Pengaruh Budaya Barat


Assalamualaikum wr wb

Bismillahirrohmanirrohim, Alhamdulillahi robbil alamin, wassholatu wassalamu ‘ala rosulillah wa ‘ala alihi washohbihi ajma’in, amma ba’du

Hadrotil kirom, para alim ulama’ yang kami ta’ati fatwa-fatwanya

Yang terhormat, asatidz wal ustadzah selaku dewan juri

Dan tak lupa, rekan-rekan santri yang dirahmati oleh Allah

 

Tiada kata yang pantas kita lantunkan, melainkan selaksa puja dan samudra syukur kepada sang sutradara alam semesta, Allah swt.

Sholawat bermahkotakan salam semoga tetap semerbak harum ke haribaan sang revolusioner akbar, baginda Rasulullah SAW.

Hadirin hadirat rahimakumullah,

Festival kali ini dilaksanakan pada tanggal 25 Agustus 2016. Yang mana pada bulan ini, adalah bulan kemerdekaan Indonesia, tanah air kita tercinta. Betul? Semoga semakin berganti tahun, Indonesia semakin maju dan kuat. Aamiin,

Tapi mbak, ngenesnya tahun berganti tahun, peradaban dunia, khususnya Indonesia kita ini semakin maju dalam teknologinya, fashionnya, gaya hidupnya, dan lain-lain. Kebanyakan malah mempengaruhi rakyat Indonesia dalam sisi negatifnya. Bagaimana tidak? Mulai dari media social sampai gaya pakaiannya yang ala you can see alias minim and ngafret, ada dimana-mana. Nggeh nopo nggeh?  (NGGEEEEEH)

Lah inilah yang akan kita bahas malam ini. PENGARUH BUDAYA BARAT. Ada beberapa poin penting yang sudah mempengaruhi kita rakyat Indonesia.

 

Yang pertama Makanan

Jaman e mbahku loh mbak, maem enak iku jare mbote, pogong, telo. Gak jarang loh orang tua yang sekarang masih hidup bilang bahwa makanan zaman sekarang aneh-aneh, banyak rasa dan gaya, kalo dulu aja makan tewol wes uenaaak. Nggeh nopo nggeh? Lah sekarang bayangkan, berger ada, spageti ada, hot dog ada, mcnuttes ada, muffin ada, steak ada, semuanya pun ada. Marimas ada, pepsi ada, sprite ada, fanta ada, big cola ada, masih banyak lagi… (logat angkel muto).

Mbak – mbak … Kemajuan boleh, tapi kadang yang kita tidak tahu adalah, apakah bahan yang digunakan itu semua halal? Apakah dagingnya disembelih atas nama Allah? Apakah dagingnya dicuci dulu? APAKAH yang dipakai bukan daging babi?

Makanya pemirsa, kita harus bisa pilih memilih yang mana bagus untuk kesehatan jasmani dan rohani kita. SETUJU?

 

Mbak-mbak lan pak-pak ingkang kawulo hormati

Poin Yang kedua adalah Pakaian dan mode

Bisa dilihat toh mulai dari pakaian anak kecil sampek pakean ibu-ibu yang umurnya tidak muda lagi, sangat beragam. Dari yang artis sampek anaknya buruh tani, celananya pendek, kaosnya ketat, parahnya, mbak-mbak artis banyak yang suka memakai baju yang depan ditutup, yang belakang bolong. Ada nggak? (ADAAAA) sak ngerti kulo mbak, lek gegere bolong iku jenenge nopo? (sundel bolong). Naudzubillahi min…. (dzalik.).

Makanya mbak, makanya pak, ayuk sayak an seng bener, ayuk nutup aurot rapet-rapet, ben mboten menimbulkan hal-hal seng mboten pantes, ben mboten dilaknat gusti Allah. SETUJU?

Poin Yang ketiga yaitu Kesenangan

Nah ini lagi yang paling paling berbahaya. Kesenangan yang berupa Android, internet, game, film, konser musik, daaan lain-lain. Mulai dari facebook, twitter, instagram daaan masih seabrek lagi.kalo kita gak pandai-pandai cari mana yang haq dan mana yang bathil, mengikuti arus zaman bisa membuat kita tenggelam loh. Leres nggeh pak?

Pun katah sanget contoh e ten tivi. kados lare sekolah ilang diculik gara-gara janjian dugi facebook. Bener nopo bener?

Makanya mbak, seneng boleh, asal pikiran dan hati tetap dipakai. Dipikir, diresapi dan jangan sampai tergelincir pada hal-hal yang kurang bermanfaat. SETUJU?

 

Dalam Qur’an surat Albaqoroh ayat 120 disebutkan bahwa Orang-orang yahudi dan nasrani tidak akab berhenti menggoda iman kita sampai kita mengikuti agama mereka. Apapun caranya. Disebutkan pula bahwa, kalau sampai kita mengikuti mereka, sedangkan kita sudah tau akibatnya, maka Allah tidaklah menjadi penolong dan pelindung kita. Naudzuuuu….. (billah)

Rekan-rekan santri yang berbahagia,

Monggo sareng-sareng berpegang teguh kepada Agama Allah, yakni Agama Islam. Agar budaya barat yang mengerikan tidak melekat erat pada kita, khususnya para santri shoirothul fuqoha’. Aaminn, aamiin ya robbal ‘alamin.

Sekian yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Akhirul kalam, ihdinasshirothol mustaqim, tsummassalamu’alaikum wr. Wb.

Cinta Tanah Air


Assalamu’alaikum wr. Wb.

Bismillahirrohmanirrohim, alhamdulillahirobbil ‘alamin, washolatu wassalamu ‘ala ashrofil anbiya iwal mursalin wa’ala alihi washohbihi ajma’in. amma ba’du.

Hadrotil Kirom, para alim ulama’ yang kami ta’ati fatwa-fatwanya,

Yang terhormat para ustadzah,

Yang terhormat jajaran pengurus

Dan kawan-kawanku senasib seperjuangan yang dirahmati oleh Allah

Tiada kata yang pantas tuk dilantunkan melainkan selaksa puja dan samudra syukur kepada sang sutradara alam semesta, King of the King, Allah swt. Yang telah melimpahkan gumpalan nyawa dan kesehatan sehingga kita dapat bersua di aula penuh barokah ini.

Salam damba penuh pesona semoga tetap semerbak harum ke haribaan sang reformasi dunia, Baginda Rasulullah SAW, yang telah membawa kita dari zaman kurma hingga zaman pizza, yakni addinul islam wal iiman.

Malam ini adalah malam yang sangat special, kenapa? Karena saya akan membawa teman-teman semua untuk mengingat dan lebih mencintai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya akan membawakan sebuah judul ‘Cinta Tanah Air’.

Hmmm…. Cinta tanah air? Ckckck,,

Cinta Tanah Air, hal ini sekarang sudah saaaaaaaangat berkurang dan bahkan sekarang ini tidak sedikit orang-orang yang membenci tanah airnya sendiri, yaitu Indonesia. Mengapa hal ini bisa terjadi? memang harus kita akui bahwa Negara kita memiliki banyak mulai dari polisi yang bisa di sogok, pejabat yang korupsi, dan banyak yang lainnya. Kadang kita merasa kurang adil, yang kerupsi milyaran cuman dipenjara 1 bulan, tapi yang nyolong sandal jepit eh malah di penjara 5 tahun. Adil nggak tuh?

Yayaya, sudah banyak protes dari masyarakat kita tentang itu. Tetapi, akan lebih baik jika sebelum kita memprotes pemerintah, kita bercermin dulu. Sudahkah kita menjadi warga yang baik dan benar? Mbak-mbak, njenengan sedoyo sampun mnta’ati peraturan Negara nopo dereng? Lek bidal sekolah tepat waktu sedoyo nopo mboten? Lek bidal diniyah sampun tepat waktu nopo dereng?lek budal turu?

Teman-temanku yang dirahmati Allah,

Sudahkah kita mematuhi peraturan-peraturan yang ditetapkan pemerintah? jika belum maka perbaikilah terlebih dahulu diri kita sendiri sebelum kita memprotes yang lain karena sebenarnya kelemahan Negara kita terdapat pada rakyatnya.

Jhon F.kennedy mengatakan jangan menuntut apa yang Negara bisa lakukan untukmu tetapi apa yang bisa kamu lakukan untuk Negara. Negara sudah memberikan tempat tidur, makanan enak, minuman segar, budaya yang kaya, alam wisata, dan masih banyak lagi. Nah, apa yang mbak-mbak sudah berikan? Mbolos sekolah, ngantuk wayae pelajaran, gag ngerjakne tugas, entek-entek I sego, turuuuuu tok penggaweane. Ngge nopo mboten?

Maka dari itu, dengan kalimat yang tadi saya kutip dari Mr. Jhon ayo Bangkitkan rasa cinta tanah air dalam diri kita dan yakinlah dengan memperbaiki diri kita yaitu dengan mematuhi peraturan-peraturan pemerintah maka kita telah membantu Negara dalam menjalankan pemerintahannya.

Sebelum saya akhiri pidato saya, mari bersama-sama menyanyikan salah satu lagu wajib Indonesia yang berjudul Tanah Airku.

[Nyanyi Bareng]

Sekian yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Wallahu muwafiq ilaa aqwamit thoriq.

Wassalamu’alaikum wr. wb

Makalah Hubungan Logika dan Bahasa


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

Seiring dalam perkembangan zaman, manusia sering mengabaikan logika dalam berfikir dan membuat aturan. Kebanyakan orang-orang tersebut menganggap remeh tentang logika dan berfikir seenaknya saja, mereka menginginkan hal yang mudah dan praktis. Sehingga yang terjadi adalah kejanggalan-kejanggalan dalam komunitas masyarakat banyak.

Dibalik itu semua, diantara hubungan logika dengan ilmu-ilmu lain, terutama hubungan logika dengan bahasa sangat berpengaruh dalam kehidupan. Sekaligus untuk eksistensi masa depan yang lebih terpapar dan terencana. Yang prosesnya memang tidak mudah sebagaimana keinginan masyarakat saat ini yang berbeda jauh. Logika dan bahasa adalah dua kesatuan yang saling berhubungan erat.

Berikut akan kami paparkan pengertian dari masing-masing poin dan hubungan antara keduanya.

 

  1. RUMUSAN MASALAH
    1. Apa yang Dimaksud dengan Logika?
    2. Apa yang Dimaksud dengan Bahasa?
    3. Bagaimana Hubungan antara Logika dan Bahasa?

 

  1. TUJUAN PEMBUATAN MAKALAH
    1. Mengetahui Pengertian Logika.
    2. Mengetahui Pengertian Bahasa.
    3. Mengetahui Hubungan antara Logika dan Bahasa.
    4. Memenuhi Tugas Mata Kuliah Logika/Ilmu Mantiq.

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. PENGERTIAN LOGIKA

Logika adalah Ilmu tentang berfikir secara rasional untuk mencari kebenaran. Bagian dari filsafat yang objek penyelidikannya adalah budi atau akal.

Budi adalah salah satu sifat yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia yang juga disebut sebagai hati nurani atau budi nurani. Budi nurani adalah pencerminan terbatas dari Tuhan Yang Maha Esa , maka dalam logika yang namanya Budi itu tidak hanya diselidiki tetapi juga sebagai alat.

Pengertian Logika Menurut Para Pakar:

Drs. Hasbullah. Bakry

  • Menyatakan di dalam bukunya “Sistematika Filsafat” Logika adalah ilmu yang mengatur penelitian hukum-hukum akal manusia sehingga menyebabkan pikiran dapat mencapai kebenaran.
  • Logika ilmu yang mempelajari pekerjaan akal yang dipandang dari jurusan benar dan salah.
  • Logika adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari aturan-aturan dan cara berfikir yang dapat menyampaikan manusia kepada kebenaran

 

  1. Predjowiyatna

Yang dimaksud logika adalah Filsafat Budi yang mempelajari teknik berfikir untuk mengetahui bagaimana manusia berfikir dengan semestinya atau dengan seharusnya.

Fungsi budi disini salah satu sifat yang diberika Tuhan YME untuk mencari kebenaran, Budi teknik berfikir, hati kecil.

 

Drs. Soemardi Soeryabrata

Logika adalah salah satu cabang filsafat, kata logika menunjukkan berbagai arti dalam filsafat dapat dibagi menjadi 6 arti pokok :

  • Logika sebagai ajaran berfikir;
  • Logika sebagai ajaran tentang pernyataan yang tertib dan jelas;
  • Logika sebagai ajaran ilmu pengetahuan;
  • Logika sebagai teknik ilmu pengetahuan;
  • Logika sebagai teori pengetahuan;
  • Logika sebagai metafisika akal;
  1. PENGERTIAN BAHASA

Adalah sebagai alat komunikasi untuk kita mengungkapkan pikiran kita guna memperoleh pengetahuan yang benar.

  • Bahasa yang baik dan benar dalam praktik kehidupan sehari-hari hanya dapat tercipta apabila ada kebiasaan atau kemampuan dasar dari setiap orang untuk berpikir logis.
  • Sebaliknya, suatu kemampuan berpikir logis tanpa kemampuan bahasa yang baik, maka ia tidak akan dapat menyampaikan isi pikiran kepada orang lain.

 

  1. HUBUNGAN LOGIKA DENGAN BAHASA

Bahasa Dalam Logika

  • Bahasa merupakan alat berpikir yang apabila dikuasai dan digunakan dengan tepat, maka akan dapat membantu kita memperoleh kecakapan berpikir, berlogika dengan tepat.
  • Fungsi bahasa:
  • Fungsi ekspresif.
  • Fungsi direktif.
  • Fungsi informatif.
  • Contoh history: Sultan Mehmed II memarintahkan prajuritnya utk menguasai bahasa romawi dalam upaya menaklukan kota KonstantinopelTugas dan Objek Logika

 

  1. Tugas dan Objek Logika

Tugas logika juga memberikan penerangan bagaimana seharusnya orang berpikir (Poedjawiyatna, 1978:2). Sedang objek penyelidikan logika adalah manusia itu sendiri.

Tujuan mempelajari logika adalah memecahkan masalah atau mencari jawab permasalahannya yang dapat dirumuskan: bagaimana seharusnya manusia dapat berpikir dengan baik dan benar.

  1. Logika dan Bahasa

Pengetahuan sebagai hasil proses tahu manusia baru tampak nyata apabila dikatakan. Artinya diungkapkan dalam bentuk kata atau bahasa. Dalam ilmu pengetahuan, bahasa harus mampu mengungkapkan maksud si penutur dengan setepat-tepatnya. Bahasa ilmu pengetahuan harus logis. Ilmu berarti pengetahuan-tahu, sebagai hasil proses berpikir harus mengikuti aturan-aturan, yaitu logika.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Kesimpulan

Dapat dijelaskan bahwa hasil yang diperoleh dari mempergunakan suatu teknik (logika), akan tergantung dari baik-buruknya alat bahasa yang digunakan.

Penggunaan bahasa sebagai alat logika harus memperhatikan perbedaan antara bahasa sebagai alat logika dan bahasa sebagai alat kesusasteraan. Kita ambil contoh dari pernyataan “Lukisan itu tidak jelek”, maka yang saya maksud lukisan itu belum dapat dikatakan indah, atau saya bermaksud lukisan itu belum dapat dikatakan indah, namun saya tidak berani untuk mengatakan bahwa lukisan itu jelek. Logika hanya dapat memperhitungkan penilaian-penilaian yang isinya dirumuskan secara seksama, tanpa suatu nilai perasaan.

Penggunaan bahasa sebagai alat dari logika masih memiliki kekurangan. Contohnya puisi yang diubah ke dalam bentuk prosa. Puisi tadi akan kehilangan nilai puisi-nya, pikiran yang tadi muncul didalam puisi dengan indahnya tidak lagi menghantarkan maknanya kepada si pembaca. Hakekat kesusastraan berada di atas hubungan dan batas-batas logika, bahkan keindahana dalam puisi bertentangan syarat-syarat logika.

Begitu pula terjadi didalam peribahasa, perumpamaan-perumpamaan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari mungkin dapat dimengerti seperti “bintang lapangan”, “kupu-kupu malam”. Syarat-syarat logika dalam pembentukan peribahasa diabaikan didalam susunan kata –katanya dan isinya.

Bahasa sebagai alat logika memiliki kekurangan–kekurangan, karena sebagaian besar bahasa berkembang dan dipengaruhi oleh proses berpikir secara pre-logis (tidak logis) seperti simbolisme didalam mitologi.

Jadi,bahasa memiliki dua fungsi yang dilihat dari segi perkembangannya. Bahasa lebih mudah digunakan pada kesusastraan daripada sebagai alat pemikiran ilmiah umumnya khususnya pada logika.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

https://sejarawan.wordpress.com/2007/10/05/situs-sangiran/

http://sastra33.blogspot.co.id/2012/11/logika-dan-bahasa-stilistika-bag-3.html

http://canchun.blogspot.co.id/2013/06/hubungan-logika-dengan-ilmu-ilmu-lainnya.html

https://rinastkip.wordpress.com/2012/11/14/bahan-kuliah-makalah-logika-bahasa-dan-keterampilan-menulis/

http://ilmuasastra.blogspot.co.id/2014/03/makalah-logika-bahasa-indonesia.html

(diakses pada tanggal 1 Maret 2016, Selasa.)

Kritisi Skripsi; IAI Al-Qolam


MOTIVASI BELAJAR KITAB KUNING SANTRIWATI YANG BERSEKOLAH FORMAL DI PONDOK PESANTREN RAUDLATUL ULUM PUTRI I, IV DAN V DESA GANJARAN GONDANGLEGI MALANG

 

 

Oleh HOSNIYAH

 

 

Dikritik oleh LAILATUL ISMA MUFIDA

===

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Sebagai lembaga pendidikan, pesantren telah eksis di tengah masyarakat, menawarkan oendidikan kepada mereka yang masih buta huruf, yang pernah menjadi satu-satunya institusi pendidikan milik masyarakat pribumi yang memberikan kontribusi sangat besar dalam membentuk masyarakat melekhuruf dan melek budaya.

 

  1. Rumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi titik tolak dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana motivasi Santriwati yang bersekolah formal di pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V Desa Ganjaran Gondanglegi Malang untuk mempelajari kitab kuning?
  2. Factor-faktor apa yang menghambat motivasi belajar kitab kuning santriwati yang bersekolah formal di pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V?

 

  1. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan metode reward dalam meningkatkan motovasi belajar siswa pada mata pelajaran fiqih kelas VII di MTs Azharul ulum 02 Brongkal Pagelaran.

 

  1. Manfaat Penelitian

Sehubungan dengan permasalahan di atas, maka tujuan yang hendak di capai oleh penulis dalam penyusunan skripsi ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui motivasi santriwati yang bersekolah formal di pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V Desa Ganjaran Gondanglegi Malang dalam mempelajari kitab kuning.
  2. Untuk mengetahui factor-faktor apa yang menghambat motivasi belajar kitab kuning santriwati yang bersekolah formal di pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V Desa Ganjaran Gondanglegi Malang.

 

  1. Sistematika Penelitian

Adapun sistematika pembahasan skripsi ini adalah sebagai berikut:

BAB I : Pendahuluan

Bab ini merupakan pendahuluan yang berisi latar belakang masalah, yang menjelaskan kenapa penulis tertarik untuk meneliti masalah tersebut. Dalam bab ini juga di kemukakan tentang batasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat dan kegunaan penelitian dan sistematika penulisan yang menggambarkan secara garis besar susunan penulisan dari skripsi ini untuk memberikan kemudahan bagi pembaca yang ingin mengambil manfaat dari skripsi ini.

 

BAB II : Kajian Pustaka

Dalam bab ini diungkapkan kajian tioritis yang didalamnya membahas masalah yang berdasarkan secara tioritis telah ditetapkan. Isi dari bab kedua terdiri dari sub bab pembahasan yaitu mengetengahkan beberapa landasan tioritis tentang pandangan umum pondok pesantren yang melibatkan terjadinya pondok pesantren, pendidikan formal, pengertian motivasi dan segala aspek yang melibatkan terjadinya motivasi dan serta beberapa pendapat para ahli yang berhubungan dengan pembahasan tersebut.

 

BAB III :Metode Penelitian

Dalam bab ini dipaparkan tentang metode yang digunakan dalam penelitian skripsi ini, di mulai dari penjelasan Janis penelitian, penentuan sumber data, metode pengumpulan data serta tehnik analisis data dari penelitian skripsi ini.

 

BAB IV : Hasil Penelitian dan Pembahasan

Pada bab ini menguraikan hasil penelitian (laporan) dilapangan yang sesuai dengan urutan masalah atau focus penelitian yang meliputi sejarah terbentuknya pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V. struktur organisasi kepengurusan pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V serta seberapa besar peran guru dalam memotivasi santriwati pada pelajaran kitab kuning.

 

BAB V : Kesimpulan dan Saran

Pada bab ini merupakan akhir dari rangkaian penelitian dan penulisan skripsi yang berisikan kesimpulan-kesimpulan serta saran-saran yang membangun.

 

Dalam penulisan sistematika penulisan, penulis lebih memaparkan isi dari tiap bab. Menurut saya lebih efektif jika di tulis tiap poin saja.Agar langsung pada pembahasan yang dimaksud dalam skripsi ini.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

 

  1. Pondok Pesantren
  2. Pengertian Pondok Pesantren

Pengertian pondok pesantren terdapat berbagai variasi diantaranya:

Pondok pesantren adalah gabungan dari pondok dan pesantren.Istilah pondok berasal dari kata bahasa Arab yaitu funduk yang berarti hotel atau rumah penginapan atau hotel. Akan tetapi didalam pesantren Indonesia, khususnya pulau Jawa, lebih mirip dengan pemondokan dalam lingkungan padepokan, yaitu perumahan sederhana yang di petak-petak dalam bentuk kamar-kamar yang merupakan asrama bagi santri. Sedangkan istilah pesantren secara etimologis asalnya pe-santri-an yang berarti tempat santri.Santria tau murid mempelajari agama dari seorang kiyai atau syakh di pondok pesantren. Pondok pesantren adalah lembaga keagamaan, yang memberikan pendidikan dan pengajaran serta mengembangkan dan menyiarkan ilmu agama dan islam

 

Menurut saya, pada penulisan “Pengertian pondok pesantren terdapat berbagai variasi diantaranya”, bias diganti dengan kalimat yang lebih enak dibaca seperti “Ada beberapa pengertian pondok pesantren, diantaranya.”Atau juga bisa, “Beberapa pengertian pondok pesantren menurut para pakar, diantaranya.”

Penulisan kata yang diambil dari bahasa lain, baik bahasa inggris atau bahasa arab, menurut saya lebih baik di tulis miring. Seperti kata funduk, sebaiknya ditulis funduk.

Pada pengertian pondok pesantren ada kata yang diulang, yaitu kata “Hotel”.

 

Penulisan kata “Syakh” seharusnya “Syeikh”.

 

  1. Elemen-Elemen Pondok Pesantren

Adapun ciri-ciri pondok pesantren yang selama ini dianggap dapat mengimplikasi pondok pesantren secara kelembagaan. Sebuah lembaga pendidikan dapat disebut sebagai pondok pesantren apabila didalamnya terdapat sediikit lima unsur yaitu:

  1. Kiyai

Di masyarakat jawa, ulama tersebut dipanggil dengan sebutan “Kiyai” bukan “Ulama”. Tentu panggilan seperti ini bukan tanpa alas an. Bagi Zamkazair Dhofier, realitas ini disamakan dengan kenyataan bahwa para Kiyai di samping mengajar masalah keimanan Islam (tauhid) dan hukum Islam (fiqih), juga mengajarkan tasawuf (sufi). Kecenderungan seperti inilah menyebabkan “ulama” sering disebut “Kiyai.”

 

  1. Adanya Santri

Dalam dunia pesantren, jika seorang ulama di sebut kiyai, maka muridnya di kenal dengan panggilan “santri”.Dan setelah diteliti lebih jauh, kedua panggilan ini, ternyata berasal dari masa pra Islam di Jawa.

 

  1. Pengajian atau kitab-kitab klasik

Unsur pokok lain yang cukup membedakan pesantren dengan pendidikan lainnya adalah bahwa pendidikan di pesantren di ajarkan kitab-kitab klasik yang di karang para Ulama terdahulu, mengenai berbagai macam ilmu pengetahuan agama Islam dan berbahasa Arab. Pelajaran dimulai dengan kitab-kitab tentang berbagai macam ilmi yang mendalam tingkata suatu pesantren dan pengajarannya, biasanya di ketahui dari jenis-jenis kitab yang diajarkan.

 

Menurut saya, pada paragraf sebelum penyebutan ciri-ciri pesantren yaitu: “….mengimplikasi pondok pesantren secara kelembagaan. Sebuah lembaga pendidikan…” bukan tanda titik, tapi seharusnya tanda koma, karena masih saling berhubungan.

Penulisan kata “Kiyai” pada kamus besar bahasa Indonesia yang benar adalah “Kiai”.

Menurut saya, pada poin b. adanya santri, cukup ditulis : b. Santri.

Penulisan di sebut dan di kenal pada poin b, seharusnya tidak dispasi, karena bukan termasuk sebuah tempat.

Pada poin c pun begitu, kesalahan pada kata setelah di- itu dispasi.

 

  1. Tujuan dan Fungsi Pesantren

Tujuan umum pesantren adalah membina Warga Negara berkepribadian muslim sesuai dengan ajaran-ajaran agama Islam dan menanamkan sebagai orang yang verguna bagi agama, Masyarakat dan Negara.

Persamaan lain yang berada pada pesantren ialah semua pondok pesantren melaksanakan tiga fungsi kegiatan yang dikenal dengan tridarma pondok pesantren yaitu:

  • Meningkatkan keimanan dan ketakwaan terhadap Allah SWT;
  • Pengembangan keilmuan yang bermanfaat dan;
  • Pengapdian terhadap agama, masyarakat dan Negara.

 

Menurut saya, pada poin kedua, yaitu “Pengembangan keilmuan yang bermanfaat dan”, antara kata bermanfaat dengan kata dan harus diberi koma.

Pada poin ketiga, seharusnya kata pengapdian diganti dengan pengabdian.

 

  1. PENDIDIKAN FORMAL
  2. Lembaga Pendidikan Formal
  3. Arti Sekolah

Sekolah merupakan lingkungan yang sengaja diciptakan oleh pemerintah dan masyarakat sebagai media pendidikan bagi generasi muda, khususnya memberikan kemampuan dan keterampilan sebagai bekal kehidupan dikemudian hari.

Dengan sekolah, pemerintah mendidik bangsanya untuk menjadi seorang ahli dalam budangnya sesuai dengan bakatnya si anak didik, yang berguna bagi dirinya dan berguna bagi nusa dan bangsa. Karena sekolah itu sengaja disediakan dan sengaja dibangu khusus untuk tempat pendidikan kedua setelah keluarga.

 

  1. Fungsi Pendidikan Formal

Adapun fungsi dari lembaga pendidikan formal ialah:

  1. Membantu lingkungan keluarga untuk mendidik dan mengajar, memperbaiki dan memperdalam atau memperluas tingkah laku anak yang dibawa dari keluarga serta membantu pengembangan bakat.
  2. Mengembangkan kepribadian peserta didik lewat kurikulum agar peserta didik dapat belajar taat kepada peraturan atau disiplin, mempersiapkan peserta didik untuk terjun di masyarakat berdasarkan norma-norma yang telah berlaku.

 

Menurut saya, masih banyak lagi fungsi dari pendidikan formal, seperti memunculkan bakat-bakat terpendam dari si anak didik, yang dipacu oleh dorongan dari keluarga, lingkungan, dan warga sekolah. Didukung oleh isi pelajaran formal, maupun kegiatan non formal, seperta ekstrakurikuler.

 

  1. MOTIVASI

Istilah motivasi berasal dari kata motif yang dapat diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri individu yang menyebabkan individu tersebut bertindak atau berbuat.Motif tidak dapat diamati langsung, tetapi dapat diinterpretasikan dalam tingkah laku tertentu. Penjelasan lain mengatakan bahwa motif adalah segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.

Apabila suatu kebutuhan dirasakan mendesak maka motif dan daya penggerak menjadi aktif. Motif yang aktif inilah yang disebut motivasi atau dorongan yang berada dalam diri seseorang untuk berusaha mengadakan perubahan tingkah laku yang lebih baik dalam memenuhi kebutuhannya.

  1. Macam-macam Motivasi
    1. Motivasi Instrinsik

Motivasi instrinsik ialah suatu aktivitas/kegiatan belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan penghayatan suatu kebutuhan dan dorongan yang secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar. Dalam hal ini Sardiman menjelaskan bahwa motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri setiap individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.

  1. Motivasi Ekstrinsik

Adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondoktif dan kegiatan belajar yang menarik. Dalam hal ini Monks juga berpendapat, bahwa motivasi ekstrinsik adalah suatu perbuatan yang dilakukan atas dasar dorongan atau paksaan dari luar.

 

Menurut saya, motivasi juga dapat diartikan sebagai sesuatu yang mengusik jiwa kita yang tengah tertidur alias malas-malasan. Sehingga dengan dorongan motivasi, maka akan membangunkan jiwa kita, dan lebih membuat kita bisa berpikir jernih.

Menurut saya, ada motivasi baik dan juga buruk yang berasal dari motivasi instriksik. Yang kadang membuat seseorang bisa berbuat baik pada orang, kadang juga merugikan orang lain.

 

  1. Cara Mengatasi Hambatan Belajar

Saat timbul hambatan dalam belajar, hambatan tersebut harus segera diatasi. Dengan diatasi hambatan tersebut maka proses belajar dapat berjalan dengan baik dan dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. Cara mengatasi hambatan belajar dapat dimulai dari diri anak, keluarga dan sekolah.

  1. Diri anak
    • Menjaga kesehatan jasmani.
    • Menumbuhkan rasa percaya diri.
    • Membangun motivasi diri
    • Belajar berinteraksi dengan lingkungan.
    • Belajar menjaga emosi.
    • Menerima keadaan (ekonomi, jasmani, dll).

 

Menurut saya, pada diri anak, untuk poin ke 6. Menerima keadaan, terlalu sulit untuk member pengertian terhadap anak itu sendiri. Maka yang lebih harus mendorong adalah keluarga.

Penulisan sub bab antara poin A dan B, menggunakan huruf kapital yang berbeda. Sehingga seperti tidak dilakukan revisi penulisan.

 

 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

 

  1. Pendekatan dan Jenis Pendidikan

Metode kualitatif deskriptif ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode kualitatif lebih mudan apabila berhadapan dengan pernyataan ganda; kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dan responden; ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyesuaikan diri dengan manajemen pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.

 

Menurut saya, masih ada kelemahan dari metode kualitatif yang digunakan oleh peneliti. Diantaranya:

  1. Hasil penelitiannya bersifat subjektif
  2. Temuan teori hanya untuk setting kebudayaan yang terbatas
  3. Kegunaan teori yang dihasilkan rendah karena belum tentu dapat dimanfaatkan.

 

  1. Penentuan Populasi dan Sampel

Sesuai dengan topic pembahasan skripsi ini yaitu “Motivasi Belajar Kitab Kuning Santriwati yang Bersekolah Formal di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V Desa Ganjaran Gondanglegi Malang”. Maka sampel penelitian ini ditetapkan sebagai berikut:

  1. Guru kitab kuning pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V selaku pelaksana terjadinya motivasi belajar santriwati.
  2. Santriwati pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V yang bersekolah formal selaku aktor belajar kitab kuning.

 

Menurut saya, sampel perlu ditambah, yaitu pengasuh atau penasehat pondok pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V, karena bisa menambah wawasan yang lebih luas. Karena bisa saja tidak semua dewan ustadz/ustadzah sangat memahami apa yang dijadikan pembahasan.

 

  1. Sumber Data dan Data

Data merupakan hal yang esensi untuk menguatkan suatu permasalahan dan juga diperlukan untuk menjawab masalah penelitian. Agar memperoleh data yang obyektif maka sumber data yang diambil berasal dari:

  1. Data Sekunder

Data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh dari peneliti dari subjek penelitiannya. Data sekunder ini merujuk literature maupun data tertulis yang berkenaan dengan Motivasi Belajar Kitab Kuning Santriwati yang Bersekolah Formal di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V Desa Ganjaran Gondanglegi Malang, yang berwujud data dokumentasi atau data laporan yang telah tersedia.

 

Menurut saya, untuk data sekunder bisa ditambah dengan contoh-contoh yang lebih menjurus pada data yang disebutkan.

 

  1. Tehnik Pengumpulan Data
  2. Metode interview (wawancara)

Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam tentang responden, maka penulis tidak hanya menggunakan wawancara berstruktur tapi juga menggunakan wawancara tidak berstruktur karena kebebasan menjiwainya sangat luas sehingga responden secara spontan dapat mengeluarkan segala sesuatu yang ingin dikemukakan.

 

Menurut saya, tidak perlu melakukan wawancara tidak berstruktur. Karena selain keluar dari bahan pembahasan itu akan mengurangi waktu. Sehingga bisa saja yang aslinya sudah terstruktur dari jadwal awal, akan molor dan melebihi target.

Menurut saya, sekalipun wawancara berstruktur, responden akan menjawab dengan spontan, dan kadang apa yang tidak menjadi bahan pembahasan akan dikemukakan.

 

  1. Tehnik Analisis Data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan tehnik analisis deskriptif, yaitu suatu metode dalam memilih status kelompok manusia, suatu kondisi pada masa sekarang. Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, factual dan actual mengenai factor-faktor, sifat serta hubungan antara fenomena yang di selidiki.

 

 

 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

  1. Gambaran Umum Objek Penelitian
    1. Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Putri
      1. Sejarah Singkat Berdirinya Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Putri

Pondok Pesantren Raudlatul Ulum I Putri yang kemudian disingkat dengan nama PPRU I, merupakan pesantren yang di dirikan oleh KH. Yahya Sahrowi pada tahun 1949 M/1368 H. yang terletah di Jalan Sumber Ilmu nomor 127 Desa Ganjaran Gondanglegi Kabupaten Malang.

Beliau membina santriwatinya dengan berbagai pengajian kitab kuning sebagai mana pondok pesantren salaf lainnya. Beliau bukan hanya mendirikan pondok pesantren saja, tetapi beliau juga mendirikan Sekolah formal ini antara putra dan putri di pisah yang di bantu oleh para tokoh-tokh masyarakat lainnya dan beliau juga terlibat dalam pembentukan Sekolah Tinggi Agama Islam yang sekarang dikenal dengan STAIN AL-QOLAM.

 

  1. Visi Pondok Pesantren

Adapun visi dari pondok pesantren ini ialah:

  • Membentuk pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT. Berilmu, berakhlakul karimah, berwawasan kebangsaan serta bertanggung jawab dan terlaksananya syariat Islam menurut faham “ASWAJA” dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

 

  1. Misi Pondok Pesantren

Adapun misi dari pondok pesantren ini ialah:

  • Membina dan meningkatkan kedisiplinan serta kesadaran Santriwati dalam melaksanakan segala hak dan tanggung jawab sebagai pribadi dan anggota santriwati dalam rangka mengembangkan pengalaman Syari’at Islam ahlussunnah wal jama’ah.

 

Menurut saya, seperti yang tertera di atas, bahwa berdasarkan metode kualitatif, maka yang didapat adalah Hasil penelitiannya bersifat subjektif, temuan teori hanya untuk setting kebudayaan yang terbatas, kegunaan teori yang dihasilkan rendah karena belum tentu dapat dimanfaatkan.

BAB V

PENUTUP

 

  1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian di lapangan maka dapat disimpulkan bahwa:

  1. Motivasi Santriwati yang Bersekolah Formal di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V Desa Ganjaran Gondanglegi Malang untuk belajar Kitab Kuning sudah cukup baik karena tempat santriwati mengenyam Pendidikan Formal juga mendukung pelajaran kitab kuning hal ini dibuktikan pelajaran MULOK yang ada di sekolah tempat santriwati belajar di isi dengan pelajaran kitab kuning di tambah dengan metode-metode yang membuat santriwati senang.
  2. Faktor-Faktor yang Menghambat Motivasi Belajar Kitab Kuning Santriwati yang Bersekolah Formal di Pondok Pesantren Raudlatul Ulum Putri I, IV dan V Desa Ganjaran Gondanglegi Malang, ternyata hanya karena jika santriwati sudah bnyak beraktivitas di sekolah dan cara penyelesaiannya dengan cara memberikan hukuman yang mendidik.

 

  1. SARAN

Dari hasil kesimpulan di atas, maka penulis dapat memberikan saran-saran yang tidak menutup kemungkinan dapat mendatangkan manfaat bagi guru (ustadz/ustadzah) untuk memberikan motivasi kepada santriwati yang belajar kitab kuning dengan agar bersungguh-sungguh, maka penulis dapat memberikan saran sebagai berikut:

  1. Diharapkan kepada segenap guru hendaklah dalam memberikan motivasi dan dapat menyesuaikan dengan keadaan santriwati sehingga bentuk-bentuk motivasi yang diberikan dapat diterima oleh santriwati dengan baik.
  2. Santriwati hendaknya selalu mendengarkan apa yang diberikan oleh guru-gurunya sehingga menjadi santri yang rajin dan menjadi santri yang berguna bagi agama, Nusa dan Bangsa, karena belajar kitab kuning sangat penting bagi kita untuk bekal nanti menghdapa Sang Kuasa.

Demikian beberapa kesimpulan dan saran-saran yang dapat penulis sajikan dalam skripsi ini, semoga skripsi ini dapat manfaat bagi kita semua khususnya penulis sendiri.

 

Menurut saya, pembelajaran kitab kuning bagi santriwati yang bersekolah formal sangat bagus, lebih bagus lagi jika didukung dengan penafsiran atau penerjemahan yang baik lagi. Karena rata-rata untuk menerjemahkan kitab kuning selalu monoton bahasa jawa, untuk membahasa Indonesiakan agak kerepotan. Maka lebih baik lagi dewan guru di pesantren untuk menambah wawasan tentang bagaimana menerjemahkan ke bahasa Indonesia dengan bagus.

Qishosh; Pengertian, Macam-Macam dan Pembuktian


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

Dalam literatur masyarakat, khusus dalam kehidupan Islam terdapat berbagai permasalahan yang menyangkut tindakan pelanggaran yang dilakukan manusia. Dengan adanya hal itu, maka dibuatlah aturan yang mempunyai kekuatan hukum dengan berbagai macam sangsi. Sangsi yang diberikan sesuai dengan tingkat pelanggaran yang dilakukan.

Maka dari itu, dalam hukum Islam diterapkan jarimah (hukuman) dalam hukum Jinayah Islam yang bertindak sebagai preventif (pencegahan) kepada setiap manusia, dan tujuan utamanya adalah supaya jera dan merasa berdosa jika ia melanggar.

Maka dari itu adanya Qishash bukan sebagai tindakan yang sadis namun ini sebuah alternatif demi terciptanya hidup dan kehidupan yang sesuai dengan Sunnah dan ketentuan-ketentuan Ilahi.

Sebenarnya kalau hukum yang dibuat manusia belum sepenuhnya bisa mengikat, dan hal tersebut bisa direkayasa sekaligus bisa dilanggar, karena pada intinya hanya hukum Islam lah yang sangat cocok bagi kehidupan manusia di dunia. Hal ini terbukti dengan adanya hukum Islam banyak negara yang merasa cocok dengan berlakunya hukum Islam. Tapi ada satu hal yang masih menjadi pertanyaan apakah benar hukum islam itu sulit diterapkan dalam suatu tatanan kemasyarakatan atau itu hanya sebuah alasan dari segelintir orang yang tidak suka terhadap aturan tersebut.

Didalam makalah ini akan dibahas mengenai Qishash/Hudud “Hukuman-hukuman”. Setelah mengetahui berbagi macam hukuman yang diakibatkan atas pelanggaran seseorang maka diharapkan akan muncul suatu hikmah dan tujuan kenapa hukuman itu ada dan dilaksanakan.

 

  1. RUMUSAN MASALAH
    1. Apa yang Dimaksud dengan Qishosh?
    2. Apa Saja Macam-Macamnya?
    3. Apa Pembuktian dari Qishosh?

 

  1. TUJUAN PEMBUATAN MAKALAH
    1. Mengetahui Pengertian Qishosh.
    2. Mengetahui Macam-Macam Qishosh.
    3. Mengetahui Pembuktian Qishosh.

 


 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. PENGERTIAN QISHOSH

 

”… Diwajibkan atas kamu qishash berkenaan dengan orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya [Ahli waris], hendaklah yang mema’afkan mengikuti dengan cara yang baik dan yang diberi ma’af membayar diyat kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik pula. Yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat…” (QS Al Baqarah : 178)

 

Allah swt yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, telah melarang hamba-hamba-Nya untuk melakukan perbuatan buruk (Fasiq) dan telah menetapkan balasan bagi pelakunya baik di dunia maupun di akhirat kelak. Salah satu bentuk balasan atas perbuatan buruk, dalam hal ini Jinayat, adalah Qishash.

Ada beberapa pengertian yang diambil dari beberapa rujukan:

  1. Menurut syaraâ’ qishash ialah pembalasan yang serupa dengan perbuatan, pembunuhan, melukai, merusakkan anggota badan/menghilangkan manfaatnya, sesuai pelangarannya.[1]
  2. Diperlakukannya pelaku kejahatan sebagaimana dia memperlakukan hal itu kepada korbannya. [2]

أَنْ يُفْعَل بِالْفَاعِل الْجَانِي مِثْل مَا فَعَ

  1. Qisas secara istilah ialah suatu hukuman yang telah ditetapkan oleh Allah yang wajib dilaksanakan bagi menunaikan hak manusia. Qisas juga bererti “potong” ataupun yang memberi arti bahawa dengan hukuman qisas akan terpotong jenayah itu dan ini terus berlaku di dalam masyarakat.
  2. Qishash ialah mengambil pembalasan yang sama. qishas itu tidak dilakukan, bila yang membunuh mendapat permaafan dari ahli waris yang terbunuh Yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. pembayaran diat diminta dengan baik, umpamanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaklah membayarnya dengan baik, umpamanya tidak menangguh-nangguhkannya. bila ahli waris si korban sesudah Tuhan menjelaskan hukum-hukum ini, membunuh yang bukan si pembunuh, atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat, Maka terhadapnya di dunia diambil qishaash dan di akhirat Dia mendapat siksa yang pedih.

Pada kesimpulannya, Qishosh adalah suatu pembalasan yang serupa dengan perbuatan baik berupa melukai, merusak anggota badan atau membunuh.

 

  1. MACAM-MACAM QISHOSH

Qishash ada 2 macam :

  1. Qishash jiwa, yaitu hukum bunuh bagi tindak pidana pembunuhan.
  2. Qishash anggota badan, yakni hukum qishash atau tindak pidana melukai, merusakkan anggota badan, atau menghilangkan manfaat anggota badan.

 

  1. PEMBUKTIAN QISHOSH

Hukuman dalam bentuk qishash dijatuhkan kepada pelaku kejahatan karena dua sebab. Sebab pertama karena pembunuhan atau penghilangan nyawa orang lain. Sebab kedua bukan karena pembunuhan tetapi diantaranya karena pemotongan anggota badan, melukai, dan menghilangkan fungsi anggota tubuh.

  1. Pembunuhan

Qishash atas pembunuhan adalah ketentuan dari Allah SWT bahwa orang yang membunuh nyawa orang lain, maka hukumannya adalah dibunuh juga.

Tentu ada syarat dan ketentuan yang berlaku, dimana apabila syarat dan ketentuan itu tidak terpenuhi, hukuman qishash tidak boleh dilaksanakan.

Dasar dari ketentuan qishash atas pembunuhan adalah firman Allah SWT :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى الْحُرُّ بِالْحُرِّ وَالْعَبْدُ بِالْعَبْدِ وَالأْنْثَى بِالأْنْثَى

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. (QS. Al-Baqarah : 178)

  1. Selain Pembunuhan

Selain karena sebab pembunuhan, hukum qishash juga berlaku karena jarimah atau kejahatan yang diluar pembunuhan. Intinya, orang yang melukai tubuh orang lain, entah dengan memotongnya, atau melukainya, atau menghilangkan fungsi anggota tubuhnya, maka diberlakukan hukuman yang sama atas dirinya.

Dasar ketentuan ini adalah firman Allah SWT :

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالأْنْفَ بِالأْنْفِ وَالأْذُنَ بِالأْذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَهُ

Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya bahwasanya jiwa dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan nya, maka melepaskan hak itu penebus dosa baginya. (QS. Al-Maidah : 45)

 

Yang termasuk ke dalam qishash selain pembunuhan atau penghilangan nyawa manusia adalah :

  1. Pemotongan
  2. Melukai
  3. Menghilangkan Fungsi Anggota Tubuh

 

Pembalasan penganiayaan terhadap anggota tubuh manusia memang harus seimbang. Misalnya, tangan dibalas tangan. Tidak boleh memotong kaki jika yang dikenai tangan.

Tangan yang sehat tidak dipotong karena memotong tangan yang lumpuh, begitu pula mata yang melihat tidak boleh dirusak karena menganiaya mata yang buta. Lain halnya dengan telinga yang tuli, telinga itu masih ada kegunaannya, yaitu mencegah serangga masuk.

 

  1. INTERMEZO

Larangan Qishash di dalam Masjid

Sesungguh Rasulullah SAW telah melarang untuk melaksanakan Qishash di dalam mesjid sebagaimana hadits beliau sebagai berikut:

Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. melarang melaksanakan qishash di dalam masjid, melantunkan sya’ir dan melaksanakan hukum hudud di dalamnya.“

Diriwayatkan pula dari ‘Abdullah bin ‘Abbas r.a, ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, “Seorang anak tidak boleh menuntut qishash terhadap ayahnya dan dilarang melaksanakan hukum hudud di dalam masjid,” (HR At Tirmidzi dan Ibnu Majah).

 

 

 

BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Bagi tiap-tiap perbuatan Allah telah menetapkan balasan yang setimpal terhadapnya baik di dunia maupun di akhirat dan Allah Maha Pengampun atas segala perbuatan dosa yang dilakukan hamba-hamba-Nya, kecuali perbuatan syirik atau menyekutukanNya dengan dzat selain Dia. Dengan demikian manusia sebaiknya lebih membekali akhiratnya dengan perbuatan baik dan saling memaafkan atas kesalahan saudara-saudaranya, karena sikap memaafkan akan lebih mulia pada pandangan Allah swt. Semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang menjaga lidah dan perbuatan, dan orang-orang yang memaafkan. Amiin…

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.clerobo.com/2015/10/pengertian-hukum-syarat-dan-hikmah.html

http://rajaalmasthuriyah-cestlavie.blogspot.co.id/2009/11/pengertian-qishash-menurut-syara.html

http://rajaalmasthuriyah-cestlavie.blogspot.co.id/2009/11/pengertian-qishash.html

http://cyethra.blogspot.co.id/2009/08/qishash-macam-macam-qishash.html

http://islam-shared.blogspot.co.id/2011/11/macam-macam-qishash.html

http://www.fiqihkehidupan.com/bab.php?id=291

(diakses pada tanggal 9 Februari 2016, Selasa.)

[1] http://rajaalmasthuriyah-cestlavie.blogspot.co.id/2009/11/pengertian-qishash.html

[2] http://www.clerobo.com/2015/10/pengertian-hukum-syarat-dan-hikmah.html

Soal + Jawaban; Filsafat


Pertanyaan

  1. Apa pengertian ilmu filsafat dan bagaimana cara dan ciri berpikir secara filsafat?
  2. Sebutkan periodeisasi filsafat dan terangkan pemetaanya!
  3. Bagaimana pandangan filsafat terhadap manusia, ruh dan jiwa serta Tuhan?
  4. Apakah kebenaran itu? sebutkan sumber-sumber kebenaran dari manusia dan sebutkan kenisbian kebenaran dari manusia itu!
  5. Jelaskan perbedaan dan persamaan antara ilmu pengetahuan, filsafat dan agama!

JAWABAN NO. 1

PENGERTIAN FILSAFAT

 

Filsafat adalah ilmu yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan pikiran atau rasio.

Filsafat adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan.

Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan.

Pengertian filsafat menurut para tokoh :

  1. Pengertian filsafat menurut  Harun Nasutionfilsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tak terikat tradisi, dogma atau agama) dan dengan sedalam-dalamnya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan
  2. MenurutPlato ( 427-347 SM) filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada
  3. Aristoteles(384-322 SM) yang merupakan murid Plato menyatakan filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda.
  4. Marcus Tullius Cicero(106 – 43 SM)  mengatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang maha agung dan usaha untuk mencapainya.

Al Farabi (wafat 950 M) filsuf muslim terbesar sebelum Ibn Sina menyatakan filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan  menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya.

 

===

CIRI BERFIKIR FILSAFAT

 

Berfilsafatitu berpikir, tapi tidak semuanya itu berfikirdikatakan berfilsafat. Berpikirnonfilsafati dibedakan menjadi dua, yaitu:

  1. Berfikir tradisional
  2. Berfrikir ilmiah

Berfikir tradisional, yaitu berfikirtanpa mendasarkan pada aturan-aturan berfikir ilmiah.Artinya berfikir yanghanya mendasarkan pada tradisi atau kebiasaan yang sudah berlaku sejak nenekmoyang, sehingga merupakan warisan lama.

Sedangkanyang dimaksud berfikir ilmiah, berfikir yang memakai dasar-dasar /aturan-aturan pemikiran ilmiah, yang diantaranya:

  1. Metodis
  2. Sistematis
  3. Obyektif
  4. Umum

Berfilsafattermasuk dalam berfikir namun berfilsafat tidak identik dengan berfikir.Sehingga, tidak semua orang yang berfikir itu mesti berfilsafat, dan bisadipastikan bahwa semua orang yang berfilsafat itu pasti berfikir.

Oleh karenaitu ada beberapa ciri berfikir secara filsafat, seperti yang diungkapkan dalambuku metodologi penelitian filsafat,antara lain adalah:

  1. Metodis

Menggunakan metode, cara, jalan yang lazimdigunakan oleh para filsuf dalam proses berfikir filsafati.

  1. Sistematis

Dalam berfikir, masing-masing unsur salingberkaitan satu sama lain secara teratur dalam suatu keseluruhan, sehingga dapattersusun suatu pola pemikiran yang filosofis.

  1. Koheren

Dalam berfikir unsur-unsurnya tidak bolehmengandung uraian yang bertentangan satu sama lain namun juga memuat uraianyang logis.

  1. Rasional

Harus mendasarkan pada kaidah berfikir yangbenar (logis).

  1. Komprehensif

Berfikir secara menyeluruh, artinya melihatobjek tidak hanya dari satu sisi / sudut pandang, melainkan secaramultidimensional.

Disinilah perlunya filsafat dan ilmupengtahuan saling menyapa dan menjenguk.

  1. Radikal

Berfikir secara mendalam, sampai akar yangpaling ujung, artinya sampai menyentuh akar persoalannya, esensinya.

  1. Universal

Muatan kebenarannya sampai tingkat umumuniversal, mengarah pada pandangan dunia, mengarah pada realitas hidup danrealitas kehidupan umat manusia secara keseluruhan.

 

Orang yang berpikir filsafat paling tidak harus mengindahkan ciri-ciri berpikir sebagai berikut:

  1. Berpikir filsafat Radikal. Yaitu berpikir sampai keakar-akarnya, sampai pada hakekat atau sustansi, esensi yang dipikirkan. Sifat filsafat adalah radikal atau mendasar, bukan sekedar mengetahui mengapa sesuatu menjadi demikian, melainkan apa sebenarnya sesuatu itu, apa maknanya.
  2. Berpikir filsafat Universal. Yaitu berpikir kefilsafatan sebagaimana pengalaman umumnya.

Misalnya melakukan penalaran dengan menggunakan rasio atau empirisnya, bukan menggunakan intuisinya.Sebab, orang yang dapat memperoleh kebenaran dengan menggunakan intuisinya tidaklah umum di dunia ini.Hanya orang tertentu saja.

  1. Berpikir filsafat Konseptual. Yaitu dapat berpikir melampaui batas pengalaman sehari-hari manusia, sehingga menghasilkan pemikiran baru yang terkonsep.
  2. Berpikir filsafat Koheren dan Konsisten. Yaitu berpikir kefilsafatan harus sesuai dengan kaedah berpikir (logis) pada umumnya dan adanya saling kait-mait antara satu konsep dengan konsep lainnya.
  3. Berpikir filsafat Sistematis. Yaitu dalam berpikir kefilsafatan antara satu konsep dengan konsep yang lain memiliki keterkaitan berdasarkan azas keteraturan untuk mengarah suatu tujuan tertentu.
  4. Berpikir filsafat Komprehensif.Yaitu dalam berpikir filsafat, hal, bagian, atau detail-detail yang dibicarakan harus mencakup secara menyeluruh sehingga tidak ada lagi bagian-bagian yang tersisa ataupun yang berada diluarnya.
  5. Berpikir filsafat Bebas.Yaitu dalam berpikir kefilsafatan tidak ditentukan, dipengaruhi, atau intervensi oleh pengalaman sejarah ataupun pemikiran-pemikiran yang sebelumnya, nilai-nilai kehidupan social budaya, adat istiadat, maupun religious.
  6. Berpikir filsafat Bertanggungjawab.Yaitu dalam berpikir kefilsafatan harus bertanggungjawab terutama terhadap hati nurani dan kehidupan sosial.

 

Berikutinibeberapaciri-cirimanusia yang berpikirfilosofi:

  1. Artinya, Pemikiran yang luas karena tidak membatasi diri dan bukan hanya ditinjau dari satusudutpandangtertentu.Pemikirankefilsafataninginmengetahuihubunganantarailmu yang satudenganilmu – ilmu yang lain, hubunganilmudan moral, senidantujuanhidup.

 

  1. Seorangfilosoftidakpercayabegitusajakebenaranilmu yang diperolehnya.Iaselaluragudanmempertanyakannya; Mengapailmudapatdisebutbenar?,Bagaimana proses penilaianberdasarkankriteriatersebutdilakukan?, Apakahkriteriaitusendiribenar? Lalu benar itu sendiri apa? Sepertisebuahlingkarandanpertanyaan-pertanyaan pun selalumunculsecarabergantian.Artinya, pemikiran yang dalamsampaikepadahasil yang fundamental atauesensialobyek yang dipelajarinyasehinggadapatdijadikandasarberpijakbagisegenapnilaidankeilmuan.Jadi, tidakhanyaberhentipadaperiferis (kulitnya) saja, tetapisampaitembuskekedalamannya.

 

  1. Seorangfilosofmelakukanspekulasiterhadapkebenaran.Sifatspekulatifitu pula seorangfilosofterusmelakukanujicobalalumelahirkansebuahpengetahuandandapatmenjawabpertanyaanterhadapkebenaran yang dipercayainya.

 

  1. Dalammengemukakanjawabanterhadapsuatumasalah, parafilsufmemakaipendapat-pendapatsebagaiwujuddari proses befilsafat. Pendapat-pendapatituharussalingberhubungansecarateraturdanterkandungmaksuddantujuantertentu.

 

  1. Berpikirdenganpemikiran yang bertanggungjawab.Pertanggungjawaban yang pertamaadalahterhadaphatinuraninyasendiri. Seorangfilsufseolah-olahmendapatpanggilanuntukmembiarkanpikirannyamenjelajahikenyataan.Namun, faseberikutnyaadalahbagaimanaiamerumuskanpikiran-pikirannyaitu agar dapatdikomunikasikanpada orang lain sertadipertanggungjawabkan.

 

  1. Artinya, berfikirsesuaidengankaidah-kaidah berfikir dantidak mengandung kontradiksiataudapat pula diartikandenganberfikirsecararuntut.

 

 

CARA BERFIKIR FILSAFAT

. Cara berfikir filsafati adalah dengan menggunakanlogika, karena logika dapat menjadi sarana untuk berpikir sistematis, valid dandapat dipertanggung jawabkan. Dengan menggunkan logika kita juga bisa menarikkesimpulan  dari suatu analisis denganbenar. Metode yang digunakan untuk dapat berfikir secara logis ada dua, yaituanalisa dan sintesa. Sedangakan cara penarikan kesimpulan dengan logika ada duamacam, yaitu:

  1. Logikainduktif, yaitu penarikan kesimpulan yang bersifatumum dari berbagai kasus yangbersifat khusus.
  2. Logikadeduktif adalah cara berpikir dimana penarikankesimpulan yang bersifat khusus dari kasus yang bersifat umum.

 

Para filsufdikenaltelahbanyakmenyumbangkanmetodeberfikirfilsafati, dalamprosesmencarikebenaran.Merekamampumenyumbangkankonsepsipemikiranunntukmenngungkapmisterikehidupanmanusia.Bahkantidak hanyamanusia yang menjadiobjekpemikiran,tetapimeliputisegala yang adadanmungkinada. (tuhan, alam semesta, manusia). Polapemikirandalammetodeberfikir (berfilsafat)berawaldarititikpangkal dan dasar kepastian, seperti logika konsepsional dan intuisi, seperti penalaran (induktif) danpenalaran (deduktif).

Beberpametodeberfikir (berfilsafat) yang telahdirumuskanoleh Dr. Anton Bakker dalambukuyangberjudulmetode-metodefilsafatantaralaindijelaskansebagaiberikut:

  1. MetodeIntuitif (Plotinus dan Henri Bergson)
  2. MetodeSkolastik (Thomas Aquinas 1225-1247)
  3. MetodeGeometris (Rene Descartes 1596-1650)
  4. MetodeEksperimental (David Hume)
  5. MetodeKritis-Transendental (Immanuel Kant 1724-1804)
  6. MetodeDialektis (G.W.F. Hegel 1770-1831)
  7. MetodeFenomenologis (Edmund Husserl 1859-1938)

 

Metodedanfilsafatmempunyaihubunganerat, karenasecaratidaklangsungfilsafatmembutuhkanmetodeuntukmempermudahdalamberfilsafat.Untukmempelajarifilsafatadatigamacammetode: 1) metodesistematis, 2) metodehistoris, dan 3) metodekritismenggunakanfilsafat/pemikiran lain.

Menggunakanmetodesistematis, berartiseseorangmenghadapidanmempelajarikaryafilsafat.Misalnyamula-mulaiamenghadapiteoripengetahuan yang terdiriatasbeberapacabangfilsafat, setelahituiamempelajariteorihakikat yang merupakancabang lain. Kemudianiamempelajariteorinilaiataufilsafattatkalamembahassetiapcabangataucabangitu, aliran-aliranakanterbahas. Denganbelajarfilsafatmelaluimetodeiniperhatiannyaterpusatpadaisifilsafat, bukanpadatokohatau pun periode.

Adapunmetodehistorisdigunakanapabilaseseorangmempelajarifilsafatdengancaramengikutisejarah, terutamasejarahpemikiran. Metodeinidapatdilakukandenganmembicarakantokoh demi tokohmenurutkedudukannyadalamsejarah, misalnyadimulaidarimembicarakanfilsafat Thales besertariwayathidupnya, pokokajarannyadalamteoripengetahuan, teorihakikat, maupundalamteorinilai.Lantassetelahmengetahui Thales darimulaipemikiranya, dilanjutkanlagimembicarakantokohselanjutnya, misalnyaHeraklitus, Pramendes, Sokrates, Demokritus, Plato, dantokoh-tokohlainnya.

Metodekritisdigunakanoleh orang yang mempelajarifilsafattingkatintensif.Penggunametodeiniharuslahsedikit-banyaktelahmemilikipengetahuanfilsafat, langkahpertamadenganmemahamiisiajaran, kemudianmengajukankritiknya.Kritikitudapatmenggunakanpendapatnyasendiriatau pun orang lain.

 

 

JAWABAN NO. 2

PERIODESASI

 

Secara garis besar periodesasi filsafat dibagi menjadi:

  1. Periode klasik

Era klasik kajaian para filsuf terfokus pada kosmosentris.Maksudnya kajian tentang asal usul terjadinya alam. Pada dasarnya era ini para filsuf mencari   induk yang dianggap asal dari sesuatu. Tokoh filsuf dalam kategori ini meliputi

  • Filsuf pra Socrates

Thales (624-545 SM)

Ilmuan yang mendapat gelar bapak filsafat yang pertama. Sebab dialah yang membuka pemikirannya mengenai alam terbentuk dari   satu subtansi yaitu air.

Anaximander (610-546 SM)

Gagasanya yang terkenal mengenai to aperion sesuatu yang tanpa batas. Dimana kenyataan yang mendalam tidak dapat disamakan dengan suatu benda yang ada di bumi.

Anaximenes(585-528 SM).

Kenyataan mendalam adalah udara.

Xenophones (580-470)

Segala sesuatu yang ada dibumi berasal dari Tuhan.

Dan masih banyak tokoh filsuf lain seperti Pythagoras,Parminedes ,Heraklitos dll

  • Socrates

Disinilah zaman dimana para filsuf besar Yunani yang melahirkan gagasan hebat yang akhirnya perkembangan ilmu ilmu selanjutnya mertumpu pada gagasan mereka seperti

  1. Socrates (470-399)

Seorang pemuda Athena seorang filsuf besar yang menjadi guru dari Plato, dan Aristoteles. Socrates melahirkan banyak gagasan filsafat mulai moral dan filsafat secara umum. Filosof ini memiliki watak hebat ia rela minum racun demi mempertahankan sebuah kebenaran. Saat itu Socrates dituduh pemikiran yang digagasnya merusak pemuda Athena sehingga akhirnya ia dipaksa untuk meminum racun didepan pengikutnya.

  1. Plato ( 427-347 SM)

Merupakan murid Socrates yang dikenal sebagai filsuf yang sangat berpengaruh hamper semua ilmu pengetahuan gagasan plato menjadi rujukan

Seperti ilmu fisika ,ekonomi politik, agama dll

Gagasan plato mengatakan bahwa segala sesuatu hakekatnya adalah ide. Sebuah kebenaraan asdalah ide itu sendiri.

Karya plato yang terkenal adalah buku dengan judul republica buku itu memuat gagasan gagasanya. Sehingga gagasan plato ini melahirkan aliran idealisme

  1. Aris toteles( 384-322 SM)

Lahir di Athena menjadi murid nya plato sekaligus murid yang membangkang pada gurunya. Gagasan Aristoteles berbeda dengan Plato yang idealis namun aristoteles condong pragmatis.Namun Aristoteles juga sangat berpengaruh dalam perkembangan khasanah ilmu hingga sekarang.

Kecenderungan berfikir saintik dengan metode empiris menjadi cirri gagasan Aristoteles.

 

  1. Pereode skolastik (pertengahan)

Corak gagasan pada periode ini pada teosentris yaitu membahas mengenai ketuhanan. Pada periode ini dapat dikatakan sebagai abad gelap karena ajaran/dogma agama membelenggu orang untuk berfikir.

  • Periode ini terbagi menjadi skolastik Islam

Lahir ilmuan ilmuan islam seperti AL-Kindhi,alfarabi, ibn.sina ibnu rusd.dll

  • Periode skolastik Kristen

Muncul ilmuan seperti Anselmus,Petrus. DLL

 

  1. Periode modern

Zaman ini muncul karena keinginan bangkit dari orang orang barat untuk merebut kejayaan. Tepatnya setelah runtuhnya 3 kerajaan besar islam yaitu mongol,turki ustmani, dan safawi. Zaman ini dapat disebut sebagai antithesis pada corak filsafat abad pertengahan. Pada zaman ini membahas mengenai humanisentris yaitu ilmu tentang kemanusiaan atau hakikat dari manusia.

Pada periode modern dibagi menjadi dua decade

  • Reinaisance

Secara terminology dimaknai sebagai Kelahiran kembali ada pula yang mengatakan zaman pencerahan. Tokohnya seperti Macchivelli,Thomas hobes dan Francis Bacon

  • Zaman modern

Para filsuf modern mengatakan jika pengetahuan bukan dari wahyu atau kitab suci tapi dari manusia sendiri. Tokoh nya meliputi Rene Descartes, Baruch de Spinoza,john locke.david hume.

 

  1. Periode postmodern

Zaman postmodern atau disebut melampaui modern membahas mencoba memunculkan apa yang ditutupi oleh nalar seperti emosi,ambisi, dan hasrat. Karena setiap manusia tidak hanya dibekali akal saja tapi juga emosi hasrat tersebut.

 

JAWABAN NO. 3

PANDANGAN FILSAFAT TENTANG MANUSIA

 

Pandangan filsafat terhadap manusia dari beberapa sudut pandang yakni dari:

  1. Teori descendensi,

Teori ini meletakkan manusia sejajar dengan hewan berdasarkan sebab mekanis. Artinya manusia tidaklah jauh berbeda dengan hewan, dimana manusia termasuk hewan yang berfikir, melakukan segala aktivitas hidupnya, manusia juga tidak beda dengan binatang yang menyusui.

  1. Metafisika,

Adalah teori yang memandang keberadaan sesuatu dibalik atau di belakang fisik. Dalam teori ini manusia dipandang dari dua hal yakni:

  1. Fisik, yang terdiri dari zat.

Artinya bahwa manusia tercipta terdiri dari beberapa sel, yang dapat di indera dengan panca indera.

  1. Ruh, manusia identik dengan jiwa yang mencakup imajinasi, gagasan, perasaan dan penghayatan semua itu tidak dapat diindera dengan panca indera.
  2. Psikomatik,

Memandang manusia hanya terdiri atas jasad yang memiliki kebutuhan untuk menjaga keberlangsungannya artinya manusia memerlukan kebutuhan primer (sandang, pangan dan papan) untuk keberlangsungan hidupnya.

Manusia terdiri dari sel yang memerlukan materi cenderung bersifat duniawi yang diatur oleh nilai-nilai ekonomi (dinilai dengan harta / uang) artinya manusia memerlukan kebutuhan duniawi yang harus dipenuhi, apabila kebutuhan tersebut sudah terpenuhi maka mereka akan merasa puas terhadap pencapaiannya. Manusia juga terdiri dari ruh yang memerlukan nilai spiritual yang diatur oleh nilai keagamaan (pahala).Dalam menjalani kehidupan duniawi manusia membutuhkan ajaran agama, melalui ceramah keagamaan untuk memenuhi kebutuhan rohaninya.

Dalam hal ini manusia ingin menjadi manusia yang paling sempurna. Untuk menjadi manusia sempurna haruslah memiliki unsur-unsur sebagai berikut :

  1. Rasionalitas
  2. Kesadaran
  3. Akal budi
  4. Spiritualitas
  5. Moralitas
  6. Sosialitas
  7. Keselarasan dengan alam

===

PANDANGAN FILSAFAT TENTANG RUH DAN JIWA

 

Adapun jiwa menurut Al-Kindi ialah tidak tersusun, mempunyai arti penting, sempurna, dan mulia.Substansi roh berasal dari substansi tuhan. Hubungan roh dengan tuhan sama dengan hubungan cahaya dengan matahari, selain itu jiwa bersifat spiritual, ilahiah, terpisah dan berbeda dari tubuh.

Al-Kindi Berpendapat bahwa jiwa mempunyai tiga daya, yakni: daya bernafsu, daya pemarah dan daya berpikir, yang mana daya berpikir ini menurut Al-Kindi disebut dengan akal.

 

Adapun tentang jiwa, menurut Al-Farabi juga di pengaruhi oleh filsafat plato,Aristoteles,dan Plotinus,jiwa bersifat rohani,bukan materi,terwujud setelah adanya badan dan jiwa tidak berpindah-pindah dari suatu badan ke badan yang lain.

Jiwa manusia sebagaimana halnya materi asal memancar dari akal 10.Kesatuan antara jiwa dan jasad merupakan kesatuan sacara accident,artinya antara keduanya mempunyai substansi yang berbeda,dan binasanya jasad tidak berasal dari alam ilahi,sedangkan jasad berasal dari alam khalq,berbentuk,berupa,berkadar,dan bergerak.Jiwa di ciptakan tak kala jasad siap menerimanya.

Jiwa manusia mempunyai daya-daya,sebagai berikut:

1.daya gerak

2.daya mengetahui

3.daya berpikir

 

Ibn Rusyd membuat definisi jiwa sebagai “kesempurnaan awal bagi jisim alami yang organis.” Jiwa disebut sebagai kesempurnaan awal untuk membedakan dengan kesempurnaan lain yangmerupakan pelengkap darinya, seperti yang terdapat pada berbagai perbuatan. Sedangkan disebut organis untuk menunjukan kepada jisim yang terdiri dari anggota-anggota. Untuk menjelaskan kesempurnaan jiwa tersebut, Ibn Rusyd mengkaji jenis-jenis jiwa yang menurutnya ada lima:

 

– Jiwa Nabati (an-Nafs Nabatiyyah)

– Jiwa Perasa (an-Nafs al-Hassasah)

– Jiwa Khayal (an-Nafs al-Mutakhayyin)

– Jiwa Berfikir (an-Nafs an-Nathiqah)

– Jiwa Kecendrungan (an-Nafs an-Nuzu’iyyah)

 

 

PANDANGAN FILSAFAT TENTANG TUHAN

 

Plato

Plato menggambarkan Tuhan sebagai Demeiougos (sang pencipta) dari alam ini dan sebagai Ide Tertinggi dari alam ide.Ide tertinggi ini menurut Plato adalah Ide Kebaikan.[2]

Aristoteles

 

Konsep Aristoteles tentang Tuhan didasarkan pada latar belakang ilmu pengetahuan, tidak didasarkan pada suatu religi tertentu. Bagi Aristoteles Tuhan sebagai substansi yang bersifat eternal terpisah dari dunia konkrit, tidak bersifat materi, tidak memiliki potensi; Tuhan adalah “Aktus Murni” yang hanya memperhatikan dirinya sendiri, Tuhan bukan personal yang menjawab doa-doa dan keinginan manusia.

Spinoza

 

Pandangan Spinoza tentang Tuhan atau substansi dapat disimpulkan beberapa hal: pertama, Tuhan itu satu, diluar Tuhan tidak ada sesuatu pun yang eksis. Kedua, bingkai alam adalah tubuh Tuhan, sedang isi mental dari struktur fisikal alam dalah jiwa Tuhan.Ketiga, objek-objek material adalah modus Tuhan atau substansi.

 

Agustinus (354-430)

Menurunya Tuhan adalah pengada yang mutlak.Dia adalah abadi, tidak berubah.Dia berada diluar pemahaman manusia, karena dia lebih besar dari sesuatu yang diketahui manusia.Penegtahuan yang dimiliki manusia dalam kaitannya dengan Tuhan adalah terbatas dan diperoleh melalui analogi dari suatu yang dialami manusia.

 

Anselmus (1033-1109)

Tuhan bagi Anselmus adalah sesuatu yang salainnya sesuatu yang lebih besar tidak dapat dipikirkan. Tuhan itu harus bereksistensi, karena tanpa eksistensi Tuhan tidak akan menjadi sempurna. Eksistensi lebih sempurna daripada tidak bereksistensi.

Al Kindi

Tuhan digambarkan oleh al Kindi sebagai sesuatu yang bersifat tetap, tunggal, ghaib dan penyebab sejati gerak.Tuhan adalah yang benar.Ia tinggi dan dapat disifati hanya dengan sebutan-sebutan negatif. Ia bukan materi, tak berbentuk, tak berjumlah, tak berkualitas, tak terhubung. Ia tek berjenis, tak terbagi dan tak berkejadian, ia abadi oleh karena itu Ia Maha Esa (wahdah), selain-Nya berlipat.

 

 

 

JAWABAN NO. 4

APAKAH KEBENARAN ITU ?

 

Di dalam Islam terdapat dua istilah yang berbeda untuk kebenaran mutlak yang berasal dari wahyu (al- haqq) dan kebenaran relatif yang berasal dari pemikiran dan interpretasi  (al-shawwab).  Perbedaan- perbedaan  pendapat  di dalam ranah al-shawwab,  sebagai  contoh perbedaan  empat mazhab  fikih,

Kebenaran dapat dipahami berdasarkan tiga hal yakni, kualitas pengetahuan, sifat/karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuan itu, dan nilai kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan itu.

===

SUMBER-SUMBER KEBENARAN DARI MANUSIA

Kebenaran ilmu sebagai hasil usaha manusiauntuk berfikir dan menyelidiki tentang pengetahuan dah keilmuan yg menghasilkan kebenaran nisbi yang selalu dapat berubah dan berkembang

  1. Ilmu berawal dari dorongan ingintahu manusia yang sangat besar untuk menghasilkan“ pengetahuan “ (knowledge).
  2. homby mengartikan ilmu sebagai susunan atau kumpulan pengetahuannya yang di peroleh melalui penelitian dan percobaan dari fakta-fakta
  3. Kebenaran ilmu bersifat apostiori karena harus teruji atau dapat di buktikan kebenarannya sbb; ilmu eksakta dan ilmu social
  4. Ilmu adalah kebenaran obyektif (tau secaratepat).

Kebenaran filsafat

Kebenaran kodrati karena merupakan hasil usaha manusia melalui proses berfikir secara mendasar untuk mencari hakikat, kebenaran tentang obyek yang dipikirkan

====

KENISBIAN KEBENARAN DARI MANUSIA

Kenisbian Ilmu

Ilmu bersifat sementara, karena itu ia nisbi (relatif) penemuan baru dapat mengubah pandangan, pendapat, kesimpulan, atau teori. Sejarah ilmu adalah sejarah pembaharuan teori.Teori terakhir mengandung teori sebelumnya dalam dirinya.Dengan demikian ilmu bersifat progresif.Teori yang sudah ditinggalkannya, tidak diulanginya kembali.Kenapa?sebab teori itu terbukti keliru. Karena ilmu masih penelitian, penelitian pulalah yang menguji benar salahnya.Apakah suatu teori benar atau salah?Itu dapat dibuktikan dengan fakta atau data-data hasil riset. Dalam hal ini filsafat berbeda dari pada ilmu

Oleh karena itu, kebenaran dari ilmu pengetahuan itu bersifat tidak mutlak, maka seluruh permasalahan manusia di dunia tidaklah dapat dijawab dengan tuntas oleh ilmu.

  1. Tidak semua permasalahan yang dipersoalkan manusia dalam hidup dan kehidupannya dapat dijawab dengan tuntas oleh ilmu pengetahuan itu.
  2. Nilai kebenaran ilmu pengetahuan itu bersifat positif relatif atas nisbi dalam arti tidaklah mutlak kebenarannya.
  3. Batas dan relativitas ilmu pengetahuan bernuansa pada filsafat, dalam arti bahwa semua permasalahan yang berada di luar atau di atas jangkauan dari ilmu pengetahuan itu diserahkan kepada filsafat untuk menjawabnya. Tetapi filsafat juga tidak dapat memberikan mutlak karena ia juga bersifat relatif (nisbi)

 

 

JAWABAN NO. 5

PERBEDAANDAN PERSAMAAN

ILMU, FILSAFAT DAN AGAMA

 

  1. TITIK PERSAMAAN

Baik ilmu, filsafat dan agama bertujuan sekurang-kurangnya berusaha berurusan dengan hal yang sama, yaitu kebenaran.

Ilmu pengetahuan dengan metodenya sendiri mencari kebenaran tentang alam dan manusia.

Filsafat dengan wataknya sendiri yang menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun tentang manusia (yang belum atau tidak dapat dijawab oleh ilmu, karena diluar atau di atas batas jangkauannya), ataupun tentang tuhan.

Agama dengan karakteristiknya memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia ataupun tentang tuhan.

 

  1. TITIK PERBEDAAN

Baik ilmu maupun filsafat, keduanya merupakan hasil dari sumber yang sama yaitu ra’yu (akal, budi,rasio, reason, nous, rede, vertand, dan vernunft) manusia. Sedangkan agama bersumberkan wahyu dari Allah swt.

Ilmu pengetahuan mencari kebenaran denan jalan penyelidikan (riset, research), pengalaman (empiri), dan percobaan (eksperimen) sebagai batu ujian.

Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menualangkan (mengembarakan atau mengelanakan ) akal budi secara radikal (mengakar) dan integral, serta universal (mengalam), tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri yang bernama logika. Manusia mencari dan menemukan kebenaran dengan dan dalam agama dengan jalan mempertanyakan (mencari jawaban tentang) berbagai masalah asasi dari atau kepada kitab suci, kodifikasi firman ilahi untuk manusia.

Kebenaran ilmu pengetahuan ialah kebenaran fositif (berlaku sampai dengan saat ini ),

Kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiri, reset dan eksperimental). Baik kebenaran ilmu maupun filsafat, kedua-duanya nisbi (relative).

Sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak (absolute) karena agama adalah wahyu yang diturunkan oleh zat yanh Maha Benar, Maha Mutlak, dan Maha sempurna, yaitu Allah swt.

Baik ilmu maupun filsafat,kedua-duanya bermulai dengan sikap sangsi atau tidak percaya dan iman.

 

  1. Persamaan antara Ilmu, Filsafat, dan Agama

Yang paling pokok persamaan dari ketiga bagian ini adalah sama-sama bertujuan mencari kebenaran. Ilmu pengetahuan melalui metode ilmiahnya berupaya untuk mencari kebenaran. Metode ilmiah yang digunakan dengan cara melakukan penyelidikan atau riset untuk membuktikan atau mencari kebenaran tersebut. Filsafat dengan caranya tersendiri berusaha menemukan hakikat sesuatu baik tentang alam, manusia, maupun tentang Tuhan. Sementara agama, dengan karakteristiknya tersendiri memberikan jawaban atas segala persoalan asasi tentang alam, manusia, dan Tuhan.

 

  1. Perbedaan antara Ilmu, Filsafat, dan Agama

Terdapat perbedaan yang mencolok antara ketiga aspek tersebut, di mana ilmu dan filsafat bersumber dari akal budi atau rasio manusia. Sedangkan agama bersumberkan wahyu dari Tuhan.

Ilmu pengetahuan mencari kebenaran dangan cara penyelidikan (riset), pengalaman (empiri), dan percobaan (eksperimen). Filsafat menemukan kebenaran atau kebijakan dengan cara penggunaan akal budi atau rasio yang dilakukan secara mendalam, menyeluruh, dan universal. Kebenaran yang diperoleh atau ditemukan oleh filsafat adalah murni hasil pemikiran (logika) manusia, dengan cara perenungan (berpikir) yang mendalam (radikal) tentang hakikat segala sesuatu (metafisika). Sedangkan agama mengajarkan kebenaran atau memberi jawaban tentang berbagai masalah asasi melalui wahyu atau kitab suci yang berupa firman Tuhan.

Kebenaran yang diperoleh melalui ilmu pengetahuan dengan cara penyelidikan tersebut adalah kebenaran positif, yaitu kebenaran yang masih berlaku sampai dengan ditemukan kebenaran atau teori yang lebih kuat dalilnya atau alasannya. Kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif, berupa dugaan yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, riset, dan eksperimen. Baik kebenaran ilmu maupun kebenaran filsafat, keduanya nisbi (relatif). Sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak (absolut), karena ajaran agama adalah wahyu

Ex Makalah : Perkembangan Kognitif Manusia


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Perkembangan merupakan sebuah konsep yang cukup rumit dan kompleks. Perkembangan merupakan pertumbuhan, perubahan dalam bentuk dan dalam integrasi dari bagian jasmani menuju bagian yang fungsional,serta pendewasaan tingkah pola asasi dari tingkah laku yang tidak di pelajari.

Hal ini dapat di artikan bahwa perkembangan dapat menghasilkan ciri-ciri kemampuan yang baru yang bertahap dari yang sederhana ke tahap yang lebih tinggi. Perkembangan senantiasa mengalami perubahan yang bersifat progresif serta berkesinambungan, selama masa kanak-kanak sampai menginjak remaja misalnya, ia mengalami perkembangan dalam stuktur fisik mental dan jasmani serta rohani hingga jenjang dewasa.

Ini berarti dalam konsep perkembangan juga terdapat arti pembusukan sampai pada kematian.

 

  1. Rumusan Masaah
  2. Apa Pengertian Perkembangan Kognitif?
  3. Apa Saja Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif?
  4. Bagaimana Teori Perkembangan Kognitif menurut Jean Piaget dan Vygotsky?

 

  1. Tujuan Penulisan
  2. Mengetahui arti perkembangan kognitif
  3. Mengetahui factor yang mempengaruhi perkembangan kognitif
  4. Memahami Teori Perkembangan Kognitif menurut Jean Piaget dan Vygotsky

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Perkembangan Kognitif Manusia

Perkembangan kognitif adalah salah satu aspek perkembangan manusia yang berkaitan dengan pengetahuan, yaitu semua proses psikologi yang berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari dan memikirkan langkungan nya. Perkembangan kognitif merupakan dasar bagi kemampuan anak untuk berpikir. Hal ini sesuai dengan pendapat Ahmad Susanto (2011: 48) bahwa kognitif adalah suatu proses berpikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa.

Jadi proses kognitif berhubungan dengan tingkat kecerdasan (intelegensi) yang menandai seseorang dengan berbagai minat terutama sekali ditujukan kepada ide-ide belajar.

Perkembangan kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan anak dalam belajar karena sebagian aktivitas dalam belajar selalu berhubungan dengan masalah berpikir. Menurut Ernawulan Syaodih dan Mubair Agustin (2008: 20) perkembangan kognitif menyangkut perkembangan berpikir dan bagaimana kegiatan berpikir itu bekerja.

Dalam kehidupannya, mungkin saja anak dihadapkan pada persoalan-persoalan yang menuntut adanya pemecahan. Menyelesaikan suatu persoalan merupakan langkah yang lebih kompleks pada diri anak. Sebelum anak mampu menyelesaikan persoalan anak perlu memiliki kemampuan untuk mencari cara penyelesaiannya.

Husdarta dan Nurlan (2010: 169) berpendapat bahwa perkembangan kognitif adalah suatu proses menerus, namun hasilnya tidak merupakan sambungan (kelanjutan) dari hasil-hasil yang telah dicapai sebelumnya. Hasil-hasil tersebut berbeda secara kualitatif antara yang satu dengan yang lain. Anak akan melewati tahapan-tahapan perkembangan kognitif atau periode perkembangan. Setiap periode perkembangan, anak berusaha mencari

keseimbangan antara struktur kognitifnya dengan pengalaman-pengalaman baru. Ketidakseimbangan memerlukan pengakomodasian baru serta merupakan transformasi keperiode berikutnya. Berdasarkan beberapa pendapat di atas disimpulkan bahwa faktor kognitif mempunyai peranan penting bagi keberhasilan anak dalam belajar karena sebagian besar aktivitas dalam belajar selalu berhubungan dengan masalah mengingat dan berpikir. Perkembangan kognitif dimaksudkan agar anak mampu melakukan eksplorasi terhadap dunia sekitar melalui panca inderanya sehingga dengan pengetahuan yang didapatkannya tersebut anak dapat melangsungkan hidupnya.

 

  1. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Kognitif

Perkembangan kognitif anak menunjukkan perkembangan dari cara berpikir anak. Ada faktor yang mempengaruhi perkembangan tersebut. Faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif menurut Piaget dalam Siti Partini (2003: 4) bahwa “pengalaman yang berasal dari lingkungan dan kematangan, keduanya mempengaruhi perkembangan kognitif anak”. Sedangkan menurut Soemiarti dan Patmonodewo (2003: 20) perkembangan kognitif dipengaruhi oleh pertumbuhan sel otak dan perkembangan hubungan antar sel otak.

Kondisi kesehatan dan gizi anak walaupun masih dalam kandungan ibu akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak. Menurut Piaget dalam Asri Budiningsih (2005: 35) makin bertambahnya umur seseorang maka makin komplekslah susunan sel sarafnya dan makin meningkat pada kemampuannya. Ketika individu berkembang menuju kedewasaan akan mengalami adaptasi biologis dengan lingkungannya yang akan menyebabkan adanya perubahan-perubahan kualitatif di dalam sruktur kognitifnya.

Ada pendapat lain yang menyatakan bahwa banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif.

Menurut Ahmad Susanto (2011: 59-60) faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan kognitif antara lain:

  1. Faktor Hereditas/Keturunan
  2. Faktor Lingkungan
  3. Faktor Kematangan
  4. Faktor Pembentukan
  5. Faktor Minat dan Bakat
  6. Faktor Kebebasan

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi perkembangan kognitif anak adalah faktor kematangan dan pengalaman yang berasal dari interaksi anak dengan lingkungan. Dari interaksi dengan lingkungan, anak akan memperoleh pengalaman dengan menggunakan asimilasi, akomodasi, dan dikendalikan oleh prinsip keseimbangan.

 

  1. Teori Perkembangan Kognitif
  2. Jean Piaget

Jean piaget merupakan salah satu seorang pakar psikologi swiss yang banyak mempelajari perkembangan kognitif anak. Jean Piaget telah banyak membuat kajian dan eksperimen dalam bidang psikologi pembelajaran kanak-kanak. Beliau berpendapat bahwa pemikiran kanak-kanak berbeda pada masing-masing tingkatan. Piaget menyakini bahwa anak mebangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri. Ia membagi perkembangan pemikiran kanak-kanak menjadi empat tingkatan; tingkatan sensorimotorik, tingkat praopersainal, tingkatan operasi konkret, dan tingkatan operasi formal.

Setiap tahap mempunyai tugas kognitif yang harus diselesaikan. Tingkatan sensori motor (0-2 tahun), pemikiran anak berdasarkan tindakan indrawinya. Tingkatan Praoperasional (2-7 tahun), pemikiran anak ditandai dengan penggunaan bahasa serta tanda untuk menggambarkan konsep. Tingkatan Operasi konkret (7-ll tahun) ditandai dengan penggunaan aturan logis yang jelas. Tahap Operasi Formal dicirikan dengan pemikiran abstrak, hipotesis, deduktif, serta induktif. Secara skematis, keempat tinkatan itu dapat digambarkan dalam tabel berikut.

 

TAHAP UMUR CIRI POKOK PERKEMBANGAN
Sensorimotor

 

0-2 tahun

 

* Berdasarka tindakan

* Langkah demi langkah

Praeperasi

 

2-7 tahun

 

* Penggunaan simbul/bahasa

tanda

* Konsep intuitif

Operasi Konkret

 

8-ll tahun

 

* Pakai aturan jelas/logis

* Reversibel dan kekekalan

Operasi Formal 11 tahun ke atas * Hipotesis

* Absttak

* Deduktif dan induktif

* Logis dan Probabilitas

 

  1. Vygotsky

Yang mendasari teori Vygtsky adalah pengamatan bahwa perkembangan dan pembelajaran terjadi di dalam konteks sosial, yakni di dunia yang penuh dengan orang yang berinteraksi dengan anak sejak anak itu lahir. Ini berbeda dengan Piaget yang memandang anak sebagai pembelajar yang aktif di dunia yang penuh orang. Orang-orang inilah yang sangat berperan dalam membantu anak belajar dengan menunjukkan benda-benda, dengan berbicara sambil bermain, dengan membacakan ceritera, dengan mengajukan pertanyaan dan sebagainya. Dengan kata lain, orang dewasa menjadi perantara bagi anak dan dunia sekitarnya.

Menurut Vygotsky, pertama-tama anak melakukan segala sesuatu dalam konteks sosial dengan orang lain dan bahasa membantu proses ini dalam banyak hal. Lambat laun, anak semakin menjauhkan diri dari ketergantungannya kepada orang dewasa dan menuju kemandirian bertindak dan berpikir. Pergeseran dari berpikir dan berbicara nyaring sambil melakukan sesuatu ke tahap berpikir dalam hati tanpa suara disebut internalisasi.

 

 

Vygotsky membedakan proses mental menjadi 2, yaitu :

  1. Elementary. Masa praverbal, yaitu selama anak belum menguasai verbal, pada saat itu anak berhubungan dengan lingkungan menggunakan bahasa tubuh.
  2. Higher. Masa setelah anak dapat berbicara. Pada masa ini, nak akan berhubungan dengan lingkungan secara verbal.


 

BAB III

PENUTUP

  1. KESIMPULAN
  2. Perkembangan kognitif manusia adalah suatu proses berpikir, yaitu kemampuan individu untuk menghubungkan, menilai, dan mempertimbangkan suatu kejadian atau peristiwa. Jadi proses kognitif berhubungan dengan tingkat kecerdasan (intelegensi) yang menandai seseorang dengan berbagai minat terutama sekali ditujukan kepada ide-ide belajar.
  3. Faktor yang mempengaruhi perkembangan kognitif adalah:
  4. Faktor Hereditas/Keturunan
  5. Faktor Lingkungan
  6. Faktor Kematangan
  7. Faktor Pembentukan
  8. Faktor Minat dan Bakat
  9. Faktor Kebebalan

 

Teori perkembangan secara kognitif manusia disini ada pendapat dari beberapa tokoh psikologi antara lain Jean Piaget dan Vygotsky

  1. Menurut Jean Piaget

Jean piaget merupakan salah satu seorang pakar psikologi swiss yang banyak mempelajari perkembangan kognitif anak. Belau berpendapat bahwa pemikiran kanak-kanak berbeda pada masing-masing tingkatan. Piaget menyakini bahwa anak mebangun secara aktif dunia kognitif mereka sendiri.

  1. Menurut Vygotsky

Yang mendasari teori Vygtsky adalah pengamatan bahwa perkembangan dan pembelajaran terjadi di dalam konteks sosial, yakni di dunia yang penuh dengan orang yang berinteraksi dengan anak sejak anak itu lahir.

  1. Elementary. Masa praverbal, yaitu selama anak belum menguasai verbal, pada saat itu anak berhubungan dengan lingkungan menggunakan bahasa tubuh.
  2. Higher. Masa setelah anak dapat berbicara. Pada masa ini, nak akan berhubungan dengan lingkungan secara verbal.

 

  1. SARAN

Dalam penulisan makalah ini kami menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu agar dalam penulisan makalah selanjutnya kami dapat lebih baik, kami membutuhkan saran yang sifatnya membangun dari pembaca.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ex Makalah : Aliran Filsafat; Pragmatisme dan Hermeneutika


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. LATAR BELAKANG

Wacana filsafat yang menjadi topik utama pada zaman modern, khususnya abad ke-17, adalah persoalan epistemologi. Pertanyaan pokok dalam bidang epistemologi adalah bagaimana manusia memperoleh pengetahuan dan apakah sarana yang paling memadai untuk mencapai pengetahuan yang benar, serta apa yang dimaksud dengan kebenaran itu sendiri. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang bercorak epistemologis ini, maka dalam filsafat abad ke-17 munculah dua aliran filsafat yang memberikan jawaban yang berbeda, bahkan saling bertentangan. Aliran filsafat tersebut adalah rasionalisme dan empirisme. Empirisme itu sendiri pada abad ke-19 dan 20 berkembang lebih jauh menjadi beberapa aliran yang berbeda, yaitu: rasionalitas, empirisme dan pragmatisme.

Teori tentang asal-usul bahasa telah lama menjadi obyek kajian para ahli, sejak dari kalangan psikolog, antropolog, filsuf maupun teolog, sehingga lahirlah sub-sub ilmu dan filsafat bahasa, di antaranya yaitu hermeneutika. Sifat ilmu pengetahuan adalah selalu berkembang dan berkaitan antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu yang lain. Hermeneutika sering dikelompokkan dalam wilayah filsafat bahasa, meskipun ia bisa juga mengklaim sebagai disiplin ilmu tersendiri. Khususnya hermeneutika yang semula sangat dekat kerjanya dengan Biblical Studies, dengan munculnya buku Truth and Method (1960) oleh Hans-Geor Gadamer, maka hermeneutika mengembangkan mitra kerjanya pada semua cabang ilmu.

Gadamer mendasarkan klaimnya pada argumen bahwa semua disiplin ilmu, termasuk ilmu alam, mesti terlibat dengan persoalan understanding yang muncul antara hubungan subyek dan obyek.

Hermeneutika adalah kata yang sering didengar dalam bidang teologi, filsafat, bahkan sastra. Hermeneutik Baru muncul sebagai sebuah gerakan dominan dalam teologi Protestan Eropa, yang menyatakan bahwa hermeneutika merupakan “titik fokus” dari isu-isu teologis sekarang. Martin Heidegger tak henti-hentinya mendiskusikan karakter hermeneutis dari pemikirannya. Filsafat itu sendiri, kata Heidegger, bersifat (atau harus bersifat) “hermeneutis”.

Hermeneutika selalu berpusat pada fungsi penafsiran teks.[1] Meski terjadi perubahan dan modifikasi radikal terhadap teori-teori hermeneutika, tetap saja berintikan seni memahami teks. Pada kenyataannya, hermeneutika pra-Heidegger (sebelum abad 20) tidak membentuk suatu tantangan pemikiran yang berarti bagi pemikiran agama, sekalipun telah terjadi evaluasi radikal dalam aliran-aliran filsafat hermeneutika. Sementara itu, hermeneutika filosofis dan turunannya dalam teori-teori kritik sastra dan semantik telah merintis jalan bagi tantangan serius yang membentur metode klasik dan pengetahuan agama.

Metode hermeneutika lahir dalam ruang lingkup yang khas dalam tradisi Yahudi-Kristen. Perkembangan khusus dan luasnya opini tentang sifat dasar Perjanjian Baru, dinilai memberi sumbangan besar dalam mengentalkan problem hermeneutis dan usaha berkelanjutan dalam menanganinya.

Para filosof hermeneutika adalah mereka yang sejatinya tidak membatasi petunjuk pada ambang batas tertentu dari segala fenomena wujud. Mereka selalu melihat segala sesuatu yang ada di alam ini sebagai petunjuk atas yang lain. Jika kita mampu membedakan dua kondisi ini satu dan yang lainnya, maka kita dapat membedakan dua macam fenomena: ilmu dan pemahaman. Masalah ilmu dikaji dalam lapangan epistemologi, sedangkan masalah pemahaman dikaji dalam lapangan hermeneutika. Sehingga dengan demikian, baik epistemologi dan hermeneutika adalah ilmu yang berdampingan.

 

 

  1. RUMUSAN MASALAH

Dalam makalah ini akan dibahas mengenai :

  1. Apa Pengertian Pragmatisme?
  2. Apa saja Dasar-Dasar Pragmatisme?
  3. Siapa saja Tokoh Filsafat Pragmatisme?
  4. Bagaimana Kritik terhadap Pragmatisme?
  5. Bagaimana Implikasi Pragmatisme dalam Pendidikan?
  6. Apa Pengertian Hermeneutika?
  7. Bagaimana Asal-Usul Hermeneutika?
  8. Bagaimana Latar Belakang Hermeneutika?
  9. Siapa saja Tokoh Filsafat Hermeneutika dan Bagaimana Perkembangannya?
  10. Bagaimana Hermeneutika sebagai Alternatif Interpretasi?

 

  1. TUJUAN PEMBUATAN MAKALAH

Tujuan penulisan makalah ini adalah:

  1. Mengetahui Arti Pragmatisme.
  2. Mengetahui Dasar-Dasar Pragmatisme.
  3. Mengetahui Tokoh-Tokoh Filsafat Pragmatisme.
  4. Mengetahui Kritik Terhadap Pragmatisme.
  5. Mengetahui Implikasi Pragmatisme dalam Pendidikan.
  6. Mengetahui Pengertian Hermeneutika.
  7. Mengetahui Asal Usul Hermeneutika.
  8. Mengetahui Latar Belakang Hermeneutika.
  9. Mengetahui Para Tokoh dan Perkembangan Hermeneutika.
  10. Mengetahui Hermeneutika sebagai Alternatif Interpretasi.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. ALIRAN PRAGMATISME
    1. Pengertian Pragmatisme

Pragmatisme adalah aliran filsafat yang mengajarkan bahwa yang benar adalah segala sesuatu yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan melihat kepada akibat-akibat atau hasilnya yang bermanfaat secara praktis (wikipedia.com). Paham ini terkesan “baik” karena mengajarkan hal yang langsung pada manfaat yang dapat dirasakan.

Misalnya :

  • Kamu sekolah ya supaya pintar, nanti sudah lulus cari uang yang banyak biar jadi orang sukses
  • Kalau kerja ya supaya dapat banyak uang biar kaya
  • Mengasuh anak ya yang penting cukupi saja semua kebutuhannya, sampai nanti dia mandiri, bisa kerja dan jadi sukses.

 

  1. Dasar-Dasar Pragmatisme

Dasar-dasar yang digunakan dalam filsafat pragmatisme adalah dengan menggunakan rumus sebagai berikut :

Pertama :

Pragmatisme menolak segala intelektualisme. Ini berarti menentang rasionalisme sebagai sebuah pretensi dan metode. Dengan demikian tidak mempunyai aturan-aturan dan doktrin-doktrin yang menerima metode.

Kedua :

Pragmatisme menolak absolutisme. Pragmatisme tidak mengenal kebenaran yang bersifat mutlak, yang berlaku umum ataupun bersifat tetap bahkan yang berdiri sendiripun tidak ada. Alasan ini disebabkan adanya pengalaman yang berjalan terus dan segala yang dianggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa akan berubah, karena dalam prakteknya apa yang dianggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena itu tidak ada kebenaran yang mutlak, kecuali yang ada adalah kebenaran-kebanaran (dalam bentuk jamak), artinya apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman yang khusus, yang setiap kali dapat diubah oleh pengalaman berikutnya.

 

Ketiga :

Pragmatisme meremehkan logika formal. Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa pegangan pragmatisme adalah logika pengalaman. Hal ini dapat berupa pengalaman-pengalaman pribadi ataupun pengalaman mistis. Pragmatisme dalam membuat suatu kesimpulan-kesimpulan tidak memiliki aturan-aturan yang tetap yang dapat dijadikan standar atau ukuran.

Menurut Kamus Ilmiah Populer, Pragmatisme adalah aliran filsafat yang menekankan pengamatan penyelidikan dengan eksperimen (tindak percobaan), serta kebenaran yang mempunyai akibat – akibat yang memuaskan. Sedangkan, definisi Pragmatisme lainnya adalah hal mempergunakan segala sesuatu secara berguna.

Sedangkan menurut istilah adalah berasal dari bahasa Yunani “ Pragma” yang berarti perbuatan ( action) atau tindakan (practice). Isme sendiri berarti ajaran atau paham. Dengan demikian Pragmatisme itu berarti ajaran yang menekankan bahwa pemikran itu menuruti tindakan.

Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu, asal saja hanya membawa akibat praktis. Pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistis semua bisa diterima sebagai kebenaran dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang praktis yang bermanfaat. Dengan demikian, patokan pragmatisme adalah “manfaat bagi hidup praktis”. Pragmatisme memandang bahwa kriteria kebenaran ajaran adalah “faedah” atau “manfaat”. Suatu teori atau hipotesis dianggap oleh Pragmatisme benar apabila membawa suatu hasil. Dengan kata lain, suatu teori itu benar kalau berfungsi (if it works).

Kata pragmatisme sering sekali diucapkan orang. Orang-orang menyebut kata ini biasanya dalam pengertian praktis. Jika orang berkata, Rencana ini kurang pragmatis, maka maksudnya ialah rancangan itu kurang praktis. Pengertian seperti itu tidak begitu jauh dari pengertian pragmatisme yang sebenarnya, tetapi belum menggambarkan keseluruhan pengertian pragmatisme.

Pragmatisme adalah aliran dalam filsafat yang berpandangan bahwa kriteria kebenaran sesuatu ialah, apakah sesuatu itu memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.

Oleh sebab itu kebenaran sifatnya menjadi relatif tidak mutlak. Mungkin sesuatu konsep atau peraturan sama sekali tidak memberikan kegunaan bagi masyarakat tertentu, tetapi terbukti berguna bagi masyarakat yang lain. Maka konsep itu dinyatakan benar oleh masyarakat yang kedua.

 

 

  1. Tokoh-Tokoh Filsafat Pragmatisme
  • Charles Sanders Peirce

Charles mempunyai gagasan bahwa suatu hipotesis (dugaan sementara/ pegangan dasar) itu benar bila bisa diterapkan dan dilaksanakan menurut tujuan kita. Horton dan Edwards di dalam sebuah buku yang berjudul Background of American literary thought(1974) menjelaskan bahwa peirce memformulasikan (merumuskan) tiga prinsip-prinsip lain yang menjadi dasar bagi pragmatisme sebagai berikut :

  1. Bahwa kebenaran ilmu pengetahuan sebenarnya tidak lebih daripada kemurnian opini manusia.
  2. Bahwa apa yang kita namakan “universal “ adalah yang pada akhirnya setuju dan mnerima keyakinan dari “community of knowers “
  3. Bahwa filsafat dan matematika harus di buat lebih praktis dengan membuktikan bahwa problem-problem dan kesimpulan-kesimpulan yang terdapat dalam filsafat dan matematika merupakan hal yang nyata bagi masyarakat(komunitas).
  • William James

William selain menamakan filsafatnya dengan “pragmatisme”, ia juga menamainya “empirisme radikal”.

Menurut James, pragmatisme adalah aliran yang mengajarkan bahwa yag benar ialah apa yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan perantaraan yang akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis. Aliran ini bersedia menerima segala sesuatu asal saja membawa akibat praktis, misalnya pengalaman-pengalaman pribadi, kebenaran mistik, semuanya bisa diterima sebagai kebenaran, dan dasar tindakan asalkan membawa akibat yang praktis yang bermanfaat.

Sedangkan empirisme radikal adalah suatu aliran yang harus tidak menerima suatu unsur alam bentuk apa pun yang tidak dialami secara langsung.

Dalam bukunya The Meaning of The Truth, James mengemukakan tidak ada kebenaran mutlak, yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri dan terlepas dari segala akal yang mengenal, melainkan yang ada hanya kebenaran-kebenaran ‘plural’. Yang dimaksud kebenaran-kebenaran plural adalah apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman khusus yang setiap kali dapat diubah oleh pengalaman berikutnya.

Menurut James, ada dua hal kebenaran yang pokok dalam filsafat yaitu Tough Minded dan Tender Minded. Tough Minded dalam mencari kebenaran hanya lewat pendekatan empirirs dan tergantung pada fakta-fakta yang dapat ditangkap indera.Sementara, Tender Minded hanya mengakui kebenaran yang sifatnya berada dalam ide dan yang bersifat rasional.

Menurut James, terdapat hubungan yang erat antara konsep pragmatisme mengenai kebenaran dan sumber kebaikan. Selama ide itu bekerja dan menghasilkan hasil-hasil yang memuaskan maka ide itu bersifat benar. Suatu ide dianggap benar apabila dapat memberikan keuntungan kepada manusia dan yang dapat dipercayai tersebut membawa kearah kebaikan.

Disamping itu pula, William James mengajukan prinsip-prinsip dasar terhadap pragmatisme, sebagai berikut:

  1. Bahwa dunia tidak hanya terlihat menjadi spontan, berhenti dan tak dapat di prediksi tetapi dunia benar adanya.
  2. Bahwa kebenaran tidaklah melekat dalam ide-ide tetapi sesuatu yang terjadi pada ide-ide daam proses yang dipakai dalam situasi kehidupan nyata.
  3. Bahwa manusia bebas untuk meyakini apa yang menjadi keinginannya untuk percaya pada dunia, sepanjang keyakinannya tidak berlawanan dengan pengalaman praktisny maupun penguasaan ilmu pengetahuannya.
  4. Bahwa nilai akhir kebenaran tidak merupakan satu titik ketentuan yang absolut, tetapi semata-mata terletak dalam kekuasaannya mengarahkan kita kepada kebenaran-kebenaran yang lain tentang dunia tempat kita tinggal didalamnya (Horton dan Edwards, 1974:172).
  • John Dewey

Dewey adalah seorang pragmatis, namun ia lebih suka menyebut sistemnya dengan istilah Instrumentalis. Menurutnya, tujuan filsafat adalah untuk mengatur kehidupan dan aktivitas manusia secara lebih baik, untuk didunia dan sekarang. Tegasnya, tugas fiilsafat yang utama ialah memberikan garis-garis pengarahan bagi perbuatan dalam kenyataan hidup. Oleh karena itu, filsafat tidak boleh tenggelam dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang tiada faedahnya. Filsafat harus berpijak pada pengalaman (experience) , dan menyelidiki serta mengolah pengalaman itu secara aktif kritis. Dengan demikian, filsafat akan dapat menyusun suatu system norma-norma dan nilai.

Instrumentalisme adalah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan penyimpulan

penyimpulan dalam bentuknya yang bermacam-macam itu dengan cara utama menyelidiki bagaimana pikiran-pikiran berfungsi dalam penemuan-penemuan yang berdasarkan pengalaman-penglaman yang berdasarkan pengalaman yang mengenai konsekuensi-konsekuensi di masa depan.

Sehubungan hal diatas, menurut Dewey, penyelidikan adalah transformasi yang terawasi atau terpimpin dari suatu keadaan yang tak menentu menjadi suatu keadaan yang tertentu. Oleh karena itu, penyelidakan dengan penilainnya adalah alat( instrumental) . jadi yang di maksud dengan instrumentalisme adalah suatu usaha untuk menyusun suatu teori yang logis dan tepat dari konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan, penyimpulan-penyimpulandalam bentuknya yang bermacam-macam. Menurut Dewey, kita hidup dalam dunia yang belum selesai penciptaanya. Sikap Dewey dapat dipahami dengan sebaik-baiknya dengan meniliti tiga aspek dari yang kita namakan instrumentalisme.

  • Pertama, kata temporalisme yang berarti ada gerak dan kemajuan nyata dalam waktu.
  • Kedua, kata futurisme, mendorong kita untuk melihat hari esok dan tidak pada hari kemarin.
  • Ketiga, milionarisme, berarti bahwa dunia dapat dibuat lebih baik dengan tenaga kita. Pandangan ini juga dianut oleh wiliam James.

 

  1. Analisis Kritis atas Kekuatan dan Kelemahan Pragmatisme
  • Kekuatan Pragmatisme
  1. Kemunculan pragmatis sebagai aliran filsafat dalam kehidupan kontemporer, khususnya di Amerika Serikat, telah membawa kemajuan-kemnjuan yang pesat bagi ilmu pengetahuan maupun teknologi.Pragmatisme telah berhasil membumikan filsafat dari corak sifat yang Tender Minded yang cenderung berfikir metafisis, idealis, abstrak, intelektualis, dan cenderung berfikir hal-hal yang memikirkan atas kenyataan, materialis, dan atas kebutuhan-kebutuhan dunia, bukan nnati di akhirat. Dengan demikan, filsafat pragmatisme mengarahkan aktivitas manusia untuk hanya sekedar mempercayai (belief) pada hal yang sifatnya riil, indriawi, dan yang memanfaatnya bisa di nikmati secara praktis-pragmatis dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Pragmatisme telah berhasil mendorong berfikir yag liberal, bebas dan selalu menyangsikan segala yang ada. Barangkali dari sikap skeptis tersebut, pragmatisme telah mampu mendorong dan memberi semangat pada seseorang untuk berlomba-lomba membuktikan suatu konsep lewat penelitian-penelitian, pembuktian-pembuktian dan eksperimen-eksperimen sehingga munculllah temuan-temuan baru dalam dunia ilmu pengetahuan yang mampu mendorong secara dahsyat terhadap kemajuan di badang sosial dan ekonomi.
  3. Sesuai dengan coraknya yang sekuler, pragmatisme tidak mudah percaya pada “kepercayaan yang mapan”. Suatu kepercyaan yang diterim apabila terbukti kebenarannya lewat pembuktian yang praktis sehingga pragmatisme tidak mengakui adanya sesuatu yang sakral dan mitos, Dengan coraknya yang terbuka, kebanyakan kelompok pragmatisme merupakan pendukung terciptanya demokratisasi, kebebasan manusia dan gerakan-gerakan progresif dalam masyarakat modern.
  • Kelemahan Pragmatisme
    1. Karena pragmatisme tidak mau mengakui sesuatu yang bersifat metafisika dan kebenaran absolute (kebenaran tunggal), hanya mengakui kebenaran apabila terbukti secara alamiah, dan percaya bahwa duna ini mampu diciptakan oleh manusia sendiri, secara tidak langsung pragmatisme sudah mengingkari sesuatu yang transcendental (bahwa Tuhan jauh di luar alam semesta). Kemudian pada perkembangan lanjut, pragmatisme sangat mendewakan kemepuan akal dalam mencapai kebutuhan kehidupan, maka sikap-sikap semacam ini menjurus kepada ateisme.
    2. Karena yang menjadi kebutuhan utama dalam filsafat pragmatisme adalah sesuatu yang nyata, praktis, dan langsung dapat di nikmati hasilnya oleh manusia, maka pragmatisme menciptkan pola pikir masyarakat yang matrealis. Manusia berusaha secara keras untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat ruhaniah. Maka dalam otak masyarakat pragmatisme telah di hinggapi oleh penyakit matrealisme.
    3. Untuk mencapai matrealismenya, manusia mengejarnya dengan berbagai cara, tanpa memperdulikan lagi dirinya merupakan anggota dari masyarakat sosialnya. Ia bekerja tanpa mengenal batas waktu sekedar memenuhi kebutuhan materinya, maka dalam struktur masyarakatnya manusipa hidup semakin egois individualis. Dari sini, masyarakat pragmatisme menderita penyakit humanisme.

 

 

  1. HERMENEUTIKA
    1. Pengertian Hermeneutika

Hermeneutika adalah salah satu jenis filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna. Nama hermeneutika diambil dari kata kerja dalam bahasa yunani hermeneuien yang berarti, menafsirkan, memberi pemahaman, atau menerjemahkan. Jika dirunut lebih lanjut, kata kerja tersebut diambil dari nama Hermes, dewa Pengetahuan dalam mitologi Yunani yang bertugas sebagai pemberi pemahaman kepada manusia terkait pesan yang disampaikan oleh para dewa-dewa di Olympus.

Tiga makna hermeneutis yang mendasar yaitu :

  1. Mengungkapkan sesuatu yang tadinya masih dalam pikiran melalui kata-kata sebagai medium penyampaian.
  2. Menjelaskan secara rasional sesuatu sebelumnya masih samar- samar sehingga maknanya dapat dimengerti
  3. Menerjemahkan suatu bahasa yang asing ke dalam bahasa lain.

Tiga pengertian tersebut terangkum dalam pengertian ”menafsirkan” – interpreting, understanding.

Dengan demikian hermeneutika merupakan proses mengubah sesuatu atau situasi ketidaktahuan menjadi mengerti. Definisi lain, hermeneutika metode atau cara untuk menafsirkan simbol berupa teks untuk dicari arti dan maknanya, metode ini mensyaratkan adanya kemampuan untuk menafsirkan masa lampau yang tidak dialami, kemudia di bawa ke masa depan.

Hermeneutika (Indonesia), hermeneutics (Inggris), dan hermeneutikos (Greek) secara bahasa punya makna menafsirkan. Seperti yang dikemukakan Zygmunt Bauman, hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneutikos berkaitan dengan upaya “menjelaskan dan memelusuri” pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau tulisan yang tidak jelas, kabur, dan kontradiksi, sehingga menimbulkan keraguan dan kebingungan bagi pendengar atau pembaca.

Akar kata hermeneutika berasal dari istilah Yunani dari kata kerja hermēneuein (menafsirkan) atau kata benda hermēneia (interpretasi). Al-Farabi mengartikannya dengan lafal Arab al-‘ibāroh (ungkapan). Kata Yunani hermeios mengacu kepada seorang pendeta bijak Delphic. Kata hermeios dan kata kerja hermēneuien dan kata benda hermēneia biasanya dihubung-hubungkan dengan Dewa Hermes, dari situlah kata itu berasal. Hermes diasosiasikan dengan fungsi transmisi apa yang ada di balik pemahaman manusia ke dalam bentuk apa yang dapat ditangkap oleh intelegensia manusia. Kurang lebih sama dengan Hermes, seperti itu pulalah karakter dari metode hermeneutika.

Dengan menelusuri akar kata paling awal dalam Yunani, orisinalitas kata modern dari “hermeneutika” dan “hermeneutis” mengasumsikan proses “membawa sesuatu untuk dipahami”, terutama seperti proses ini melibatkan bahasa, karena bahasa merupakan mediasi paling sempurna dalam proses.

Mediasi dan proses membawa pesan “agar dipahami” yang diasosiasikan dengan Hermes ini terkandung di dalam tiga bentuk makna dasar dari hermēneuien dan hermēneia dalam penggunaan aslinya. Tiga bentuk ini menggunakan bentuk kata kerja dari hermēneuein, yaitu: (1) mengungkapkan kata-kata, misalnya “to say”; (2) menjelaskan; (3) menerjemahkan. Ketiga makna itu bisa diwakilkan dalam bentuk kata kerja bahasa Inggris, “to interpret.” Tetapi masing-masing ketiga makna itu membentuk sebuah makna independen dan signifikan bagi interpretasi.

Sebagai turunan dari simbol dewa, hermeneutika berarti suatu ilmu yang mencoba menggambarkan bagaimana sebuah kata atau suatu kejadian pada waktu dan budaya yang lalu dapat dimengerti dan menjadi bermakna secara eksistensial dalam situasi sekarang. Dengan kata lain, hermeneutika merupakan teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap sebuah teks.

Dalam Webster’s Third New International Dictionary dijelaskan definisinya, yaitu “studi tentang prinsip-prinsip metodologis interpretasi dan eksplanasi; khususnya studi tentang prinsip-prinsip umum interpretasi Bibel.” Setidaknya ada tiga bidang yang sering akrab dengan term hermeneutika: teologi, filsafat, dan sastra.

Persoalan utama hermeneutika terletak pada pencarian makna teks, apakah makna obyektif atau makna subyektif. Perbedaan penekanan pencarian makna pada ketiga unsur hermeneutika: penggagas, teks dan pembaca, menjadi titik beda masing-masing hermeneutika. Titik beda itu dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori hermeneutika: hermeneutika teoritis, hermeneutika filosofis, dan hermeneutika kritis.

Pertama, hermeneutika teoritis. Bentuk hermeneutika seperti ini menitikberatkan kajiannya pada problem “pemahaman”, yakni bagaimana memahami dengan benar. Sedang makna yang menjadi tujuan pencarian dalam hermeneutika ini adalah makna yang dikehendaki penggagas teks. Kedua, hermeneutika filosofis. Problem utama hermeneutika ini bukanlah bagaimana memahami teks dengan benar dan obyektif sebagaimana hermeneutika teoritis. Problem utamannya adalah bagaimana “tindakan memahami” itu sendiri. Ketiga, hermeneutika kritis. Hermeneutika ini bertujuan untuk mengungkap kepentingan di balik teks. hermeneutika kritis menempatkan sesuatu yang berada di luar teks sebagai problem hermeneutiknya.

 

  1. Asal-Usul Hermeneutika

Sebelum kita mendefinisikan filsafat hermeneutika, kita akan mengetahui terlebih dahulu asal-mula kata hermeneutika. Sudah umum diketahui bahwa dalam masyarakat Yunani tidak terdapat suatu agama tertentu, tapi mereka percaya pada Tuhan dalam bentuk mitologi. Sebenarnya dalam mitologi Yunani terdapat dewa-dewi yang dikepalai oleh Dewa Zeus dan Maia yang mempunyai anak bernama Hermes. Hermes dipercayai sebagai utusan para dewa untuk menjelaskan pesan-pesan para dewa di langit. Dari nama Hermes inilah konsep hermeneutic kemudian digunakan. Kata hermeneutika yang diambil dari peran Hermes adalah sebuah ilmu dan seni menginterpretasikan sebuah teks.

Hermes diyakini oleh Manichaeisme sebagai Nabi. Dalam mitologi Yunani, Hermes yang diyakini sebagai anak dewa Zeus dan Maia bertugas menyampaikan dan menginterpretasikan pesan-pesan dewa di gunung Olympus ke dalam bahasa yang dipahami manusia. Hermes mempunyai kaki bersayap dan dikenal dengan Mercurius dalam bahasa Latin. Menurut Abed al-Jabiri dalam bukunya Takwīn al-‘Aql al-‘Ârabi, dalam mitologi Mesir kuno, Hermes/Thoth adalah sekretaris Tuhan atau orisin Tuhan yang telah menulis disiplin kedokteran, sihir, astrologi dan geometri. Hermes yang dikenal oleh orang Arab sebagai Idris as, disebut Enoch oleh orang Yahudi. Baik Idris as, Hermes, Thoth, dan Enoch adalah merupakan orang yang sama.

Sosok Hermes ini oleh Sayyed Hossein Nasr kerap diasosiasikan sebagai Nabi Idris as. Menurut legenda yang beredar bahwa pekerjaan Nabi Idris adalah sebagai tukang tenun. Jika profesi tukang tenun dikaitkan dengan mitos Yunani tentang peran dewa Hermes, ternyata terdapat korelasi positif. Kata kerja “memintal” dalam bahasa latin adalah tegree, sedang produknya disebut textus atau text, memang merupakan isu sentral dalam kajian hermeneutika. Bagi Nabi Idris as atau Dewa Hermes, persoalan yang pertama dihadapi adalah bagaimana menafsirkan pesan Tuhan yang memakai “bahasa langit” agar bisa dipahami oleh manusia yang menggunakan bahasa “bumi”. Di sini barangkali terkandung makna metaforis tukang pintal, yakni memintal atau merangkai kata dan makna yang berasal dari Tuhan agar nantinya pas dan mudah dipahami (dipakai) oleh manusia.

Hermeneutika (Indonesia), hermeneutics (Inggris), dan hermeneutikos (Greek) secara bahasa punya makna menafsirkan. Seperti yang dikemukakan Zygmunt Bauman, hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneutikos berkaitan dengan upaya “menjelaskan dan memelusuri” pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau tulisan yang tidak jelas, kabur, dan kontradiksi, sehingga menimbulkan keraguan dan kebingungan bagi pendengar atau pembaca.

Akar kata hermeneutika berasal dari istilah Yunani dari kata kerja hermēneuein (menafsirkan) atau kata benda hermēneia (interpretasi). Al-Farabi mengartikannya dengan lafal Arab al-‘ibāroh (ungkapan). Kata Yunani hermeios mengacu kepada seorang pendeta bijak Delphic. Kata hermeios dan kata kerja hermēneuien dan kata benda hermēneia biasanya dihubung-hubungkan dengan Dewa Hermes, dari situlah kata itu berasal. Hermes diasosiasikan dengan fungsi transmisi apa yang ada di balik pemahaman manusia ke dalam bentuk apa yang dapat ditangkap oleh intelegensia manusia. Kurang lebih sama dengan Hermes, seperti itu pulalah karakter dari metode hermeneutika.

Dengan menelusuri akar kata paling awal dalam Yunani, orisinalitas kata modern dari “hermeneutika” dan “hermeneutis” mengasumsikan proses “membawa sesuatu untuk dipahami”, terutama seperti proses ini melibatkan bahasa, karena bahasa merupakan mediasi paling sempurna dalam proses.

Mediasi dan proses membawa pesan “agar dipahami” yang diasosiasikan dengan Hermes ini terkandung di dalam tiga bentuk makna dasar dari hermēneuien dan hermēneia dalam penggunaan aslinya. Tiga bentuk ini menggunakan bentuk kata kerja dari hermēneuein, yaitu: (1) mengungkapkan kata-kata, misalnya “to say”; (2) menjelaskan; (3) menerjemahkan. Ketiga makna itu bisa diwakilkan dalam bentuk kata kerja bahasa Inggris, “to interpret.” Tetapi masing-masing ketiga makna itu membentuk sebuah makna independen dan signifikan bagi interpretasi.

Sebagai turunan dari simbol dewa, hermeneutika berarti suatu ilmu yang mencoba menggambarkan bagaimana sebuah kata atau suatu kejadian pada waktu dan budaya yang lalu dapat dimengerti dan menjadi bermakna secara eksistensial dalam situasi sekarang. Dengan kata lain, hermeneutika merupakan teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap sebuah teks.

Dalam Webster’s Third New International Dictionary dijelaskan definisinya, yaitu “studi tentang prinsip-prinsip metodologis interpretasi dan eksplanasi; khususnya studi tentang prinsip-prinsip umum interpretasi Bibel.” Setidaknya ada tiga bidang yang sering akrab dengan term hermeneutika: teologi, filsafat, dan sastra.

Persoalan utama hermeneutika terletak pada pencarian makna teks, apakah makna obyektif atau makna subyektif. Perbedaan penekanan pencarian makna pada ketiga unsur hermeneutika: penggagas, teks dan pembaca, menjadi titik beda masing-masing hermeneutika. Titik beda itu dapat dikelompokkan menjadi tiga kategori hermeneutika: hermeneutika teoritis, hermeneutika filosofis, dan hermeneutika kritis.

Pertama, hermeneutika teoritis. Bentuk hermeneutika seperti ini menitikberatkan kajiannya pada problem “pemahaman”, yakni bagaimana memahami dengan benar. Sedang makna yang menjadi tujuan pencarian dalam hermeneutika ini adalah makna yang dikehendaki penggagas teks. Kedua, hermeneutika filosofis. Problem utama hermeneutika ini bukanlah bagaimana memahami teks dengan benar dan obyektif sebagaimana hermeneutika teoritis. Problem utamannya adalah bagaimana “tindakan memahami” itu sendiri. Ketiga, hermeneutika kritis. Hermeneutika ini bertujuan untuk mengungkap kepentingan di balik teks. hermeneutika kritis menempatkan sesuatu yang berada di luar teks sebagai problem hermeneutiknya.

 

  1. Latar Belakang Munculnya Filsafat Hermeneutika

Werner G. Jeanrond menyebutkan tiga kondisi penting yang berpengaruh terhadap timbulnya hermeneutika sebagai suatu ilmu atau teori interpretasi: Pertama kondisi masyarakat yang terpengaruh oleh pemikiran Yunani. Kedua kondisi masyarakat Yahudi dan Kristen yang menghadapi masalah teks kitab “suci” agama mereka dan berupaya mencari model yang cocok untuk intepretasi untuk itu. Ketiga kondisi masyarakat Eropa di zaman Pencerahan (Enlightenment) berusaha lepas dari tradisi dan otoritas keagamaan dan membawa hermeneutika keluar konteks keagamaan.

  • Dari Mitologi Yunani ke Teologi Kristen

Konsep hermeneutika yang digunakan dari nama Hermes ini resminya digunakan untuk kebutuhan kultural bagi menentukan makna, peran dan fungsi teks-teks kesusasteraan yang berasal dari masyarakat Yunani kuno, khususnya epik-epik karya Homer.

Meskipun interpretasi hermeneutis telah dipraktekkan dalam tradisi Yunani, namun istilah hermeneutike baru pertama kali ditemui dalam karya Plato (429-347 SM) Politikos, Epinomis, Definitione dan Timeus. Dalam Definitione Plato dengan jelas menyatakan hermeneutika artinya “menunjukkan sesuatu” yang tidak terbatas pada pernyataan, tapi meliputi bahasa secara umum, penterjemahan, interpretasi, dan juga gaya bahasa dan retorika. Sedangkan dalam Timaeus Plato menghubungkan hermeneutika dengan pemegang otoritas kebenaran, yaitu bahwa kebenaran hanya dapat dipahami oleh “nabi”. Nabi disini maksudnya adalah mediator antara para dewa dengan manusia.

Dalam menghadapi problema terjadinya krisis otoritas di kalangan penyair dalam memahami mitologi atau sesuatu yang bersifat divine, misalnya masyarakat Yunani menyelesaikan dengan konsep rational logos.

Stoicisme (300 SM) kemudian mengembangkan hermeneutika sebagai ilmu intepretasi alegoris, yaitu metode memahami teks dengan cara mencari makna yang lebih dalam dari sekedar pengertian literal. Sejalan dengan itu maka untuk intepretasi alegoris terhadap mitologi, Stoic menerapkan doktrin inner logos dan outer logos (inner word and outer word). Metode alegoris kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Philo of Alexandria (20 SM-50 M), seorang Yahudi yang kemudian dianggap sebagai Bapak metode alegoris. Metode yang juga disebut typology itu intinya mengajarkan bahwa pemahaman makna spiritual suatu teks tidak berasal dari teks atau dari informasi teks, tapi melalui pemahaman simbolik yang merujuk sesuatu di luar teks. Metode hermeneutika alegoris ini kemudian ditransmisikan ke dalam pemikiran teologi Kristen. Tokohnya, Origen (sekitar 185-254 M) telah berhasil menulis penjelasan Kitab Perjanjian Lama dengan metode ini.

Namun, metode alegoris yang berpusat di Alexandria ini ditentang oleh kelompok yang membela metode literal (grammatical) yang berpusat di Antioch. Pertentangan antara kelompok Alexandria dan Antioch mereprentasikan pertentangan metode interpretasi simbolik dan literal. Yang pertama berada dibawah pengaruh hermeneutika Plato sedangkan yang kedua berada dibawah bayang-bayang hermeneutika Aristotle.

Dari pertentangan antara dua konsep hermeneutika Alexandria dan Antioch ini seorang teolog dan filosof Kristen St.Augustine of Hippo (354-430 M) mengambil jalan tengah. Ia lalu memberi makna baru kepada hermeneutika dengan memperkenalkan teori semiotik (teori tentang simbol). Teori ini dimaksudkan untuk dapat mengontrol terjadinya distorsi bacaan alegoris teks Bible yang cenderung arbitrer, dan juga dari literalisme yang terlalu simplistik.

Perkembangan pemikiran hermeneutika dalam teologi Kristen terjadi pada abad pertengahan yang dibawa oleh Thomas Aquinas (1225-1274). Kemunculannya yang didahului oleh transmisi karya-karya Aristotle ke dalam milieu pemikiran Islam mengindikasikan kuatnya pengaruh pemikiran Aristotle dan Aristotelian Muslim khususnya al-Farabi (870-950), Ibn Sina (980-1037) dan Ibn Rushd (1126-1198). Dalam karyanya Summa Theologia ia menunjukkan kecenderungan filsafat naturalistic Aristotle yang juga bertentangan dengan kecenderungan Neo-Platonis St.Augustine. Ia mengatakan bahwa “pengarang kitab suci adalah Tuhan” dan sesuatu yang perlu dilakukan oleh para teolog adalah pemahaman literal. Pemahaman literal lebih banyak merujuk kepada hermeneutika Aristotle dalam Peri Hermenias nya. Tujuannya adalah untuk menyusun teologi Kristen agar memenuhi standar formulasi ilmiah dan sekaligus merupakan penolakannya terhadap interpretasi alegoris.

Di awal abad pertengahan, hermeneutika masih berada dalam sangkar teologi Kristen tapi masih berada dibawah pengaruh pemikiran filsafat dan mitologi Yunani. Ketika teks Bible sendiri mulai digugat dan dan otoritas gereja mulai goyah pengaruh pandangan hidup ilmiah dan rasional Barat (scientific and rational worldview) mulai muncul membawa hermeneutika kepada makna baru yaitu filosofis.

 

  • Dari teologi dogmatis kepada spirit rasionalisme

Bagaimanapun resistensi para teolog Kristen terhadap perkembangan sains yang dipengaruhi oleh pandangan hidup ilmiah Barat, hermeneutika terus menjadi diskursus yang menarik kalangan teolog Kristen masa itu. Pertanyaan hermeneutika yang diangkat pun bergeser menjadi bagaimana menangkap realitas yang terkandung dalam teks kuno seperti Bible dan bagaimana menterjemahkan realitas tersebut ke dalam bahasa yang dipahami oleh manusia modern. Yang selalu dimuculkan adalah masalah adanya gap antara bahasa modern dan bahasa teks Bible, dan cara penulis-penulis Bible berfikir tentang diri mereka dan cara berfikir masyarakat Kristen modern.

Dunia teks akhirnya dianggap sebagai representasi dari dunia mitos dan masyarakat modern dianggap mewakili dunia ilmiah. Hermeneutika kini membahas bagaimana kejadian dan kata-kata masa lampau menjadi berarti dan relevan bagi eksistensi manusia tanpa menghilangkan esensi pesannya.

Bel pertama untuk pemakaian hermeneutika sebagai the art of interpretation dapat ditemui dalam karya J.C.Dannheucer yang berjudul Hermeneutica Sacra Sive Methodus exponendarum Sacrarum litterarum, (Sacred Method or the Method of Explanation of Sacred Literature), terbit pada tahun 1654. Di situ hermeneutika sudah mulai dibedakan dari exegesis sebagai metodologi interpretasi. Meskipun pengertiannya tetap sama tapi obyeknya diperluas kepada non-Biblical literature.

Benedictus de Spinoza (1632-1677) dalam karyanya tahun 1670 berjudul Tractatus theologico-politicus (Risalah tentang politik teologi) menyatakan bahwa “standar eksegesis untuk Bible hanyalah akal yang dapat diterima oleh semua”. Perlahan-lahan hermeneutika dalam pengertian baru ini diterima sebagai alat penafsiran (exgesis) Kitab Suci, dan juga menjadi pengantar disiliplin ilmu interpretasi.

Tanda-tanda beralihnya diskursus hermeneutika dari teologi yang dogmatis kepada semangat rasionalisme sudah mulai nampak sejak terjadinya gerakan Reformasi Protestan pada abad ke-16. Mulai abad ini hermeneutika mengalami perkembangan dan memeperoleh perhatian yang lebih akademis dan serius ketika kalangan ilmuwan gereja di Eropa terlibat diskusi dan debat mengenai otentisitas Bibel dan mereka ingin memperoleh kejelasan serta pemahaman yang benar mengenai kandungan Bibel yang dalam berbagai hal dianggap bertentangan.

Tanda ini bertambah jelas pada periode Pencerahan (Enlightenment) pada abad berikutnya. Memasuki abad ke 18, hermeneutika mulai dirasakan sabagai teman sekaligus tantangan bagi ilmu sosial, utamanya sejarah dan sosiologi, karena hermeneutika mulai berbicara dan menggugat metode dan konsep ilmu sosial. Pada pertengahan abad ini di Eropa bangkit sebuah apresiasi tentang karya-karya seni klasik, hermeneutika sebagai metode penafsiran menjadi sangat penting peranannya. Karena sebuah karya seni merupakan contoh perwujudan paling riil dari sebuah jalinan yang unik antara sang pencipta, proses pensiptaan dan karya cipta.

Perkembangan makna hermeneutika dari sekedar pengantar ilmu interpretasi menuju kepada metodologi pemahaman, dilontarkan oleh seorang pakar filololgi Friedriech Ast (1778-1841). Dalam bukunya Grundlinien der Grammatik Hermenutik und Kritik (Elements of Grammar, Hermeneutic and Criticism) Ast membagi pemahaman terhadap teks menjadi 3 tingkatan: 1) pemahaman historis, yakni pemahaman berdasarkan pada perbandingan teks dengan teks yang lain. 2) pemahaman ketata-bahasaan, yaitu merujuk kepada pemahaman makna kata pada teks, dan 3) pemahaman spiritual, yakni pemahaman yang merujuk kepada semangat, wawasan, mentalitas dan pandangan hidup pengarang, tapi terlepas dari konotasi teologis ataupun psikologis.

Pada tingkat ini pergeseran diskursus hermeneutika dari teologi ke filsafat masih berkutat pada perubahan fungsi hermeneutika dari teori interpretasi teks Bibel secara rasional menjadi pemahaman segala teks selain Bibel. Disini hermeneutika berkembang dalam milieu yang didominasi oleh para teolog yang telah bersentuhan dengan pemikiran filsafat Barat.

 

  • Dari teologi Protestan kepada filsafat

Abad ke 18 dianggap sebagai awal periode berlakunya proyek modernitas, yaitu pemikiran rasional yang menjanjikan pembebasan (liberasi) dari irrasionalitas mitologi, agama dan khurafat. Ketika gerakan desakralisasi atau dalam bahasa Weber ‘disenchantment’ terjadi di Barat, ilmu diletakkan dalam posisi berlawanan dengan agama yang dianggap penyebab kemunduran.

Pada abad ke-17 dan 18 pendekatan kritis terhadap Bibel (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) yang merupakan bagian dari hermeneutika teologis telah berkembang. Studi kritis perjanjian lama telah menekankan kepada struktur atau bahasa teks sebagai cara untuk memahami isi. Studi in juga menyandarkan pada bukti internal teks sebagai dasar diskusi mengenai integritas dan pengarang teks, kemudian mencari situasi sosiologis dan historis sebagai konteks untuk memahami asal-mula dan penggunaan materi. Studi kritis Perjanjian Baru melahirkan banyak teks-teks tandingan terhadap textus receptus edisi Erasmus. Studi tersebut menyatakan bahwa Kalam Tuhan (Word of God) dan Kitab Suci (Holy Scripture) tidak identik, bagian-bagian dari Bibel bukanlah inspirasi dan tidak dapat diterima secara otoritatif. Di dalam milieu pemikiran inilah makna hermeneutika berubah menjadi metodologi filsafat.

 

  1. Para Tokoh dan Perkembangan Filsafat Hermeneutika

Terdapat sejumlah tokoh yang memberi sumbangan dalam perkembangan filsafat hermeneutika, di antaranya adalah:

  1. Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher (1768-1834).

Schleiermacher, seorang Protestan dan pernah menjadi Rektor di Universitas Berlin pada tahun 1815-1816, digelar sebagai “the founder of General Hermeneutics.” Gelar tersebut diberikan karena pemikirannya dianggap telah memberi nuansa baru dalam teori penafsiran. Materi kuliahnya “universal hermeneutic” menjadi rujukan Gadamer dan berpangaruh terhadap pemikiran Weber dan Dilthey. Ia dianggap sebagai filosof Jerman pertama yang terus menerus memikirkan persoalan-persoalan hermeneutika. Karena itu ia dianggap sebagai Bapak Hermeneutika modern dan juga pendiri Protestan Liberal. Schleiemecher menandai lahirnya hermeneutika yang bukan lagi terbatas kepada idiom filologi maupun eksegesis Bibel, melainkan prinsip-prinsipnya bisa digunakan sebagai fondasi bagi semua ragam interpretasi teks.

Schleiermacher mengadakan reorientasi paradigma dari “makna” teks kepada “pemahaman” teks. Rasionalitas modern seperti dianut oleh mazhab Protestantisme telah mengubah makna literal Bible yang selama ini dianggap oleh mazhab resmi gereja sebagai “makna historis” menjadi “pemahaman historis” yang segala sesuatunya merujuk kepada masa silam. Afiliasi suatu teks kepada masa silam itu menyebabkan kehadirannya di masa kini menjadi sebentuk kecurigaan; mengapa teks yang merespon kejadian masa lalu harus menjadi jawaban problem kekinian?! Tidak kah lebih baik jika teks masa silam itu dienyahkan karena realitas yang terus berubah dari waktu ke waktu?

Schleiermacher menjadikan persoalan hermeneutis sebagai persoalan universal dan mengajukan teori pemahaman yang filosofis untuk mengatasinya. Ia merubah makan hermeneutika dari sekedar kajian teks Bibel menjadi metode memahami dalam pengertian filsafat. Dalam pandangan Schleiermacher, tradisi hermeneutika filologis[2] dan hermeneutika teologis[3] bisa berinteraksi, yang membuka kemungkinan untuk mengembangkan teori umum mengenai pemahaman dan penafsiran. Paul Ricoeur berpendapat hermeneutika lahir dengan usaha untuk menaikkan penafsiran Bibel dan filologis ke tingkat ilmiah, yang tidak terbatas kepada metode yang khusus. Dengan mensubordinasikan kaidah-kaidah dalam tafsir Bibel dan filologis kepada problem penafsiran yang umum, maka teori penafsiran Schleiermacher disebut juga dengan hermeneutika universal (universal hermeneutics).

Schleirmacher telah menumbuhkan asas seni pemahaman teks; pemahaman yang selalu terkait mengikuti perkembangan dari setiap orang dan dari satu zaman ke zaman yang lain. Jarak pemisah antara zaman produksi teks dengan zaman pemahaman kekinian sedemikian meluas dan membentang, sehingga diperlukan ilmu yang mencegah kekeliruan pemahaman. Atas dasar itu, Schleirmacher meletakkan kaidah pemahaman teks yang terbatas pada dua aspek utama yaitu: aspek kebahasaan (penafsiran tata bahasa) dan aspek kemampuan menembus karakter psikis pengarang (penafsiran psikologi). Kedua aspek itu saling melengkapi satu dengan lainnya.[4] Tugas kaedah hermeneutik Schleirmacher-ian itu adalah untuk sejauh mungkin memahami teks seperti yang dipahami pengarangnya dan bahkan lebih baik dari apa yang dipahami oleh si pengarang (merekonstruksi pikiran pengarang). Tugas itulah yang kemudian dikenal dengan “Hermeneutical Circle”.[5]

Jadi, bukan saja setiap unit, tata bahasa harus dipahami dalam konteks keseluruhan ucapan, tetapi ucapan juga harus dipahami dari konteks keseluruhan mental pengarang (the part whole principle). Jika tugas tersebut dilakukan oleh seorang interpreter maka Schleirmacher menyimpulkan sesorang penafsir akan bisa memahami teks sebaik atau bahkan lebih baik daripada pengarangnya sendiri, dan memahami pengarang teks tersebut lebih baik daripada pengarang sendiri.

  1. Wilhelm Dilthey (1833-1911)

Wilhelm adalah penulis biografi Scleiermacher dan salah satu pemikir filsafat besar pada akhir abad ke-19. Dia melihat hermeneutika adalah inti disiplin yang dapat digunakan sebagai fondasi bagi geisteswissenschaften (yaitu, semua disiplin yang memfokuskan pada pemahaman seni, aksi, dan tulisan manusia). Wilhelm Dilthey adalah seorang filosof, kritikus sastra, dan sejarawan asal Jerman.

Bagi filosof yang pakar metodologi ilmu-ilmu sosial ini, hermeneutika adalah “tehnik memahami ekspresi tentang kehidupan yang tersusun dalam bentuk tulisan”. Oleh karena itu ia menekankan pada peristiwa dan karya-karya sejarah yang merupakan ekspresi dari pengalaman hidup di masa lalu. Untuk memahami pengalaman tersebut intepreter harus memiliki kesamaan yang intens dengan pengarang. Bentuk kesamaan dimaksud merujuk kepada sisi psikologis Schleiermacher.

Pada bagian awal pemikirannya, Dilthey berusaha membumikan kritiknya ke dalam sebuah transformasi psikologis. Namun karena psikologi bukan merupakan disiplin historis, usaha-usahanya ia hentikan. Ia menolak asumsi Schleiermacher bahwa setiap kerja pengarang bersumber dari prinsip-prinsip yang implisit dalam pikiran pengarang. Ia anggap asumsi ini anti-historis sebab ia tidak mempertimbangkan pengaruh eksternal dalam perkembangan pikiran pengarang. Selain itu Dilthey juga mencoba mengangkat hermeneutika menjadi suatu disiplin ilmu yang memisahkan ilmu pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dan mengembangkannya menjadi metode-metode dan aturan-aturan yang menentukan obyektifitas dan validitas setiap ilmu. Bagi Dilthey hermeneutika universal memerlukan prinsip-prinsip epistemologi yang mendukung pengembangan ilmu-ilmu sosial.

Menurutnya, dalam tindakan pemahaman historis, yang harus berperan adalah pengetahuan pribadi mengenai apa yang dimaksudkan manusia. Jika Kant menulis Crituque of Pure Reason, ia mencurahkan pemikiran untuk gagasan Crtique of Historical Reason.

Wilhelm Dilthey mengawalinya dengan memilah-milah ilmu menjadi dua disiplin: ilmu alam dan ilmu sosial-humaniora. Yang pertama menjadikan alam sebagai obyek penelitiannya, yang kedua manusia. Oleh karena obyek dari ilmu alam berada di luar subyek, ia diposisikan sebagai sesuatu yang datang kepada subyek, sebaliknya karena obyek ilmu sosial-humaniora berada di dalam subyek itu sendiri, keduanya seolah tak terpisah. Yang membedakan kedua disiplin ilmu ini menurut Dilthey bukan obyeknya semata, tapi juga orientasi dari subyek pengetahuan, yakni “sikapnya” terhadap obyek. Dengan demikian, perbedaan kedua disiplin ilmu tersebut bersifat epistemologis, bukan ontologis. Secara epistemologis, Dilthey menganggap disiplin ilmu alam menggunakan penjelasan (Erklaren), yakni menjelaskan hukum alam menurut penyebabnya dengan menggunakan teori. Sebab, pengalaman dengan teori terpisah. Sedang disiplin ilmu sosial-humaniora mengunakan pemahaman (Verstehen), dengan tujuan untuk menemukan makna obyek, karena di dalam pemahaman, terjadi pencampuran antara pengalaman dan pemahaman teoritis. Dilthey menganggap makna obyektif yang perlu dipahami dari ilmu humaniora adalah makna teks dalam konteks kesejarahaannya. Sehingga, hermeneutika menurut Dilthey bertujuan untuk memahami teks sebagai ekspresi sejarah, bukan ekspresi mental penggagas. Karena itu, yang perlu direkonstruksi dari teks menurut Dilthey, adalah makna dari peristiwa sejarah yang mendorong lahirnya teks.

Dilthey menjadihan hermeneutika sebagai komponen utama bagi fondasi ilmu humaniora (Geistesswissenchaften). Ambisi ini menyebabkan Dilthey telah meluaskan penggunaan hermeneutika ke dalam segala disiplin ilmu humaniora. Jadi, dalam pandangan Dilthey, teori hermeneutika telah berada jauh di atas persoalan bahasa.

  1. Martin Heidegger (1889-1976)

Latar belakang intelektualitas Heidegger berada dibawah pengaruh fisika, metafisika dan etika Aristotle yang di interpretasikan oleh Husserl dengan metode fenomenologinya. Pendiri fenomenologi, Edmund Husserl, adalah guru dan sekaligus kawan yang paling dihormati dan disegani oleh Heidegger. Pemikiran Heidegger sangat kental dengan nuansa fenomenologis, meskipun akhirnya Heidegger mengambil jalan menikung dari prinsip fenomenologi yang dibangun Husserl. Fenomenologi Husserl lebih bersifat epistemologis karena menyangkut pengetahuan tentang dunia, sementara fenomenologi Heidegger lebih sebagai ontologi karena menyangkut kenyataan itu sendiri. Heidegger menekankan, bahwa fakta keberadaan merupakan persoalan yang lebih fundamental ketimbang kesadaran dan pengetahuan manusia, sementara Husserl cenderung memandang fakta keberadaan sebagai sebuah datum keberadaan. Heidegger tidak memenjara realitas dalam kesadaran subjektif, melainkan pada akhirnya realitas sendiri yang menelanjangi dirinya di hadapan subjek. Bagi Heidegger, realitas tidak mungkin dipaksa untuk menyingkapkan diri. Realitas, mau tidak mau, harus ditunggu agar ia menyingkapkan diri.

Heidegger mengembangkan hermeneutika sebagai interpretasi yang berdimensi ontologis. Dalam pandangan Heidegger, pemahaman (verstehen) bukanlah sebuah metode. Menurutnya pemahaman lebih dari sekedar metode. Sebabnya pemahaman telah wujud terlebih dahulu (pre-reflective understanding) sebelum merefleksikan sesuatu. Heidegger menamakan pra-pemahaman tersebut sebagai Dasein, yang secara harfiah berarti disana-wujud.

Apa yang ditulis Heidegger sebagai hermeneutika tidak bisa dipahami dalam pengertian pemahaman yang subjektif. Hermeneutika juga bukan hanya sebuah metode pengungkapan realitas. Hermeneutika adalah hakikat keberadaan manusia yang menyingkap selubung Ada (Sein). Ia tidak berada dalam pengertian subjek-objek, di mana pemahaman tentang objek berangkat dari persepsi kategoris dalam diri subjek. Subjek tidak memahami sejauh objek tidak mengungkapkan diri. Subjek tergantung kepada pengungkapan objek. Dan sebetulnya term subjek dan objek di sini tidak tepat, sebab Dasein adalah seinde yang memiliki kemampuan yang lain. Dikatakan Dasein karena cara beradanya berbeda dengan benda-benda lain (seinde) yang ada begitu saja. Dasein berarti mengada di sana. Terdapat nuansa aktifitas dari Dasein. Dasein adalah satu-satunya seinde yang secara ontologis mampu keluar dari dirinya sendiri (Existenz) guna menguakkan adanya sendiri dan adanya seinde lainnya.

Sekalipun Heidegger masih tidak mengidentikkan antara manusia yang menginterpretasi atau berpikir dan yang diintrepretasi atau yang dipikirkan, tetapi ia tidak bisa dipisahkan sama sekali. Intensionalitas Husserl tidak dibuang sama sekali, tapi digunakan dalam pengertian yang lain, yaitu bahwa faktisitaslah yang menjadi anutan kesadaran. Bukan kita yang menunjuk benda, tapi benda itu sendiri yang menunjukkan dirinya. Interpretasi manusia dibaca dalam pengertian ontologis karena ia merupakan hakekat manusia itu sendiri. Berpikir (menginterpretasi) adalah Dasein itu sendiri. Berpikir, dalam pengertian Heidegger, bukan menggambarkan, bukan memvisualisasikan sesuatu di depan mata, bukan merefleksi, melainkan bertanya dan meminta keterangan, mendengarkan dengan penuh rasa hormat suara Ada, menunggu dengan bertanya dan mendengarkan Ada.

Heidegger menghubungkan kajian tentang makna kesejarahan dengan makna kehidupan. Teks tidak cukup dikaji dengan kamus dan grammar, ia memerlukan pemahaman terhadap kehidupan, situasi pengarang dan audiennya. Hermeneutikanya tercermin dalam karyanya Being and Time. Dasein (suatu keberadaan atau eksistensi yang berhubungan dengan orang dan obyek) itu sendiri sudah merupakan pemahaman, dan interpretasi yang essensial dan terus menerus.

Martin Heidegger mencoba memahami teks dengan metode eksistensialis. Ia menganggap teks sebagai suatu “ketegangan” dan “tarik-menarik” antara kejelasan dan ketertutupan, antara ada dan tidak ada. Eksistensi, menurut Heidegger, bukanlah eksistensi yang terbagi antara wujud transendent dan horisontal. Semakin dalam kesadaran manusia terhadap eksistensinya, maka sedalam itu pula lah pemahamannya atas teks; karena itu, teks tidak lagi mengungkapkan pengalaman historis yang terkait dengan suatu peristiwa. Dengan pengalaman eksistensialnya itulah manusia bisa meresapi wujudnya dan cara dia bereksistensi sebagai unsur penegas dalam proses memahami suatu teks.

Heidegger mencoba memberikan pengertian lain kepada bahasa dan tidak hanya berkutat pada pengertian bahasa sebagai alat komunikasi saja. Bahasa merupakan artikulasi eksistensial pemahaman. Bahasa kemudian juga bermakna ontologis. Antara keberadaan, kemunculan, dan bahasa, saling mengandalkan. Bersama pikiran, bahasa adalah juga ciri keberadaan manusia. Dalam bahasa, Ada mengejawantah. Oleh karenanya, interpretasi merupakan kegiatan membantu terlaksananya peristiwa bahasa, karena teks mempunyai fungsi hermeneutik sebagai tempat pengejawantahan Ada itu sendiri.

Hermeneutika Heidegger telah mengubah konteks dan konsepsi lama tentang hermeneutika yang berpusat pada analisa filologi interpretasi teks. Heidegger tidak berbicara pada skema subjek-objek, klaim objektivitas, melainkan melampaui itu semua dengan mengangkat hermeneutika pada tataran ontologis.

  1. Hans-Georg Gadamer (1900-1998)

Gadamer menegaskan bahwa pemahaman adalah persoalan ontologis. Ia tidak menganggap hermeneutika sebagai metode, sebab baginya pemahaman yang benar adalah pemahaman yang mengarah pada tingkat ontologis bukan metodologis. Artinya kebenaran dapat dicapai bukan melalui metode tapi melalui dialektika, dimana lebih banyak pertanyaan dapat diajukan. Dan ini disebut filsafat praktis. Gadamer melontarkan konsep “pengalaman” historis dan dialektis, di mana pengetahuan bukan merupakan bias persepsi semata tetapi merupakan kejadian, peristiwa, perjumpaan. Gadamer menegaskan makna bukanlah dihasilkan oleh interioritas individu tetapi dari wawasan-wawasan sejarah yang saling terkait yang mengkondisikan pengalaman individu. Gadamer mempertahankan dimensi sejarah hidup pembaca.

Filsafat hermeneutika Gadamer meniscayakan wujud kita berpijak pada asas hermeneutis, dan hermeneutika berpijak pada asas eksistensial manusia. Ia menolak segala bentuk kepastian dan meneruskan eksistensialisme Heidegger dengan titik tekan logika dialektik antara aku (pembaca) dan teks/karya. Dialektika itu mesti difahami secara eksistensialis, karena hakikatnya memahami teks itu sama dengan pemahaman kita atas diri dan wujud kita sendiri. Pada saat kita membaca suatu karya agung, ketika itu kita lantas menghadirkan pengalaman-pengalaman hidup kita di masa silam, sehingga melahirkan keseimbangan pemahaman atas diri kita sendiri. Proses dialektika memahami karya seni berdiri atas asas pertanyaan yang diajukan karya itu kepada kita; pertanyaan yang menjadi sebab karya itu ada.

Dia umpamakan pemahaman manusia sebagai interpretasi-teks. Dalam proses memahami teks selalu didahului oleh pra-pemahaman sang pembaca dan kepentingannya untuk berpatisipasi dalam makna teks. Kita mendekati teks selalu dengan seperangkat pertanyaan atau dengan potensi kandungan makna dalam teks. Melalui horizon ekspektasi inilah kita memasuki proses pemahaman yang terkondisikan oleh realitas sejarah. Hermeneutika dalam pengertian Gadamer adalah interpretasi teks sesuai dengan konteks ruang dan waktu interpreter. Inilah yang ia sebut dengan effective historical consciousness yang struktur utamanya adalah bahasa.

Menurut Gadamer, pemahaman bukanlah salah satu daya psikologis yang dimiliki manusia, namun pemahaman adalah kita. Oleh sebab itu, ilmu tanpa pra-duga adalah tidak terjadi. Kita gagal memahami hermeneutic circle, jika kita berusaha keluar dari lingkaran tersebut. Menurut Gadamer, ketika kita berusaha memahami sebuah teks kita akan berhadapan dengan koherensi relatif dari ruang lingkup makna. Jadi, sebenarnya ada dua metode yang perlu dihindari ketika memahami sesuatu. Pertama, sikap reduktif ketika dengan seenaknya memasukkan konsep kita sendiri dengan berlebih-lebihan ke dalam ruang lingkup budaya, sehingga menafikan kekhususan maknanya; kedua, sikap self-effacement ketika kita menafikan kepentingan kita sendiri dengan berusaha masuk ke dalam kacamata orang lain. Kedua metode tersebut tidak menyelesaikan persoalan ilmu yang objektif karena masih terjerat dengan dikotomisasi antara subjek atau objek, padahal kondisi primordial kita melampaui hubungan antara subjek dan objek.

Gadamer merumuskan hermeneutika filosofisnya dengan bertolak pada empat kunci heremeneutis: Pertama, kesadaran terhadap “situasi hermeneutik”. Pembaca perlu menyadari bahwa situasi ini membatasi kemampuan melihat seseorang dalam membaca teks. Kedua, situasi hermeneutika ini kemudian membentuk “pra-pemahaman” pada diri pembaca yang tentu mempengaruhi pembaca dalam mendialogkan teks dengan konteks. Kendati ini merupakan syarat dalam membaca teks, menurut Gadamer, pembaca harus selalu merevisinya agar pembacaannya terhindar dari kesalahan. Ketiga, setelah itu pembaca harus menggabungkan antara dua horizon, horizon pembaca dan horizon teks. Keduanya harus dikomunikasikan agar ketegangan antara dua horizon yang mungkin berbeda bisa diatasi. Pembaca harus terbuka pada horizon teks dan membiarkan teks memasuki horizon pembaca. Sebab, teks dengan horizonnya pasti mempunyai sesuatu yang akan dikatakan pada pembaca. Interaksi antara dua horizon inilah yang oleh Gadamer disebut “lingkaran hermeneutik”. Keempat, langkah selanjutnya adalah menerapkan “makna yang berarti” dari teks, bukan makna obyektif teks. Bertolak pada asumsi bahwa manusia tidak bisa lepas dari tradisi dimana dia hidup, maka setiap pembaca menurutnya tentu tidak bisa menghilangkan tradisinya begitu saja ketika hendak membaca sebuah teks.

  1. Jurgen Habermas (1929- )

Habermas sebagai penggagas hermeneutika kritis menempatkan sesuatu yang berada di luar teks sebagai problem hermeneutiknya. Sesuatu yang dimaksud adalah dimensi ideologis penafsir dan teks, sehingga dia mengandaikan teks bukan sebagai medium pemahaman, melainkan sebagai medium dominasi dan kekuasaan. Di dalam teks tersimpan kepentingan pengguna teks. Karena itu, selain horizon penafsir, teks harus ditempatkan dalam ranah yang harus dicurigai. Menurut Habermas, teks bukanlah media netral, melainkan media dominasi. Karena itu, ia harus selalu dicurigai.

Bagi Habermas pemahaman didahului oleh kepentingan. Yang menentukan horizon pemahaman adalah kepentingan sosial (social interest) yang melibatkan kepentingan kekuasaan (power interest) sang interpereter.

  1. Paul Richour (1913-2005)

Paul Richour mendefinisikan hermeneutika yang mengacu balik pada fokus eksegesis tekstual sebagai elemen distingtif dan sentral dalam hermeneutika. Hermeneutika adalah proses penguraian yang beranjak dari isi dan makna yang nampak ke arah makna terpendam dan tersembunyi. Objek interpretasi, yaitu teks dalam pengertian yang luas, bisa berupa simbol dalam mimpi atau bahkan mitos-mitos dari simbol dalam masyarakat atau sastra. Hermeneutika harus terkait dengan teks simbolik yang memiliki multi makna (multiple meaning); ia dapat membentuk kesatuan semantik yang memiliki makna permukaan yang betul-betul koheren dan sekaligus mempunyai signifikansi lebih dalam. Hermeneutika adalah sistem di mana signifikansi mendalam diketahui di bawah kandungan yang nampak.

Konsep yang utama dalam pandangan Ricoeur adalah bahwa begitu makna obyektif diekspresikan dari niat subyektif sang pengarang, maka berbagai interpretasi yang dapat diterima menjadi mungkin. Makna tidak diambil hanya menurut pandangan hidup (worldview) pengarang, tapi juga menurut pengertian pandangan hidup pembacanya. Sederhananya, hermeneutika adalah ilmu penafsiran teks atau teori tafsir.

  1. Muhammed Arkoun

Setelah membahas pemikiran tokoh-tokoh di atas, ada baiknya untuk membahas pemikiran Muhammed Arkoun yang telah mengadopsi teori-teori hermeneutika ketika menafsirkan Alquran.

Adalah Muhammed Arkoun, pemikir reformatif-dekonstruktif sekaligus intelektual wilayah ‘tak terpikirkan’ (al-la mufakkar fih/L’impensê/unthikable) yang lahir pada 1 Februari 1928 di Tourirt-Mimoun, Kabilia, Aljazair. Sejak tahun 1961 Arkoun diangkat menjadi dosen di Universitas Sorbone Paris. Corak konstruksi pemikiran epistemik Arkoun sangat terlihat dipengaruhi oleh post-strukturalis Perancis. Metode historisisme yang dijadikan pisau bedah analisis Arkoun adalah formulasi ilmu-ilmu sosial Barat modern hasil ciptaan para pemikir post-strukturalis Perancis.

Kritik epistemik nalar Islam dan analisis dekonstruktif merupakan harga mati bagi Akoun guna mencapai kebangkitan kembali peradaban Islam yang sampai kini masih terkapar dalam hegemoni ortodoksi dan dogmatisme. Kerja ilmiah ini digarap oleh Arkoun dengan cara mengkritik secara dekonstruktif terhadap mekanisme-mekanisme berpikir konvensional yang telah memproduk sistem-sistem teologis dan keyakinan-keyakinan yang amat varian dan, sebagai langkah kedua, kemudian merekonstruksi pondasi-pondasi epistemiknya.

Muhammed Arkoun berpendapat bahwa Mushaf Utsmani tidak lain hanyalah hasil sosial dan budaya masyarakat yang dijadikan “tak terfikirkan” disebabkan semata-mata kekuatan dan pemaksaan penguasa resmi. Ia mengusulkan supaya membudayakan pemikiran liberal (free thinking). Ia mencapai pemikiran liberal dengan dekonstruksi. Baginya, dekonstruksi adalah sebuah ijtihad yang akan memperkaya sejarah pemikiran dan memberikan sebuah pemahaman yang lebih baik tentang Alquran. Jika masalah-masalah yang selama ini ditabukan dan dilarang dan semua itu diklaim sebagai sebuah kebenaran, jika didekonstruksi, maka semua diskursus tadi akan menjadi diskursus terbuka.

Menurutnya pendekatan historitas, meskipun berasal dari Barat, tidak hanya sesuai untuk warisan budaya Barat saja.Tetapi pendekatan tersebut dapat diterapkan pada semua sejarah umat manusia dan bahkan tidak ada jalan lain dalam menafsirkan wahyu kecuali menghubungkannya dengan konteks historis, yang akan menantang segala bentuk pensaklaran dan penafsiran transenden yang dibuat teolog tradisional. Arkoun dalam mengkaji studi ke-Islaman menaruh perhatian yang sangat tinggi pada teori Hermeneutika.

 

  1. Hermeneutika sebagai Alternatif Interpretasi

Ketika sebuah teks dibaca seseorang, di – sadari atau tidak akan memunculkan interpretasi terhadap teks tersebut. Mem – bicarakan teks tidak pernah terlepas dari unsur bahasa, Heidegger menyebutkan b ahasa adalah dimensi kehidupan yang bergerak yang memungkinkan ter – ciptanya dunia sejak awal, bahasa mempunyai eksistensi sendiri yang di dalamnya manusia turut berpartisipasi (Eagleton, 2006:88).

Sebagai metode tafsir, hermeneutika menjadikan bahasa seba gai tema sentral, kendati di kalangan para filsuf hermenutika sendiri terdapat perbedaan dalam meman – dang hakikat dan fungsi bahasa. Perkembangan aliran filsafat hermenutika mencapai puncaknya ketika muncul dua aliran pemikiran yang berlawanan, yaitu aliran Intensionalisme dan aliran Hermeneutika Gadamerian. Intensionalisme memandang makna sudah ada karena dibawa pengarang/penyusun teks sehingga tinggal menunggu interpretasi penafsir.

Sementara Hermeneutika Gada – merian sebaliknya memandang makna dicari, di konstruksi, dan direkonstruksi oleh penafsir sesuai konteks penafsir dibuat sehingga makna teks tidak pernah baku, ia senantiasa berubah tergantung dengan bagaimana, kapan, dan siapa pembacanya (Rahardjo, 2007:55).

Peristiwa pemahaman terjadi ketika cakraw ala makna historis dan asumsi kita berpadu dengan cakrawala tempat karya itu berada. Hermeneutika melihat sejarah sebagai dialog hidup antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Metode hermeneutik mencoba menyesuaikan setiap elemen dalam setiap teks menjadi satu keseluruhan yang lengkap, dalam sebuah proses yang biasa dikenal sebagai lingkaran hermeneutik. Ciri – ciri individual dapat dimengerti berdasarkan keseluruhan konteks, dan keseluruhan konteks dapat dimengerti melalui ciri – cirri individual (Eagleton , 2006:104 – 105).

Kunci pemahaman adalah pertisipasi dan keterbukaan, bukan manipulasi dan pengendalian. Sebagai sebuah metode penafsiran, hermeneutika tidak hanya memandang teks, tetapi juga berusaha menyelami kandungan makna literalnya.

Hermeneutika ber usaha menggali mak – na dengan mempertimbangkan horison horison (cakrawala) yang melingkupi teks tersebut. Horison yang dimaksud adalah horison teks, pengarang, dan pembaca. Dengan memperhatikan ketiga horizon tersebut diharapkan suatu upaya pemahaman atau penafsiran menjadi kegiatan rekon – struksi dan reproduksi makna teks, yang selain melacak bagaimana suatu teks di – munculkan oleh pengarangnya dan muatan apa yang masuk dan ingin dimasukkan oleh pengarang ke dalam teks, juga berusaha melahirkan kembali makna sesuai dengan situasi dan kondisi saat teks dibaca atau dipahami.

Dengan kata lain, hermeneutika memperhatikan tiga hal sebagai komponen pokok dalam upaya penafsiran yaitu teks, konteks, kemudian melakukan upaya kontekstualisasi. (Rahardjo, 2007:90 – 91).

Supriyono (2004) memberikan contoh tentang tulisan Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu . Pramoedya mengisahkan begitu saja, apa adanya tentang pengalaman para tahanan sehari – hari di pulau terpencil, Pulau Buru.

Pengalaman bagaimana harus surv ive di bawah tekanan militer, pengalaman santiaji (indoktrinasi) Pancasila, pengalaman penyiksaan fisik yang membuat pandangan mata kabur dan pen – dengarannya berkurang, pengalaman teman – temannya diperbudak sebagai penebang hutan untuk memperbesar kekayaan komandannya, pengalaman tentang usaha ternak ayam, tentang perjuangan keras membuka jalan, tentang pemberontakan dari para tahanan, tentang kematian teman -temannya yang sebagian misterius, dan lain – lain diceritakannya lebih berupa fakta. Akan tetapi, pemak naan yang sesungguhnya atas realitas itu ber – langsung, yakni betapa kemanusiaan ditundukkan sedemikian dahsyatnya sampai – sampai manusia tahanan politik kehilangan kemanusiaannya.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

KESIMPULAN

Pragmatisme berasal dari kata pragma (bahasa Yunani) yang berarti tindakan, perbuatan. Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar apa yang membuktikan dirinya sebagai benar dengan perantaraan akibat-akibatnya yang bermanfaat secara praktis.Filosuf yang terkenal sebagai tokoh filsafat pragmatisme adalah William James dan John Dewey.Seperti dengan aliran-aliran filsafat pada umumnya, pragmatisme juga memiliki kekuatan dan kelemahan sehingga menimbulkan kritik-kritik terhadap aliran filsafat ini.

  1. Kekuatan
  • Kemunculan pragmatis sebagai aliran filsafat dalam kehidupan kontemporer, khususnya di Amerika Serikat, telah membawa kemajuan-kemnjuan yang pesat bagi ilmu pengetahuan maupun teknologi.
  • Pragmatisme telah berhasil mendorong berfikir yag liberal, bebas dan selalu menyangsikan segala yang ada
  • Sesuai dengan coraknya yang sekuler, pragmatisme tidak mudah percaya pada “kepercayaan yang mapan”.

 

  1. Kelemahan
  • Karena pragmatisme tidak mau mengakui sesuatu yang bersifat metafisika dan kebenaran absolute(kebenaran tunggal), hanya mengakui kebenaran apabilaa terbukti secara alamiah, dan percaya bahwa duna ini mampu diciptakan oleh manusia sendiri, secara tidak langsung pragmatisme sudah mengingkari sesuatu yang transendental(bahwa Tuhan jauh di luar alam semesta).
  • Karena yang menjadi kebutuhan utama dalam filsafat pragmatisme adalah sesuatu yang nyata, praktis, dan langsung dapat di nikmati hasilnya oleh manusia, maka pragmatisme menciptkan pola pikir masyarakat yang matrealis.
  • Untuk mencapai matrealismenya, manusia mengejarnya dengan berbagai cara, tanpa memperdulikan lagi dirinya merupakan anggota dari masyarakat sosialnya.

 

Mediasi dan proses membawa pesan “agar dipahami” yang diasosikan dengan Dewa Hermes terkandung di dalam tiga bentuk makna dasar dari hermēneuien dan hermēneia dalam penggunaan aslinya. Tiga bentuk ini menggunakan bentuk kata kerja dari hermēneuein, yaitu: to say, to explain, dan to translate atau to interpret.

Setidaknya ada enam definisi tentang hermeneuitika modern yang juga menandai sejarah perkembangan hermeneutika itu sendiri.

  1. Hermeneutika sebagai teori eksegesis Bibel.
  2. Hermeneutika sebagai metode filologis.
  3. Hermeneutika sebagai ilmu pemahaman linguistik. Schleiemecher menandai lahirnya hermeneutika yang bukan lagi terbatas kepada idiom filologi maupun eksegesis Bibel, melainkan prinsip-prinsipnya bisa digunakan sebagai fundasi bagi semua ragam interpretasi teks (Hermeneutika Umum).
  4. Hermeneutika sebagai fundasi metodologi geisteswissenschaften. Wilhelm Dilthey menjadi figur utama pada perkembangan herneutika tahap ini. Ia melihat bahwa hermeneutika adalah inti disiplin yang dapat berlaku bagi geisteswissenschaften, yakni semua pemahaman yang mefokuskan pada seni, aksi, dan tulisan manusia.
  5. Hermeneutika sebagai fenomenologi Dasein dan pemahaman eksistensial. Pada titik inilah hermeneutika memasuki wilayah ontologis. Hermeneutika menjadi instrumen pengejawantahan Sang Ada (Being). Melalui Dasein yang menginterpretasi, segala Yang Ada mewujudkan diri. Konsepsi Heidegger ini pada akhirnya dilanjutkan oleh Gadamer yang menitik beratkan pada linguistik.
  6. Hermeneutika sebagai sistem interpretasi: menemukan makna versus ikonaklasme. Titik balik kreatif dilakukan oleh Paul Ricour yang mendefinisikan hermeneutika dengan mengacu kembali pada fokus eksegesis tekstual sebagai elemen distinktif dan sentral dalam hermeneutika.
  7. Muhammed Arkoun mengadopsi teori hermeneutika dalam tafsir Alquran, dengan melakukan kritik secara dekonstruktif lalu melakukan rekonstruksi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mochtar Lutfi, Hermeneutika: Pemahaman Konseptual dan Metodologis, Surabaya

Moh. Khuailid, Filsafat Hermeneutika: Studi Tentang Filsafat Bahasa Dan Para Tokohnya, Cirebon

 

Website:

Kompasiana, Pragmatisme Pola Pikir yang Menghalangi kita Mengerti Arti Hidup, diakses pada Selasa, 13 Oktober 2015 dari

http://www.kompasiana.com/nikoardanisatya/pragmatisme-pola-pikir-yang-menghalangi-kita -mengerti-arti-hidup_5528a0936ea8346b4d8b45.

Risma, Pragmatisme dalam Aliran Filsafat, WordPress diakses pada Selasa, 13 Oktober 2015 dari https://penadarisma.wordpress.com/makalah/pragmatisme-dalam-aliran-filsafat/

Amrina, Hermeneutika dan Teori Kritis, blogspot diakses pada Selasa, 13 Oktober 2015 dari http://amrinarose13.blogspot.co.id/2013/03/hermeneutika-dan-teori-kritis.html

Wikipedia, Hermeneutika, diakses pada Selasa, 13 Oktober 2015 dari http://id.wikipedia.org/wiki/Hermeneutika.

 

[1] Konsep “teks” di sini tak terbatas pada sesuatu yang tertulis, tapi meliputi pula ujaran, penampilan, karya seni, dan bahkan peristiwa. Di sini sebenarnya bisa pula dikatakan interpretasi “teks sosial”. Bahkan simbol-simbol pun, sebenarnya merupakan teks. Termasuk simbol-simbol dalam mimpi seseorang. Lihat Audifax, Hermeneutika dan Semiotika,, http://www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif.

[2] Hermeneutika yang berkutat dengan teks-teks dari Yunani-Romawi.

[3] Hermeneutika yang terfokus pada teks-teks kitab suci

[4] 39 Penafsiran tata-bahasa berfungsi untuk mengidentifikasi secara jelas makna istilah bahasa yang digunakan dalam teks, selain itu, makna dari setiap kata harus ditentukan dengan konteks keberadaan kata tersebut. Sedangkan penafsiran psikologis berfungsi untuk mengidentifikasi motif pengarang dalam suatu waktu dari kehidupannya ketika menulis teks, ucapan juga harus dipahami dari konteks keseluruhan mental pengarang.

[5] Lingkar hermeneutik itu akan mengubah yang konstan menjadi dinamis dan terus bergerak, dikarenakan teori “makna” dalam teori penafsiran klasik diubah menjadi “pemahaman” yang terkait dengan akal manusia yang terus berkembang dan berubah. Lihat Henry Salahuddin, Studi Analitis Kritis Terhadap Filsafat Hermeneutik Alquran, dalam Blog pada WordPress.com.

Hubungan Ilmu Pengetahuan, Agama dan Filsafat


HUBUNGAN ILMU, FILSAFAT DAN AGAMA

  1. ILMU, FILSAFAT DAN AGAMA

Manusia adalah makhluk pencaari kebenaran. Ada tiga jalan untuk mencari, menghampiri dan menemukan kebenaran, yaitu : ilmu, filsafat dan agama. Ketiga caa inimempunyai cara-cara tersendiri dalam mencari, menghampiri dan menemukan kebenaran. Ketiga institute termaksud itu mempunyai titik persamaan, titik perbedaan dan titk singgung yang satu terhadap yang lainnya.

  1. Ilmu pengetahuan

Ilmu pengethuan itu ialah hasil usaha pemahaman manusia yang disusun dalam suatu system mengenai hukum-hukum tentang hal ikhwal yang diselidikinya (alam, manusia, dan juga agama) sejauh yang dapat dijangkau daya pemikiran manusia yang dibantu penginderaannya, yang kebenarannya diuji secara empiris, riset dan eksperimental.

Ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan mengenai suatu hal tertentu (objek atau lapangannya), yang merupakan kesatuan yang sistematis, dan memberikan penjelasan yang dapat dipertanggung jawabkan dengan menunujukkan sebab-sebab hal itu.

  1. Filsafat

Filsafat ialah “ilmu istimewa” yang mecoba menjawab massalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa. Karena masalah-masalah tersebut diluar atau diatas jangkauan ilmu pengetahuan biasa.

Filsafat ialah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami secara radikal dan integral sarwa-yang-ada :

  • Hakikat tuhan
  • Hakikat alam semesta
  • Hakikaat manusia

Serta sikap manusia bermaksud sebagai konsejuensi dari pada faham ( pemahamnanya) tersebut.

Dalam buku filsafat agama karangan Dr. H Rosdjidi, filsafat adalah berfikir, menurut William temple filsafat adalah menuntut pengetahuan untuk memehami.

  1. Agama

Agama pada umumnya dipahami sebagai :

Satu system credo ( tata keimanan atau tata keyakinan ) atas adanya sesuatu yang mutlak di luar manusia.

  • Satu system siyus (tata peribadatan) manusia kepada yang dianggapnya mutlak itu.
  • Satu system norma (tata kaidah) yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dan alam lainnya, sesuai dan sejalan dengan tata keimanan dan tata peribadatan termaksud diatas.
  1. TITIK PERSAMAAN

Baik ilmu, filsafat dan agama bertujuan sekurang-kurangnya berusaha berurusan dengan hal yang sama, yaitu kebenaran.

Ilmu pengetahuan dengan metodenya sendiri mencari kebenaran tentang alam dan manusia.

Filsafat dengan wataknya sendiri yang menghampiri kebenaran, baik tentang alam maupun tentang manusia (yang belum atau tidak dapat dijawab oleh ilmu, karena diluar atau di atas batas jangkauannya), ataupun tentang tuhan.

Agama dengan karakteristiknya memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia ataupun tentang tuhan.

  1. TITIK PERBEDAAN

Baik ilmu maupun filsafat, keduanya merupakan hasil dari sumber yang sama yaitu ra’yu (akal, budi,rasio, reason, nous, rede, vertand, dan vernunft) manusia. Sedangkan agama bersumberkan wahyu dari Allah swt.

Ilmu pengetahuan mencari kebenaran denan jalan penyelidikan (riset, research), pengalaman (empiri), dan percobaan (eksperimen) sebagai batu ujian.

Filsafat menghampiri kebenaran dengan cara menualangkan (mengembarakan atau mengelanakan ) akal budi secara radikal (mengakar) dan integral, serta universal (mengalam), tidak merasa terikat oleh ikatan apapun, kecuali oleh ikatan tangannya sendiri yang bernama logika. Manusia mencari dan menemukan kebenaran dengan dan dalam agama dengan jalan mempertanyakan (mencari jawaban tentang) berbagai masalah asasi dari atau kepada kitab suci, kodifikasi firman ilahi untuk manusia.

Kebenaran ilmu pengetahuan ialah kebenaran fositif (berlaku sampai dengan saat ini ),

Kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif (dugaan yang tak dapat dibuktikan secara empiri, reset dan eksperimental). Baik kebenaran ilmu maupun filsafat, kedua-duanya nisbi (relative).

Sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak (absolute) karena agama adalah wahyu yang diturunkan oleh zat yanh Maha Benar, Maha Mutlak, dan Maha sempurna, yaitu Allah swt.

Baik ilmu maupun filsafat,kedua-duanya bermulai dengan sikap sangsi atau tidak percaya dan iman.

  1. TITIK SINGGUNG

Tidak smua masalah yang dipertanyakan manusia dapat dijawab secara positif oleh ilmu pengetahuan, karena ilmu itu terbatas : Allah swt; terbatas oleh subjeknya (sang penyelidik), oleh subyeknya (naik objek material maupun objek formalnya), oleh metodologinya. Tidak semua masalah yang tidak atau belum dijawab oleh ilmu, lantas dengan sendirinya dapat dijawab oleh filsafat. Jawaban filsafat sifatnya spekulatif dan alternative. Tentang suatu masalah asasi yang sama terdapat berbagai jawaban filsafat (para fisuf) sesuai dengan jalan dengan titik tolak sang ahli filsafat itu. Agam member jawaban tentang banyak soal sasi yang samasekali tidak terjawab oleh ilmu, yang dipertanyakan (namun tidak terjawab secar bulat ) oleh filsafat.

Seseorang tidak harus menjadi seorang Filsuf yang lebih baik dengan cara lebih banyak mengetahui fakta-fakta ilmiah. Asas-asas, metode-metode serta pengertian-pengertian umumlah yang harus ia pelajari dari ilmu, jika ia tertarik kepada filsafat. (Bertrand Russell)

Melalui pernyataan Russell di atas, kita lihat bahwa seorang filsuf akan menjadi kalau ia tidak mampu mengetahui asas-asas, metode-metode atau pengertian-pengertian yang bersifat umum dari ilmu.Filsafat merupakan sebuah refleksi yang dibuat secara terus menerus tentang dunia, manusia dan yang ilahi, termasuk pelbagai ilmu yang berbicara mengenai pokok-pokok ini. Ia menelusuri perkembangan pelbagai macam ilmu sehingga ia mampu menyusun suatu pandangan dunia yang sistematis. Seorang filsuf juga harus memperhatikan agar semua analisis dan permenungannya sungguh didasari penemuan-penemuan sehingga hasil karya ilmu tidak bertentangan satu dengan yang lain. Filsafat harus selalu berdialog dengan ilmu-ilmu melalui penelitian atas bidang-bidang yang digeluti oleh ilmu pengetahuan.

 

  1. Hubungan Filsafat dan Ilmu Pengetahuan

Pendekatan

Kendati filsafat dipandang sebagai ilmu tetapi filsafat harus dibedakan dari ilmu-ilmu pengetahuan pada umumnya. Perbedaan-perbedaan ini dapat dilihat melalui metode atau pendekatan, sistematika, obyek utama bahasan dan tujuan akhir dari masing-masing ilmu itu. Setiap ilmu memiliki metodenya sendiri untuk mencapai obyeknya yang juga amat khusus. Karena itu metode dan cara-cara kerja ilmu alam sangat berbeda dengan metode dan cara-cara kerja ilmu-ilmu sosial kemanusiaan (humaniora)

Filsafat menguraikan dan merumuskan hakikat realitas secara sistematis-metodis, maka ia juga dipelajari sebagai ilmu. Kekuatan filsafat ialah mensistematisasi semua pandangan hidup. Filsafat terlibat dalam pelbagai praktik ilmu.

  1. Pengertian ilmu

Auguste Rodin (1840-1917) pernah memahat sebuah patung manusia yang sedang merenung (homo sapiens) sebagai lambang kemanusiaan kita. Dengan berpikir, manusia menjadi manusia, makhluk yang paling unggul. Berpikir merupakan hakikat adanyasebagai manusia, maka setiap saat orang berpikir. Dengan kata lain berpikir sebagai actus humanus bersifat esensial bagi manusia karena itu kendati seorang manusia tidak dalam keadaan sadar (tidur atau mati suri), dia tetap dilihat sebagai makhluk yang berpikir. Namun berpikir sebagai suatu karya sadar dari akal yang aktif berarti secara sadar mengkonfrontasikan diri dengan realitas hidup. Melalui berpikir manusia dapat memiliki banyak pengetahuan tentang realitas yang maha luas ini.[2]

Apa yang ada dalam pikiran kita (sebagai konsep) tidak pernah akan terwujud tanpa adanya simbol yang bisa mengungkapkannya agar dapat dimengerti oleh manusia lain. Kata atau bahasa menjadi penting sebagai sarana komunikasi antar manusia. Filsafat adalah suatu cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, suatu cara berpikir yang mengupas segala sesuatu secara mendalam.

Dalam kaitan antara filsafat dan ilmu dapat dikatakan bahwa setiap ilmu memiliki obyek tersendiri dan metode pendekatan yang khusus sesuai dengan ciri ilmu dan tujuan yang mau dicapainya. Karena obyek ilmu itu amat beragam maka sistematisasi dan pendekatannya pun amat berbeda. Ilmu yang satu berbeda dengan ilmu yang lain.

Setiap ilmu cenderung memaksa obyek untuk dapat menjawab maksud dan tujuannya sendiri. Apabila tujuan dari suatu ilmu sudah tercapai, maka ilmu berhenti di sana. Dalam perjalanan sejarah, suatu ilmu bisa bertabrakan dengan ilmu lain yang berdekatan karena obyeknya mirip atau memiliki ciri-ciri yang saling bersentuhan. Sedang Filsafat memiliki totalitas sebagai obyeknya. Oleh karena itu, filsafat tidak memiliki obyek yang tertutup seperti ilmu-ilmu lain, melainkan terbuka total dan radikal terhadap realitas. Filsafat akan terus menerus bertanya sampai akhir, bahkan akan bertanya mengapa ilmu-ilmu hanya bisa sampai pada titik di mana tujuannya sudah tercapai. Ingatlah bahwa hakikat filsafat adalah usaha mencari terus menerus dan dengan demikian kita senantiasa memperdalam ketidaktahuan kita.[3]

Secara umum dapat dikatakan bahwa ilmu pengetahuan dan filsafat dalam satu arti memiliki obyek yang sama yakni segala sesuatu yang dapat diketahui. Juga filsafat sebagai ilmu dan ilmu pengetahuan bersama-sama berarah kepada kebenaran. Perbedaan terletak dalam tujuan yakni filsafat terarah kepada totalitas sedangkan ilmu-ilmu menyelidiki bagian-bagian tertentu dari totalitas sesuai dengan maksud dan tujuan ilmu bersangkutan. Di sini diberikan contoh perbedaan antara filsafat sebagai ilmu dan ilmu pengetahuan pada umumnya.

Bayangkan anda sedang berhadapan dengan pohon kelapa yang hijau menghiasi bukit-bukit sekitar kita. Pelbagai unsur atau bagian pohon kelapa ini memiliki daya tarik tersendiri bagi setiap ilmuwan. Seorang ahli ekonomi atau seorang prokurator (orang yang mendapat kuasa mengurusi hak milik orang lain) akan lebih melihat pohon kelapa dari perspektif ekonomis, seperti buahnya dapat dijadikan kopra untuk dijual, dapat dikonsumsi secara langsung daging buah atau juga sirupnya; batang dan daun dapat dijual atau digunakan sebagai bahan bangunan. Seorang dokter atau ahli kimia lebih melihat daging buah atau air buah kelapa sebagai bahan dasar obat, pembersih atau penghalau racun dalam tubuh dan lain-lain. Seorang seniman akan menggunakan daun yang muda sebagai bahan hiasan atau dekorasi. Seorang filsuf akan memandang dan membuat refleksi tentang pohon kelapa dari pelbagai aspek di atas. Dia lebih melihat penggunaan kelapa itu secara umum demi kepentingan manusia. Jadi kalau ilmu secara parsial melihat manfaat pohon kelapa, filsafat melihatnya secara umum dan utuh pohon kelapa itu.

  1. Hubungan Filsafat dengan Ilmu Pengetahuan

Filsafat sering disebut sebagai induk dari semua ilmu pengetahuan. Sejarah ilmu pengetahuan memperlihatkan bahwa ilmu pengetahuan berasal dan berkembang dari filsafat. Sebelum ilmu pengetahuan lahir, filsafat telah memberikan landasannya yang kuat. Para filsuf Yunani Klasik seperti Demokritos sampai tiga serangkai guru dan murid yang sangat terkenal yakni Socrates, Plato, dan Aristoteles telah berbicara tentang atom, naluri, emosi, bilangan dan ilmu hitung (matematika), demokrasi, sistem pemerintahan dan kemasyarakatan, yang kemudian dikembangkan oleh fisika, biologi, kedokteran, matematika, biologi, ilmu budaya, psikologi, sosiologi, dan ilmu politik.

Lalu, setelah ilmu-ilmu pengetahuan melepaskan diri dari filsafat dan dengan tegas menyatakan kemandiriannya, bagaimana bentuk hubungan filsafat dengan ilmu pengetahuan? Bagaimana dengan kedudukan dan kegunaan filsafat selanjutnya? Kedudukan filsafat dan hubungannya dengan ilmu pengetahuan dapat digambarkan sebagai berikut.

  1. Tujuan filsafat untuk memahami hakikat dari sesuatu obyek yang menjadi kajiannya tetap dipertahankan, tetapi informasi atau pengetahuan yang menunjangnya harus bisa dipertanggungjawabkan bukan hanya secara rasional (logis), tetapi juga secara faktual (dialami langsung dalam kehidupan kita). Oleh sebab itu, filsafat (harus) mengadakan kontak dengan ilmu pengetahuan, mengambil banyak informasi atau teori-teori terbaru darinya, dan mengembangkannya secara filosofis. Inilah yang telah dilakukan misalnya oleh Bergson, Cassirer, Husserl, Foucault, dan para filsul modern serta kontemporer lainnya. Pemikiran filsafati yang dikembangkan oleh mereka sangat kaya dengan ilustrasi-ilustrasi yang berasal dari temuan-temuan ilmiah yang berkembang pada zamannya.
  2. Tujuan filsafat untuk mempersoalkan nilai dari suatu obyek tetap dipertahankan. Hal ini pun dilakukan filsafat terhadap ilmu pengetahuan. Akibatnya, temuan-temuan ilmiah yang dinilai tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusiaan (dan juga ketuhanan), diberi kritik atau dikoreksi. Ingat misalnya, masalah kloning dan euthanasia. Filsafat memberikan evaluasi dan kritik terhadap dampak moral dan kemanusiaan kedua masalah tersebut bagi hidup manusia.
  3. Filsafat pun melakukan kajian dan kritik terhadap persoalan-persoalan metodologi ilmu pengetahuan. Ini misalnya dilakukan dalam filsafat ilmu pengetahuan. Kritik filsafat atas cara kerja dan metodologi ilmu pengetahuan pada prinsipnya menguntungkan, karena dapat menjernihkan dan menyempurnakan ilmu pengetahuan. Kajian positivisme Auguste Comte (1798-1857), neo-positivisme (positivisme logis), falsifikasionisme Karl Popper (1902-1994), dan bahkan fenomenologi Edmund Husserl (1859-1938) tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga memperkaya khazanah ilmu, khususnya ilmu pengetahuan sosial dan kemanusiaan (humaniora). Kritik-kritik mereka terhadap ilmu-ilmu sosial dan humaniora melahirkan paradigma-paradigma baru dalam ilmu sosial yakni yang bersifat humanistik dan kritis, di samping positivistik.

 

  1. Beda antara Filsafat dengan Ilmu Pengetahuan

Filsafat bukan ilmu pengetahuan. Ia berbeda dari ilmu pengetahuan dalam beberapa hal berikut ini: Pertanyaan inti, ruang lingkup masalah yang didekati, metode, fokus kajian, dan tentu saja hasil (teori). Lihat tabel berikut ini.

 

Perbedaan antara Filsafat dengan Ilmu Pengetahuan

FILSAFAT ILMU PENGETAHUAN
PERTANYAAN INTI –          Apa? (hakikat)

–          Mengapa? (Sebab-akibat yang bersifat ultimate) dari mana (asal-usul) dan ke mana (apa yang terjadi berikutnya)?

–          Mengapa? (sebab akibat)

–          Bagaimana? (dinamika)

–          Berapa banyak? (kuantifikasi, persentase, frekuensi)

RUANG LINGKUP MASALAH –          Luas, mencakup semua hal yang memungkinkan untuk dipikirkan –          Terbatas pada gejala atau aspek-aspek tertentu, sejauh yang dapat diukur secara empiris
METODE –          Logis-rasional –          Ilmiah, mencakup rasional, empiris, dan terukur
FOKUS KAJIAN – Fakta (das Sein) dan nilai (das Sollen) –  Fakta (das Sein), terutama dalam pure science
HASIL (TEORI) –          intensif (dalam),

–          Ekstensif (luas),

–          Kritis (karena berkaitan dengan nilai)

–          Khususnya dalam IPS: Terbatas pada populasi dan “kelas” obyek yang diteliti

 

Dari tabel di atas tampak jelas bahwa ada perbedaan antara filsafat dan ilmu pengetahuan dalam hal pertanyaan-pertanyaan dasar yang diajukan oleh kedua disiplin ini. Filsafat mengajukan pertanyaan yang intinya dimaksudkan untuk mengetahui “apa” (essensi atau sifat dasar) dari suatu masalah, kejadian atau obyek, sedangkan ilmu pengetahuan menjawab pertanyaan “bagaimana” (dinamika atau proses) dari suatu masalah atau obyek itu berjalan. Ilmu pengetahuan mengajukan pertanyaan mengenai kuantitas, baik dari jumlah obyek (frekuensi) maupun signifikasi pengaruh atau hubungan (taraf signifikansi). Meski sama-sama mengajukan pertanyaan mengenai “mengapa”, kedua disiplin itu berbeda sama sekali kedalamannya. Jawaban yang dituntut dalam ilmu pengetahuan untuk pertanyaan “mengapa” terbatas pada sejumlah variabel yang terukur, sehingga dapat dijawab melalui metode-metode empiris seperti eksperimen. Sedangkan, pertanyaan filsafat berkaitan dengan sebab-musabab yang terdalam (ultimate causation), sehingga jawabannya tidak dapat ditemukan melalui penggunaan metode-metode empiris. Misalnya, mengapa ada kehidupan jika pada akhirnya mendatangkan penderitaan? Mengapa yang ada itu ada? Mengapa saya hidup di dunia ini saat ini, bukan di kehidupan di abad-abad yang akan datang? Mengapa manusia memerlukan moralitas?

Ruang lingkup masalah kedua disiplin ilmu itu pun berbeda. Filsafat tidak membatasi diri pada obyek-obyek atau masalah-masalah yang dapat dialami atau dibuktikan secara empiris, tetapi pada obyek-obyek atau masalah-masalah sejauh dapat dipikirkan secara rasional. Maka, ruang lingkup masalah filsafat bisa sangat luas, misalnya mengenai keberadaan Tuhan, jiwa, moralitas, dan lain-lain. Ini berbeda dengan ilmu pengetahuan. Obyek atau masalah ilmu pengetahuan adalah gejala-gejala yang dapat diobservasi dan dialami secara empiris, bahkan terukur secara kuantitatif.

Fokus kajian filsafat bukan hanya pada fakta sebagaimana adanya tapi juga nilai, yaitu sesuatu yang seharusnya ada atau melekat pada fakta tersebut. Oleh sebab itu, banyak filsuf yang merasa tidak puas hanya dengan menggambarkan suatu obyek, keadaan, atau masalah apa adanya, melainkan secara kritis menjelaskan bagaimana seharusnya atau idealnya obyek, keadaan atau masalah tersebut. Atas dasar itu dapat dipahami kenapa sebagian filsuf bukan hanya memiliki keberpihakan pada nilai kebenaran, tetapi juga pada nilai kemanusiaan (humanisme); pada kelompok masyarakat tertindas (Marxisme dan teori kritis); dan lain-lain. Bagaimana dengan ilmu pengetahuan? Ilmu pengetahuan kurang memperma-salahkan nilai, karena fokusnya pada deskripsi dan penjelasan serta prediksi fakta atau gejala.

Karena berbeda dalam pertanyaannya, ruang lingkup dan fokus kajian-kajiannya, maka metode kedua disiplin itu pun masing-masing memiliki perbedaan. Dalam filsafat tidak ada penelitian eksperimental atau studi korelasional, misalnya. Filsafat tidak mengukur dan membuktikan hubungan antarvariabel. Meski ada beragam metode dalam filsafat, tetapi ciri utamanya adalah rasional dan kritis. Sebaliknya, ilmu pengetahuan menggunakan metode ilmiah, yang bukan hanya rasional, tetapi juga empiris, mengukur fakta-fakta dan saling hubungan antara fakta atau variabel yang satu dengan fakta atau variabel yang lain.

Hasil atau produk filsafat dan ilmu pengetahuan berbeda karena metode dan area masalahnya pun berbeda. Hasil pemikiran filsafat berupa pemikiran-pemikiran filsafat yang isinya atau ruang lingkupnya berupa pemikiran-pemikiran filsafat yang isinya atau ruang lingkupnya relatif luas, kritis, intensif atau dalam. Sebaliknya, hasil ilmu pengetahuan adalah berupa teori-teori ilmu pengetahuan yang isinya relatif lebih detil dibandingkan pemikiran filsafat, tetapi relatif terbatas pada fakta-fakta empiris, atau gejala-gejala yang dianggap termasuk ke dalam populasi obyek yang diteliti oleh ilmu pengetahuan.

 

  1. Hubungan Filsafat dengan Agama
    1. Pengertian Agama

Pengertian agama yang paling umum dipahami adalah bahwa kata agama berasal dari bahasa Sanskerta berasal dari kata a dan gama. A berati ‘tidak’ dan gama berarti ‘kacau’. Jadi, kata agama diartikan tidak kacau, tidak semrawut, hidup menjadi lurus dan benar.

Pengertian agama menunjuk kepada jalan atau cara yang ditempuh untuk mencari rahmat dan kasih Tuhan. Dalam agama itu ada sesuatu yang dianggap berkuasa, yaitu Tuhan, zat yang memiliki segala yang ada, yang berkuasa, yang mengatur seluruh alam beserta isinya. Asal dari segala sesuatu. Pengasal yang tidak berasal. Penggerak yang tidak digerakkan.

Agama bisa dibedakan antara agama wahyu dan agama bukan wahyu. Agama wahyu biasanya berpijak pada keesaan Tuhan, ada nabi yang bertugas menyampaikan ajaran kepada manusia dan ada kitab suci yang dijadikan rujukan dan tuntunan tentang baik dan buruk. Sedangkan pada agama yang bukan wahyu tidak membicarakan tentang keesaan Tuhan, dan tidak ada nabi.

 

  1. Hubungan Filsafat dengan Agama

Ada beberapa asumsi berkaitan dengan jalinan filsafat dengan agama. Asumsi itu didasarkan pada anggapan manusia sebagai makhluk budaya. Asumsi pertama, sebagai makhluk budaya manusia mampu berspekulasi dan berteori filsafat yang akan menentukan kebudayaannya, bahkan sampai sadar dan jujur mengakui kenyataan Tuhan dan ajaran agama.

Asumsi kedua dinyatakan oleh Dewey dengan pikiran meliorisme-nya. Maksud pemikirannya adalah: dunia ini diciptakan oleh Tuhan sebagai suatu potensi yang dapat diperbaiki, diperindah dan diperkaya, sehingga hidup dan penghidupan ini bisa lebih ditingkatkan nilai harganya untuk dihidupi dan dinikmati. Secara ringkas bisa dijelaskan hubungan agama dengan filsafat sebagai berikut:

  • Agama adalah unsur mutlak dan sumber kebudayaan, sedangkan filsafat adalah salah satu unsur kebudayaan;
  • Agama adalah ciptanya Tuhan, sedangkan filsafat hasil spekulasi manusia;
  • Agama adalah sumber-sumber asumsi dari filsafat dan ilmu pengetahuan (science), dengan filsafat menguji asumsi-asumsi science;
  • Agama mendahulukan kepercayaan daripada pemikiran, sedangkan filsafat mempercayakan sepenuhnya kekuatan daya pemikiran;
  • Agama mempercayai akan adanya kebenaran dan kenyataan dogma-dogma agama, sedangkan filsafat tidak mengakui dogma-dogma sebagai kenyataan tentang kebenaran.

Dengan memperhatikan spesifikasi dan sifat-sifat di atas, tampak jelas bahwa peran agama terhadap filsafat ialah meluruskan filsafat yang spekulatif kepada kebenaran mutlak yang ada pada agama. Sedangkan peran filsafat terhadap agama ialah membantu keyakinan manusia terhadap kebenaran mutlak itu dengan pemikiran yang kritis dan logis. Hal ini didukung pernyataan yang menyatakan bahwa filsafat yang sejati haruslah berdasarkan agama, malahan filsafat yang sejati itu adalah terkandung dalam agama (Hamzah Abbas, 1981: 29).

 

PERBANDINGAN JALINAN AGAMA DAN FILSAFAT

AGAMA FILSAFAT
a.       Agama adalah unsur mutlak dan sumber kebudayaan

b.      Agama adalah ciptaan Tuhan

c.       Agama adalah sumber-sumber asumsi dari filsafat dan ilmu pengetahuan (science)

d.      Agama mendahulukan kepercayaan daripada pemikiran

e.       Agama mempercayai akan adanya kebenaran dan khayalan dogma-dogma agama

a.       Filsafat adalah salah satu unsur kebudayaan

b.      Filsafat adalah hasil spekulasi manusia

c.       Filsafat menguji asumsi-asumsi science, dan science mulai dari asumsi

d.      Filsafat mempercayakan sepenuhnya kekuatan daya pemikiran

e.       Filsafat tidak mengakui dogma-dogma agama sebagai kenyataan tentang kebenaran

 

  • Jalinan Filsafat, Agama, dan Ilmu

Sejarah umat manusia sesungguhnya tidak pernah lepas dari usaha pencarian Tuhan. Umat manusia melakukan pencarian demi pencarian Tuhan yang sebenarnya. Bagi sebagian orang, agama memang menjadi jawaban. Namun demikian, sejak ratusan tahun bahkan ribuan tahun silam, dunia telah diramaikan oleh para filsuf yang selalu terlibat dalam pembicaraan ketuhanan (teologi), bahkan dalam wacana tentang asal-usul alam semesta (ontologi) dan ilmu pengetahuan (epistemologi).

Manusia menjalani liku-liku perjalanan dalam upaya mencari Tuhan. Sebagian besar dari mereka benar-benar menemukan Tuhan. Akan tetapi, sebagian lainnya terlena dalam impian yang tak jelas ketika mencoba memaksakan diri untuk menjangkau hakekat Tuhan yang sesungguhnya. Mereka terlalu jauh mengembara di belantara metafisisme, sehingga tak sedikit yang masuk ke dalam perangkap skeptisisme, bahkan ateisme. Dalam konteks agama sikap ini tentu saja kontraproduktif, sekaligus kontraproduktif dengan semangat keagamaan yang selalu memerintahkan manusia untuk memikirkan hal-hal yang indrawi dan rasional ketika berbicara tentang eksistensi, bukan esensi Tuhan sebagai Pencipta.

Namun demikian, konstribusi filsafat dan ilmu dalam mengantarkan keimanan kepada Tuhan bukannya tidak ada. Dalam batas-batas tertentu, filsafat dan ilmu bisa mendukung berbagai bukti kebenaran eksistensi dan kekuasaan Tuhan yang telah banyak diungkap oleh agama.

Tidak semua masalah yang tidak atau belum terjawab oleh ilmu, lantas dengan sendirinya dapat dijawab oleh filsafat. Jawaban filsafat sifatnya spekulatif dan juga alternatif tentang suatu masalah asasi yang sama terdapat pelbagai jawaban filsafat (para filosof) sesuai dan sejalan dengan titik tolak sang ahli filsafat itu.

Agama memberi jawaban tentang banyak (pelbagai) soal asasi yang sama sekali tidak terjawab oleh ilmu yang dipertanyakan, namun tidak terjawab secara bulat oleh filsafat.

Pada prinsipnya antara ilmu, filsafat, dan agama mempunyai hubungan yang erat dan saling terkait antara satu dan lainnya. Di mana ketiganya memiliki kekuatan daya gerak dan refleksi yang berasal dari manusia. Dalam diri manusia terdapat daya yang menggerakkan ilmu, filsafat, dan agama yaitu melalui akal pikir, rasa, dan keyakinan.

Akal pikiran manusia sebagai daya gerak dan berkembangnya ilmu dan filsafat. Sedangkan keyakinan menjadi daya gerak agama. Ilmu diperoleh melalui akal pikiran manusia dari pengalaman (empiris) dan indera (riset). Filsafat mendasarkan pada otoritas akal murni secara bebas, sedangkan agama mendasarkan diri pada otoritas wahyu.

Hubungan lain adalah bahwa filsafat identik dengan ilmu pengetahuan, sebagaimana juga filsuf identik dengan ilmuwan. Obyek materi ilmu adalah alam dan manusia, dan obyek material filsafat adalah alam, manusia, dan Tuhan. Sedangkan obyek kajian agama adalah Tuhan.

Selain itu, masih dalam kaitan antara ilmu, filsafat, dan agama, bahwa filsafat mengkaji tentang kebijaksanaan. Manusia berusaha untuk mencari kebijaksanaan, mencari dengan cara yang ilmiah tentang kebenaran. Akan tetapi, manusia tidak akan sampai pada derajat bijaksana, karena hanya Tuhan sajalah yang bersifat bijaksana. Manusia hanya berusaha untuk mencari kebijaksanaan, mencari kebenaran, dengan cara yang ilmiah. Selain itu, segala aktivitas manusia yang berkenaan dengan pemahaman terhadap dunia secara keseluruhan dengan jiwa dan pikirannya merupakan bagian dari kajian filsafat. Filsafat identik dengan agama, sama-sama mengkaji tentang kebajikan, tentang Tuhan, baik dan buruk, dan lain-lain. Itulah sebabnya maka filsafat mempunyai hubungan yang erat dengan agama di satu sisi dan ilmu pengetahuan di sisi lain.

Hubungan yang lebih dekat lagi, dapat disaksikan bahwa hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal budi (filsafat) akan terjawab melalui wahyu atau agama. Begitu juga dengan filsafat, membahas persoalan-persoalan yang tidak terjawab oleh ilmu pengetahuan.

Dengan demikian, antara ilmu, filsafat, dan agama dapat saling mengisi dan saling melengkapi. Sehingga menjadi lengkaplah sudah kebutuhan manusia untuk memahami keberadaan alam, manusia, dan Tuhan.

 

  1. Persamaan antara Ilmu, Filsafat, dan Agama

Yang paling pokok persamaan dari ketiga bagian ini adalah sama-sama bertujuan mencari kebenaran. Ilmu pengetahuan melalui metode ilmiahnya berupaya untuk mencari kebenaran. Metode ilmiah yang digunakan dengan cara melakukan penyelidikan atau riset untuk membuktikan atau mencari kebenaran tersebut. Filsafat dengan caranya tersendiri berusaha menemukan hakikat sesuatu baik tentang alam, manusia, maupun tentang Tuhan. Sementara agama, dengan karakteristiknya tersendiri memberikan jawaban atas segala persoalan asasi tentang alam, manusia, dan Tuhan.

 

  1. Perbedaan antara Ilmu, Filsafat, dan Agama

Terdapat perbedaan yang mencolok antara ketiga aspek tersebut, di mana ilmu dan filsafat bersumber dari akal budi atau rasio manusia. Sedangkan agama bersumberkan wahyu dari Tuhan.

Ilmu pengetahuan mencari kebenaran dangan cara penyelidikan (riset), pengalaman (empiri), dan percobaan (eksperimen). Filsafat menemukan kebenaran atau kebijakan dengan cara penggunaan akal budi atau rasio yang dilakukan secara mendalam, menyeluruh, dan universal. Kebenaran yang diperoleh atau ditemukan oleh filsafat adalah murni hasil pemikiran (logika) manusia, dengan cara perenungan (berpikir) yang mendalam (radikal) tentang hakikat segala sesuatu (metafisika). Sedangkan agama mengajarkan kebenaran atau memberi jawaban tentang berbagai masalah asasi melalui wahyu atau kitab suci yang berupa firman Tuhan.

Kebenaran yang diperoleh melalui ilmu pengetahuan dengan cara penyelidikan tersebut adalah kebenaran positif, yaitu kebenaran yang masih berlaku sampai dengan ditemukan kebenaran atau teori yang lebih kuat dalilnya atau alasannya. Kebenaran filsafat adalah kebenaran spekulatif, berupa dugaan yang tidak dapat dibuktikan secara empiris, riset, dan eksperimen. Baik kebenaran ilmu maupun kebenaran filsafat, keduanya nisbi (relatif). Sedangkan kebenaran agama bersifat mutlak (absolut), karena ajaran agama adalah wahyu

 

Ada contoh mengenai bentuk jawaban yang berupa filsafat dari manusia yang dikemukakan oleh Aristoteles, ia mengemukakan adanya perkembangan sebagai berikut :

 

Benda mati            tumbuh-tumbuhan           binatang          manusia

Tumbuh-tumbuhan       =     benda mati + hidup

Karena itu tumbuh-tumbuhan mempunyai jiwa   hidup

Binatang                       =     benda mati  + hidup + perasaan

Karena itu binatang mempunyai jiwa perasaan

Manusia                        =     benda mati + hidup + perasaan + akal

Karena itu manusia mempunyai jiwa rasional

 

Itu alasannya manusia dikatakan sebagai animal rasionale. Disamping itu Aristoteles menyebutkan manusia sebagai zoon politiconatau makhluk sosial dan makhluk hymorfik yaitu terdiri atas materi-materi dan bentuk-bentuk.

Dari contoh yang dikemukakan oleh Aristoteles tersebut filsafat merupakan pendalaman lebih lanjut dari iklmu pengetahuan. Di sinilah batasan kemampuan akal manusia, dengan akalnya manusia tidak akan dapat menjawab pertanyaan yang lebih dalam mengenai manusia. Dengan akalnya manusia hanya mampu memberikan jawaban dalam suatu batasan-batasan tertentu.

Hubungan antara ilmu pengetahuan, filsafat dan adama dalam menghadapi problem (masalah) manusia akan menjawab dengan ilmu pengetahuan. Jika pertanyaan itu lebih dalam lagi jawaban yang diberikan berupa filsafat. Antara ilmu pengetahuan dan filsafat terdapat suatu hubungan yang erat. Suatu pendalaman tentang ilmpu pengetahuan akan sampai pada filsafat dan problem yang bersifat filsafati dapat pula diterangkan melalui ilmu pengetahuan.

Filsafat dan ilmu pengetahuan mempunyai suatu hubungan yang baik dengan agama. Ilmu pengetahuan dan filsafat dapat membantu menyampaikan lebih lanjut ajaran agama kepada manusia, sebaliknya agama dapat membantu memberikan jawaban terhadap suatu masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan dan filsafat. Agama dapat memberi jawaban pada hal-hal yang sudah diluar ilmu pengetahuan dan filsafat, “tidak berarti bahwa agama adalah diluar ratio, agama adalah tidak rasional”. Dalam kata lain tidak berarti bahwa agama hanya berhubungan dengan hal-hal yang irrasional, Agama bahkan mengatur seluruh kehidupan manusia untuk berbakti kepada Tuhan. Filsafat dan ilmu pengetahuanlah yang menjelaskan fakta dan realita atau hal yang dihadapi sama. Tugas agama dapat dibantu oleh ilmu pengetahuan dan filsafat. Selain itu tidak berarti bahwa agama seolah-olah di luar lingkaran filsafat dan filsafat di luar lingkaran ilmu pengetahuan.

Dalam hal ini dapat diperhatikan berbagai faktor yang memberikan pengaruh misalnya latar belakang ruang, waktu, lingkungan dan tempat. Suatu konflik dapat terjadi karena akibat sikap yang ekstrim misalnya mengagungkan kemampuan akal yang berlebih-lebihan, menghargai nilai-nilai tertentu sebagai yang paling tinggi misalnya nilai positif, nilai pragmatik dan nilai materalistik. Sebaliknya sikap ekstrim yang menolak pendapat lain yang berbeda seolah-olah pendapatnya sendiri yang paling sempurna, dengan menyadari keadaan serta kedudukan masing-masing maka antara ilmu pengetahuan dan filsafat serta agama dapat terjalin hubungan yang saling menguntungkan.

 

  1. Manfaat Filsafat

Filsafat mempunyai kegunaan baik yang teoritik maupun praktik, dengan memperlajari filsafat orang akan bertambah pengetahuannya, dengan bertambahnya pengetahuan ia akan mampu menyelidiki segala sesuatu lebih luas dan lebih dalam. Setelah itu akan dapat menjawab sesuatu dengan lebih mendalam dan luas.

Filsafat juga mengajarkan hal-hal praktik. Banyak sekali kegunaan ajaran filsafat yang dapat dipraktekkan sehari-hari, misalnya logika, etika, dan estetika. Logika mengajarkan kita agar berpikir secara teratur dan runtut serta sistematik agar daopat mengambil kesimpulan yang benar, logika adalah cabang filsafat tentang berfikir. Dalam kehidupan sehari-hari orang selalu mengambil kesimpulan, agar dapat mengambil kesimpulan yang benar maka alat yang digunakan harus tepat, alat tersebut dapat diperoleh dalam logika, karena logika berisi tuntunan agar dalam mengambil kesimpulan mendasarkan diri atas peraturan-peraturan. Dengan mempelajari peraturan tersebut orang akan dapat mengemukakan pendapatnya serta menyimpulkan dengan tertib, benar, teratur dan logik. Mempelajari logika sebagai salah satu cabang filsafat akan besar manfaatnya baik secara teoritik maupun praktik.

Etika mempeajari tingkah laku dan perbuatan manusia yang dilakukan dengan sadar, ucapan dan hati nurani manusia dilihat dari kacamata baik-buruk. Etika mengajarkan tentang moral dan kesusilaan, etika dapat menunjukkan bagaimana norma yang baik dan bagaimana manusia hidup menurut norma tersebut. Dengan mempelajari etika sebagai cabang filsafat orang dapat memetik buah berharga bagi diri dan kehidupannya.

Jadi intinya filsafat mempunya berbagai macam kegunaan, diantaranya :

  1. Melatih diri untuk berpikir kritik, runtut, dan menyusun hasil pikiran tersebut secara sistematik.
  2. Menambah pandangan dan cakrawala yang lebih luas agar tidak berpikir dan besikap sempit dan tertutup.
  3. Dapat melatih diri melakukan penelitian, pengkajian dan memutuskan atau mengambil kesimpulan mengenai sesuatu hal secara mendalam dan komprehensif.
  4. Menjadikan diri bersifat dinamik dan terbuka dalam menghadapi berbagai problem.
  5. Dapat membuat diri menjadi manusia yang penuh toleransi dan tenggang rasa.
  6. Menjadi alat yang berguna bagi manusia baik untuk kepentingan pribadinya maupun dalam hubungannya dengan orang lain.
  7. Dapat menyadari akan kedudukan manusia baik sebagai pribadi maupun dalam hubungannya dengan orang lain, alam sekitar dan Tuhan Yang Maha Esa.
  8. Menjadikan manusia lebih taat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Berdasarkan sejarah kelahirannya, filsafat berfungsisebagai induk ilmu pengetahuan. Saat itu belum ada ilmu pengetahuan lain, sehingga filsafat harus menjawab segala macam hal. Soal manusia, soal masyarakat, soal ekonomi, soal negara, soal kesehatan, filsafat lah yang membicarakannya.

Karena perkembangan keadaan dan masyarakat, banyak problem yang tidak dapat dijawab oleh filsafat. Lahirlah ilmu pengetahuan yang sanggup memberi jawaban terhadap problem-problem tersebut, misalnya ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan kedokteran dan lain-lain. Ilmu pengetahuan tersebut lalu terpecah lagi menjadi lebih khusus, kemudian lahirlah berbagai disiplin ilmu yang sangat banyak dengan kekhususannya.

Spesialisasi terjadi sededemikian rupa hingga hubungan antara cabang dan ranting ilmu pengetahuan sangat kompleks. Hubungan tersebut ada yang masih dekat tetapi ada juga yang telah jauh, bahkan ada yang tidak mempunyai hubungan. Apabila ilmu-ilmu pengetahuan tersebut terus berusaha memperdalam dirinya akhirnya sampai juga pada filsafat. Sehubungan dengan keadaan tersebut filsafat dapat berfungsi sebagai interdisipliner sistem. Filsafat dapat juga berfungsi menghubungkan ilmu-ilmu pengetahuan yang telah kompleks, selain itu filsafat berfungsi sebagai tempat bertemunya berbagai disiplin ilmu pengetahuan.