Cerpenku -Titah Perlahan


Titah Perlahan

            Berdiri di titik-titik basah di antara karang yang berasap buih, gadis itu tetap bergeming. Terus menatap ke tengah lautan. Basah dari air lautan menyembur-nyembur kakinya malah membuat gadis itu berdiri kokoh. Apapun yang melaluinya, apapun yang menerjang, gadis itu masih berdiri.

            ‘Andai saja waktu memberi sedikit saja kecupannya, semua tak akan berakhir sepahit ini. Aku yakin, semuanya akan berbeda, akan baik-baik saja. Andai saja.’

            Kini derasnya ombak atau kuatnya arus yang menyibak-nyibak tubuh gadis itu tidaklah terasa. Adalah air matanya yang mengalir drastis dari kelopak indah yang sedari tadi hanya berkaca-kaca. Tanpa perintah, tanpa kemauan, tanpa arah dan tanpa tujuan, gadis itu perlahan berjalan ke arah ombak. Entah apa yang dipikirkan, entah apa yang sedang menjulang di sisi hatinya. Ia hanya berharap semua ini cepat selesai.

            Tapi, tiba-tiba saja sebuah tangan menghempaskan gadis itu dari sengatan ombak. Menjauh…

***

     “Ayah bunda harusnya paham maksud Za. Za nggak mau di tempat itu dan Za pengennya kuliah.” Percakapan di ruang tengah tiba-tiba saja berubah menjadi menegangkan. Yang awalnya obrolan bisaa sebuah keluarga, kini benar-benar jadi menyesakkan. Dan itu berawal dari sang ayah.

     “Sayang, dari empat kakak-kakakmu, semuanya masuk pondok dan itu sampai lulus, diwisuda. Kenapa Za nggak mau? Alasan Za nggak jelas tahu nggak?” sang ayah mulai ikut emosi. Ya, Zatus – panggil aja Za – adalah anak terakhir dari lima bersaudara.  Za adalah cewek satu-satunya, keempat kakaknya bergender cowok. Yang kesemuanya sudah menempuh pesantren selama kurang lebih sepuluh tahunan.

     “Lagian ya Za, mondok kamu itu tinggal dua tahun. Berat amat sih?” Wira, kakak kedua Za ikut nyeletuk. Bunda Za sedari tadi hanya diam melihat pertentangan itu, hingga akhirnya ia ikut bicara.

     “Kalau Bunda boleh bicara, Bunda cuman mau mengusulkan kuliah Za ditunda dua tahun lagi aja. Beastudi kan nggak tahun ini aja kan? Iya kan Di?” Bunda bertanya pada Ardi, putra sulung yang notabene adalah seorang dosen di salah satu universitas di Jogjakarta.

     “Iya Za, cuman dua tahun loh. Nanti kak Ardi coba carikan beastudi buat kamu di UGM. Kakak yang ngurusin semuanya dan kamu tinggal terima jadwal aja. Gimana?” Zatus hanya menunduk menatap tajam kedua tangannya yang bergandengan di atas pahanya. Matanya mulai berkaca-kaca, panas. Ia meremas-remas tangannya sendiri. Sedang yang lainnya menunggu respon dari Zatus. Hening yang cukup lama menggenang di ruang keluarga itu. Sampai akhirnya Zatus membuka suara.

     “Kenapa nggak ada yang ngerti Za? Kenapa?” Air mata yang sedari tadi beku di kelopak matanya, kini sudak tidak bisa ditahan lagi. Beku itu meleleh dan panas itu menguap. Butiran-butiran permata hati mulai runtuh dan tidak bisa dipertahankan lagi. Isak yang menyesakkan dada Zatus.

     “Sayang, bukan kami nggak ngerti kemauan Za. Tinggal dua tahun lagi Za lulus pondok, terus diwisuda, terus kuliah seperti yang Za pengen.” Bunda bertutur halus. Mendekati putri bungsunya yang masih terisak. “Ayah, bunda dan kakak-kakak kamu itu sayang banget ke Zatus. Kan sia-sia jadinya mondok empat tahun kemaren. Kami pengennya ilmu yang Za dapat nggak cuman ilmu dunia aja, tapi juga ilmu untuk bekal Za di akhirat nanti.” lanjut sang bunda.

     Zatus masih diam dalam isaknya. Menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Nggak semua ilmu didapat dari pondok Bun. Za membatin. Hening, sunyi itu menyeruak di ruang keluarga. Hingga akhirnya Zatus memutuskan untuk pergi ke kamarnya, menenangkan diri, sendiri. Cukup sendiri. Tak ada yang mencoba melarang atau berniat untuk menemani gadis itu. Anggota keluarga yang lain lebih memilih diam. Dan sejurus kemudian, semua kembali ke kamar masing-masing.

     Sedang Zatus, duduk di balkon kamarnya, memandang pedih ke arah bintang. Pilu. Itu yang dirasanya. Tangisnya memang sudah berhenti, emosinya juga reda. Tapi, entah hatinya…

***

            Sudah empat bulan Zatus kembali ke pondok. Namun hatinya tidak ikut kembali. Harapan untuk kuliah tahun ini masih membuncah-buncah dan begitu kuat, begitu besar. Sayangnya semua hanya menjadi luka yang nganga.

            Semangat pondoknya sekarang sudah benar-benar terkikis dari tahun-tahun yang lalu. Ia sudah tidak merasakan aura nyaman lagi berada di tempat itu. Semangat dan nyaman itu tiba-tiba pergi, pupus. Yang Ia tahu sekarang adalah menjalani hari-hari (tidak) seperti kebisaaannya. Hanya raga yang adam raga yang berjalan, raga yang menjalankan, tapi tidak dengan hatinya. Hatinya ada di sana, Jogjakarta.

            Empat bulan ini kegiatan yang Zatus jalani hanya itu-itu saja. Bangun tidur, mandi, sholat, mengaji, diniyah, makan, istirahat, diam di kamar, menulis diary, diam lagi, tidur. dan hanya itu-itu saja yang kesemuanya terasa hambar, tak nyata. Dan bulan depan adalah jadwal tamrin (ujian pondok). Yang bisaanya, jadwal itu membuat Zatus tak punya rasa lelah untuk menatap kitap selama berjam-jam. Namun sayangnya lagi, lagi dan lagi sayangnya semua berbeda dan berubah drastis. Mempeng menenteng buku ke mana-mana tanpa meraba makna. Semua terasa hambar, tak berguna.

            Hari H, tamrin Zatus benar-benar membuat para ustadzah tercengang, juga orang tua Za. Banyak dari pelajaran bertanda R dalam artian Remidi tercantum di keterangan nilai Zatus. Tapi Zatus tak mengacuhkannya. Tidak peduli. Dan hari ini Zatus diizinkan pulang.

            Dan dalam perjalanan, bukan keceriaan, bukan kebahagiaan yang bunda lihat dari si gadis. Tapi kehampaan, kekosongan tak berarti. Hening menjerat membuncah.

***

     “Kamu jarang tidur ya Za? Mata kamu kayak abis dikroyok preman. Serem banget, beneran deh.” Arga kakak ketiga Zatus yang sedari tadi menatap adik kecilnya itu, makin mengerutkan dahi. Zatus tetap bergeming, tidak merespon celetukan-celetukan kakak-kakaknya.

     “Za jarang tidur ya?” Bunda iut angkat bicara. Merasa bahwa putrinya mulai berubah dalam beberapa bulan ini. Lebih pendiam, lebih suka menyendiri, lebih sensitive dan yang jelas lebih memprihatinkan.

     “Za nggak boleh banyak pikiran! Kalau sakit gimana? Emang Za ada masalah?” Tanya sang Bunda.

     “Za nggak papa kok Bun,” Za menjawab pertanyaan bundanya dengan jawaban yang cukup singkat, jelas dan… bohong.

     “Za nggak usah bohong!” sela sang Ayah cepat. Lalu beliau meneruskan, “Ayah tahu bagaimana putri Ayah. Ayah paham betul anak-anak ayah. Dan mata Zatus bicara sebaliknya. Dan Ayah sudah tahu jawabannya.”

     “Za menjalani apa yang seharusnya Za jalani.” Zatus berkata seolah-olah itulah kewajibannya dan hanya itulah yang harus dijalani karena memang taak ada pilihan lain. Ayah Zatus menghela nafas panjang. Tapi tidak berkata apa-apa.

     “Za, kamu itu… “ belum selesai Ardi bicara, Zatus berdiri dan menatapnya.

     “Aku capek, pengen istirahat. Besok aja dilanjutin kalau masih ada waktu.” Zatus pamit dan langsung pergi ke kamarnya. Menutup dan mengunci pintu. Ini jalan yang kalian pilihkan, tapi aku yang harus melantunkan. Semua tak akan mudah. Desis Zatus dalam hati.

            Sedang di ruang keluarga, semua anggota diam dalam keheningan malam. Prihatin dan marah berkecamuk dalam otak masing-masing. Sampai malam menjelang kesunyian seutuhnya. Diam masih tercerna perih, dalam kesepian semua terasa sepi.

***

            Jadi disinilah Zatus berdiri, Parangtritis. Sepekan menghabiskan sisa-sisa emosi, bergelut dengan senja, melawan terjangan ombak, menatap sore yang lengang.

            Keputusan ayahnya masih sama. Dan meskipun berubah, Zatus sudah mengenyahkan semua minat itu. Semua sudah pupus. Baginya, hidup ini adalah ketentuan, aturan yang harus dijalaninya tanpa hati. Zatus tak ingin kembali dan ingin membuatnya berhenti karena ia lelah menatap langit yang selalu kelam.

            ‘Sayangnya, waktu tidaklah memberikan kecupannya. Tapi… masih lama.’

            Air matanya tak henti menembus pecahan ombak. Zatus berjalan menuju ombak itu. Semakin dalam, semakin ia tak merasakan hempasan angin. Dan ia tau, ia akan tenggelam. Tapi tidak seperti itu yang terjadi. Ardi menarik tubuh Zatus dari pelukan sang ombak. Membawanya menjauh dan kembali merasakan nyata kehidupan yang harus dilalui. Zatus masih bernafas. Yang Ia dapati sekarang adalah, Zatus berada dalam pelukan sang Ayah, dekapan kasih sayang.

            ‘Jika inilah yang dititahkan, baiklah aku akan tetap berjalan meski perlahan.’

 

*the end*

 

____

Neng Izma Nyzz: Gambaradalah nama pena dari Lailatul Isma Mufida lahir di Malang, 29 Mei 1995. Memiliki hobi menulis puisi sejak kecil. Menggunakan waktu senggangnya di sela aktifitas sebagai guru mengaji dan santri. Ia pun amat menyukai buku-buku seperti novel, kumpulan puisi, dll. Sehingga memicu kerja otak dan kini hampir 6 buku dipenuhinya dengan puisi. Dan lomba-lomba tingkat sederajat diikuti semenjak bakatnya mulai terlihat di MTs. Ia juga membuat cerpen-cerpen yang sering dilombakan di media internet. Dengan cita-cita menuju Australia, karya-karyanya semakin menginjak keras pada garis yang akan dilaluinya. Dengan motto : Be Better! 1 langkah untuk langkah yang lainnya.

Isma bisa ditemui di nyzza.wordpress.com E-mail: isma_nizz@ymail.com; FB: Neng Izma Nyzz