboratorium CERN yang berisikan fisikawan dari Large Hadron Collider (LHC) telah menemukan titik terang keberadaan Higgs Boson. Penemuan ini telah melengkapi keberadaan model partikel standar fisika yang bisa memprediksi akhir dari alam semesta.

Penemuan itu telah dipaparkan oleh para peneliti pada tanggal 14 Maret 2013 silam, di konferensi tahunan Rencontres, Italia.

 

Sebelumnya, pada 4 Juli 2012 lalu, para fisikawan dari CMS dan ATLAS juga pernah menemukan partikel elementer baru yang beratnya mencapai 126 kali massa proton. Kemungkinan partikel itu adalah Higgs Boson yang tengah dicari-cari.

 

Namun, dari dua eksperimen yang dilakukan CMS dan ATLAs tersebut belum memperoleh data yang cukup kuat untuk memastikan bahwa partikel itu adalah Higgs Boson.

 

Fisikawan dari LHC mengungkapkan, bahwa partikel proton zip yang mendekati kecepatan cahaya dengan panjang sekitar 27 kilometer di bawah cincin tanah Swiss dan Perancis itu adalah Partikel Tuhan.

 

“Temuan pada pertengahan tahun lalu itu adalah data lengkap untuk berhadapan dengan Higgs Boson. Sehingga, kita memiliki titik cerah untuk mengetahui apa jenis dari Higgs Boson,” kata Joe Incandela, Jurubicara CMS, dilansir The Christian Science Monitor, 18 Maret 2013.

 

Sementara Dave Charlton, Jurubicara ATLAS, menyetujui hasil baru itu. “Partikel baru itu memiliki kesamaan putaran dan paritas dengan Higgs Boson dalam sebuah model standar. Itu mengacu pada kuantum partikel elementer,” ujarnya.

 

Untuk mengkonfirmasi bahwa partikel baru itu adalah Higgs Boson, para fisikawan mengkoleksi data-data untuk mengungkapkan sifat suatu kuantum dan mempelajari bagaimana ia berinteraksi dengan partikel lain.

 

Misalnya, Partikel Tuhan seharusnya tidak memiliki putaran dan paritas, serta bagaimana bayangannya berperilaku. Dua data itu sudah diuji coba oleh ATLAS dan CMS.

 

Dari data Higgs Boson yang sudah ditemukan, para fisikawan mengatakan bahwa partikel itu bisa mengetahui apa yang akan terjadi dengan alam semesta di masa depan. Higgs Boson adalah bagian penting dari perhitungan untuk menandakan masa depan ruang dan waktu.

 

“Perhitungan yang didapat dari Higgs Boson akan dapat memberitahu apakah miliaran tahun dari sekarang akan ada bencana besar di alam semesta. Mungkin saja itu akan menjadi akhir dari alam semesta,” kata Joseph Lykken, ahli fisika teoritis dari Fermi National Accelerator Laboratory di Batavia, Illinois, Amerika serikat.

Iklan