Orang Hebat Tergerak Untuk Membangun The Dream Team


Dekade 90-an kita dibuat terkesima oleh kepiawaian pebasket-pebasket Amerika mengalahkan pebasket seluruh dunia. Negeri Paman Sam itu kemudian menjadi pusat perhelatan kejuaraan basket yang menyedot perhatian peminat basket di seluruh dunia. Mereka berhasil mengangkat citra NBA Competition menjadi mendunia. Anak-anak remaja hapal di luar kepala dan menjadikan idola para jawara basket mereka, dari Michael Jordan sampai Cobe Bryant. Mereka memberi nama para jawara itu dengan julukan The Dream Team.

Seingat saya, inilah awal mula the dream team menjadi nge-trend di seluruh dunia. Demi menunjukkan semangat kompetisi. Semangat kebersamaan. Semangat kebanggaan. Semangat juara. Semangat kemenangan, banyak group, kelompok, atau bentukan sejenis menamai diri mereka sebagai the dream team. Julukan ini kemudian menjadi lekat dengan keseharian kita – tidak hanya dalam olah raga tapi – dalam aktivitas kerja sama, organisasi, organiaksi, dll. Team impian! sebuah julukan yang padanya diembankan mimpi, cita-cita, dan harapan para anggota dan pendukungnya.

Team impian. Bayangan kita, di dalamnya pastilah berisi orang-orang yang hebat. Para jawara. Para idola. Yang menjadi orang pertama diantara sesamanya (primus interparest). Pertama dalam prestasi. Pertama dalam kualitas. Dan pertama dalam kelebihan-kelebihan lainnya. Mereka bersatu untuk mengagregasikan potensi menjadi kekuatan aksi yang luar biasa. Kinerja team, tidak lagi bersifat penjumlahan yang linear. 1 + 1 tidak lagi sama dengan 2 melainkan bisa 3, 4, 5, dan seterusnya. Team bukan penjumlahan individu hebat menjadi sekian individu hebat. Tapi team merupakan kolektifitas kualitas yang bekerja mengahasilkan x pangkat.

Darinya dapat ditarik dua buah pemahaman sebagai berikut: Pertama, orang hebat bertemu orang hebat lalu bersepakat membangun sebuah team menghasilkan hebat pangkat sekian – bukan dua orang hebat. Sehingga team memiliki kekuatan yang berlipat dalam menggerakkan dan memberi arah perubahan, lebih dari yang bisa dilakukan individu per individu. Kedua, tiap-tiap individu yang tergabung dalam team mendapatkan insentif peningkatan kualitas hasil dari relasi yang saling take and give diantara sesama orang hebat di dalamnya. Motto untuk pemahaman yang pertama kira-kira adalah Together Everyone Can Do More. Sementara motto untuk pemahaman yang kedua – tersusun dari arti huruf TEAM – yaitu Together Everyone Achieves More.

Together Everyone Can Do More. Motto ini menandai sebuah semangat perbaikan dan kemajuan kolektif. Betul bahwa perbaikan harus dimulai dari diri sendiri (starting from self), tapi seterusnya untuk menggerakkan perbaikan dalam ruang yang lebih luas kolektifitas menjadi keharusan. Orang hebat begitu selesai mengoptimalkan potensi diri (baca: mampu memberi teladan) bergabung dengan orang hebat lainnya, membangun sebuah team – the dream team – dan memulai kerja-kerja untuk perbaikan.

Pemahaman di atas sejalan dengan pengertian mujaddid (pembaharu) dalam arti: sosok pribadi yang berusaha melejitkan potensi dirinya dan menggerakkan orang-orang di sekitarnya (dalam kerangka kolektif) menjadi lebih baik. Contoh paling baik dan aktual dari semangat kolektifitas ini adalah Gema Nusa (Gerakan Membangun Nurani Bangsa?) yang dipelopori oleh Aa Gym. Orang-orang hebat selayaknya ikut membangun dan bergabung dengan gerakan semacam ini.

Together Everyone Achieves More. Bukannya mengurangi kelebihan masing-masing, sebuah team menjadikan setiap orang hebat yang tergabung di dalamnya menjadi semakin hebat. Motto tersebut mengandung semangat kebersamaan dan persaudaraan yang saling menyempurnakan. Team membuat yang tidak kenal menjadi saling kenal. Setelah kenal lalu saling mamahami. Setelah paham lalu saling menolong. Setelah itu lalu saling melengkapi dan menyempurnakan. Bersamaan dengan proses itu terjadi transfer of knowledge, share of vision, transfer of skill, dan transfer of experience yang memperkaya masing-masing individu.

Orang hebat akan selalu tergerak untuk membangun team, the dream team. Mereka sadar akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus: Pertama, kerja untuk kemajuan dan perbaikan menjadi lebih mudah, efektif, dan efisien. Dan kedua, mereka mendapatkan insentif peningkatan kualitas diri dan proses self upgrading menjadi semakin mudah. Mereka makin hebat dan terus hebat. Mungkin ini yang disinyalir oleh Nabi sebagai: Innal barokata ma’al jama’ah. Sesungguhnya berkah (Alloh) ada pada jamaah (team).

Iklan