Orang Hebat Menganggap Penting Setiap Orang



Mengapa manusia dikatakan sebagai makhluk sosial? Karena manusia hidup bersama dan saling membutuhkan sesamanya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya, apakah kebutuhan fisik, emosi, sosial, maupun spiritual. Manusia tidak dapat hidup soliter – menyendiri, dikucilkan, atau mengucilkan diri. Manusia butuh orang lain. Karena esensi kebahagiaan membutuhkan orang lain sebagai tempat curahan cinta, kasih, dan amal. Sehingga penguasaan cara-cara membina hubungan dengan orang lain, pada prinsipnya, akan mengantarkan kita pada puncak-puncak kesuksesan dan kebahagiaan.

Sejumlah penelitian ilmiah membuktikan bahwa jika anda mempelajari cara membina hubungan dengan orang lain, berarti anda sudah menempuh 85% dari perjalanan menuju kesuksesan – terutama dalam bisnis, pekerjaan, atau profesi apapun, dan sekitar 95% dari perjalanan menuju kebahagiaan pribadi. Penelitian lain membuktikan, penyebab 90% orang gagal dalam kehidupan adalah kegagalan dalam membina hubungan baik dengan orang. Maka dari itu, dalam agama Islam ada anjuran untuk melakukan silaturahmi – beserta paparan keuntungannya, antara lain: memperpanjang umur, menambah rizki, memperlancar jodoh, dan lain-lain. Mengapa bisa? Karna silaturahmi esensinya adalah membina hubungan dengan orang lain. Membina hubungan, seperti juga kepemimpinan, ada seninya. Nah, jika kita mampu menguasai seninya, maka tangga-tangga kesuksesan dan kebahagian orang-orang hebat setapak demi setapak akan kita lalui.

Les Giblin dalam The Art of Dealing With People menyederhanakan seni membina hubungan dengan orang lain sebagai cara membina hubungan dengan orang yang akan memberi kita kepuasan pribadi dan, pada saat yang sama, tidak menyakiti ego (konsep diri) orang lain. Menurut Giblin hubungan antar manusia adalah ilmu membina hubungan dengan orang sedemikian sehingga ego kita dan ego mereka tetap utuh. Dan ini merupakan satu-satunya cara untuk berhubungan baik dengan orang yang selalu menghasilkan kesuksesan atau kepuasan sejati.

Apa yang dimaksud dengan ego? Ia adalah sesuatu yang penting di dalam lubuk hati setiap orang dan membutuhkan respek. Setiap manusia merupakan pribadi yang unik dan istimewa, dan dorongan paling kuat dalam diri setiap orang adalah keinginan untuk membela sesuatu yang penting ini dari segala ancaman. Oleh karena itu, kita tidak bisa memperlakukan manusia sebagai mesin, robot, massa, angka-angka, atau “thing,” lalu memperlakukan mereka semau kita. Semua upaya yang dilakukan untuk membuat manusia sekedar gerombolan tanpa nilai individu telah gagal. Atas dasar itu, ada empat kecenderungan setiap orang dalam interaksi sosial:

Pertama, setiap orang egois dalam arti lebih “mementingkan diri.”
Kedua, setiap orang lebih tertarik pada diri sendiri dari apapun lainnya.
Ketiga, setiap orang ingin merasa dirinya penting dan “mempunyai nilai.”
Keempat, setiap orang menginginkan persetujuan dari orang lain, sehingga dia bisa menyetujui dirinya sendiri.

Semua orang ingin dipentingkan. Semua orang ingin dipuji. Semua orang ingin diakui. Mary Kay Ash, pemilik perusahan Mary Kay Cosmetics yang merupakan salah satu dari 500 perusahaan besar dunia versi majalah Fortune, memiliki prinsip yang sangat sederhana dalam membesarkan perusahaannya. Prinsip itu berbunyi: perlakukan orang lain seperti Anda ingin diperlakukan oleh mereka. Prinsip terakhir mamang bukan barang baru, tapi Mary benar-benar konsisten mengamalkannya. Dalam sebuah terbitan jurnal Personal Excellence, Mary pernah menulis bahwa setiap orang membawa kemana-mana tulisan psikologis di dahinya. Tulisan tersebut berbunyi make me feel important (disingkat MMFI). Inilah satu-satunya pendekatan humanistik yang dapat menunjang keberhasilan sebuah perusahaan. Dan Mary Kay Ash membuktikannya.

Dalam bahasan mengenai pola perilaku, respon kita atas MMFI-nya setiap orang dinamakan sebagai perilaku asertif. Perilaku asertif adalah perilaku yang mendasarkan diri pada penghargaan seseorang atas hak-hak pribadinya dan hak-hak pribadi orang lain. Dan hak penting yang dimiliki setiap orang antara lain: hak untuk dihormati, dihargai, diperlakukan secara adil, hak untuk belajar dan berkembang, dst. Orang berperilaku asertif tidak mau harga dirinya dilanggar, demikian pula ia tidak mau melanggar harga diri orang lain, percis dengan prinsip Mary Kay Ash di atas. Orang-orang asertif akan mengungkapkan secara jujur, terus terang, dan sopan: perasaan, pikiran, kehendak dan keinginannya. Demikian sebaliknya, ia akan mendengar dan memahami keinginan orang lain dengan pendengaran dan pemahaman yang empatik.

Mendengarkan empatik berarti kita masuk ke dalam kerangka acuan orang lain. Kita memandang keluar melewati kerangka acuan tersebut. Kita melihat dunia dengan cara mereka melihat dunia. Kita mengerti paradigma mereka. Kita mengerti bagaimana perasaan mereka. Motto orang-orang asertif kira-kira begini: “I am OK, You are OK.” Ini berbeda dengan tiga perilaku yang lain. Pertama, perilaku orang-orang yang suka menekan, memaksa, dan semau gue (perilaku agresif). Motto mereka: “I am OK, you are not OK.” Kedua, perilaku orang-orang yang memandang rendah diri sendiri, ragu-ragu, dan bingung (perilaku pasif). Motto mereka: “I am not OK, You are OK.” Ketiga, perilaku orang-orang yang sering memaksa, menekan, namun di sisi lain, ia membiarkan dirinya diperlakukan sama oleh orang lain (perilaku pasif-agresif). Motto mereka: “I am not OK, You are not OK.”

Dengan menerapkan perilaku asertif dan mendengarkan empatik, kita belajar membina hubungan yang lebih baik dengan orang lain. Orang lain merasa dipentingkan, merasa dihargai, dan merasa diutamakan (spesial). Dalam kondisi psikologis seperti ini, orang lain akan lebih mudah mementingkan kita, menghargai kita, dan menjadikan kita spesial. Hubungan sosial kita menjadi indah, istimewa, dan membahagiakan. Dan berkali-kali orang hebat membuktikan: kesuksesan dan kebahagiaan hidupnya bertumpu pada keterampilannya membina hubungan dengan orang lain – dengan keluarganya, koleganya, rekan kerjanya, sahabatnya, masyarakatnya, dan seterusnya.