FILOSOFI “LAYANG-LAYANG”


FILOSOFI : ” LAYANG – LAYANG ”

Lihatlah sekilas benang yang lurus terpancang yang mengikatmu. Dari titik itulah kau akan memulai segalanya. Saat tangan yang memegangmu terlepas, setting keseimbanganmu akan otomatis berjalan dan tarikan demi tarikan menaikkan dirimu perlahan ke angkasa. Sebuah hal yang wajar bila kau merasa senang karena bisa terbang.

Kau akan senang karena bisa melihat luasnya dunia. Dan kini banyak orang yang melihat dirimu. Melihat keanggunan terbangmu di atas kepala mereka. Hanya saja ketika kau menjadi terkenal seringkali kau lupa diri. Lupa karena pujian dan dari mana asalmu. Dari mana kamu bermula.

Lalu Dia yang mengendalikanmu pun ingin mengujimu. Di ulurlah benang itu ketika tiupan angin bertambah besar. Kau bergoyang mundur ke belakang. Kehilangan keseimbangan. Kau segera menuntut agar uluran tali itu segera dihentikan. Agar benang itu kembali terpancang.

Kau tak kuat dengan kritikan pedas dari orang-orang yang berteriak di bawahmu. Mengolok-ngolok ketidakseimbanganmu.
Kau merasa harga dirimu akan jatuh.

Padahal uluran benang itu adalah sebuah pertanda untuk membuatmu semakin tinggi, semakin mulia. Itu jika kamu bisa mempertahankan keseimbangan saat bertarung dengan angin yang semakin kuat. Jika kau tak kuat tanpa kau sadari kau akan terbang semakin tinggi terbawa angin karena kekuatan benangmu rapuh. Kau terputus.

Dia yang memegang benangmu, yang mengendalikanmu seringkali kau persalahkan saat kau terjatuh. Atau kadang angin dan keadaan yang kau persalahkan.

Siapakah Layang – Layang itu ?
Siapakah Benang itu ?
Siapa pengendali layang – layang itu ?

Anda sudah mengerti jawabnya.

Iklan