Melati Yang Mekar Dalam Kedamaian Jiwa


Sepertinya terlihat cahaya terang dalam sudut jendela,pagi itu dalam sebuah rumah yang kumuh dan sangat sempit sekali. Dia yang di dalam mencoba untuk terbangun dari tempat tidurnya.

Pagi itu masih terdengar suara kicauan burung yang menyapa dalam damainya, matanya yang anggun mulai menampakkan kecerahan untuk semngat menjalani hidup ini. Mentaripun mulai beranjak ketengah ubun-ubun jiwa, disatu sudut rumah terlihat empat orang yang diantaranya adalah seorang perempuan barang yang tegar,lembut,cantik.Sebut saja namanya adalah Melati al-Khaerus.

Melati lahir dari keluarga yang tidak mampu,dia anak ketiga dari seorang ibu yang ditinggal mati oleh suaminya. Dua dari kakak melati adalah seoarang cacat fisik, mereka dari kecil dilahirkan dengan keadaan buta. Namun semua itu tidak menjadi alas an seorang melati untuk tetap menghidupi keluarganya,tangannya seperti besi yang tak mudah leleh oleh sengatan api yang panas dan tubuhnya yang kuat bagai gelombang air laut yang menyapu badai.

Hari yang penuh dengan kepenatan membuat dia berjalan menuju suatu tempat.yang ramai dengan suara-suara kedamaian, lalu dia masuk ketempat itu dan dia berkata “Tuhan….ini adalah jalanMU. Namun aku tak pernah lelah untuk menjalinya. Jagalah kami dengan rahmatMU.” Melati melanjutkan langkahnya menuju stasiun dengan membawa barang titipan ibunya yang akan dia jual. Entah apa yang dia pikirkan. Tak ada tempat tujuan yang pasti. Sampai akhirnya,langkahnya  menuntunnya kesebuah kota dengan membawa barang titipan ibunya yang akan dijual disana.

Perjalanan yang penuh dengan kerikil tajam tak menghentikan langkahnya. Panas matahari membuat semangatnya semakin membara. Tak gentar dia untuk tetap membawa hidup yang akan dia perjuangkan. Dipertengahan jalan dia berhenti dengan keringat penuh semangat. Ditatapnya sebuah awan yang mnggambarkan wajah orang yang amat dia cintai,IBU…..

Malam yang penuh cahaya bintang dengan kegembiraannya melati hadir dikota itu. Disebuah bangunan dia melihat seorang kakek tua yang memolotinya seraya berkata”hai anak muda! Kemarilah…dan minum air ini. Tahukah engkau dimalam ini bintang mulai tertutup awan. Suara-suara orang yang berjalan di kota ini mulai menghilang.” Melati tercengang dengan perkataan kakek itu. Dinginnya malam dihiasi dengan hembusan angin merasuk dalam tubuh. Mulai terdengar suara anjing kota yang mengaung kelaparan. Dibawah alas kardus dia merebahkan tubuhnya yang lelah.

Mimpi menjadi arah dalam tujuan hidupnya. Mencoba untuk menggapai bintang yang menjadi satu pedoman. Berangan ibu, kakak-kakak dan adiknya tersenyum dalam taman cinta yang dihiasi warna warni bunga yang mendamaikannya dan akhirnya terbangun dalam fajar pagi.

Keramaian pasar membuat ia semangat untuk menjual kain hasil tenunan keluarganya, tapi tak satupun pembeli yang datang untuk membelinya. Suaranya mulai habis, dan dia terlihat lemas karena lapar menyertai dalam perjalanannya.

Tapi dalam tepi pasar kota tersebut dia melihat seorang kakek tua yang dia temui tadi malam. Kakek tua tersebut melambaiakan tangannya dan berkata “ apakah kau lapar anak mudah, cepatlah kemari…aku punya makanan”. Dan melati pun menhampiri kakek tersebut.

Berdiri dalam panasnya kota dan sebungkus nasi menjadi teman untuk menghilangkan rasa lapar yang tertahan. Dalam suatu tempat dia berkata “Tuhan haruskah kau selalu memberi hidup seperti ini”. Tak sadar dalam balasan kata dari sang kakek “Hai anak muda tahukah engkau bahwa tuhan itu tidak peduli terhadap orang yang selau ingin berusaha untuk menang, kenapa banyak orang yang mencarinya?….atau tuhan hanya dijadikan sebagai berhala!!! yang namanya bisa dijual dalam satu paket?” . melati  bingung dengan apa yang dikatakan kakek itu .

Dia mulai merasa bahwa tuhan yang ia kenali telah pergi meninggalkannya, dan dia terdiam degan rasa bingung, berfikir entah tak tahu kemana arahnya. Dia bertanya pada kakek yang tertawa dengan damai jiwanya “apakah kakek sudah menemukan tuhan?”dan kakekpun menjawab “kau ingin mencari tuhan wahai anak muda,!!! Walupun kau cari tuhan di masjid, gua, sungai, hutan tapi hatimu masih tertutup belenggu hitam,kamu tak akan bisa menemuinya!”

“Apakah kau  ingin bertemu dengan Tuhan hai anak muda?” kata kakek. Dengan kaget melati pun dan menjawab pertanyaan si kakek “apakah Tuhan bisa dilihat? Tuhan itu tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan”.

Sang mentari mulai membenamkan cahayanya, perlahan waktu akan berubah dalam perjalanan. Kekasih demi kekasih mulai merasakan kedamaian dalam hidup ini. Terlihat bebesaran sang agung untuk menghiasi alam. Namun dalam malam yang damai terjadi gempa yang sangat dahsyat dan menghancurkan kota tersebut hingga memakan banyak korban.

Didalam porak porandah dan reruntuhan bangunan melati terdiam dipertengahan kota tersebut. Dia berdoa kepada Tuhan agar menghentikan gempah tersebut. Tapi sang kakek itu menghampiri melati dan berkata “  Hai anak muda percuma kau berdoa kepada Tuhanmu, dan semua itu tidak akan bisa menghentikan bencana alam ini…..lebih baik kau mendengarkan perintahNYA daripada kau berdoa kepadanya”.

Melati tak mengerti apa yang dikatakan oleh sang kakek dan dia melihat kakek mengankat mayat-mayat yang tergeletak disekitarnya. “Kata-kata kakek mengandung arti yang sangat dalam, saya berdoa ini atas dasar perintah Tuhanku.” Kata melati. Suasana semakin panas dan gempa semakin mengguncang kota itu, tak hentinya melati berdoa kepada sang khalik dan akhirnya gempa itu berhenti.

Suara tangisan jiwa mulai terdengar dari anak kecil hingga yang tua, didalam reruntuhan terlihat anak kecil yang menangis dan kakinya remuk tertindih oleh reruntuhan  tembok rumahnya. Disaat itu melatih hanya bisa menangis dan berkata pada kakek tua “Tuhan sangat tidak adil pada manusia, knpa anak sekecil itu ia beri cobaan yang sangat berat” dan kakek membalas perkataan melati “Sungguh tertutup hatimu hai anak muda!!!bukannya tuhan selalu adil terhadap kita. Mengapa kamu tidak adil terhadapnya?Dia sangat sempurna tapi mengapa engkau masih mempertanyakan keadilannya….jika kau melakukan perintah Tuhanmu, maka kau akan benar-benar tahu akan sejatiNYA……..dengarkanlah kata hatimu yang paling dalam hai anak muda…coba dengarkanlah, dan apa yang kau rasakan saat ini maka  itulah perintah Tuhanmu yang Sejati….tolonglah sdaudara-saudaramu yang terkena bencana ini, selamatkanlah harta bendanya, angkatlah manyat-mayat yang tertimpah bangunan dan tolonglah yang masih hidup, balutlah luka-luka mereka maka itulah sebenarnya perintah dari tuhanmu yang disampaikan melewati hati Nuranimu”.

Dalam suasana yang penuh dengan kesedihan, melati merasakan sebuah kedamaian yang ia dapatkan dan dia bersujud dengan hati terbuka. Dia merasakan kedamaian yang ia dapatkan. “Tuhan, selama ini hatiku tertutup oleh belenggu hitam sehingga aku tak bisa melaksanakan apa yang seharusnya aku laksanakan. CahayaMU akan selalu menyinari hatiku untuk selalu berbuat kebaikan”.

Hari itu melati mendapatkan jalan baru untuk menjalani hidup bersama keluarganya dan dia berharap cahaya dalam hatinya selalu bercahaya untuk melakukan perbuatan baik.

Hari yang indah…ku titipkan ia dalam lenteraMU,bimbinglah ia memaknai desahanMU, dalam pagi yang cerah.dalam lembutan yang hangat, dalam rintihan yang syahdu dan juga dalam malam yang setia. Menutup hari yang telah senja.