Alay itu, pilihan…


Beberapa hari yang lalu, saya baca status facebook teman yang bilang kalo boyband SM*SH itu alay. Bahkan, beberapa pekan yang lalu ketika Justin Bieber dateng ke Indonesia, SM*SH hampir saja menjadi band pembuka sebelum akhirnya ditolak oleh penggemar Bieber. SM*SH sama halnya dengan grup band seperti Kangen Band, ST 12, serta band pop melayu lainnya mereka di-Cap sebagai “Alay”. Istilah “Alay” sendiri baru saya ketahui ketika masuk dunia kampus. Tapi, menurut saya pada perkembangannya istilah ini menjadi bahan olok-olok untuk sebuah kelompok tertentu.

Bagi saya, gak ada yang salah dengan musik Alay. Bahkan saya justru percaya, musik Alay sebenernya musik yang paling populer. Populer karena musik ini yang paling sering diputar di pasar atau mall-mall kelas bawah. Jangan berharap anda bisa mendengarkan musik ini diputar di mall-mall elit semacam Pondok Indah Mall, Grand Indonesia, atau Senayan City. Tapi cobalah anda main-main ke pasar tradisional atau mall kelas bawah saya jamin anda akan mendengar lagu Alay diputar oleh pemilik kios VCD bajakan.

Oke, sebelum lanjut saya mau sedikit sharing tentang musik Jazz dan Musik Hip Hop.  Mungkin kedua aliran musik ini bisa dijadikan landasan bagi anda untuk menghargai musik Alay. Kalau dipikir, kedua musik ini merupakan musik merupakan musik golongan “elit”. Menurut saya “elit” karena sebagian besar penggemarnya pasti mereka yang suka belanja atau nongkrong di mall-mall kelas atas.

Jazz

Musik Jazz pada awalnya merupakan musik yang didengarkan dan dikagumi oleh kaum Afro-Amerika di Amerika Serikat. Musik ini sering dinyanyikan oleh pekerja tambang. Afro-Amerika merupakan istilah lain untuk warga kulit hitam yang ada di Amerika Serikat. Tentu saja pada saat itu mereka merupakan kaum yang ditindas oleh kulit putih Eropa. Mereka menjadi kaum marjinal dengan menjadi buruh atau budak, kasta yang rendah dalam kehidupan sosial saat itu. Diawal kemunculannya, musik ini identik dengan lirik-lirik yang berbau seks dan perempuan sehingga disebut “Jazz”. Bahkan, para musisi Jazz ini memainkan musik mereka di Bar atau tempat-tempat lokalisasi pelacuran yang merupakan basis terbesar para penggemarnya.

Kemudian pada perkembangannya, musik ini mampu untuk memainkan melodi yang baik dan enak untuk didengar sehingga mulai dilirik oleh kaum kulit putih. Sejak saat itu, mulailah musik Jazz disukai dan dicintai oleh banyak orang. Bahkan, musik Jazz saat ini memiliki kesan “Eksklusif” dan “Elit”. Buktinya, setiap ada pertunjukkan musik Jazz lebih sering dilakukan di tempat-tempat terhormat dengan harga tiket yang cukup “mahal”. Mungkin harga tiket yang Jazz yang murah cuma di Jazz Goes To Campus (JGTC) yang diadakan di salah satu kampus negeri di Depok.

Hip Hop

Hip Hop merupakan musik yang berkembang diantara masyarakat Afro-Amerika. Pada awalnya musik ini merupakan diisi dengan lirik-lirik makian dan protes terhadap pemerintah. Kaum Afro-Amerika merasa kehidupan dan pemerintah mereka telah memperlakukan mereka dengan tidak adil. Musik yang berkembang di daerah pinggiran Amerika ini kemudian berkembang dengan pesatnya dan akhirnya mendunia seperti saat ini.

Musik Ngak Ngik Ngok

Siapa diantara anda yang tidak tahu Koes Plus ?, salah satu lagunya “Andai Kau Datang Kembali” yang dinyanyikan oleh Ruth Sahanaya merupakan lagu favorit saya :D . Koes Plus menurut saya merupakan simbol dari perjuangan musik Pop di Indonesia. Saat itu, pemerintahan Soekarno sangat tidak suka dengan berbagai hal yang berbau barat. Bahkan, alasan untuk mencintai musik dalam negeri seperti campur sari dan keroncong digunakan untuk “menjegal” musik Pop dan Rock yang dimainkan oleh Koes Plus dan beberapa grup musik lain. Personil Koes Plus pun kala itu dimasukkan kedalam penjara.

Bagi saya, alasan pemerintah sebenernya ada baiknya. Akan tetapi, eksekusi dilapangan yang kemudian memberikan hukuman kepada grup band yang memainkan musik Pop dan Rock merupakan sesuatu yang salah. Saat ini, kita lihat saja keroncong dan campur sari mulai “menghilang” dari kehidupan anak muda Indonesia.

Alay itu, pilihan…

Saya bukan orang yang anti terhadap musik pop melayu, grup band SM*SH dan kelompok musik lain yang dianggap Alay di Indonesia. Bagi saya, selamanya suara dan liriknya bagus saya akan mengunduh mp3-nya dan memainkannya di playlistwinamp saya. Mungkin hal ini yang menyeebabkan saya tidak mendewakan salah satu grup band atau aliran musik seperti anak muda lain.

Kalau dipikir, musik alay merupakan musiknya kaum marjinal di Indonesia. Musik Alay di Indonesia sendiri masih ditempatkan pada kasta terendah dalam musik Indonesia. Sama seperti musik Jazz dan HipHop yang pada awalnya merupakan musik kaum marjinalnya Amerika Serikat. Padahal, sama halnya dengan aliran musik lainnya, “golongan musik alay” temanya seputar cinta dan perselingkuhan. Tidak tertutup kemungkinan juga kalau suatu saat nanti, musik Alay justru dicintai oleh golongan elit.

Kalau dipikir, “kebencian” kita pada musik “Alay” terletak pada “penampilan” dan “gaya” yang mereka tampilkan. Tapi saya heran, kalau ada musisi pake pakaian yang membuka sebagian besar tubuhnya atau band yang aksi panggungnya minum darah justru dibilang keren. Saya berpendapat, musik merupakan salah satu di dunia seni yang paling “demokratis”. Hampir setiap hari akan ada grup musik baru yang bermunculan. Toh,  bisa saja kan beberapa tahun mendatang justru musik Alay yang disukai oleh masyarakat kelas atas di Indonesia. Bukankah musik Jazz dan Hip Hop terkesan eksklusif karena “diambil” oleh golongan elit ?

Sumber :

Jurnalisme Sastrawi bab Musik Ngak Ngik Ngok

http://literatursejarah.blogspot.com/2010/01/sejarah-musik-jazz.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Hip-hop

http://sanglelakipembelajar.wordpress.com/2011/05/10/alay-itu-pilihan/

2 thoughts on “Alay itu, pilihan…

Comments are closed.